
...*****Cerita Pahit*****...
...************...
Kapal Phinisi pun kini bersandar di dermaga. Atas nama cinta, ia kembali melabuhkan jangkar di pelabuhan Bugis Makassar.
Kedua wanita yang kini sedang menunggunya berdiri dengan senyum. Eden bukan malah menyambut mereka, Eden juga terlihat tak begitu merespon. Padahal tadi, saat kapalnya masih jauh dari dermaga, Eden begitu antusias untuk kembali ke dermaga. Eden tak sampai hati pergi meninggalkan dua wanita yang mencintainya yang sedang menunggunya di dermaga. Apalagi, kepergiannya dengan tujuan ke kampungnya bukanlah keikhlasan sebenarnya yang muncul dari pikirannya. Dia meninggalkan Makassar karena sebab perasaan yang tak lagi bisa bersandar dipundak wanita yang ia cintai.
Disaat yang sama pula, Rindu dan Resky begitu bahagia. Kebahagiaan itu terukir di wajah mereka berdua tatkala menyaksikan Eden melambai tangannya kearah mereka berdua. Rindu dan Resky, saat melihat lambaian tangan itu, mereka berdua mengira bahwa Eden bahagia.
Eden, senang walau terpaksa. Ia pun lalu turun dari kapal untuk menemui Rindu dan Resky. Keraguannya hilang ketika dua wanita yang mencintainya saling berpegangan tangan menyambutnya.
Namun, mereka tak bisa membohongi mata maupun keadaan hatinya yang bersedih. Di hati masing-masing, mereka pasti mempunyai pikiran yang sama yaitu, mencintai pemuda yang sama adalah suatu perjuangan dengan mengabaikan rasa sakit yang mungkin akan terjadi dikemudian hari.
Rindu, masih seperti semula, sedih, dan berantakan. Sementara Resky tetap memegang tangannya Rindu. Ia sedang berusaha menguatkan dirinya yang juga memotivasi Rindu agar tak bersedih lagi.
Resky paham betul, bahwa cinta yang Rindu miliki untuk Eden, tak mampu ia saingi. Walau demikian, ia pahami, ia hanya bisa berpasrah dengan sedikit perjuangan untuk mendapatkan cintanya Eden.
Sebenarnya Resky sama dengan Rindu. Sakit dan terluka. Bagaimana tidak ?! Saat ketika Eden telah berdiri dihadapan mereka berdua. Wanita pertama yang ia peluk adalah Rindu. Eden mengabaikan Resky yang ada disampingnya, ia tidak sadar bahwa Resky juga mempunyai perasaan yang sama seperti Rindu. Rasa sakitnya sama, rasa sayangnya sama, dan rasa ingin dipeluk juga sama.
Perlahan Resky mulai menata dirinya dengan agak menjauh dari Eden dan Rindu. Ia membiarkan rasa pahitnya menggores hatinya dan mengiris tubuhnya dengan rapih.
Resky pun berjalan tanpa menengok mereka yang masih lekat melepas tangis diatas dermaga. Kapal yang sudah berlabuh dengan tenang seakan memanggil Resky "disinilah kau menunggu mereka, jangan biarkan air matamu jatuh hanya karena melihat Eden dan Rindu sedang melepas dahaganya."
"Apa yang kamu pikirkan ? Aku tahu, kamu sedang tidak bahagia melihat mereka berpelukan kan ?." Gondrong tak diam saja, gondrong memperhatikan kondisi batin yang Resky rasakan.
"Jangan bertanya padaku, tapi tanyakanlah pada pemilik kapal ini." Sahut Resky sambil menuju dalam kapal tepatnya sebuah kamar kecil yang dulu pernah mereka pakai berempat.
Disisi yang sama, tanpa sepengetahuan Resky, sebuah mobil berplat merah tiba di dermaga. Mobil dinas itu, ternyata adalah Daeng nya Rindu yang sengaja datang karena mendengar kabar dari seseorang bahwa Rindu ada didermaga dan hendak pergi bersama Eden.
Sore yang mestinya menjadi hari kebahagiaan Eden bersama Rindu. Mereka telah sepakat untuk pergi, akhirnya menuai protes dari Ayahnya Rindu.
__ADS_1
Keributan pun tak bisa dihindari. Sopir yang juga berfungsi sebagai keamanan itu langsung menghampiri Eden. Dari dalam mobil, Ayahnya Rindu berteriak dengan memerintahkan sopir nya untuk membawa Rindu masuk kedalam mobil.
Disaat yang sama pula, Eden tak bisa berbuat apa-apa.
"Rindu, bagaimana jika Daengmu tidak mengizinkan kita pergi ? Keadaan ini sulit untuk kita berdua. Aku lihat sepertinya, kita akan berpisah disini." Pungkasnya pada Rindu yang sebentar lagi, ia tidak akan melihat lagi Rindu ada disampingnya.
