
...Kembali ke Habitat...
...****************...
Surat yang disimpan dibawah pintu masuk rumahnya Rindu ternyata berhasil mengundang kehadirannya. Sesaat setelah semua barang yang mau dibawa ke kapalnya selesai di persiapkan.
Sudah siang !. Hanya menghitung jam, dia akan berangkat menuju kapalnya yang ada di pelabuhan.
"Tak ada lagi hal istimewa yang bisa aku pertahankan di Makassar. Wanita yang satu-satunya aku cintai, dia juga tak perduli denganku lagi."
Ungkapan pahit itu, ia ungkapan ketika kakinya tengah keluar dari pintu rumah menuju mobilnya. Eden sempat menatap sekelilingnya, ruang kamar koleksi kapal mini miliknya juga sempat ia lihat.
"Semua yang aku miliki ini pada intinya, aku perjuangkan untuk kita, Rindu." Imbuhnya dalam keadaan sedihnya. Desain wajah yang mahasedih itu memperlihatkan bahwa ia tak tega pergi tanpa berpamitan kepada Rindu.
Namun, apa yang bisa ia perbuat selain meninggalkan kota Makassar. Kota yang telah membawanya sampai pada puncak kesuksesannya itu mengurangi harapan besar yang sebenarnya menjadi cita cinta luhur dalam hidupnya.
"Apa gunanya aku disini ? Jika tujuan besar yang aku inginkan tak aku peroleh. Sebagai pemuda yang sama, aku hanya akan menjadi individu yang tak berguna tanpa kehadiran, cinta yang Rindu bawa. Dia hanya mengenalku dalam situasi bahagia tapi ketika aku terjerat oleh asmara, dia bahkan tak ingin melihatku."
Kata-kata pahit itu berputar laksana roda yang menikung jalan-jalan sempit dalam kepalanya. Pemandangan mata yang ia lihat tak seindah mata walau bunga tumbuh dihalaman rumahnya, layu seketika oleh tatapan panasnya itu.
Ia duduk disebuah kursi yang ada diteras rumahnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan kota Makassar. Pikirannya menggantung kesana kemari, tak jelas dan tak pasti.
Baginya, Makassar bukan hanya merupakan sebuah kota yang sudah mengantarkannya menemui Rindu. Mengingat setiap langkah kakinya di kota Makassar ini bernilai sejuta keringat yang bila ia tampung bahkan drum besar pun tak akan bisa menampung keringatnya. Ditambah dengan keterpaksaannya yang harus rela meninggalkan kota Makassar karena cintanya yang tengah teruji justru semakin meningkatkan keinginan nya untuk pergi.
"Lalu apa yang kamu pikirkan, Eden, dengan berdiam diri disini ?." Bisikan suara hatinya secara sepihak membujuknya agar cepat bertindak. "Jangan berlama-lama mengambil keputusan, dengan berlama-lama, kamu justru semakin menemukan tindak kekacauan batin yang meresahkan dirimu sendiri."_
"Iya, iya...! Berisik. Aku tau, jangan tekan aku. Yang memutuskan tindakanku adalah aku sendiri bukan kamu."
"Kenapa Bapak seperti itu ?." Tanya gondrong pada asisten laki-laki yang multibisa itu.
"Tsuuuutt.... jangan ribut !. Entah pada siapa Bapak berbicara ?." Sahutnya. "Bapa, bukan hanya ingin pergi tapi terlihat berat untuk meninggalkan Makassar. Mungkin karena urusan perasaan hubungannya yang membuatnya begitu. Selama ini, Pak Eden tak pernah terlihat begitu. Aku yakin pasti ada hubungannya dengan Rindu."
"Kasihan juga Pak, Eden." Sambung gondrong. "Kejadian tadi malam bukan cuma bisa merenggut kebahagiaannya tapi merenggut juga setiap keputusan yang ia buat. Dari tadi malam, aku mencoba memberinya pandangan agar melupakan Rindu tapi sepertinya tak berpengaruh baginya. Rindu, mungkin baginya bukan sekedar wanita yang ia cintai namun mungkin lebih dari itu. Kasihan aku melihatnya, pandangannya kosong bahkan aku mengkhawatirkannya bila hari ini, dia jadi berangkat ke kampungnya."
