
...Harapan dan Siapa?...
...****************...
Andai-andai Tuhan mengabulkan doaku untuk membiarkanku hidup dengannya aku pasti akan di guna-gunai orang kampung. Orang cemburu sudah pasti ada karena wanita cantik Rindu bukan hanya aku yang beharap ingin hidup bersamanya. Tapi sebagian pemuda di kampungku berharap sepertiku.
Tidak jarang orang-orang bertanya tentangnya padaku. Di Mesjid saja aku menanyakannya pada Tuhan apakah dia jodohku atau dia hanyalah wanita yang dikirim untuk sebuah alasan yang belum aku tahu.
Ketika aku pulang dari Mesjid aku mendapati dia sedang mencicipi masakan Ibuku yang tadi aku tinggalkan. Kami menyebutnya masakan kampung. Santai dan pasti bahkan sedikit demi sedikit makanan masuk ke mulutnya. Lidahnya yang aku lihat agak kemerah-merahan bukankah yang kulihat adalah seorang wanita yang mungkin dimatanya aku hanyalah saudara. Seperti katanya jangan anggap aku orang asing.
"Kamu sudah datang Eden ?. Ayok makan sama-sama. Masakan Ibumu sangat lezat, enak, dan mengenyangkan." Dia memanggilku makan bersamanya.
Tanpa jeda. Baju sholat yang masih menyembunyikan tubuhku masih terpakai dengan rapih. Dia bahkan tidak mengatakan padaku untuk mengganti bajuku dulu.
Aku mendekat tapi duduk agak jauh darinya. Seorang laki-laki harus bisa menghargai wanita ketika dia sedang menikmati makanan. Itulah yang aku lakukan pada Rindu.
"Eden, jika kamu belum mau makan setidaknya duduklah didekat sini. Apakah kamu ingin aku beritahu sesuatu yang sangat penting."
"Rindu, aku ingin mendengarnya tapi makanlah dulu. Disini dilarang orang berbicara saat masih makan."
"Ups Maaf, Eden. Aku lupa dan bukan hanya disini namun di Makassar juga seperti itu."
Dalam mata yang tajam yang berbohong pada pengakuanku justru semakin menaruh simpati padanya. Apakah dia merasakan apa yang ada dalam diriku. Rasa malu membuatku menahan perasaan ini padanya.
Rindu telah selesai makan.
"Eden, sekarang jam berapa ?."
"Mau kemana menanyakan jam, Rindu ?."
"Aku ingin ke kapal bosan dirumah juga. Kamu boleh ikut sambil aku ceritakan hal penting yang aku maksudkan tadi."
"Sekarang sudah mau jam dua siang."
__ADS_1
Pucuk dicinta ulampun tiba. Memang jika nasib sedang berpihak baik padaku maka harus berterima kasih pada Tuhan yang mungkin tadi mendengar do'a ku.
"Iya, aku mau."
Semacam dorongan batin yang setiap detik mendorongku untuk bisa bersama terus dengannya. Sisir palsu yang sudah aku telantarkan dikamarku biasa aku pakai menyisir rambutku kembali aku cari setelah patah ketika aku menyisir rambutku.
Ibuku yang mendengar ajakan Rindu padaku langsung masuk kedalam kamar kecilku.
"Ada apa Mah ?."
"Tadi Ibu mendengar Rindu mengajakmu ke kapal Phinisi nya. Apakah kamu juga mau ikut ?."
"Iya Mah. Lagian hanya sebentar Eden kesana. Eden mau melihat dan merasakan naik di kapal Phinisi itu seperti apa Mah ?!."
"Bukannya Ibu melarang mu. Ibu hanya khawatir jika kamu sampai jatuh cinta padanya. Kita tidak pernah tahu Eden bahwa Rindu masih gadis atau sudah punya suami dan lagian kalaupun kamu memiliki perasaan pada dia belum tentu dia bisa mencintaimu. Ibu menilaimu akhir-akhir ini kamu semakin dekat dengannya. Ingat Eden, dia hanya datang lalu pergi. Hal indah apapun yang kamu lalui dengannya pada akhirnya akan membuatmu menangis."
"Mah tenang saja. Eden tidak mungkin mencintainya atau bahkan memiliki perasaan padanya. Eden tahu Mah, Rindu adalah wanita yang jauh. Eden tidak akan mengorbankan hatiku sampai harus terluka untuk alasan cinta."
