
...Bermain Dengan Lumba-lumba...
...****************...
Jatuhnya salah satu murid perempuan dari atas kapal Phinisi milik Rindu menghebohkan semua penumpang di atas Phinisi itu. Para orang tua yang hadir mengikuti anaknya yang pergi rekreasi menyalahkan Rindu dan enam temannya.
Sementara orang tua murid yang anaknya jatuh langsung melayangkan cacian pada Rindu dengan berbagai bahasa yang tidak enak didengar. Phinisi yang harusnya bersandar di pulau kecil depan Karumpa akhirnya batal.
Ditengah laut, Phinisi berputar-putar mencari anak yang jatuh tadi. Tidak ada tanda-tanda yang bisa dilihat. Hanya ada angin, ombak dan hitamnya air laut yang dalam.
Keadaan semakin tidak stabil, orang tuanya berteriak kesana kemari di atas kapal memanggil anaknya. Rindu, dalam keadaan gugup, takut dan pucat. Karena tidak ada yang membelanya selain aku dan enam temannya tadi.
"Cepat cari anakku ?, teriak Ibunya. Kamu akan bertanggung jawab jika anakku tidak ditemukan."
Dari matanya, aku melihat Rindu tertekan. Dia hanya menerima cacian itu. Untung Guru-guru yang lain mendamaikan suasana. Memberi pengertian kepada orang tua murid agar kesalahan ini bisa di cari solusinya.
"Kata kalian diam, bagaimana dengan anakku yang jatuh. Dia ditengah laut, entah masih bisa didapat atau sudah ditelan ikan. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan pemilik kapal ini jika sampai terjadi sesuatu dengan anakku."
Melihat keadaan yang sudah tidak bisa terkendali, untuk sementara, kapal dikembalikan menuju daratan. Rindu, sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menyesali kejadian ini. Dalam keadaan terpaksa, dia berkata pada semua orang tua murid bahwa jika anak yang jatuh itu tidak ditemukan dalam waktu satu minggu maka dia siap dipenjara.
"Bu Ayu, kalau Ayu Rahmawati tidak ditemukan atau ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernafas lagi maka bawalah aku menuju pengadilan kepolisian. Aku yang salah ! tadi, sewaktu Ayu kedepan kapal, aku sudah memberitahukannya untuk tidak mondar-mandir di atas kapal selama kapal masih jalan. Aku menyesalinya karena tidak mengikutinya. Entah mengapa, aku tidak berpikir bahwa ini akan terjadi. Ayu jatuh bukan karena dia terpeleset, dia jatuh dalam keadaan tak sadar diri. Aku melihatnya sebelum dia jatuh, dia mengulurkan tangannya ke laut."
"Kamu hanya ingin membela diri dan mau menghindar dari kejadian ini" sahut orang tua murid yang lain.
Kapal tetap berjalan menuju darat. Tidak begitu lama, hanya selang beberapa jam dari kejadian barusan. Seorang nelayan dengan perahu kecil menuju kapal Phinisi milik Rindu sambil menaikkan bendera tanda berhenti. Kapal pun diberhentikan dengan cepat, mengapung diatas laut, hanya layarnya yang berkibar-kibar menjulang ke langit. Layar segitiga nan indah itu tidak menggambarkan suasana kondisi hari ini.
Perahu kecil itu tiba di Phinisi, kabar duka yang belum jelas dia bawa. Diikatkanlah tali perahu kecil tadi diatas Phinisi, nelayannya naik ke atas kapal lalu memberikan kabar bahwa dia menemukan sebuah baju berwarna merah.
Histeris meratapi kabar itu, para orang tua murid berlomba melihat baju itu. Yang benar saja, orang tua Ayu langsung mengambil baju itu dengan tangis yang dalam.
__ADS_1
"Ini baju anakku, dimana kamu menemukannya?, apakah kamu tidak melihat orangnya ?."
"Aku menemukannya disana, tidak jauh dari sini. Aku kira baju itu adalah barang berharga yang hanyut, ketika aku mengambilnya dengan niat bahwa itu adalah peti uang atau sejenisnya ternyata itu adalah baju. Karena aku melihat kapal ini dari tadi berputar-putar di bagian sini, makanya aku kesini. Aku yakin, karena biasanya kapal yang berputar-putar dilaut pasti ada masalahnya."
"Bawa kami ke tempat baju itu kamu dapatkan ?" Laki-laki yang paling tua yang menjadi kepercayaan Rindu dalam urusan kapalnya, mengatakan pada nelayan tadi.
Mesin Phinisi pun dihidupkan untuk menuju tempat dimana baju itu didapatkan oleh nelayan itu.
Aku melihat wajah-wajah yang histeris diatas kapal agak membaik. Ada harapan yang terlihat dari gundahnya setiap hati.
