
...Siang Berasa Malam...
...****************...
Kecubung kah itu ? Kecutan berasa asing ketika kedua jemari lincah mulai merapat kesebuah tempat. Mengulangi nasib jingga yang bertengger didalam hati.
Perdebatan dan perhelatan nasib yang sengaja dibuat bersama di belakang atas kapal menuai persamaan perasaan. Eden yang tak menginginkan Resky tidur sendiri akhirnya harus menerima saran yang dimintanya.
Menikah !.
Apakah pernikahan yang dilangsungkan diatas kapalnya sudah seharusnya dilakukan ?. Tak ada pilihan lain selain melaksanakannya. Bagaimana tidak, suatu kehormatan dalam sebuah hubungan hanya akan tercipta dengan harmonis ketika hubungan itu menyatu dalam ikatan pernikahan.
Semua di catat sebagai simbol tanda bahwa mereka sudah menikah.
Ukiran-ukiran senyum kecil yang bersemi di wajah Resky begitu terlihat. Kebahagiaan bukan hanya terpampang jelas tapi membuah seperti buah yang rindang dirantingnya.
"Terimakasih Eden, kamu berani mengambil kesempatan, berani mengambil keputusan, resiko untuk menikahiku." Ucap Resky yang masih terlihat bahagia itu.
"Aku hanya menjalankan tugas cintaku, tugas rinduku, tugas kewajibanku, aku tak ingin selama ditangah laut ini, kamu selalu ingin menjauh dariku. Bukankah ini yang kita kehendaki berdua."
Pernikahan sesak itu terbilang lucu. Bagaimana tidak ?! Yang menjadi penghulu adalah gondrong dan yang lain menjadi saksi.
Perdebatan sempat terjadi ketika gondrong disuruh untuk mewakilkan Resky sebagai wali nikahnya. Gondrong tidak mau sebab dia dan Resky tidak punya hubungan atau ikatan keluarga. Ya..., namanya juga simplifikasi, akhirnya gondrong mau juga setelah Resky meminta orang tuanya untuk mendelegasikan aturan wali nikah kepadanya melalui ucapan permintaan lewat hp.
__ADS_1
Pernikahan yang berlangsung hanya berapa menit itu menggetarkan dada setiap mata yang menyaksikan kemesraan yang sedang terjadi. Selaku wali, Eden diminta untuk menjaga dengan serius kehidupan Resky yang sudah diserahkan kepadanya. Dan melupakan setiap hal yang bersangkutan dengan Rindu.
"Eden, dipagi menjelang siang ini, kamu sudah resmi menjadi suaminya Resky. Tanamlah taman-taman dikebunmu sesuka hatimu, dari arah manapun kamu menanamnya, Tuhan telah meridhoi kalian. Hanya satu pesannya padamu, jangan pernah menjatuhkan air mata Istrimu untuk masalah yang tidak terlalu penting. Pandang dan lihatlah Istrimu sebagai seorang Bidadari yang sengaja diturunkan dari langit untukmu sebab diluar sana, didaratkan sana, masih banyak orang-orang yang mau menikah tapi terkendala oleh kondisi bahkan tidak mendapatkan restu dari orang tuanya. Pesan terakhirku sebagai walinya untukmu, wanita itu bengkok, jika kamu membiarkannya terus-menerus dalam kebengkokan maka dia tetap akan berada diposisinya yang bengkok tapi jika kamu meluruskannya dalam urusan kebaikan maka dia akan lebih lurus dari yang kamu harapkan."
"Nasehat penting darimu padaku selaku walinya Resky akan aku ingat sepanjang hari dalam hidupku, aku bisa melupakannya jika mau sudah menjemputku tapi selama nyawa masih dikandung badan, aku tidak akan melupakannya." Sahut Eden dengan wajah yang serius pada gondrong.
Sekitar jam 11:00 pernikahan selesai. Mereka berdua tak lagi tidur dilain kamar melainkan menghabiskan waktunya berdua didalam kamar berdua.
Kecupan kecil mulai berlaku, melayangkan sejuta asmara. Kecil-kecil sentuhan yang tak lagi berdiskusi, langsung saja memotret keindahan Rindu.
"Apa yang kamu lihat, Eden ?." Tanya Resky pelan kepada Eden yang kini sudah menjadi suaminya.
"Tidak !" Aku hanya tak percaya kalau hari ini, kita sudah menjadi pasangan suami Istri. "Aku tidak lupa dengan yang kamu katakan padaku bahwa setelah menikah, ada banyak gaya yang ingin kita praktekan. Apakah itu benar atau tidak ?! Coba tunjukan padaku, Resky."
