
...Jadwal Berlayar...
...****************...
Di Carrefour, Eden justru membuat hal baru. Mengagetkan dan bahkan Rindu tidak menyangka justru ini yang Eden lakukan.
"Kamu bisa mengambilkan kertas dan pulpen untukku ?."
Rindu mengira yang diperintah Eden adalah dirinya taunya karyawan Carrefour yang sedang membawakan pesanan untuk mereka.
"Tunggu Pak !. Masih ada pesanan yang harus aku antarkan untuk tamu yang duduk di meja samping sana. Bapak sabar ya, nanti aku bawakan." Karyawan Carrefour itu memberikan penjelasan kepada Eden.
"Eden, sudahlah !. Untuk apa kertas dan pulpen yang kamu minta itu ?. Tadi mau makan, ini makanan sudah ada. Sekarang minta yang lain." Rindu juga mencoba memberi penjelasan pada Eden.
Bukan malah diam. Eden justru menjawab "Ih, kamu apaan ?! aku cuma minta kertas sama pulpen masa tidak bisa."
"Bukan tidak bisa tapi kita makan dulu. Lagian karyawannya lagi mengantar pesanan untuk pelanggan disana. Kamu jangan malu-maluin disini !."
"Oh, jadi minta kertas dan pulpen itu malu-maluin ya ?. Aku tidak minta uang, aku cuma minta itu aja masa nggak bisa."
"Bukan nggak bisa Eden tapi nanti. Karyawannya tadi sudah bilang, pesanannya pengunjung yang mau dibawakan dulu. Setelah itu baru kertas dan pulpen yang kamu minta akan dibawakan kesini. Untuk apa itu kertas dan pulpen yang kamu minta. Kenapa dari mobil tadi kamu tidak bilang. Kan, kertas dan pulpen juga ada di mobil, Eden."
"Aku nggak mau kertas dan pulpen yang ada di dalam mobil. Aku maunya kertas dan pulpen yang ada disini."
Rindu dibuat tidak karuan dengan sikap anehnya itu. Tadi didalam mobil, dia selalu berkata mau menikah, lapar lah. Singgah makan lah, eh giliran singgah makan malah buat onar. Semua perhatian pengunjung Carrefour sontak memandang Eden dan Rindu yang dalam keadaannya mendebatkan masalah kertas dan pulpen yang tidak tau untuk apa Eden memintanya.
Karena keributan sedikitnya itu hingga Eden mendapatkan kan teguran dari salah seorang pengunjung. Kayaknya penjaga keamanan yang biasa duduk didepan Carrefour lebih pasnya disebut tukang parkir sekaligus yang menjaga ketertiban sekitaran lingkungan Carrefour.
"He' jangan bikin gaduh disini. Disini tempat makan bukan tempat adu keributan. Lihat pengunjung yang lain, gara-gara keributan/suara kalian berdua, yang lain jadi tidak selera makan. Kalau mau ribut diluar jika tidak mau dilemparkan keluar."
Ini mustahil bagi Eden. Eden kepanasan dengan teguran yang agak kasar itu.
Eden memberitahu Rindu agar dia tetap dikursi nya, "Kamu tunggu disini !."
"Kamu mau kemana ?. Jangan ! biarkan saja dia menegur kita. Kita yang salah ! ribut ditempat ini. Tadi aku sudah bilang, kalau mau kertas dan pulpen, ada dimobil. Apa bedanya kertas, pulpen, di mobil dengan yang disini."
"Tunggu saja !."
Memang harus di obati. Eden semakin menjadi-jadi. Sepertinya dia tidak bisa membedakan lagi mana yang salah dan mana yang benar.
Dia berjalan bukan menuju kearah laki-laki yang menegurnya barusan melainkan ke meja kasir.
"Aku disini ! kalau mau berhantam, jangan kesitu, aku disini !." Si gondrong yang menegurnya tadi meneriaki Eden.
Tidak di gubris, Eden semakin mendekati kasirnya dan kakiknya berhenti pas didepan kasir Carrefour.