Ketika kami sampai di tempat itu. Aku langsung melompat kelaut hanya sekedar mencari sisa-sisa yang dipakai oleh Ayu, apakah masih ada yang terapung yang tertinggal !?. Ditemani rasa takutku akan air hitam yang dalam ini, ku lupakan sejenak. Aku ingin menolong sang belahan hati agar tidak disalahin oleh para orang tua murid dan Guru-guru yang lain.
Tidak ada apa-apa yang aku dapatkan selain tampias ombak yang bergerak membawaku kesana-kemari.
"Ada apa ?" teriakku dari laut memanggil orang-orang yang semuanya berdiri satu sisi diatas kapal.
Mereka tidak menjawab, bahkan aku melihat Rindu seakan bergembira memanggil nama Ayu.
Astaghfirullah, apakah ini nyata ?" kataku sendiri.
"Tolong aku !" sambil meraih sisi dek Phinisi ingin naik keatas kapal karena agak tinggi, aku tidak bisa meraihnya, aku tidak berhenti untuk meminta tolong. Dilemparkan lah tali dari atas kapal untukku agar aku bisa naik dengan tali itu.
Di atas kapal, disana aku melihat, Ayu sedang bermain-main dengan lumba-lumba. Orang tua murid, Rindu, Guru-guru yang lain bahkan tidak percaya dengan kejadian itu tapi inilah kenyataan yang kami lihat.
Seekor lumba-lumba hitam sedang membawa Ayu menuju kapal Phinisi yang kami tumpangi. Ayu berada diatasnya tanpa memakai baju. Dia tidak apa-apa, bahkan semakin dekat lumba-lumba itu dengan kapal Phinisi milik Rindu justru semakin meyakinkan kami bahwa yang diatasnya adalah Ayu.
Ibunya berteriak meminta tolong pada semua orang yang ada di atas kapal untuk menolong anaknya itu. Namun, tidak ada yang berani terjun kedalam laut. Aku, dan yang lain ketakutan melihat ikan lumba-lumba yang besar itu.
"Hanya Tuhan yang Maha Menyelamatkan Ayu."
__ADS_1
Itulah yang keluar dari Rindu ketika menyaksikan kejadian ini. Tak lama setelahnya, dengan pintarnya, ikan lumba-lumba itu, berhenti pas di dekat Phinisi.
Seakan lumba-lumba itu menyuruh Ayu untuk naik ke atas kapal dengan hati-hati. Kami melihat, Ayu berdiri di atas lumba-lumba memegang sisi Phinisi, Ibunya mengulur tangannya untuk menarik anaknya dari atas lumba-lumba tadi.
Setelah Ayu berada di atas kapal, dengan damai, lumba-lumba tadi berputar dikulit laut tiga kali baru kemudian masuk kedalam laut tanpa jejak. Seketika itu hilang dari pandangan kami.
Semua orang mengerumuni Ayu, menangisinya dan bahkan ada yang menanyakan padanya mengapa sampai ikan lumba-lumba itu menolongnya.
Di atas kapal juga, aku melihat Rindu sujud syukur kepada Tuhan. Aku mendekatinya, memberinya sebuah harapan bahwa kejadian ini telah berakhir detik ini juga.
Air mata kecil yang jatuh di pipinya adalah air mata bahagia. Kapal Phinisi miliknya akhirnya membatalkan tujuan pergi rekreasi dan tetap menuju daratan.
Sementara Ayu masih dikerumuni oleh para orang tua murid.
Uniknya, Rindu sama sekali tidak membela dirinya ketika semua orang menyalahkannya. Kami berlabuh dengan suasana yang bercampur sedih. Di dermaga, orang-orang menyambut kami dengan berbagai pertanyaan.
Aku hanya perduli pada Rindu. Kuajak dia agar tidak terlalu memikirkan kejadian barusan, "Rindu, ayok kita naik, biarkan yang sudah terjadi. Lagian Ayu sudah terselamatkan, disini, aku akan membelamu apapun yang terjadi.
Dia masih terlihat sedih walau tadi sempat menampilkan wajah bahagianya.
"Senyum lah !" kataku padanya.
Matanya dengan alis agak panjang itu, menatapku dengan ringan, "Eden, syukurlah, Ayu sudah didapatkan !. Kalau tidak, aku tidak akan pulang ke Makassar."
Mengujinya sambil bercanda dengannya, "ya, kalau ku tidak pulang ke Makassar berarti kamu akan menikah denganku."
"Ah, kamu ! orang serius malah bercanda."
Ku utaraka keinginan ku padanya melalui hatiku, "kamu masih belum mengerti juga, aku ingin menjadi suamimu, Rindu."
__ADS_1
Kamipun naik ke atas dermaga setelah semua orang benar-benar telah pulang.
Aku ingin menjadi lumba-lumba seperti tadi agar bisa membawamu mengarungi lautan luas menggantikan Phinisimu.