Perahu Apung

Perahu Apung
49


__ADS_3

...Canda Di Pondok...


...****************...


Seharian menghabiskan waktu hanya untuk jalan-jalan berkunjung kesana kemari dari tempat yang satu ketempat yang satu.


Kini mereka sudah berempat menuju pantai Losari, melewati tanjung Bunga dan melihat keunikan disana. Habis dari sana, mereka menuju ke sebuah pondok anak yatim, mereka singgah sebentar. Mereka membawa bingkisan kotak yang berisi baju koko yang mereka beli yang ingin dibagikan kepada anak yatim.


Di jalan jipang Raya setelah pasar, ada lorong ukuran satu mobil, disitulah mereka singgah. Bukan hanya bingkisan kotak tapi juga perlengkapan pakaian hari-hari yang mereka bawa.


Kedatangan mereka ke pondok anak yatim sebenarnya sudah lama direncanakan oleh Eden. Dulu saat dia masih hidup melarat, dikampungnya waktu pertama kenal dengan Rindu, dia bercerita kepada Rindu bahwa bila suatu saat ia menjadi orang sukses dan memiliki harta yang cukup setidaknya ia akan membahagiakan anak-anak yatim.


Karena saat ini Eden belum sembuh dari Amnesia yang dideritanya, niat yang pernah Eden bicarakan di wujudkan oleh Rindu.


Agak jauh, cuma karena mereka menggunakan mobil akhirnya sampai juga dipondok itu. Karena jam baru menunjukkan pukul delapan malam, merekapun turun dari mobilnya.


Terlihat dari pintu rumah depan anak-anak yang berusia tingkatan itu keluar dengan senyum, ketawanya membuat Eden merasa nyaman.


"Aku ingin bermalam disini !"_ Eden memberitahu Rindu, si gondrong dan sopir mobil.


"Aku merasa nyaman berada diantara mereka. Andai mereka bisa ikut bersamaku nanti pergi jalan-jalan mengelilingi lautan, aku akan lebih semangat. Hidup ini singkat bahkan sederhana, aku mengingat ada banyak senyum yang bisa mereka berikan padaku."


"Ini bukan seperti biasanya"_ Kata sopirnya Rindu.


"Bu, Pak Eden mengalami perubahan sikap ketika dia melihat anak-anak yatim itu. Apakah ini tanda bahwa Pak Eden akan sembuh, Bu ?."


"Semoga saja ! aku juga merasa begitu. Ketika Eden melihat anak-anak itu, dia terlihat berbeda. Dia ingat tentang laut, dia ingat ombak, dia ingin berlayar bersama mereka. Apakah ini suatu tanda bahwa dia akan sembuh ?."


"Harapan kita begitu, semoga dia sembuh dan kembali kekondisinya seperti biasanya."


"Aduh, siapa yang datang ?." Pengurus pondok keluar karena melihat anak-ankanya agak ribut menyambut Eden dan Rindu. Melihat ada tamu yang datang, mereka dipersilahkan masuk kedalam.


"Silakan masuk Pak, Bu. Silakan duduk dulu, aku mau ambil dulu air putih"_


"O, jangan repot-repot, Bu. Kami hanya sebentar disini." Sahut Rindu


"Kalian baru pertama ya datang ketempat ini ?."


"Iya, Bu !. Kami sengaja datang kesini. Ada sedikit ole-ole untuk keluarga pondok ini."


Diperbincangkan yang baru kali pertama itu dengan pengelola Pondok anak yatim itu, Eden bukan malah duduk bersama Rindu. Eden lagi asyik main sama anak-anak Pondok. Hanya berapa orang anak-anak yang tidak bermain dengan Eden. Setiap anak bergantian menaiki punggung Eden. Main kuda-kudaan adalah hal yang paling istimewa bagi anak-anak yatim itu.

__ADS_1


Melihat keadaan ria gembira itu. Rindu dan pengelola Pondok tertawa.


"Baru kali ini ada seorang laki-laki yang datang ke Pondok ini langsung akrab dengan anak-anak disini. Apakah dia suami Ibu ?." Pengelola Pondok itu bertanya pada Rindu.


"Dia calon suamiku Bu. Sebenarnya kami telah berencana mau menikah dalam waktu dekat ini. Namun ada kendala yang mengakibatkan niat pernikahan kami harus ditunda untuk sementara waktu."


"O, maaf Bu ! aku tidak bermaksud membuat Ibu sedih."


"Tidak !. Biasa aja Bu !. Saat pertama kami turun dari mobil tadi, dia terlihat akrab dengan anak-anak disini. Namanya Eden, dia bukan asli Makassar, dia orang jauh sekali dari sini. Kami sudah lama kenal bahkan hubungan kami pernah mandek untuk jangka waktu yang agak lama. Dia sedang menderita penyakit lupa diri."


"Menderita penyakit lupa diri, maksud Ibu Amnesia ?."


