Perahu Apung

Perahu Apung
36


__ADS_3

...Milikilah Wajah Ganteng...


...****************...


Kapal Phinisi merupakan suatu bukti nyata dalam sejarah pelayanan laut. Dari dulu hingga sekarang Phinisi masih sangat di kagumi oleh sebagian orang. Ibaratnya jika Phinisi itu adalah manusia maka orangnya pasti seperti aku. Memiliki wajah ganteng dan rupawan. Dulu, sebelum aku mengenal Phinisi, aku tidak pernah tahu ada yang namanya kapal Phinisi tapi sejak beberapa tahun yang lalu saat seorang wanita yang datang ke kampungku membawa Phinisi milikinya, aku baru tahu dan sejak saat itu, aku putuskan untuk mencintai Phinisi. Sampai detik ini, aku telah melahirkan kapal-kapal Phinisi yang sudah sampai ke mancanegara.


Bukankah kapal Phinisi itu bisa lebih cepat dari kapal Pelni, bisa lebih cepat dari kapal biasa ?. Ya..., bisa ! Phinisi itu lebih cepat dari kapal manapun. Sama seperti aku, saat aku masih hidup dikampung kerap kali teman-temanku memberitahuku bahwa aku adalah seorang laki-laki yang jelek. Aku bersyukur atas itu, sekarang ! banyak orang yang bilang kalau aku ganteng. Sebenarnya bukan ganteng atau jelek, wajah setiap orang itu relatif bahkan aku. Namun kenapa saat ini, aku lebih sering mendengar kata pujian bahwa aku ganteng.


Jawabnya hanya ada berapa orang yang tahu selain aku.


Seperti itu kira-kira penyampaian Eden didepan semua orang ketika berada di hotel mewah itu.


Namun ada yang salah dengan ucapan itu. Rindu yang dari tadi mendampingi Eden tiba-tiba pergi. Semula dia pamit untuk pergi ke toilet tapi sudah berapa menit bahkan sudah hampir setengah jam, dia tak kunjung juga kembali.


Eden pun menghentikan penyampaiannya dan memberikan mikrofon kepada pengarah acara.


Dia lalu turun dari podium, matanya mencari Rindu karena banyaknya orang yang hadir, dia tidak melihat Rindu. Di dalam ruangan itu, dia berkeliling dari satu sisi ke sisi ruangan yang lain tetap saja Rindu tidak ditemukan. Dengan keberaniannya yang kecil itu, dia berpikir untuk menanyakan Rindu pada Ayahnya yang sekarang sedang duduk dikursi paling depan.


"Bagaimana caranya aku bisa menemui Ayahnya Rindu. Beliau dikelilingi oleh orang banyak, disampingnya loreng-loreng itu juga duduk Ah, masa bodoh ! aku cuma mau tanya padanya, Rindu dimana sekarang ?." Eden menimbang-nimbang langkahnya untuk menemui Ayahnya Rindu.


Saat dia hendak melangkah menemui Ayahnya Rindu. Dari arah belakang, Rindu menarik lengan baju kanannya hingga Eden hampir saja terjatuh.


"Kamu kenapa ?." Tanya Eden padanya.


"Oh. Jadi itu yang membuatmu sampai kamu tidak mau memilihku untuk mendampingi hidupmu ?."

__ADS_1


"Apa ? aku tidak mengerti dengan yang kamu bicarakan ini ?."


"Siapa yang barusan tadi mengatakan milikilah wajah ganteng ? bukankah kamu yang barusan mengatakan itu. Sebenarnya dengan kamu berkata seperti itu dihadapan banyaknya orang, kamu ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kamu adalah pemuda yang kaya raya, punya rumah, punya mobil dan bisa membeli semua keinginanmu. Itukan yang ingin kamu katakan kepada semua orang yang ada disini atau kamu ingin mengatakan pada setiap wanita yang sempat hadir disini bahwa cintai aku, begitukan ?. Tidak cukupkah kamu menyakiti hati wanita yang mencintaimu. Bukan satu orang Eden tapi tiga orang wanita yang kamu sakiti, aku tidak apa-apa, mau kamu cintai atau tidak, bagiku sudah biasa menerima rasa sakit sejak kita saling menjauh"_


"Tapi pikirkan Anggun, pikiran Resky, mereka akan bertambah sakit bila mendengar ucapan yang baru saja kamu katakan dihadapan semua orang yang hadir disini. Hanya heran saja, kok ada ya seorang pemuda bisa-bisanya memuji dirinya sendiri. Kalau bukan kamu, aku tidak pernah melihat ada seorang pemuda seperti itu berkata dihadapan banyaknya orang"_


"Sebenarnya ada juga sih tapi lebih banyak berbicara didepan wanita yang dia cintai."