"Mana bil nya ?." Tanya Eden pada kasirnya.
"Tu... tu... tunggu Pak !."
"Jangan takut gitu !. Kamu kira aku pembunuh, maaf ya. Aku mau bilang ke kamu, kamu cantik sekali !. Semua yang makan disini, aku yang bayar dan bila perlu si gondrong yang menegur tadi suruh dia makan kenyang-kenyang disini. Berapa sih harga semua makanan ini. Ini lima puluh juta dan sisahnya kamu ambil"_
"He' gondrong, kamu sini !. Ada uang lima puluh juta sudah aku berikan pada kasirnya. Terserah kamu mau makan apa. Silakan pilih menu makanan yang paling kamu sukai dan orang-orang yang makan disini, tidak usah bayar lagi. Aku sudah membayarnya lunas bahkan ada sisahnya lagi."
__ADS_1
Eden pun kembali kemeja makan. Rindu yang menyaksikan kelakuan kekasihnya itu hanya bisa berkata padanya.
"Kamu ini apa-apaan ?. Haruskah begitu caramu menunjukan kepada semua orang bahwa kamu punya uang yang banyak ?."
"Ah, sudahlah !. Itu tadi bukan uang tapi kertas mainan."
"Bukan uang apaan ?. Uda jelas kamu mengeluarkan kartu gesek mu, kamu bilang bukan uang !."
"Sudahlah !. Mana tadi kertas dan pulpen yang aku minta. Segera bawakan kesini ! jangan bikin aku emosi."
"Sebenarnya untuk apa kamu minta itu dari tadi. Untuk kertas dan pulpen saja kamu menghabiskan uang sebanyak itu."
"Kamu duduk yang cantik saja, jangan terlalu bertanya. Mau aku bilangi lagi kaya kodok wajahmu kalau mau marah."
"Kamu ini sudah keterlaluan. Aku tunggu di mobil saja. Aku semakin heran padamu, semakin hari bukan menunjukan tanda-tanda normal tapi justru sebaliknya semakin tidak karuan caramu berpikir, berbicara. Apakah penyakitmu itu juga menyerang hati dan perasaanmu ya."
"Penyakit apa ?. Aku sehat kok, aku kuat bahkan lebih sehat dari gondrong kotor itu. Tadi kamu lihat aku makankan ?!. Biasanya aku makan sedikit-sedikit tapi tadi bukan hanya sepiring aku habiskan tapi dua piring."
"Dua piring apanya ?. Coba lihat itu makananmu biar sesendok belum habis."
Rindu harus bagaimana lagi menghadapi tingkah kekasihnya itu. Tidak di mobil, dirumah, dijalan, bahkan di tempat umum juga, dia berlaku sama.
Tak lama kemudian kertas dan pulpen yang diminta tadi sudah dibawakan oleh karyawan Carrefour. Eden mulai ingin menulis nama-nama tempat yang baginya ingin dia datangi. Namun sebelumnya, dia memanggil si gondrong tadi kedekatnnya, tepatnya satu meja dengannya.
"He' kamu gondrong, sini dulu !."
Dengan penuh semangat si gondrong datang menemui Eden.
"Sudah makan apa belum ?."
"Gampang itu. Asal kamu mau kerja padaku ?. Gimana, mau tidak ?."
"Tapi pekerjaan apa itu, Pak dan berapa gajinya perbulan ?." Tanya si gondrong pada Eden.
"Gajinya perhari tiga ratus ribu. Gimana, mau nggak ?."
"Wah h h..., mau sekali Pak !. Tapi apa pekerjaanku ?."
"Pekerjaan pertamamu tolong panggilkan wanita cantik yang duduk denganku tadi didalam mobil itu. Mobil yang berwarna putih yang ada diluar itu. Ngerti kan ? suruh dia kesini, bilangin aku memanggilnya. Kedua, setelah selesai memanggilnya, kamu tulis nama-nama tempat wisata yang ada di Indonesia diatas kertas yang aku pegang ini. Dan pekerjaan inti mu adalah menjadi pengawal ku."
"Cuma itu Pak, pekerjaanku ?."
