
...Terpaksa...
...*********...
Di ruangan tamu dalam rumahnya sendiri. Undangan dadakan pernikahan yang datang tanpa kabar itu, kini tengah mempersiapkan pernikahan yang unik. Pasalnya, bukan kehendak sendiri tapi Eden harus menanggung akibat kelalaiannya.
Seorang tamu tengah berbicara kepada Eden ketika Eden mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan itu.
"Kamu baru sadar kan kalau akibat dari ulahmu itu bisa terjerumus pada pernikahan dadakan ini."
Mendengar itu, Eden menghela nafas panjang "aku harus bagaimana ?" Sahutnya pada orang itu. "Apa yang harus aku lakukan ?". Aku bisa membayar mereka jika mereka menginginkan uang."
"Oh !" Makassar ini, Pak. "Uang tidak begitu berarti ketika masalah telah menyentuh hukum kekeluargaan. Uang ! Disini hanya bisa dipakai untuk menolong orang kesusahan dan membeli barang-barang kesukaanmu. Jangan pernah kau gunakan uang untuk menyelesaikan masalahmu."
Orang itu memberi titik koma pada Eden agar kekayaannya tidak menjadikan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah.
Pembicaraan itu, didengar oleh keluarganya Ayu. Sehingga mengundang keributan, sebagian mereka memojokkan Eden.
"Kamu mau mengelak lagi" Seorang laki-laki bertubuh gemuk menyambung pembicaraan mereka berdua. "Ayu sudah mengatakan semua kelakuanmu pada keluarganya termasuk aku. Semestinya, tanpa dimintai pertanggung jawabanmu, kamu sendiri yang menawarkan diri untuk menikahi Ayu. Perbuatan mu itu sudah sangat melenceng dari kehidupan norma-norma bermasyarakat."_
"Sebaiknya ikuti saja keinginan pihak keluarga perempuan daripada kamu mendapatkan hukuman. Hukumannya akan begitu fatal untuk kesehatan dirimu." Nasehat Pak Gembol yang juga adalah Paman dari Ayu, menekan psikologi Eden agar tidak mengambil langkah yang mungkin akan dia sesali nya.
Eden hanya bisa menahan emosinya. Sesekali tatapan tajam matanya menembus tubuh-tubuh keluarganya Ayu. Seakan ia mau mengeluarkan jantung-jantung mereka agar pernikahan ini tidak terjadi.
Diwaktu yang sama, diruangan kamar, tepatnya kamarnya Eden sendiri. Tengah dipakai untuk merias pasangan pengantin wanita yaitu Ayu.
"Mantan majikan mu itu, belum melihatmu Yu berpenampilan seperti ini. Aku yakin, jika dia melihatmu dalam dandanan secantik ini, pasti pikirannya berubah 100% padamu." Emelda nampak sedang memuji kecantikan Ayu didepan tukang riasnya yang merupakan temannya Rindu.
"Betul itu, Yu...!" Jawab teman yang lainnya.
"Kalian bisa aja !." Pujian itu nampak memberi kebahagiaan pada Ayu.
"Yu..., kamu untung banget bisa menikah dengan pengusaha. Kami sudah lama mendengar tentangnya. Sesekali, kalau sudah menikah, ajak kami keliling lautan ya. Jangan lupa !." Sambung tukang riasnya yang sebenarnya tidak begitu respek dengan pernikahannya.
"Gimana, apa uda selesai ?. "Jika sudah selesai cepat keluar, akadnya akan dilangsungkan."
Kakaknya yang menunggunya dibalik pintu kamar, memanggil Ayu yang masih menata penampilannya.
"Tunggu !" sebentar lagi selesai." Jawab Emelda. "Yu, apa kamu tidak khawatir dengan pernikahan kalian. Jujur, aku sebenarnya mengkhawatirkan mu. Soalnya, kalian menikah dalam keadaan yang tidak biasa."
"Maksudmu, Da ?."
"Hanya pandanganku saja, Yu. Semoga, Eden adalah jodohmu. Sebab, aku pernah mendengar informasi apakah itu benar atau tidak, katanya, Eden sementara menjalin hubungan dengan seorang wanita yang bernama Rindu."
__ADS_1
"Oh, hal itu !" Tenang saja. Aku juga tahu kalau soal itu. Makanya sebelum pengucapan akad nikah, aku akan membuat syarat dengannya. Syaratnya, selama Eden menjadi suamiku maka semua aset kekayaannya dialihkan atas namaku. Dengan begitu, dia mau selingkuh, itu terserah dia. Aku hanya butuh kekayaannya."
Pengakuan Ayu didepan teman-temannya justru membuka tujuan gilanya itu. "Ia mau melakukan hubungan yang dilarang itu dengan Eden, hanya karena harta" pekik Oza tanpa melepas jari-jarinya merapihkan dandanannya Ayu. Sekarang ia dalam masalah sebab ia tidak tahu bahwa tukang rias yang sekarang sedang bersamanya, begitu dekat dengan Rindu.
"Crazy !" Tukang riasnya yang tadi, yang sedikit-sedikit agak nyambung. Dia pamit mau ke toilet. "Aku harus kabarin ini pada Rindu kalau niatnya Ayu tidak baik."_
"Toiletnya dimana ? Kebelet mau pipis."
"Maoza, ihh... Kamu kayak cewek aja !." Emelda meledek Oza.
"Mank aku cewek. Kalian lihat aku boy gitu, nggak. "Hallo...!"
"Si setengah wanita itu, ngapain mau ke toilet." Sambung Ayu.
