Perahu Apung

Perahu Apung
51


__ADS_3

...Salah ucap, Daengnya Marah...


...****************************...


Begitu antusiasnya mereka memadu kasih sampai Eden salah menyebut tempat untuk bulan madu mereka bila nanti mereka sudah menikah.


Mobil yang menjadi saksi kisah malam ini kini telah membawa mereka menuju rumah tepatnya rumahnya Rindu.


Mereka masih didalam mobil duduk sambil berpegangan tangan, lupa kalau Mad dan gondrong sedang memperhatikan kemesraan mereka.


Dibuat tertawa seisi mobil karena ulah salah bicara Eden.


"Rindu, jika kita sudah menikah, kita bulan madu di ing... ing... ing..., dimana lagi itu, aku lupa nama tempatnya Rindu."


"Inggris sayang, masa ing... ing... ing...."


"Haha..., Pak Eden bisa aja." Sahut gondrong sementara Mad hanya senyum-senyum sendiri.


"Gondrong, kamu mentertawakan apa ?."


"Tidak Pak, kakiku kesemutan. Geli, di garu agak setengah mati jadi aku tahan aja. Begitu orangnya saya Pak, kalau disituasi yang tidak bisa aku lakukan pasti aku tertawa. Kayak lucu sendiri Pak, bukan omongannya Bapak yang aku tertawakan."


"Kirain kalian berdua mentertawakan ku. Tapi yang benar, aku lupa menyebut Inggris. Soal baru kali ini aku begitu merasa bahagia."


"Iya Pak. Cinta, terkadang membuat seseorang lupa diri. Ehm, maksudku bisa lupa yang ingin dia bicarakan. Aku juga dulu pernah begitu, mengucapin kata-kata yang indah sangat susah bahkan untuk mengatakan aku mau dipeluk amat sangat sulitnya." Si gondrong seakan melihat kalau Eden baru saja memeluk Rindu saat mereka berdua pergi membeli suprite untuknya.

__ADS_1


Setiap kata yang keluar dari gondrong seakan meneropong relung jiwa malam yang sempat menyelimuti Rindu dengan kedua tangan kekasihnya itu. Eden hampir tersinggung dengan ucapan gondrong, dia merasa bahwa gondrong, tadi sedang mengintipnya.


Wajah yang tadi terlihat begitu bahagia seketika berubah drastis bahkan telapak tangannya dikepalanya. Dia hampir saja melayangkan pukulan kewajah gondrong namun Rindu cepat menyadari kalau tangan kekasihnya yang dipegang itu berubah bentuk.


Ditelinga nya suara merdu itu berbisik, suara itu berusaha menenangkan amarah yang tidak seharusnya terjadi.


"Sayang, jangan marah !. Kamu bukan hanya Bos bagi gondrong tapi baginya, kamu adalah seorang laki-laki yang ia percayai. Jangan marah ya !. Dia hanya bercanda tadi itu sayang, masa hanya karena ucapan becandanya, kamu sampai harus memukulnya. Jangan ya sayang, aku tidak ingin setelah kebahagiaan kita malam ini, kamu harus marah-marah begitu. Jangan ya sayang !."


Untuk mencairkan keadaan, Rindu mulai memperbaiki dengan bahan candaan. Rindu tidak ingin apa yang baru saja ia alami dengan kekasihnya justru keruh tidak meninggalkan kesan.


Rindu memulai candanya "Gondrong, memangnya kamu sudah menikah ya ?. Bagaimana dulu kamu mengucapkan kata-kata cinta padanya ?. Atau kamu memang belum pernah menikah ?."


"Ibu ini ada-ada aja. Aku sudah menikah, Bu, tapi ia ungkapan cinta itu memang terkadang sulit untuk diucapkan apalagi sampai harus menahannya, menundanya untuk waktu yang pas untuk dikatakan justru bisa menimbulkan penyakit yang cukup serius dalam hati. Tapi sudahlah Bu ! aku kira setiap insan yang saling mencintai akan paham kondisi perasaannya pada kekasihnya. Aku hanya bagian terkecil atmosfer cinta yang ada dalam diri sahaja"_


"Ibu dan Bapak sangat cocok, maaf Bu ya bila aku lancang. Mengapa Ibu dan Bapak belum menikah. Sebaiknya cinta yang telah lama akrab begitu, secepatnya diikat dengan ikatan pernikahan biar nggak kemana-mana lagi cintanya."