"Rindu, kamu kenapa ? sepertinya tidak salah jika aku berkata seperti itu. Siapa lagi yang akan memujiku kalau bukan aku sendiri. Orang lain hanya mau memuji kalau ada maunya. Kamu saja yang sudah lama aku kenal, dari awal-awal kita berkenalan sampai kita berpisah tidak pernah lagi bersapa muka, aku belum pernah mendengarmu berkata padaku bahwa wajahku ganteng"_


"Siapa lagi coba yang mau mengatakan itu padaku ?." Eden kembali bertanya pada Rindu yang masih terlihat seperti orang yang mau marah.


"Sudahlah ! terserah kamu saja. Cuma ngingetin saja bahwa harta jangan sampai membuatmu lupa diri dan menjauhkanmu dari kehidupan yang sesungguhnya."


"Jelaslah aku marah !."


"Apa kamu bilang ? barusan kamu mengatakan apa tadi, aku tidak salah dengarkan ?."


"Tidak !. Lupakan saja ! aku tidak ingin mengulangnya lagi. Daripada kita mempertentangkan sesuatu yang tidak ada gunanya, aku ingin pulang saja !."


"Kan acaranya belum selesai Rindu. Lagian Daengmu masih ada disini."


"Mereka bisa pulang sendiri. Aku mau pulang sendiri juga. Tidak ada yang istimewa di acara ini, kukira dengan aku kesini bersamamu, aku akan menemukan masa laluku yang hilang ternyata juga tidak. Kamu masih sama seperti tadi malam, masih belum bisa memaafkanku. Jadi kamu saja yang disini, ambil lagi mikenya lalu bicara lagi, aku ganteng, aku laki-laki kaya, biar semua wanita mengejar-ngejarmu. Jadi bukan hanya Aku, Reski, dan Anggun yang akan kamu buat kecewa tapi semua wanita yang mencintaimu akan merasa kecewa dengan sikap anehmu itu."


"Rindu, aku bisa minta tolong sama kamu ?."

__ADS_1


"Apa ?. Bilang cepat sebelum aku pulang.


"Bisakan kalau kamu marah lagi."


"Ihh apaan sih ?! orang lagi marah juga disuruh marah lagi. Menyebalkan sekali !."


"Abisnya, aku pengennya lihatin kamu marah terus. Aku baru perhatikan saat ini, ternyata kalau kamu lagi marah, mimik wajahmu itu mengembang bukan mendalam tapi manis sekali."


"Uda ah, aku mau pulang. Kamu disini saja, terserah kamu mau bilang apa, aku tidak perduli."


"Aku tahu supaya kamu tidak marah lagi dan masih disini bersamaku. Mau tahu caranya seperti apa ?"_


"Kamu pulang saja ! karena kamu tidak perduli lagi jadi jangan mikirin ini itu kalau bawa mobil supaya sampai dirumah aman. Belum pernah lihatkan kalau pemuda berwajah ganteng ini menangisi wanita secantik kamu."


"Huuu..., ngakunya ganteng padahal aspal."


"Apa itu aspal ?."


"Alias palsu."


Sungguh, sekaan cinta mereka telah kembali. Eden menemukan Rindunya dulu yang sempat meninggalkannya.


Ternyata percakapan mesra yang dipenuhi dengan makna-makna hati itu, dari tadi diperhatikan oleh orang-orang yang hadir yang ada disekitar mereka.


Peduli amat !. Eden hanya ingin berkata kepada Rindu bahwa di wajah gantengnya itu terdapat ukiran cinta atas nama Rindu yang tidak ada orang lain bisa melihatnya selain Rindu, terkecuali !.

__ADS_1


__ADS_2