"Mamah ini cerewet sekali. Eden paham Mah kalau gitu Eden pergi dulu ya Mah. Rindu sudah menunggu dari tadi itu, Mah."
"Cepat balik. Hati-hati jika sudah di kapal Phinisi miliknya."
Aku keluar dari dalam rumah menghampiri Rindu bersama dua temannya yang menungguku di jalan depan rumah.
Mungkin agak lama dia menungguku hingga dia terlihat tidak sesemangat tadi untuk pergi ke kapal Phinisinya.
"Ada apa Rindu, tidak jadi pergi ya ?."
"Bukan tidak jadi, kamu sih agak lama di rumah. Apa sih bikin dirumah hingga lama begitu."
Pertanyaannya kubiarkan hanyut ditenggelamkan oleh keinginanku yang lebih besar.
"Masa sabarannya dikit jadi nggak kita pergi ?."
__ADS_1
"Ayok...!."
Dalam impian yang aku tidak tahu. Keresahan membalikkan keadaanku tadinya hawa harapan yang bergejolak kini surut di padi layu. Ingat bahasa Ibuku yang baru saja menembus ingatan dikepala ku.
Menahan rasa adalah separuh hidup tanpa raga yang berpisah disetiap langkah kaki. Kami menuju kapal Phinisi yang bersandar di dermaga.
"Ingin kah aku ceritakan apa yang aku katakan tadi, Eden. Ah kamu dimana, mengapa jalan terlalu jauh dariku. Mendekat lah agar kamu mendengar kan apa yang ingin aku ceritakan padamu."
Lepas landas. Pesan Ibuku untuk sementara waktu ini aku simpan sebagai tanda nilai simbol dari suatu amanah yang aku jaga.
Aku mendekat. Dia mulai bercerita tentang berlayar nya kapal Phinisi dari Inggris hingga sampai ke Makassar. Jejak-jejak petualangan orang Bugis melawan penjajah di bumi Nusantara sampai pada kisah seorang nelayan bertemu duyung ditengah lautan.
Aku kira yang ingin dia ceritakan adalah seberkas cahaya terang menembus jantung. Kisah romantis dua insan yang berjuang mempertahankan cinta mereka dari penolakan kedua keluarga atau semacam koboi jalan yang berkuasa. Tahu-tahunya adalah kisah para pejuang dahulu.
Sehebat itukah sejarah dalam ingatan manusia. Sampai saat ini masih mengalun nama para pejuang didalam sanubari.
Kapal phinisi yang bersandar di dermaga mulai mengibarkan bendera merah putih. Menandai datangnya Rindu ke kapal itu. Empat kaki-laki yang pernah datang malam itu langsung turun dari kapal memberi hormat kepada Rindu.
Ini tidak biasanya sampai aku keheranan melihat kenyataan itu. Orang-orang yang ada di dermaga juga sama heranya denganku. Apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka begitu mengistimewakan Rindu.
"Rindu, kamu sebenarnya siapa ?." Tanyaku padanya.
Seperti biasanya dia malah tersenyum dan menyuruhku naik keatas kapalnya.
"Eden, tidak usah hiraukan hal tadi. Kamu santai saja begitu juga aku dan mereka yang mengistimewakanku juga sama seperti yang lain. Daripada itu yang kamu tanyakan gimana kalau kita berlayar menikmati ombak laut di lautan indah ini. Tidakkah kamu ingin merasai angin segar disiang hari ini ?."
Tetap saja aku masih merasa heran. Dengan melihat kejadian tadi aku semakin memikirkan kembali pesan Ibuku.
Tanpa menjawab aku dibawa berlayar mengarungi ombak-ombak kecil.
"Eden, ombak-ombak kecil ini belum seberapa. Saat aku baru pertama kali berlayar dengan kapal Phinisi ini. ditengah laut ombaknya semakin ganas menerpa. Aku hanya bisa melihat ternyata ombak dilautan serupa amarah manusai yang kecil dan serupa cinta yang besar, serupa kesuciaan do'a pada Tuhan kita. Eden, jika kamu mau suatu hari aku bisa mengajakmu ke Makassar untuk menikmati keindahan kota Makassar."
Phinisi masih senyum pada ombak dilaut seperti aku yang hanya berkata iya.
__ADS_1