"Eden, inginkah aku berjalan kesemua lorong melewati kehidupanmu ? Dimana setiap jalan ditubuhmu memberiku peluang lebih sensitif. Jika kamu inginkan itu, aku tak akan menolaknya sebab aku sudah menjadi istrimu yang sah, Eden. Hanya ada satu permintaanku padamu, andai bisa kamu penuhi, aku akan lebih bahagia lagi."
"Setelah kita menikah dan saat ini sudah resmi berstatus suami istri, apakah kamu akan melupakan Rindu ?."
"Resky, mengapa kamu tanyakan itu, apakah kamu masih tidak percaya padaku ?."
"Bukan tidak percaya, Eden. Aku hanya ingin tahu lebih jauh lagi, apakah kamu akan melupakan Rindu atau tidak. Aku tidak ingin suamiku memikirkan wanita lain selain diriku, aku tidak ingin, suamiku merasa tidak puas denganku baik perilaku hari-hari maupun perilaku biologis. Jika kamu penuhi itu, maka semua gaya yang sempat aku ceritakan padamu, akan aku buktikan hari ini padamu. Ombak pun akan menjadi saksi bahwa kita sedang memperhatikan sebuah asmara yang tidak bisa dilakukan oleh ombak memeluk kapalmu."
"Resky, aku janji. Biarkan aku menjadi suamimu yang sempurna tanpa memikirkan wanita lain selain dirimu. Biarkan aku menikmati hubungan mesra ini, Resky. Biarkan lautan luas yang kita arungi ikut bersaksi bahwa kita sedang bergulat penuh sensasi."
__ADS_1
"Pelankan suaramu, Eden. Jangan biarkan pembicaraan pribadi kita keluar hingga ABK kapalmu mendengar percakapan kita. Mereka akan merasa iri pada kita yang sementara memadu, mempercepat aliran darah bergerak. Dekaplah aku Eden, dengan sepuluh jarimu dari arah manapun, aku ikhlas."
Suara-suara lain agak ngos-ngosan lebih cepat dari biasanya. Nafas sejarah keabadian mulai melukiskan peradaban cinta yang sejati. Keseruan mulai tercipta dengan panasnya. Angin siang ditengah laut tak bekerja mengeringkan tubuh mereka. Model apapun dilakukan dengan bijak, Eden lupa bahwa Rindu masih begitu berharap kepadanya.
Setitik jemari tengah tenggelam didalam kisruhnya kedalam air asing. Sebentar lagi bukan hanya kapal yang dipercepat agar sampai di pulau kelahiran tapi seuntai mesin alami tengah berusaha mempercepat lajunya.
"Ayolah Eden !" Resky menyuruh suaminya agar lebih cepat.
Candaan diantara pelipis mata dibarengi suara mainan mereka mencurah asahan tak berkesudahan.
"Kamu sih bagus karena hanya menampung. Ibarat lautan luas diluar sana yang hanya menampung mengapungkan kapal Phinisi ini tapi aku, terkekeh oleh sindiran yang tak mampu aku lakukan. Satu model cukup memberiku kebahagiaan yang tak akan pernah aku lupakan. Resky, baru kali ini, aku menikmati perasaan luar biasa seperti ini. Dulu, hanyalah angan-angan ingin melakukan nya tapi tidak kesampaian. Dengan kamu menjadi istriku, model apapun yang sudah kamu katakan, aku jadi paham dan tau, memang tak mudah !."
"Haha baru sekali itu, Eden. Gimana kalau banyak kali, kamu pasti tidak akan kuat."_Sahut Resky yang saat ini masih berbaring memeluk Eden.
"Kalau saja kamu tidak menikahi ku, mungkin aku masih sendiri di dalam kamar ini dan kamu juga pasti masih sendiri dikamar mu. Tak ada apa-apa yang bisa kita lakukan, baring dengan menatap dinding kamar dan bangun melihat sekeliling, tetap tak ada apa-apa. Tapi karena kita sudah menikah, sekehendakmu ingin berbuat apa sebab aku adalah milikmu. Asal jangan pernah merugikan ku, Eden."
"Maksudnya, gimana Resky ?."
"Iya, jangan rugikan aku. Kalau mesin Phinisimu mengeluarkan asapnya maka kamu harus membiarkan siputih kental berada didalam ya. Supaya aku cepat gemuk, sayanggg !!!."
"Oh... itu, aku kira apaan ? Ternyata itu, siap Resky. Aku sungguh ingin mengulanginya lagi, Resky."
"Masih mau ya ?."
__ADS_1
Maaf baru up lagi. Dikampung susah jaringan, jadi baru lagi up. Pembaca yang baik tetap sehat ya dan selalu tunggu kelanjutan cerita Perahu Apung. Dukung dengan like, vote, beri hadiah, dan komentari agar penulis selalu semangat. Agar penulis selalu berusaha sebisa mungkin meng-up ditengah keterbatasan jaringan dikampung.
Terimakasih 🙏🙏🙏