"Aku saja sebenarnya juga tidak tega melihatnya demikian. Andainya Pak Eden seperti kebanyakan laki-laki diluar sana, dia tidak akan susah mencari pengganti untuk menggantikan Rindu. Namun, aku melihatnya demikian, Rindu bukan hanya wanita yang ia cintai tapi lebih dari itu. Sudahlah ! Sebaiknya kita berharap untuknya, semoga Pak Eden cepat mendapatkan penggantinya."
"Amiin Ya Rabbal Alamin 🤲🤲🤲." Pembicaraan hangat itu berkahir ketika Eden menghampiri mereka.
"Gondrong, ayok ! Kita berangkat sekarang !."
__ADS_1
"Bapak baik-baik saja kan ?." Tanya gondrong pada Eden.
"Aku baik-baik saja. Kenapa bertanya begitu ?."
"Tidak ! Aku, hanya sedikit melihat wajah Bapak agak berbeda. Bapak bukan hanya bersedih tapi seakan berat meninggalkan Makassar ini."
"Aku tidak apa-apa. Kamu tenang saja, wajah murung ini, dengan sendirinya akan hilang."
Sambil menghidupkan mobilnya, Eden masih menyempatkan juga mengatakan "hari ini agak berbeda dengan hari kemarin." Eden menitip pesan pada si multibisa itu untuk menjaga rumah baik-baik.
Mobil Pajero miliknya kini sudah keluar dari parkiran rumah menuju pelabuhan Bugis Makassar. Disana lah kapal Phinisi miliknya berlabuh.
"Pak, baru kali ini, aku berlayar dengan kapal Phinisi. Dulu-dulu, aku memang terbiasa pergi berlayar, merantau, tapi tidak dengan Phinisi melainkan kapal kayu biasa."
Eden seakan tidak mendengar gondrong yang berbicara padanya. Ia acuh dan hanya fokus memegang setir mobil.
Selama diperjalanan menuju pelabuhan, ia singgah dirumahnya Resky yang memang tidak jauh dari pelabuhan. Eden ingin memberitahu Resky bahwa hari ini, ia akan kembali kekampung dalam jangka waktu yang tidak pasti kapan akan kembali ke Makassar lagi.
Namun apa yang justru terjadi ketika mobil Pajero miliknya telah berhenti di depan rumahnya Resky. Eden malah tidak mau turun dari dalam mobilnya untuk menemui Resky, hingga ia meminta tolong kepada gondrong untuk menyampaikan pesan terakhirnya untuk Resky.
Gondrong pun pergi menemui Resky. Tak lama setelah itu, Resky datang dengan senyum bersimbah bahagia menuju kearah mobil.
Tentu saja heboh !. Bagaimana tidak ?! Bahkan gondrong tidak percaya melihat kejadian itu.
"Wah ! Tidak jadi berangkat kalau begini ?." Pelan tapi pasti, gondrong hanya bisa menggeleng kepala dengan sedikit berucap demikian.
Karena tak tahan melihat kemesraan itu, Resky pun memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumahnya. Agak kesal, gondrong pada majikannya itu, tapi sama, dia tak berani menunjukkan kekesalannya padanya.
Tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, gondrong langsung masuk kedalam mobil majikannya itu. Dari dalam mobil, percakapan serius yang disertai air mata kedua insan yang di mabuk asmara itu terdengar walau agak tidak jelas.
"Tega kau Eden, padaku !" Tanya Rindu dengan raut wajah yang serba asing.
"Tidakkah kau lihat mataku ini. Semalaman aku menangis, menahan rasa sakit dan penyesalan, korbannya hingga mataku bengkak seperti ini. Dan sekarang, kamu ingin pulang tanpa mengabariku lagi. Apakah salahku di matamu ?."
Eden hanya bisa menundukan wajahnya didepan Rindu yang ternyata menyusulnya dari belakang. Tetesan air mata dari kedua kelopak matanya Eden mengalir bak sungai, Rindu pun demikian samanya. Sesekali Eden hanya menjawab pelan pada Rindu.