"Iya. Cuma itu ! apa kamu tidak senang ? kalau tidak mau, aku bisa panggil orang lain."
"O o o... jangan Pak. Aku senang, malahan aku ingin cepat bekerja pada Bapak."
"Tadi kenapa menegurku ?."
"Kan keamanan disini, Pak. Tugasku disini menjaga kondisi pengunjung agar saat makan, mereka mencicipi makanan disini dengan perasaan yang bahagia, gembira, dan yang paling penting itu aman."
"Kamu tahu aku siapa ?."
"Tidak Pak !. Memangnya Bapak siapa ?."
__ADS_1
"Ah, sudahlah ! kamu panggilkan wanita yang aku bilang tadi. Didalam mobil itu, dia duduk menunggu ku."
"Siap Pak !."
Pengunjung yang masih ada disitu makan justru melihat Eden adalah laki-laki yang sombong, laki-laki yang tidak berpendidikan dan norak (kedesa-desaan).
Apapun penilaian orang lain padanya. Mereka belum mengenal Eden dengan baik makanya berani menilai dan berkata kolot padanya.
Rindu pun datang dengan emosinya. Sepertinya baru selesai menangis sebab matanya masih tersisa bening-bening air mata.
"Tugasmu yang pertama selesai. Sekarang ambil kertas dan pulpen ini, aku tunggu hasilnya ya."
"Siap Pak Bos !."
Melihat si gondrong yang diperintah, Rindu semakin heran dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ingin Eden tulis.
"Kamu menyuruhnya menulis apa Eden ?."
"Tunggu sebentar, kamu juga akan tahu apa yang dia tulis."
Selang berapa menit kertas yang di tulis oleh si gondrong sudah selesai.
"Ini Pak Bos !."
"Rindu lihatlah apa yang ada diatas kertas ini. Bla... bla... bla...."
Didalam kertas itu tertulis semua tempat wisata yang ada di Indonesia. Jadwalnya akan dibuat berdasarkan kalender bulan dalam setahun, mereka akan pergi mengunjungi semua tempat wisata yang ada diatas kertas itu.
Ketika Rindu melihat nama-nama tempat wisata yang Eden berikan padanya. Rindu begitu bahagianya, wajahnya langsung cerah, dia memeluk Eden dihadapan semua orang.
"Aku minta maaf ya !. Tadi aku tidak tahu tujuanmu meminta kertas dan pulpen. Aku kira untuk apa ? ternyata kamu membuat kejutan untukku. Jadi kapan rencana kita mau pergi ?."
"Nanti setelah aku pikirkan kapan harinya. Kamu yang sabar dong !."
"Eden, aku mau nanya. Kamu ingat siapa aku kan ?."
"Iya. Aku ingat !. Kamu selalu bersamaku tapi namamu masih aku lupa !. Memangnya nama kamu siapa ?. Aku hanya melihatmu setiap waktu bersamaku. Aku pikir karena kamu adalah wanita baik ya tidak ada salahnya kalau aku memberimu kejutan."
"Aduh !. Aku kira kamu sudah mengingat tentang kita. Mana kertas yang aku berikan yang tertulis namaku itu ?."
"Ada dikantong ****** ***** dompetku."
"Sekarang kamu ambil dan lihat nama yang ada diatas kertas itu."
Eden pun lalu mengambil dompetnya dan membuka kertas yang ia lipat kecil itu.
"Coba baca Eden !."
"Rindu !. Oh, aku sudah ingat, namamu Rindu kan ?."
"Jangan lupa lagi !. Awas kalau lupa lagi."
Keseriusan Eden dan Rindu ternyata tidak lepas dari sorotan orang. Mereka mendapatkan kertas yang begitu banyak yang kesemua kertas itu, diatasnya tertulis, "semoga langgeng sampai nenek kakek."
__ADS_1
Ada-ada saja mereka...!
Eden bisa aja memberi kebahagiaan, senyum pada Rindu diingatan nya sekarang ini, kira-kira gimana ya kalau ingatannya kembali pasti lebih seru.