Perahu Apung

Perahu Apung
42


__ADS_3

...Yang Belum Sampai, Kasihan !...


...****************...


Siapa yang tidak ingin menikah ? semua orang ingin menikah. Begitulah kira-kira setiap insan yang lahir kedunia ini.


Ada yang istimewa dari Eden. Dia ingin menikah dengan Rindu tapi proses lamarannya akan dilangsungkan diatas kapal Phinisinya. Permintaan ini sudah dibicarakan dengan Rindu sebelum disampaikan kepada keluarganya Rindu.


Sangat mustahil bisa dikabulkan mengingat Rindu berasal dari keluarga orang berada. Tapi karena cinta mereka sudah tidak bisa lagi ditawar-tawar, keluarganya Rindu harus menyetujui kehendak mereka berdua.


Sepulang dari pertemuan di kantor Dishub. Eden dan Rindu langsung pergi menemui Daeng nya untuk membicarakan hal ini. Waktu itu, sekitar jam empat sore. Mobil Pajero miliknya menuju rumah Rindu sementara mobil putih yang biasa Rindu bawa berada dibelakangnya.


Mereka tidak satu mobil melainkan masing-masing membawa mobil sendiri. Eden di depan dan Rindu dibelakangnya, setiap di pemberhentian jalan, Eden mengirim SMS kepada Rindu, isi SMS itu selalu berbicara kekhawatirannya jangan sampai keinginannya yang sudah ia bicarakan dengan Rindu dianggap sebagai sebuah permainan cinta oleh keluarganya Rindu khususnya Ayahnya. Selama ini, Eden hanya dianggap sebagai laki-laki yang tidak memiliki keberanian untuk sekedar berbicara melamar Rindu. Apalagi hubungan yang pernah mereka bangun pernah kandas sebelum teruji dalam rumah tangga.


Eden bukan lagi seperti dulu yang dipandang sebagai pemuda dari desa. Buktinya dia dikenal dengan pengusaha kapal Phinisi. Apalagi cinta, hubungan mereka memang pernah akrab, terbina untuk masa yang agak lama tapi karena cuaca ekstrem yang pernah membawa ombak besar, menghantam dinding hubungan mereka yang waktu itu mereka hendak berlayar ke Labuan Bajo berpisah diatas dermaga.


Eden lebih percaya diri, dia tampil selayaknya sebagai pengusaha yang apabila keluarga Rindu melihatnya pasti akan terkejut dengan penampilannya.


"Eden sayang, harus lebih berani ya bicara sama Daeng ku. Masa kamu masih takut, janganlah !. Kalau kamu masih agak takut untuk bertemu keluargaku, lalu hubungan kita mau dibawa kemana ?. Apakah kamu hanya ingin melihatku dari dekat saja tapi sulit untuk kamu sentuh. Aku membutuhkan sentuhan itu sayang, aku sudah lama hidup sendiri, selalu berharap kamu bisa memberiku segalanya. Akupun begitu, aku akan memberimu segalanya yang mungkin selama ini tidak pernah kamu bayangkan."


Itu isi pesan SMS yang Rindu kirim ke Eden. Ketika Eden membaca pesan sederhana itu, ada sejuta senyum sendiri yang menghiasi wajahnya. Saksi bisu yang bertengger dalam hatinya, mendorongnya agar lebih cepat sampai di rumahnya Rindu.


Dia memacu mobilnya, ingin secepatnya berbicara dihadapan orang tuanya Rindu.


Senggal-senggol kendaraan yang lain tidak ia perdulikan. Dia hanya ingin, menemui keluarganya Rindu. Dibelakang mobilnya masih ada mobilnya Rindu, dia semakin termotivasi dengan melihat sang kekasih masih berada dibelakang mobilnya mengikutinya terus.


Pesan singkat yang Eden baca yang dikirim oleh Rindu masih sempat dia balas sebelum dia mendapatkan musibah yang ke berapa kalinya.


Kali ini agak sadis. Warga tidak melihat bahwa ia adalah pengusaha Phinisi dan warga juga tidak melihat bawa ia adalah calon menantu dari orang nomor satu di Sulawesi Selatan ini.


"Salah ya salah !." Warga yang ada di situ sedang menonton sebagian warga yang lain yang melempari mobil Pajero milik Eden. Kata sebagian orang.