"Tunggu aja !" Jangan buru-buru, Yu. "Pokoknya kamu fokus pada kecantikan mu malam ini." Tak hentinya Emelda memuji Ayu.
"You guys talk about you y?" Dengan nada yang agak capek deh, Maoza menyemprot Ayu, Emelda, yang terdengar seakan membicarakannya.
"Ihh, asyiek !" Bodoh amat. Siapa juga yang membicarakan mu, Oza. Pangeran dalam salon, sini cepat selesaikan pekerjaanmu biar Ayu dan Eden secepatnya juga selesai nikahnya."
"Iya...ya, Elda besar lidah 🤣 !."
"Sudah ah, kalian seperti anak-anak saja." Ayu melerai senggolan antara Oza dan Elda. "Oza, capat ah kelarin nih makeupnya. Jangan sampai ini itu lagi, uda jam segini masa belum selesai juga." Perintah Ayu pada Oza.
"Haha..., kabur !" Mau kabur kemana, Oza ? Kalau dia kabur, aku cukup mengambil rumahnya. "Lagian, Eden tidak akan kemana-mana ? Cukup percaya pada Kakakku, Eden dalam penjagaan yang cukup serius."
Ayu terlalu percaya bahwa pernikahannya malam ini dengan Eden akan berlangsung lancar tanpa gangguan. Ayu lupa, jika Oza sudah mengabarkan hal ini pada Rindu. "Tunggu aja, kamu tak akan lama menikmati kebahagiaanmu malam ini." Ucap Oza dalam hati.
Sekitar pukul 23:17 menit gelar akad nikah akan dimulai. Eden yang hanya bisa diam menerima kenyataan ini. Sebagai pendatang di Makassar, ia merasa sedih sebab satupun keluarganya tak ada di hari pemaksaan ini.
"Bagaimana akadnya, apakah kita mulai sekarang atau masih ada yang ditunggu ?."
Sahut Kakaknya dan semua undangan dadakan itu pada Penghulunya "mulai saja sekarang, Pak. Siapa lagi yang ditunggu ?. Sudah tak ada yang ditunggu. Kedua orang tuaku, mereka tidak akan datang !."
Seperti harapan Ayu bahwa dia akan meminta syarat kepada Eden sebagai dasar hubungan mereka.
"Sebelum akadnya dilangsungkan, aku ingin mengajukan syarat kepada calon suamiku didepan semua orang."
"Ayu, sudahlah !" Sebentar lagi kan, Eden akan menjadi suamimu. Lagian Pak Eden tidak akan mengkhianatimu."
"Kamu, diam !" Ayu memolototi gondrong yang mencoba meyakinkannya bahwa Eden tidak akan kabur atau tidak akan menghilangkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
"Syarat apa yang ingin kamu ajukan pada calon suamimu ?." Sambung Penghulunya yang kelihatan agak mengantuk itu.
__ADS_1
"Pak penghulu, aku ingin agar Eden mengalihkan semua kekayaannya atas namaku."
Dari tadi, Eden hanya diam ! Dia hanya mengikuti proses kehendak keluarganya Ayu. Namun, ketika Eden mendengar bahwa Ayu menginginkan lebih darinya. Ia langsung bereaksi seperti orang kesetanan.
"Hartaku, katamu !" Maaf ! Aku mendapatkan dengan susah payah. Jadi ini yang sebenarnya kamu inginkan dariku. Pantasan saja, didalam mobil saat kita melakukannya, kamu tidak begitu menolak. Ternyata, ada tujuanmu yang lain. Tidak ! Aku katakan tidak !."
"Kurang ajar. Mana parang yang aku bawa dari rumah." Teriak Kakaknya Ayu meminta parangnya yang ditaruh di bawah kursi halaman depan.
Penolakan Eden menuai kemarahan Kakaknya Ayu. "Cepat ! Ambilkan parang yang aku bawa dari rumah. Orang seperti ini harus dibunuh !."
Keadaan menjadi brutal. Tidak ada yang bisa menenangkan Kakaknya Ayu. Penghulu dan undangan dadakan yang sempat hadir, berlomba keluar.
Eden yang kakinya di ikat setelah selesai mempersiapkan dirinya itu, tak bisa kemana-mana. Ia pasrah menerima konsekuensinya.
Tang...! Bunyi senjata dari arah luar menggelegar. Keadaan pun berbalik, Kakaknya Ayu lalu diringkus oleh polisi yang datang bersama Rindu.
"Kehadiranmu tepat pada waktunya, Rindu. Terimakasih !." Tak ada senyum atau jawaban dari Rindu.
"Pak, bawa Ayu dan yang lain sebagai saksi."
"Siap, Bu ! Laksanakan perintah."
Ini baru yang benar. Satu, dua, tiga..., Plaaakk !." Dua kali tamparan ini untukmu laki-laki bajingan. Dasar play girl, aku sudah menyerahkan seluruh isi hatiku tapi kamu malah memilih wanita sial itu ketimbang aku. Apa yang kurang dari diriku, Eden...?"_
"Jangan menunduk !" Lihat aku."
"Rindu, maafkan aku !"
"S**** kamu membuat keluargaku malu dengan sikapmu ini. Bagaimana kamu akan menjelaskan kepada keluargaku ?."
"I want us to get married tonight."
"It's fine, who am I in your eyes?" Pernikahan hanya akan berlangsung jika kamu mengakui kesalahanmu didepan keluargaku."
Sampai disini dulu 🙏
Wait for next
Dukung Penulisnya dengan cara;
#Vote, Like, dan komen.
Matur nuwun 🙏
__ADS_1