
...Mencoba Senyum...
...****************...
Saat pertama kamu kesini, aku tidak pernah tahu, kamu akan menemui siapa ?. Bahkan saatpun aku melihatmu malam itu, aku masih belum paham bahwa wanita secantik kamu akan menerima cinta dari laki-laki yang berkulit pesisir seperti ku.
Hanya sepintas kamu datang lalu sepintas juga kamu pergi. Kini, Phinisimu membawamu dari hadapan ku. Tadi, saat kamu masih disini, masih dirumah, saat masih bercengkrama dengan balutan kesedihan ku dan kesetiaan ku. Di mana ketika murid-muridnya datang ke rumahku, ingin ikut mengantarmu ke dermaga.
Bukan hanya aku yang meneteskan air mataku karena ketidak seimbangan hatiku yang hilang tapi mereka juga menangisi kepergianmu.
Berceceran air mata memanggil namamu, nama yang bagi mereka tidak asing lagi untuk jangka yang panjang. Mereka akan mengingat dirimu dan senyummu, senyum sapa yang biasa kamu berikan pada mereka dalam ruangan sekolah.
...****************...
Ketika di dermaga semuanya tumpah...
"Bu guru, Bu guru kembali lagi ya. Kami akan merindukan Ibu guru, jangan pergi terlalu lama Bu guru. Siapa yang akan memberikan kami makanan ringan dalam ruangan saat belajar" ucap para murid pada Rindu.
Tidak bisa berkata apa-apa selain tangis diantara Rindu dan murid-muridnya menghiasai keadaan dermaga. Dengan memeluk muridnya, dia menatapku, menatap laki-laki yang dia cintai juga kian memprihatinkan wajah sedihnya.
Aku mencoba menahan sesak didadaku walau kenyataannya aku bersedih, mencoba bertahan dan menguatkan diri agar dia pergi dalam keadaan membawa impian kami.
Orang-orang yang hadir disitu tahu bahwa kami masing-masing tersakiti. Keadaan ini bukanlah semacam kepergian selamanya yang tidak akan bertemu lagi. Sebuah keadaan yang lebih mencerminkan suasana kebatinan antara kami berdua mengalami ketidak pastian rasa, bingung dan ingin bertahan bersama selamanya.
Aku agak menjauh, dia mulai melepaskan pelukannya pada murid-muridnya. Hendak naik ke atas kapal Phinisi miliknya. Namun, ada gejolak yang ingin dia sampaikan padaku yang masih tertahan oleh rasa malu di depan banyaknya orang.
Ibuku yang juga ikut mengantar Rindu kedermaga yang mungkin melihat arah pandangku selalu tertuju pada Rindu. Mengatakan padaku, "Eden, sebaiknya ayok kita pulang ! jangan berlama-lama disini, Nak. Kamu akan menangis jika berada disini. Anak laki-laki macam apa yang ingin menangisi wanita ?."
__ADS_1
"Ibu ini kenapa ?. Siapa yang mau menangis, Bu ?."
"Kamu mau bersembunyi lagi dengan menahan air matamu. Kalau kamu menangis disini, Rindu, mungkin tidak akan pergi atau mungkin kamu akan ditertawakan oleh orang-orang yang ada disini. Kamu mau, kalau semua yang disini mengejekmu ?."
"Ibu ini kenapa ?. Eden bukan mau menangisi kepergian nya Rindu. Eden hanya sedih melihat anak-anak muridnya yang menangis. Eden terharu Bu melihat mereka."
"Eden, Ibu tahu, kamu menahan air matamu. Ini yang pernah dulu Ibu katakan padamu untuk tidak membuka hati pada wanita Kota itu. Kan kamu nya saja yang tidak mau mengambil apa yang Ibu katakan. Cinta itu sakit, Nak ! bahkan seseorang bisa saja menderita karena cinta. Kita sebaiknya pulang saja, jangan disini terus, Ibu tidak tahan melihatmu seperti ini."
Disela percakapanku dengan Ibuku. Sontak teriak diatas dermaga menghadiahkan kepadaku. Rindu yang tadinya sudah berada diatas kapal Phinisi miliknya turun dengan derai air mata yang membanjiri wajahnya.
Dia berjalan menuju arahku, setelah agak dekat denganku. Dia memelukku didepan semua orang. Sebagian berkata, "pantasan saja kapalnya belum mau berangkat padahal dia mencintai, Eden. Eden juga pantasan belum mau pulang tahunya menunggu untuk kesempatan ini."
Sambil menghapus air matanya, wajahnya kupegang dengan dua telapak tanganku. Dia pun memegang kedua wajahku dengan telapak tangannya, "ketawalah Rindu, jangan menangis ! aku akan bahagia jika melihat senyum terakhirmu disini...."