__ADS_1


Terlihat seperti preman Toddopuli yang bertato dan beranting-anting. Mereka tidak mau damai, mereka masih sibuk menghakimi Eden. Ada yang memukulnya tanpa ampun, bengkak yang didapatkannya lebih parah ketika waktu itu ia dapat dari orang suruhan Daeng Guru. Rindu yang berada di tempat kejadian begitu kagetnya menyaksikan mobil Pajero milik kekasihnya itu sudah bolong-bolong bahkan Rindu tidak bisa menahan tangisnya sehingga menambah keruwetan semakin menjadi-jadi.


Rindu mendapati Eden digebukin oleh beberapa orang padahal Eden sudah tidak bisa berdiri. Rindu hampir tidak mengenali wajah kekasihnya itu sebab lebam yang begitu cepat, naik seperti kue membesar di wajahnya dan menutupi matanya.


Dengan segap, bodyguard nya menghentikan main hakim itu. Eden dibuat kapok sementara Rindu merasa kepanasan dengan musibah ini, musibah yang semestinya tidak terjadi dihari, disaat impian tinggal diujung jari.


Rindu menangis sekencang-kencangnya memeluk kekasihnya itu. Eden yang tadinya begitu bahagianya kini harus di bawa kerumah sakit.


Namun, untuk alasan yang sama, alasan yang mungkin menjadi jalan tengah agar masalah ini tidak panjang. Bodyguard nya Rindu melakukan pemeriksaan guna menindak kebenaran musibah yang menimpa Eden dan demi menjaga hubungan kemanusiaan agar tetap berjalan sesuai porsi sosial.


Dari hasil percakapan beberapa orang dengan bodyguard nya Rindu. Hanya ada kenyataan yang memperlihatkan kebenaran musibah hari ini.


Pengakuan beberapa orang ketika ditanya yang mengaku melihat kejadian itu "dari arah jalan seorang nenek tua yang membawa karung dipundaknya seperti pemulung keluar tanpa memperhatikan keadaan kendaraan yang ramai di jalan. Naas, Pajero milik Eden menabrak nenek tua itu hingga terlempar berapa meter dari titik kejadian"_


Riwayat yang sama juga menyebutkan bahwa "Eden sempat keluar dari dalam mobilnya untuk menyelamatkan nenek itu"_


"Dia masih sempat mengangkat nenek itu, mungkin perkiraannya mau menyelamatkan nyawanya tapi massa yang melihat kejadian itu langsung datang menghampiri Eden, tanpa tanya apa yang terjadi, Eden dibuat ko. Eden di hakimi, dia hanya bisa menahan sakitnya ditendang, menutup kepalanya, menutup wajahnya, menutupi yang bisa ia tutup. Massa terlalu banyak, ia tidak bisa menahan lebih lama serangan membabi-buta itu hingga ia terkapar tidak sadarkan diri. Sementara nenek yang sempat dia angkat tidak bisa diselamatkan padahal jika dibawa secepatnya ke rumah sakit mungkin nyawanya masih bisa tertolong"_


Tapi karena keadaan memang tidak mendukung sehingga jawaban-jawaban yang diberikan oleh para saksi tidak memuaskan. Malahan bodyguard nya Rindu juga mendapatkan semacam bentakan dari orang-orang yang ditanyai.


Rindu yang melihat kekasihnya sudah hampir tidak berdaya itu, dia langsung berbicara seakan dia ingin mencari siapa pelaku main hakim sendiri itu.


"Kalian tidak tahu ? yang kalian pukul tidak berdaya ini adalah pengusaha besar yang diperhitungkan di Makassar ini. Jika diantara kalian tidak ada yang mengaku maka semua yang ada disini akan aku bawa ke kantor polisi."


Ancaman itu sepertinya tidak mengejutkan orang-orang itu. Mereka malah semakin bar-bar dan dengan merespon perkataan Rindu.


"Kami tidak tahu bahwa penabrak adalah orang kaya, yang kami tahu, dia bersalah atas kejadian yang menewaskan seorang nenek itu. Apakah kamu mau jika kami menabrak mu dalam keadaan kamu sedang berjalan ? tentu tidakan ?!. Semestinya kamu tidak membela dia, seharusnya yang kamu katakan itu adalah hancurkan kepala orang ini karena telah membawa/memacu mobilnya dalam keadaan diluar kendali"_


"Banyak saksi melihat bahwa dia yang bersalah bukan nenek itu."


