
...Sekelumit Cuaca...
...****************...
Mungkin mengejutkan bagi Mad dan Security yang membawa Eden. Mereka ingin memasukkan Eden kedalam penjara sesuai instruksi Pak Gub hanya saja tidak semudah itu.
Eden saat ini bukan orang miskin. Kalau yang lain bisa main sulap dengan hukum bahkan dia lebih dari itu.
Mulanya gondrong yang membuka percakapan penawaran pada Mad dan Security untuk meloloskan Eden agar tidak dipenjara. Namun mereka bersikeras untuk tidak menanggapi penawarannya gondrong. Siapa sih yang tidak mau uang kalau datangnya langsung sekoper dua koper pasti maulah. Apalagi ini bukan hanya sekoper tapi mungkin bisa lebih dari itu.
"Mad, kita kan walau baru sebentar kenal tapi uda saling kenalkan. Gimana kalau aku beri kamu solusi baik. Mungkin kamu atau temanmu itu bekerja pasti cari uang. Dalam artian setiap orang yang mencari uang pasti ingin membahagiakan keluarganya. Aku tidak tahu saat ini apa jabatanmu dikesatuan namun setahuku semua orang pasti butuh uang. Gimana kalau kamu sama temanmu itu membebaskan Pak Eden. Aku akan mencoba memberitahu Pak Eden bahwa kebebasannya dihargai dua miliyar rupiah. Hitung-hitung bisa menjadi tabungan kan, mumpung masih hangat. Gimana ?."
Bahaya. Gondrong tidak tahu apa kalau aparat itu tidak bisa di sogok bahkan gondrong lupa dengan ketegasan yang ada dalam dirinya Mad.
Saking emosionalnya. Mad lalu menegur gondrong dengan mengatakan padanya bahwa uang walau sedikit bisa dicari yang penting halal.
"Gondrong, kita memang teman dan baru kenal tadi. Namun aku menyayangkan perkataanmu dengan merayuku seperti itu. Maafkan aku gondrong tapi aku tidak bisa sebab dikesatuan, kami diajarkan bagaimana menjalankan tugas dengan baik. Jika memang Pak Eden ingin dibebaskan maka dia harus melalui proses pengadilan. Tidak demikian caramu dengan menghasutku. Sekali lagi aku tekankan padamu bahwa tidak ada sikap toleransi atau menerima tawaranmu itu karena pada akhirnya hanya bahaya yang akan kita dapatkan."
"Ayolah Mad. Apa kamu tidak kasihan dengan Pak Eden yang baru saja sembuh dari penyakitnya. Dia tidak seharusnya mendapatkan perilakuan seperti tadi. Coba lihat Pak Eden, dia bukan karena tertidur karena rasa kantuknya tapi dia menerima respon negatif yang mengganggu pikirannya. Ayolah Mad !."
"Tidak bisa. Kalau aku bilang tidak bisa ya tidak bisa. Jangan paksa aku karena semakin kamu memaksaku semakin masalah ini tidak akan selesai, gondrong. Tapi sebenarnya aku juga kasihan padanya yang baru sembuh eh malah harus mendapatkan lagi masalah yang lain."
"Lalu mengapa tadi kamu sempat memukulnya juga ?. Bukankah lebih baik jika tadi menenangkan Pak Gub agar tidak semakin marah."
__ADS_1
"Bukan itu persoalannya. Persoalannya aku bekerja pada Pak Gub dan setiap perintah padaku bernila pada jabatanku. Jika saja aku bukan salah satu dari bagian kesatuan mungkin lebih gampang aku menenangkannya tapi tenang saja, Rindu tidak akan tinggal diam dengan masalah ini. Kamu tahu sendiri bahwa hubungan mereka sudah sangat jauh bahkan kedua keluarga tidak akan bisa memisahkan mereka"_
"Sebenarnya Pak Gub setuju pada hubungan mereka. Yang tidak beliau sukai itu adalah pergi jalan-jalan tidak pasti. Aku sudah memperingati mereka sewaktu masih dimobil tadi untuk pulang lebih awal dan jangan banyak singgah dijalan jika mau kerumah. Tapi sekali lagi yang aku bahasakan bukan malah menjadi peringatan bagi mereka melainkan aku ingin dilaporkan pada Pak Gub. Ya karena kesalahan kita semua hingga masalah ini ada. Jika kita patuh dan taat pada instruksi Pak Gub untuk pulang lebih awal pasti keadaannya tidak akan seperti ini."
"Ya mau gimana lagi karena sudah terjadi. Kita tinggal berusaha agar Pak Eden tidak dipenjara. Mad, ayolah bantu aku untuk menemukan solusinya. Bagaimana jika posisi yang dialami Pak Eden berada pada dirimu dan dalam keadaan seperti itu hanya ada temanmu namun sementara tidak bisa juga membantumu. Apakah kamu akan diam saja atau berusaha untuk membujuknya agar kamu dibebaskan ?. Aku tidak berkompromi untuk berbuat kejahatan namun aku mengajakmu untuk melakukan kebaikan, Mad."