"Namaku Rindu. Iya, dia menderita Amnesia yang mengakibatkan hampir keseluruhan dari ingatannya lupa akan aktifitas yang pernah ia lakukan. Bahkan aku saja yang tiap waktu menemaninya terkadang, dia lupa siapa aku"_


"Penyakitnya bermula dari kecelakaan mobil. Waktu itu diperjalanan, kami sedang menuju rumahku untuk membicarakan pernikahan yang sudah kami sepakati bersama. Rencananya Eden akan melamar ku didepan keluargaku namun nasib berbicara lain. Ditengah jalan ketika mobilnya memacu kecepatannya, mobilnya menabrak seorang Nenek. Akibatnya massa yang ada ditempat kejadian menghakimi Eden sampai pada akhirnya seperti sekarang ini"_


"Aku bahagia melihatnya bisa bermain begitu dengan anak-anak disini. Aku juga pengen melihatnya bisa normal kembali."


"Kamu yang sabar ya. Aku do'akan semoga dia bisa sembuh secepatnya. Ya namanya hidup, cobaannya banyak. Sehari bisa bahagia sudah Alhamdulillah !."


"Bu, apa boleh jika anak-anak disini untuk malam ini kami bawa ke tempat permainan anak-anak termasuk Ibu juga ikut. Kalau boleh, aku dan Eden ingin menghabiskan malam ini bermain bersama anak-anak, jika Ibu mengizinkan !."


"Boleh Nak Rindu tapi apa belum larut malam ?."


"Ini ole-olenya Bu sekalian ada sumbangan atas nama Eden untuk keluarga Pondok. Aku mohon do'anya ya Bu untuk kesembuhannya Eden."


"Iya. Insya Allah, semoga Pak Eden bisa kembali seperti keadaannya semula."


"Kalau begitu kami pamit pulang Bu."


Tanpa sepengetahuan Rindu dan pengelola Pondok, Eden membawa beberapa anak ke warung makan yang tidak jauh dari Pondok itu. Rindu dan Pengelola Pondok mengira kalau Eden sedang bermain di halaman depan rumah. Ketika Rindu keluar, ia tidak melihat ada Eden didepan rumah. Hanya sopirnya yang melihat Eden keluar menuju warung makan ditemani si gondrong.


"Mad, dimana Eden dan anak-anak itu ?. Bukankah mereka tadi bermain disini ?."


"Iya Bu, mereka tadi bermain disini tapi sekarang mereka ada di warung sana. Mungkin Ibu agak lama di dalam. Aku sudah menahannya tadi tapi Pak Eden tidak mau, dia tetap kesana. Si gondrong bersamanya, aku suruh tadi si gondrong untuk menemaninya."


"Ayok kita kesana, Mad. Ibu mau ikut juga kesana, sekalian kita makan juga. Oya panggil semua anak-anak yang masih ada didalam Bu. Biar ramai-ramai disana !."


Sekitar empat puluh kepala termasuk yang agak besar-besar berjalan kaki menuju warung Mas Jaka. Kebahagiaan yang terukir di wajah anak-anak itu tidak tergambarkan.


Didepan warung, Rindu melihat Eden dan beberapa anak Pondok itu sedang makan. Kadang mereka tertawa sambil makan bahkan sesekali menatap Eden.

__ADS_1


Pemilik warung yang dari tadi sepi pengunjung itu merasa bersyukur sebab ada tambahan pembeli yang lebih banyak lagi yang ingin makan di warungnya.


"Bu, apa semua anak-anak ini akan makan disini ?."


"Iya !. Mereka makan disini. Menu makanannya mana Pak ?."


"Kursinya tidak cukup Bu !. Yang ada cuma nasi goreng Bu."


"Itu saja. Kalau begitu bungkuskan Pak sekitar lima puluh bungkus ya. Berapa semuanya Pak ?."


"Totalnya delapan ratus lima puluh ribu, Bu."


"Ini Pak !."


"Anak-anak, kita tidak bisa makan disini. Maaf ya ! kursinya tidak cukup, kakak sudah minta bungkus kan. Nanti kalian makan dirumah aja ya, kakak mau pulang dulu, besok sore baru kami kembali"_


"Bu, kami pamit ya !."


"Terimakasih banyak Nak Rindu !."


"Biasa aja Bu. Aku melakukannya selain karena ingin melihat anak-anak ini tersenyum juga yang pertama karena niat yang pernah Eden katakan padaku"_


"Kami pamit ya Bu !."_


"Eden, ayok kita pulang !. Besok lagi baru kita main kesini !."


"Kenapa mau pulang. Aku mau tidur disini bersama anak-anak ini. Kalian saja yang pulang."


"Eden, jangan gitu. Anak-anak juga mau tidur. Ini sudah malam, besok lagi kesini ya !."


"Aku tidak mau !."


"Kalau kamu tidak mau pulang, terus aku pulang sama siapa ?." Rindu tetap membujuknya


"Tapi janji ya besok kesini lagi."


"Iya, aku janji."


Akhirnya bisa juga diajak pulang. Mereka masuk kedalam mobil. Lalu, Eden berbisik ketelinganya Rindu, "kamu cantik dan baik hati. Aku pengen sandar di bahumu, aku capek karena main kuda-kudaan tadi."


"Oh... kamu mau sandar. Iya, kamu sandar aja disini tapi jangan tidur ya."

__ADS_1


Mereka masih dalam kesetiaannya menjalani hubungannya walau terkadang Rindu dibuat emosi.


__ADS_2