
...Ayo Kepulau Seribu Sunset...
...****************...
Kali ini, setelah dari rumah sakit berapa hari yang lalu. Rindu dan keluarganya mengajakku untuk pergi ke Labuan Bajo. Bukan naik pesawat melainkan menggunakan Phinisi yang pernah dia bawa kekampungku.
Ketika aku mendengar kata Labuan Bajo maka yang terlintas di pikiranku adalah tentang suku Bajo yang hidup dilaut yang banyak menyebar di penjuru dunia termasuk suku Bajo yang ada di kampungku. Tentu sangat menarik jika kali ini, bersama keluarga besarnya Rindu, aku ikut pergi mengunjungi kampung halamanku. Disana, aku bisa mengejar ikan-ikan liar untuk aku berikan kepada Gubernur dan Ibu Gubernur sebagai bentuk terimakasih ku pada mereka. Jangan lupa pula, habitat biota laut yang satu ini yang banyak di incar oleh para nelayan lokal maupun luar daerah, yaitu lobster (udang besar bertanduk kera sakti).
Hmm...! inilah anak desa yang tidak mengerti dengan wilayah-wilayah unik eksotik yang ada di Indonesia.
Dengan ceria, aku bertanya kepada Rindu tentang Labuan Bajo yang mau di datangi itu. Apakah sesuai dengan yang ada dalam kepalaku atau tidak. Biasanya ketika mendengar kata Bajo maka pasti ada suku Bajo.
Dikesempatan yang lagi kemas-kemas, keluarga besarnya Rindu, Ibu dan Ayahnya, yang lain kerabat sepupu dan semuanya hadir, mungkin sekitar dua puluhan orang lebih. Di terasnya, saat Rindu lagi menunggu yang masih di dalam rumah sibuk urus ini dan keperluan yang lain. Aku memang selalu tidak jauh dari sampingnya, "Rindu, Labuan Bajo itu tempat apa ? apakah kita akan pergi ke kampung halamanku ? disana memang banyak suku Bajo." Tanyaku pada Rindu yang pagi ini sungguh begitu cantik dengan baju yang agak mencolok di mataku.
"Eden, sebelumnya pernah dengar Labuan Bajo atau belum ?."
"Pernah ! Labuan Bajo itu kalau dalam bahasa daerahku adalah tempat berlabuhnya kapal milik orang Bajo."
"Haha...!."
__ADS_1
"Kamu kenapa ketawa Rindu ?."
"Telingamu masih sakit atau tidak ?. Yang didalam rumah juga, kenapa lama ? cuma beresin keperluan yang mau dibawa, lama !. Labuan Bajo itu Eden, adalah tempat wisata yang sangat indah untuk kita kunjungi. Tempat itu dikenal juga dengan pulau Seribu Sunset. Bukan cuma kita yang kesana tapi turis dari negara lain berlomba ingin kesana, menikmati suasana alami yang sangat masih segar. Orang-orang ketika sudah berada disana, kadang mereka tidak ingin pulang. Kalau aku sendiri menjuluki Labuan Bajo adalah Anak Syurga Pertiwi"_
"Dan apa yang kamu katakan bahwa di kampung asal mu terdapat suku Bajo. Di Labuan Bajo juga terdapat suku Bajo."
"Kalau ada suku Bajo, terus kenapa Rindu ketawa ?."
"Yang aku tertawakan karena kamu bilang mau ke Kampung mu. Eden kalau merindukan keluarga dikampung, nanti kita sama-sama kekampung mu. Aku juga Rindu sama anak-anak muridku disana"_
"Di Labuan Bajo itu Eden, terdapat empat suku. Pertama suku Mbojo, suku Bugis, Suku Manggarai, dan yang terakhir suku Bajo. Makanya kita mau kesana selain Labuan Bajo adalah permata Indonesia, juga karena terdapat suku Bugis Makassar yang tinggal disana. Suku Bugis dan Suku Bajo tinggal dan menetap di Labuan Bajo disaat Kesultanan Gowa masih berpengaruh sehingga wilayah kekuasaannya sampai pada pulau Flores jadi tidak mengherankan kalau di sana memang terdapat Bugis-Bajo"_
"Harusnya, kita kesana naik pesawat biar lebih cepat. Tapi keinginan keluarga lebih suka dengan menjelajahi lautan lepas menggunakan Phinisi. Katanya, mereka ingin melihat-lihat kebahagiaan ombak ketika mendarat menabrak dasar Phinisi."
