Perahu Apung

Perahu Apung
71


__ADS_3

...Mau Tidak Mau...


...****************...


Marah-marah kecil nyatanya ingin sesuatu yang lebih menarik. Eden tak tau kalau amarah wanita yang mencintainya bukan hanya butuh hiburan tapi ada sedikit hal lain yang sifatnya rahasia yang dibutuhkan.


Bukan hanya Resky, siapa saja jika dalam keadaan marahnya memuncak apalagi dia adalah wanita pasti pengennya diajak molesin wajah, alias diberi senyuman terus.


Begitulah kira-kira yang di inginkan oleh Resky. Lelah dikamar karaokean, Resky lalu keluar. Sebenarnya tujuannya ingin mencari Eden yang cuek setelah terkena lemparan roti oleh Reksy.


Resky berjalan didek atas kapal menuju belakang kapal. Mungkin ingin menikmati nyiur suara laut yang dibelah oleh dasar kapal.


Kebiasaannya memang seperti itu. Setiap Resky merasa kesal, ia pasti akan duduk di belakang kapal. Tak lama kemudian, dikesendirian nya itu, gondrong datang menemaninya.


Ucapan selamat larut malam pun di ucapkan pada Resky yang terlihat agak tak begitu bahagia.


"Kamu belum tidur ?" Tanya gondrong padanya.


"Kamu sendiri mengapa belum tidur ?" Sahutnya tanpa menengok kearah gondrong. "Aku belum mengantuk, aku hanya pengen duduk disini, menikmati pemandangan laut ditengah gelapnya malam ini."


"Aku juga belum ngantuk. Aku tak bisa tidur, aku rindu pada istri dan anakku."


"Kalau kamu Rindu pada mereka, lalu mengapa kamu juga ikut ?."


"Urusan pekerjaan. Aku belum lama kerja sama Pak Eden, kalau tidak ikut sama Bapak, apa juga yang harus aku kerjakan untuk menghidupi keluargaku."


Ada teman yang ngajak bicara, Resky mengendurkan amrahnya. Percakapan yang hangat diatas kapal ternyata justru mengundang hadirnya sosok yang ditunggu.


Eden muncul tak terduga, tiba-tiba saja, dia duduk disampingnya Resky.


"Kelihatanya kalian berdua lagi asyik cerita. Cerita apa sih ?."


Mendengar pertanyaan itu, Resky bukan malah meresponnya dengan baik. Ia langsung berdiri dan pergi meninggalkannya.


"Tanya saja pada gondrong ? Aku tak punya waktu untuk menjawabnya. Ngantuk, aku mau tidur ah !."

__ADS_1


Sambil menarik tangannya, Eden menyuruhnya untuk duduk.


"Kok gitu, duduk dulu sebentar. Masa aku datang, kamunya malah pergi ! Nggak setia namanya kalau gitu."


"Setia apanya ? Aku ngantuk !."


"Pasti gara-gara aku datang kesini kan. Tadi, kalian asyik bicara. Pas aku datang, kamunya malah langsung pergi gitu. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku."


"Apa yang aku sembunyikan, tanya saja sama gondrong, apakah ada hal penting yang kami bicarakan. Kami cuma bicarakan soal pekerjaannya, itupun tak begitu serius. Sudah ah, aku mau pergi tidur. Kalian kalau mau cerita, kan bisa cerita tanpa aku disini."


"Kesannya lain Resky, kalau kamu tidak ada disini. Aku tuh, maunya ada kamu disini. Kok kamu gitu sih ?."


"Baru paham ya, kalau menyendiri itu tidak enak. Aku yang menyendiri di kamar karoke justru asyik. Suntuk ya aku kesini duduk, tak lama gondrong datang untuk menemaniku. Kamu kemana saja ? Saat aku ingin kamu menemaniku, eh malah tidak muncul. Saat aku mau tidur, eh malah muncul."


"Resky yang ngotot ingin pergi tidur. Malah ditahan, Eden gimana sih, orang mau tidur tuh." Suara elakan gondrong berbisik dalam hatinya.


"Aku pamit, Pak. Aku juga mau tidur."


"Lo...lo... kalian kompak. Tadi Resky yang mau pergi tidur sekarang malah gondrong yang mau pergi tidur. Kalian ini kenapa ? Coba kek sebentar lagi baru pergi tidur. Aku tuh butuh teman untuk cerita, kalian disini saja, sebentar tidurnya. Lagian ini baru jam berapa sih ?."