"Bagaimana aku bisa tersenyum untukmu sementara aku akan pergi meninggalkanmu disini, aku akan membawa semua kenangan kita bersamaku. Aku hanya bisa tersenyum jika kamu tersenyum, Eden."
Memang berat ! aku hanya mampu mendengarkan setiap kata indah dari orang disini. Rindu pun sama sepertiku. Tidak ada jawaban, yang aku tahu, Rindu akan kembali kepadaku.
"Sudahlah !. Rindu, jika kamu pergi dalam keadaan seperti ini maka kamu tidak akan bahagia diperjalananmu menuju Makassar. Eden, disini sudah menjadi urusan Ibu. Ibu akan menjaga Eden untukmu."
Matanya yang berbinar-binar menatap Ibuku dengan dalam, "benarkan... Ibu akan menjaga Eden untukku ?."
'Iya, Ibu janji padamu, Nak Rindu. Asal kamu kembali, Ibu akan lebih percaya padamu lagi."
Sekali lagi dia memelukku lalu membisikan sebuah kata-kata indah, bermakna padaku, "Eden, jiwaku ada bersamamu. Kapanpun kamu ingin melihatku maka sebutlah namaku dalam cinta kita, aku akan hadir menemanimu saat itu pula."
"Rindu, setelah kamu disana, kembalilah secepatnya. Jika dalam satu bulan, dua bulan bahkan tahun, kamu belum kembali, aku akan datang menjemputmu di Makassar agar kita berdua bisa kembali kesini."
__ADS_1
"Janji lah padaku, Eden !."
"Aku janji Rindu !."
Dia kembali ke kapal Phinisi nya setelah menjabat tangan semua yang hadir disitu.
Meninggalkanku bersama orang-orang ini diatas dermaga, sesekali suara mereka mengejekku untuk sekedar ingin melihat air mataku agar tidak berhenti.
Aku tidak perduli dengan ejekan mereka. Mataku hanya fokus ke kapal Phinisi miliknya. Perlahan jangkarnya dinaikan, perlahan mesinnya dibunyikan, perlahan layarnya dikembangkan. Aku melihat Rindu masih berdiri didepan atas kapalnya melambaikan tangannya kearah kami.
Seperti anak kecil, aku hanya duduk sejenak. Kuingin rasanya meluapkan sakitnya hati karena kepergiannya.
"Bu, Rindu Bu..., dia sudah berlayar, Bu. Eden sakit, Bu. Seperti pisau mengiris tanganku, Bu."
"Sudah Nak !. Rindu sudah berjanji padamu dan pada Ibu. Dia akan kembali menemui mu disini. Jangan menangis seperti ini Nak, malu dilihat orang-orang disini. Kita tidak boleh bersedih apalagi menangisinya. Kan Ibu sudah bilang, setiap perjumpaan pasti akhirnya adalah perpisahan. Tapi kamu masih saja tidak mendengar kan perkataan Ibu. Kalau sudah begini mau diapa lagi, dia pergi bukan untuk sesuatu yang lebih penting dari urusan lain. Kita berdoa saja, semoga yang dia katakan pada kita, itu benar ! semoga keluarganya menerima harapan kalian Nak. Jodoh itu seperti kesedihanmu, bila kamu bersedih maka jodoh juga bersembunyi."
"Tapi Bu. Aku sakit !. Dia pergi !."
"Sudah lah, Nak !. Ayok kita pulang ! kalau mau menangis, nanti dirumah baru menangis. Disini banyak orang, lihat mereka yang ada disini pada memandang kearah mu. Bukannya Ibu ingin melarangmu tapi Ibu tidak ingin mereka berkata lagi bahwa kamu seperti ini hanya karena wanita."
Aku berdiri mengikuti nasehat Ibuku. Namun, mataku belum berhenti memandangi kapal Phinisi yang membawa rembulan ku. Sudah jauh ! dia tidak lagi mendengar denyutan jantungku hanya aku yang masih mendengar bunyi suara mesin kapalnya.
Andai aku adalah lumba-lumba yang pernah menolong Ayu waktu itu, aku akan mengejarnya, bermain-main penuh kasih dibawah dasar kapalnya. Agar dia melihatku, melihat laki-laki berkulit pesisir tetap setia mengikuti langkahnya sampai di laut Makassar.
Semakin jauh, semakin kecil, aku kembali ke rumah untuk mencari bekas-bekasnya, membaringi tempat tidurnya yang baunya masih tercium.
Rindu cepatlah kembali dengan harapan yang indah. Disini, aku bukan hanya bersedih tapi hampir mati menahan sesak didadaku karena kepergian mu.
__ADS_1
Rindu salam untuk harapan kita. Salam untuk keluargamu disana, salam untuk menjaga hubungan kita, bersama ombak dilaut yang berdesir, aku akan selalu berada di depan pantai menunggumu setelah ini.