"Rindu, apapun yang kamu katakan tentang Labuan Bajo, aku tetap masih penasaran. Bukan persoalan keindahannya tapi namanya itu loh. Aku jadi nggak habis mikir, ternyata suku Bajo juga lama tinggal disana. Sebagaimana aku tetap berpikir, kita kapan akan menikah. Kalau tidak mau menikah denganku dalam waktu dekat ini. Yakin saja, aku akan menuntut mu karena telah merobek daun telingaku dengan anak panah mu"_
"Rindu, ini pasti akan menarik bila kita sampai di Labuan Bajo. hmm..., ketika keluarga mu mondar-mandir menikmati keindahan Labuan Bajo atau mereka melihat-lihat Komodo liar disana yang katanya masuk sebagai salah satu keajaiban dunia, "apa benar ya begitu ?", aku tetap bisa bersamamu seperti sekarang ini."
"Iya, makanya Taman Komodo hanya terdapat di sana. Sebab memang telah masuk sebagai salah satu tujuh keajaiban dunia. Tidak mengherankan jika disana, turis atau dikenal dengan bule, sesampai disana, mereka bukan hanya tahu bahwa Komodo adalah hewan yang dilestarikan tapi juga, terkadang para turis yang datang kesana menemukan jodohnya dan tiba-tiba menikah dengan wanita Indonesia, menetap (terjadi asmilasi) hingga menjadi alasan mereka tinggal di Indonesia khususnya di Labuan Bajo agar selalu dekat dengan destinasi cantik itu"_
__ADS_1
"Apakah kamu juga ingin seperti turis-turis itu ? sampai disana mencintai wanita disana dan melupakanku."
"Masa iya, aku meninggalkan mu. Barusan aku bilang, jika sudah disana, aku tidak ingin jauh-jauh darimu. Kamu masih punya kewajiban padaku. Kamu harus rutin mengganti perban luka di telingaku."
"Aku hampir lupa. Kalau tidak kamu ingatkan !. Obatmu pasti akan ketinggalan dirumah. Eden, tunggu disini ya ! aku mau kedalam rumah dulu ambil obatmu sekalian memanggil semua orang rumah yang mau ikut. Mereka lama sekali !."
Belahan hatiku yang Tuhan titipkan padanya, dia berdiri menuju dalam rumah. Tidak ada hal yang bisa aku katakan padanya selain perasaan nyamanku ketika bersama, bercerita apa saja. Memang benar ! ketika seseorang sedang jatuh cinta maka dia akan lupa siapa dirinya, siapa yang mengatur rasa untuk tetap memandang impian yang hampir diperoleh.
Diluar, aku hanya bisa berbicara pada keadaan dan kesempatan saat ini, semoga dari semua keluarga Rindu tidak ada yang berkata padaku bahwa aku tidak pantas untuknya. Seberapa jauh perjalanan kisahku untuknya adalah seberapa jauh Rindu bisa menerimaku apa adanya.
Sedikit pelan aku berbicara pada nasibku disini, "Tuhan, memang selalu ada untukku" ketika aku menoleh kearah pintu rumah, keluarga besar Rindu sudah pada keluar menuju luar. Mobil-mobil yang mahal dari tadi telah diparkiran oleh para sopir, mungkin seperti aku, mereka juga sebenarnya bosan menunggu agak lama. Mau diapa lagi, harus sabar !.
Halus jalannya, masih seperti pertama aku melihatnya dikampungku. Dengan ceria, senyum di wajahnya melewati kuntum yang mekar di pagi hari.
"Haa..! jangan bengong ngelihatin aku, ayok Eden, kita sudah mau pergi."
Untung banyak orang, kalau tidak, aku pasti akan mengatakan padanya, "aku bengong karena melihatmu keluar dari rumah sambil senyum. Senyum itu untuk siapa ? untuk aku ? aku, biar tidak di senyumi. Cukup bilang, didepan keluargamu bahwa kamu tidak ingin jauh dariku, sudah sangat cukup !."
Hanya bicaraku dalam hati yang bisa membuatku bahagia sebab berkata langsung kepadamu, aku masih harus menahan rasa maluku didepan keluarga besarmu.
__ADS_1
"Ayok berangkat ke Labuan Bajo...?" sahutku pada Rindu.