Belum sempat Rindu menjawabnya. Suara keras kembali datang menyeruak dari dalam mobil. Ayahnya Rindu meneriaki sopirnya yang disuruh untuk menjemput Rindu dari hadapan Eden "bawa Rindu masuk kedalam mobil !." Tegas Ayahnya. "Pemuda kampung itu, dari dulu memang aku tidak pernah suka padanya, hanya karena Rindu adalah anakku, tak ingin aku melihatnya bersedih, aku membiarkannya menjalin hubungan dengannya. Tapi untuk kali ini, dia benar-benar keterlaluan. Suruh dia menjauh dari kehidupan anakku, jangan sampai aku turun dari dalam mobil, tanganku akan mendarat diwajahnya."
Kemarahan Ayahnya Rindu kali ini tak bisa ditahan lagi. Sopir pribadi sekaligus adalah keamanannya itu begitu amat ditekan agar Eden harus mendapatkan dulu sedikit sentuhan tinju.
"Eden, cepat pergi ! Cepat kembali ke kapalmu, Daeng ku terlihat marah padamu." Suruhnya pada Eden.
Tak ada kata yang pantas lagi diucapkan di sore ini selain ucapan menjauh dari Ayahnya Rindu.
"Aku akan tetap mencintaimu, Eden." Lelehan air matanya mulai lagi turun dari mata mungilnya.
"Lalu bagaiamna dengamu jika aku pergi ?."
"Eden, jangan perdulikan aku. Kalau hari ini aku tidak bisa ikut bersamamu, menemani perjalanan hidupmu khususnya menemanimu di tengah lautan setidaknya di kapalmu, Resky bisa menggantikan posisiku untuk menjagamu. Yakinilah satu hal Eden, aku akan menyusulmu tapi bukan hari ini."
"Eden, adakah cinta yang perlu dikhawatirkan saat semua rasaku telah bertumpuk di bahumu. Aku percaya bahwa kamu tidak akan selingkuh, dan kalaupun kamu selingkuh dengannya maka biarkan wajahku yang kamu lihat darinya agar cintamu padaku tidak akan pernah memudar seiring senja yang tenggelam meninggalkan bumi."
"Hay... Kamu !, Tunggu !." Sopir itu memanggil Eden agar bertanggung jawab. "Kamu tidak boleh pergi sebelum hal ini selesai." Tegasnya kembali pada Eden.
Tapi, siapa perduli. Eden tetap berjalan menuju kapalnya.
"Sudah cukup aku di uji, sekarang aku tau, kalian pasti akan menegurku dengan telapak tangan atau aku akan kalian bawa lagi ke penjara." Sahutnya pada sopir itu setelah Eden berada di atas kapalnya.
Mendengar kehebohan itu, Resky baru sadar kalau di dermaga sedang terjadi huru hara cinta yang tak biasa terjadi.
"Aku pastikan, kemanapun kapalmu pergi, aku akan menemukanmu ?." Sopir itu mengancam Eden.
__ADS_1
"Terserah ! Aku tidak perduli." Jawabnya dari atas kapal.
Apa rasanya ketika hubungan yang baru saja kembali justru mendapatkan penolakan yang hebat dari orang tua wanita.
Ingin marah, percuma ! Ingin melawan, percuma ! Ingin menangis lebih-lebih lagi percuma ! Orang tua Rindu yang kini bak singa tak mudah memaafkan Eden.
"Silahkan pergi ! Namum, jangan pernah berpikir untuk kembali ke Makassar. Saat kamu kembali, kamu akan tahu sendiri apa akibatnya." Tegas Ayahnya Rindu pada Eden. Sangking marahnya, ia keluar dari dalam mobilnya sambil menunjuk-menunjuk Eden yang saat ini sudah ada di atas kapalnya.
"Daeng, sudahlah !. Tidakkah Daeng melihat sekitar kita ?! Orang-orang sedang memperhatikan kita. Aku malu melihat Daeng seperti ini."
"Masuk kamu ke mobil !." Sekali lagi Daeng nya Rindu memerintahkan pada Rindu agar masuk kedalam mobil.
"Apakah laki-laki begitu yang kamu inginkan jadi suamimu ? Aku, memang tidak setuju dengannya, tapi kamu ! Malah ingin melanjutkan hubungan dengan dia. Kamu lupa atau tidak ingat, baru tadi malam, laki-laki itu membuatmu menangis. Sekarang kamu malah ingin ikut dengannya."_
"Daeng kecewa padamu, Nak. Lihatlah laki-laki yang kamu cintai, lebih memilih pergi daripada harus bertanggung jawab."
"Aku minta maaf, Daeng !."
"Ayok kita pulang ! Ibumu menunggumu dari tadi." Rindu pun di bawa pulang dengan sejuta kesedihan yang ia bawa. Sementara Eden, hanya bisa mengusap dadanya, ia masih belum terlalu percaya dengan kejadian sore ini.
"Ini salahku !." Katanya sendiri. "Rindu telah kembali dan aku pulang kampung membawa harapan pahit untuk kedua orang tuaku."
Cerita pahit itu bukan hanya dirasakan oleh Rindu tapi juga Eden. Dia kini berlayar membawa kepikuan, pilunya perasaan. Walau Resky ada, menemaninya di kapal, ia masih tetap murung.
Sampai disini dulu ya...!
Tunggu selanjutnya...
Ayo dukung Penulisnya dengan cara
#Vote, Like, Komen, dan beri Hadiah
__ADS_1
agar penulisnya semangat up terus.
Matur Nuwun🙏