"Tetap aku tidak bisa gondrong. Jika saja aku berani melakukan hal itu maka dipastikan bahwa aku tidak akan lama menjalankan tugasku. Kamu benar sekali jika posisinya Pak Eden ada padaku maka aku akan melakukan yang sama seperti yang kamu lakukan tapi sekali lagi, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Mobil yang membawa mereka sebentar lagi akan tiba di Polda sebelum Pak Eden benar-benar dimasukan kedalam jeruji penjara untuk yang kedua kalinya.
Sudah tidak ada lagi hal yang perlu gondrong sampaikan sebab gimana pun caranya membujuk Mad agar melepaskan Eden tetap saja Mad lebih memilih untuk menjaga kedisplinan tugas dan tanggung jawab nya.
"Gondrong, kamu tenang ya. Aku hanya bisa berharap agar masalah ini tidak berlarut dan berkepanjangan. Hanya ada satu orang yang bisa mencegah hal ini yaitu cuma Rindu. Kita berharap saja semoga Rindu menelpon sebelum Pak Eden sampai di Polda Sulsel."
"Ada apa ini ?." Kata Mad sambil melihat layar Hp nya.
Lalu diangkat. "Iya, Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh, Pak. Ada Pak ?."
"Iya Pak. Siap Pak !." Hp nya pun dimatikan.
"Ada apa Mad ?. Telpon barusan dari siapa ?. Sepertinya begitu serius."
"Tadi Ayahnya Rindu menyuruhku agar Pak Eden dibawa saja kerumahnya. Katanya Pak Gub, Pak Eden jangan dibawa ke penjara."
__ADS_1
"Tapi kenapa ?. Bukanya tadi Ayahnya Rindu begitu marahnya pada Pak Eden. Terus kenapa bisa berubah secepat itu, Mad ?."
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tadi aku hanya mendengarnya begitu. Pasti Rindu yang ngotot pada Ayahnya agar Pak Eden jangan dibawa ke penjara. Bukankah ini bagus jika Pak Eden tidak dipenjara. Tadi kamu berharap begitu kan padaku. Mestinya kamu lebih bersyukur sebab Bosmu tidak jadi dipenjara."
"Aku bersyukur Mad. Kamu yang tidak beruntung. Jika tadi tawaranku bisa kamu iyakan sudah pasti kamu mendapatkan keuntungan. Apa yang aku bilang padamu bahwa niat baik orang lain jangan dihindari. Jadinya ya kamu tidak dapat apa-apa kan."
Tak sampai disitu. Eden yang dibuat tertidur sejak memasuki dalam mobil. Kini ia bangun namun anehnya bukan malah marah atau ingin membalas perilakuan Mad dan Security yang masih ada didalam mobil. Eden justru bertanya kepada mereka bahwa aku mau dibawa kemana. Sepertinya dia kembali mengalami gangguan ingatannya. Lebih parahnya lagi ia mempertanyakan mengapa sampai ia berada didalam mobil ini.
"Kalian siapa ?." Eden sama sekali tidak mengenal lagi Mad dan gondrong.
"Aku gondrong Pak yang Bapak pekerjakan sebagai kemanan pribadi Bapak. Kalau ini Mad, sopir pribadinya Rindu dan yang didepan itu adalah Security rumahnya Rindu." Gondrong menjelaskan pada Pak Eden.
"Aku tidak kenal kalian semua. Turunkan aku dari sini, aku ingin pulang."
"Iya. Kami akan membawa Bapak pulang. Bapak tidak usah turun dari mobil ya. Sebaiknya Bapak tidur saja dulu jika sudah sampai dirumahnya Bapak. Kami akan bangunkan Bapak."
Pelan sekali gondrong berbicara berbisik pada Mad. "Mad, bahaya ini. Penyakit Pak Eden sepertinya tadi belum sembuh total. Mungkin karena benturan tamparanmu tadi hingga dia begini lagi. Kamu terlalu keras menamparnya padahal kamu tahu sendiri kalau Pak Eden belum sembuh total. Mungkin tamparanmu tadi menggoyangkan kepalanya sampai dia begini lagi."
"Jadi aku harus bagaimana. Jika hal ini diketahui oleh Rindu, aku bisa habis dimarahinnya."
"Aku juga tidak tahu harus gimana, Mad. Ya kamu terima saja jika Rindu marah padamu." Sahut gondrong padanya.
Dalam kekhawatirannya Mad. Hanya ada satu jalan terbaiknya yaitu dengan meminta maaf pada Pak Eden.
__ADS_1
Tentu saja Pak Eden akan memaafkannya tapi semakin berbahaya jika kesadarannya kembali maka dia pasti akan menuntut pihak-pihak yang sudah memukulnya.