"Aku tahu, laki-laki ini bersalah tapi yang lebih bersalah itu adalah kalian yang main hakim sendiri. Bukankah di Negara kita ini punya hukum untuk menindak lanjuti kesalahan setiap orang. Kalian bisa bertanya dulu padanya, mengapa dia bisa menabrak nenek itu. Jika jawabannya memang dinilai tidak masuk akal, kalian bawa dia ke kantor polisi bukan memukulnya. Kalau sudah begini, siapa yang mau bertanggung jawab atas musibah ini ?"_

__ADS_1


"Tunggu saja ! aku akan mencari pelaku yang sesungguhnya. Agar pelaku main hakim sendiri itu bisa di proses sesuai hukum."


Amarah yang membesar dalam diri Rindu semakin bergelora ketika mobil berplat nomor satu itu datang ketempat kejadian.


Orang-orang yang melihat mobil itu baru sadar bahwa laki-laki yang telah terkapar karena main hakim itu adalah bagian dari keluarga Gubernur.


"Apa yang terjadi, Nak ?." Pa Gub menanyai anaknya yang masih menangis hebatnya sambil memangku kekasihnya.


"Eden, Daeng !. Dia di massa oleh orang-orang disini. Aku ingin, Daeng mencari pelakunya. Siapa yang sudah membuat Eden seperti ini ?."


"Kamu tenang dulu, Nak. Jangan panik begitu ya. Sebaiknya kita bawa dulu Eden kerumah sakit. Setelah itu baru kita cari pelakunya, urusan seperti ini serahkan kepada pihak polisi, Nak. Ini bukan kewenangan ku, kewenangan Daeng mu adalah menjaga semua masyarakat dari perilaku yang salah yang tidak sesuai dengan hukum maupun aturan"_


"Kamu tenang ya. Jangan panik, Eden masih bisa diselamatkan, jadi tenang ya."


"Daeng tahu tidak ?! kami berdua sudah memutuskan untuk membicarakan hal urgen yang sangat penting. Sebelum Eden terkena musibah ini, dia sudah berjanji untuk melamar ku hari ini. Kami ingin memberi kabar spesial ini kepada Daeng, Mamah, dan juga keluarga tapi sepertinya niat kami, tidak akan kesampaian Daeng. Lihatlah Eden sekarang, Daeng ! dia tidak sadarkan diri, Daeng."


"Rindu anakku, jangan bicarakan dulu hal sepenting ini didepan semua orang. Nanti, setelah Eden sembuh baru kita bicarakan ya. Daeng mu mau berbicara dulu pada mereka yang masih berada disini. Daeng mu ingin mencari tahu bagaimana kronologi sebenarnya. Tapi sebelumnya nenek yang sudah tidak bernyawa itu sebaiknya kita makamkan dulu. Daeng akan mencari tahu apakah nenek itu masih punya keluarga atau tidak !?.


"Apapun yang terjadi, tidak ada yang menginginkan musibah seperti ini. Kita semua hanya pelaku dari musibah ini tapi yang merencanakan hanyalah Tuhan. Sebaiknya ada yang mengaku dari peristiwa yang main hakim sendiri ini supaya polisi juga tidak bekerja lebih ringan. Jika tidak ada yang mengakui maka semua pihak akan tetap mencari siapa pelaku yang telah mengompori massa untuk melakukan tindak anarkis diluar dari hukum yang berlaku"_


"Baiklah ! karena semua tetap memilih untuk tenang, tidak mau bicara, aku anggap kasus ini akan diselediki lagi lebih lanjut. Kita harap semua pihak bisa bekerja sama."


Bingung ! mau bicara apa ? karena percuma, panjang lebar juga pak Gub berbicara, tidak ada yang mau membuka mulut.


Hanya ada pesan nya, semoga tidak ada yang bersalah dari musibah ini.


"Rindu, bawa Eden kerumah sakit Wahidin. Nanti setelah Eden siuman, kita bisa meminta keterangannya."


Niat tulus malah membawa petaka. Rindu masih menangisi Eden, harapan yang tinggal secuil jari Kiki harus tertunda lagi.


Tetaplah berjuang walau nyawa sudah dikerongkongan karena cinta itu menguatkan bukan melemahkan. Jangan biarkan niat baik dihempas badai ujian, Eden kuat dan dia pasti bisa bertahan.

__ADS_1


__ADS_2