"Aku yang salah padamu Rindu ! Kamu bahkan tak ingin mendengar namaku, tak ingin melihatku, dan menyebut diriku sebagai bajingan. Aku sama denganmu, sakit, terluka, bahkan aku tak tahu lagi keputusan apa yang aku perbuat untuk memperbaiki hubungan kita. Tadi pagi, aku kerumahmu untuk meminta maaf tapi ketika tulisan yang terpampang jelas di depan rumahmu yang mengatakan aku adalah seorang bajingan, aku berpikir bahwa kita memang tidak cocok."_
"Lalu mengapa kamu menyusul ku ? Jangan Rindu ! Seorang bajingan sepertiku hanya bisa hidup berdampingan dengan cewek bajingan. Kamu adalah wanita yang baik-baik dan berasal dari keluarga yang dihormati. Jangan tanyakan padaku, mengapa aku ingin pulang kampung hari ini."
__ADS_1
"Oh, jadi begitukah dirimu. Itukah keputusan yang telah kau putuskan. Telah berbuat salah dan ingin pergi meninggalkan ku disini. Tidak ! Kau harus tetap berada disini sampai aku mengizinkanmu untuk pergi !."
"Tidak !" Aku tidak akan kemana-mana. "Aku hanya ingin pergi menemui kedua orang tuaku. Aku ingin mengatakan kepada kedua orang tuaku bahwa wanita yang dulu pernah berjanji pada mereka ternyata telah meninggal. Maafkan aku Rindu, aku akan pergi sekarang ! Pulanglah dan berhentilah menangisi seorang bajingan sepertiku."
Eden pun kembali masuk kedalam mobil. Matanya masih meneteskan air mata yang tak bisa ia tahan. Rindu hanya bisa duduk memeluk kedua lututnya, Rindu pasrah dengan keadaan itu.
Didalam mobil, gondrong yang dari tadi tengah mendengar, menyaksikan gejolak perasaan ombak di hati mereka seperti riak-riak air tak tenang, juga ikut larut kedalam kesedihan yang dialami majikannya. Padahal tadi, ia sempat kesal dengan melihat pemandangan mengharu harapan di siang menjelang sore ini.
Tak berlama-lama, Eden kembali menyuruh gondrong agar memanggil Resky. Eden tetap ingin menyampaikan pesan terakhir yang mana dulu pernah ia janjikan kepada Resky termasuk juga Rindu.
"Apa yang akan aku katakan pada Resky, Pak ?. Tadi, Resky melihat Bapak sedang berpelukan dengan Rindu dan apakah Reksy akan datang kesini bila melihat Rindu masih ada disini dalam keadaan menangis ?."
Bukan malah membuat Eden tenang atau berpikir yang jernih dengan perkataan gondrong padanya, melainkan ia nampak begitu kesalnya dengan gondrong.
"Maaf, Pak ! Bukan maksudku tidak ingin menjalankan perintahnya Bapak tapi aku tidak tega melihat dua wanita dalam waktu yang bersamaan menangis didepan Bapak, juga didepan umum. Apa kata orang pada Bapak ?."_ Sambungnya.
"Aku punya saran, itupun jika Bapak terima. Sebaiknya Bapak telepon Resky, suruh dia kepelabuhan. Bapak tunggu dia disana, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi bertambahnya kekecewaan Rindu pada Bapak.
Terima atau tidak terima masukan dari gondrong. Eden lalu menghidupkan mobilnya dan pergi menuju pelabuhan dengan meninggalkan Rindu yang masih menangis ditempatnya tadi.
Hanya kata sesal yang keluar dari hatinya menerobos pikirannya "mengapa tak kau perbaiki hubunganmu, Rindu sudah datang, kau malah bertingkah tidak mau."
Karena kata sesal itu yang terlintas hingga ia mengambil hpnya untuk meminta maaf pada Rindu dan ingin mengabarkan pada Resky bahwa hari ini, ia akan pulang kampung.
Apa yang Eden lihat ketika tombol kunci hpnya di buka. Sebuah notifikasi SMS dari Rindu yang mengatakan "pulanglah ! Aku juga punya Phinisi untuk menyusul mu kekampung halamanmu. Disana awal kita berkenalan, mungkin disana pula, hubungan kita akan membaik."
"Yes...!."
"Bapak kenapa ?." Tanya gondrong. Terbesit di hatinya gondrong, tadi menangis sekarang malah yes.
"Entahlah !." Jawab Eden.
Sampai disini dulu ya...!
Tunggu selanjutnya...
Ayo dukung Penulisnya dengan cara
#Vote, Like, Komen, dan beri Hadiah
__ADS_1
agar penulisnya semangat up terus.
Matur Nuwun🙏