Gondrong tak perduli. Dia berdiri untuk pergi tidur. Sementara Resky masih berdiri dengan seriusnya menatap Eden dengan tatapan yang agak menakutkan. Cuma karena malam, jadi tatapan itu tak begitu jelas terlihat.


"Oh, ya ! Mengejutkanku. Perasaanku mengatakan bahwa kamu hanya akan berbicara mengenai hubunganmu dengan Rindu. Aku sudah tau, Eden, kamu begitu mencintainya. Kapan sih isi hatimu bisa berkata untuk mencintai wanita lain. Yang ada di kepalamu hanya tentang dia, tentang Resky dan tentang hubungan kalian."


"Kamu kok malah bicara begitu. Tadinya yang aku dengar darimu bahwa kamu tidak akan pernah marah jika hanya menyebut nama orang yang aku cintai. Kamu main tebak saja, aku tidak akan bicara itu padamu. Aku paham dan tau jika wanita itu sama, oleh sebab itu, aku harus menjaga perasaanmu. Jadi duduklah ! Kalau kamu tidak yakin, kamu akan nyesal nantinya itu."


"Apa sih ? Kan, bisa biar tidak duduk. Bicaralah ! Aku akan mendengarmu. Cepatlah bicara ! Aku ngantuk ini, Eden."


"Tapi duduk dulu ! Masa aku duduk, kamu berdiri. Tidak nyaman tau, aku pengen bicara denganmu kalau kamu duduk. Kamu tega kalau tak mau duduk, terus jika aku ingin bersandar, aku akan bersandar dimana ?."


"Kan bisa biar tidak bersandar. Bahuku ini bukan untuk disandari, bahuku ini bisa disandari kalau laki-laki itu memang sudah siap menikah denganku."


"Makanya duduk dulu, Resky !."


"Iya... iya..., aku duduk !."

__ADS_1


"Begitu saja repot." Sahut Eden dengan penuh semangat. Eden seakan telah lupa bahwa ada wanita yang paling setia mencintainya selain Resky.


"Sekarang aku sudah duduk. Jadi, apa ? Apa yang ingin kamu bicarakan, bicarakan sekarang !. Kalau tak mau juga, aku akan pergi sekarang ini."


"Coba lihat bintang dan bulan redup itu. Bukankah mereka saling berdekatan dan tak bosan menunggu pagi."


"Hadoh, malas ! Jadi cuma itu yang ingin kamu bicarakan dari tadi ini. Iya, aku lihat ! Mereka setia, mereka bersama sejak malam tiba. Mereka juga melihat kita dengan gembiranya. Pasti mereka akan mengatakan bahwa kita sedang ribut saat ini."


"Kok kamu tau ?."


"Iya taulah, sebab kamu juga tau kalau mereka sedang duduk bersama menunggu pagi. Kan bagus kalau mereka menunggu pagi, biar mereka cepat menikahnya."


Mendengar Resky berbicara kayak anak-anak itu, Eden malah tersenyum dengan bahagianya.


"Kamu malah tertawa. Jadi sekarang kamu sudah lupa dengan Rindu ?."


"Bukan lupa. Aku sedang berpikir, gimana ya jadinya jika aku beristri dua orang yaitu kamu dan Rindu, pasti hidupku nyaman !."


Senyum kecil memukau tampil diwajahnya Resky saat mendengar candaan Eden padanya. Telapak tangan halusnya mendarat di wajahnya Eden hingga membuat Eden berteriak walau tak sakit.


"Ao... kamu tega sekali menamparku. Sakit tau !."


"Eden, siapa yang lebih sakit, aku atau kamu ?. Kalau mau menikah atau mencintai wanita itu, kamu harus memilih bukan mau dua-duanya. Dimana nuranimu ? Aku bisa saja, kau jadikan aku istri kedua tapi gimana dengan Rindu, apakah dia mampu menerima aku dalam hidup kalian. Jadi, yang ingin kamu katakan dari tadi ini, itu ya ?."


"Sebenarnya, aku ingin mengatakan bahwa malam ini, udara ditengah laut sangat dingin."


"Terus, masalahnya apa ?." Sahut Reksy padanya yang banyak aneh itu.


Sampai disini dulu ya...!


Tunggu selanjutnya...


Ayo dukung Penulisnya dengan cara


#Vote, Like, Komen, dan beri Hadiah

__ADS_1


agar penulisnya semangat up terus.


Matur Nuwun🙏


__ADS_2