"Iya sayang !."


Roda cepat ban mobil tidak menghendaki cerita cinta. Mobil pun berhenti pas di halaman luar rumahnya Rindu. Security yang masih berjaga membuka pintu pagar dan membiarkan mobil putih itu masuk.


"Kalian dari mana saja." Tegur Daeng nya Rindu pada mereka.


"Daeng kenapa mau begitu ?."


"Bukan mau marah, Mamak mu menunggu dari tadi. Makanan yang dia masak sendiri untuk menyambut kalian justru tidak ada yang makan. Mamak mu sudah bilang kalau mau datang jangan singgah-singgah, langsung saja kerumah. Eh kalian justru banyak singgah dijalan"_

__ADS_1


"Memangnya habis dari mana, Nak ?."


"Iiih Daeng, kami tuh seharian bahkan sampai malam ini singgahnya bukan ditempat yang tidak ada manfaatnya, Daeng. Kami sempat singgah di pondok anak yatim. Daeng tahu tidak kalau Eden banyak memberikan donasi pada mereka"_


"Satu lagi Daeng, Eden sudah sembuh. Dia telah sadar dari lupa dirinya, dia bahkan tahu kalau dulu Daeng pernah membuatnya kapok mendekatiku."


"Daeng tidak mau dengar alasan apa-apa darimu bahkan untuk malam ini jika dia telah pulih dari ingatannya, bagus ! suruh dia pulang kerumahnya sekarang !."


"Daeng apa-apa sih !. Dia baru saja pulih malam ini, Daeng malah menyuruhnya pulang kerumahnya. Dirumahnya, siapa yang akan menjaganya."


"Daeng kira, dia pengusaha kapal Phinisi. Pasti banyak uangnya, dia juga pasti bisa dong menyewa pembantu. Kenapa harus kamu yang repot ngurusin dia Nak. Kalau kamu nurut, Daeng tidak akan marah tapi kalau kamu mempertahankan dia bermalam di rumah kita, Daeng tidak akan merestui hubungan kalian"_


"Daeng nggak habis mikir padamu Nak. Begitu banyak pengusaha yang lain yang datang melamarmu, kamu sama sekali tidak mau menerima satupun dari mereka. Dari dulu, sudah berapa tahun ini, hanya laki-laki ini yang selalu ingin kamu nikahi. Sebenarnya apa istimewanya dia dimatamu, Nak ?. Daeng sampai bertanya-tanya pada diri sendiri bahkan pada Mamak mu, apa istimewanya dia dimatamu ?"_


"Daeng malu Nak !. Malu pada semua orang yang melihatmu selalu jalan sama laki-laki ini. Setidaknya, lihat Daeng mu ini siapa dimata masyarakat. Orang-orang tidak berani berbicara didepan kita karena mereka menghargai Daeng mu. Coba anak orang lain yang seperti ini, pasti teguran sana sini pada menyerang"_


"Sejujurnya, Daeng mu tidak terlalu setuju jika kalian jalan seharian, pulang dalam keadaan malam begini, Nak. Mamak mu dari tadi tidur, dia berpikir bisa makan malam bersamamu tapi tidak. Berapa jam Mamak mu menunggumu hanya untuk makan bersama ?. Hampir lima jam, bayangkan Nak, dari sore dia sudah masak makanan kesukaanmu, eh kamu malah asyik jalan sama dia"_


"Suruh dia pulang sekarang !. Daeng tidak mau kalau dia bermalam disini !."


Sulit dipercaya. Ayahnya Rindu seharusnya menyambut mereka dengan suka cita, bahagia. Kali ini, Ayahnya rindu begitu emosi.


Sadar tidak sadar, Eden mendengar percakapan mereka yang hebat menolak Eden bermalam di rumah Rindu.


"Iya, aku akan pulang !. Maafkan aku Pak jika beberapa hari ini sampai malam ini Rindu menemaniku. Aku hanya ingin mengatakan pada Bapak bahwa sebenarnya, aku telah berencana untuk melamar Rindu.

__ADS_1


"Kamu bilang mau melamar Rindu. Nantilah urusan itu dibicarakan lebih lanjut, kamu pulang sekarang dan Rindu masuk kedalam."


Mengapa tiba-tiba berubah begitu, ada apa ya.


__ADS_2