
...Wanita Numpang Marah...
...****************...
Tidak pernah terpikirkan oleh Eden bahwa Rindu berkata benar padanya. Di pelabuhan, ketika mobil Ayahnya Rindu telah berhenti. Eden menyaksikan ada banyak orang yang ingin pergi ke Labuan Bajo. Mereka semua bertujuan sama, ingin menikmati keunikan Labuan Bajo. Ini pertama kalinya Eden akan menginjak Labuan Bajo jika tidak ada halangan.
Eden melihat wajah kegembiraan pada semua wisatawan yang hendak bepergian. Ketika pintu mobil sudah dibuka dan mereka turun dari dalam mobil. Pintu kiri mobil menyenggol seorang wanita yang lagi santai bersandar di pintu mobil.
Hampir saja kaca pintu mobil dilempar dengan botol air aqua ukuran sedang. Namun, entah kenapa ? ketika wanita itu melihat Eden yang turun setelah Ibunya Rindu, wanita itu tidak jadi melemparkan botol aqua yang sementara dipegang.
Sedikit keributan terjadi hingga mengundang banyak perhatian orang-orang disekitar itu. Untung saja, selain wanita itu telah kenal dengan Eden, sopir pribadi Ayahnya Rindu lebih cepat meredam Emosi wanita itu.
Ada apa ? hingga wanita itu seakan pernah melihat Eden sebelumnya.
Laki-laki dari desa, sebuah pulau kecil, tidak mungkin memiliki kenalan di Makassar selain Resky.
Ketika wanita itu lebih dekat mendekati Eden, Rindu yang dari tadi bersama Eden nampak cemberut. Dibilang cemburu, mereka belum menikah, dibilang sakit hati, Rindu selalu percaya bahwa Eden adalah jodohnya.
Kembali wanita itu mulai menanyai Eden dengan sebuah pertanyaan misterius. Namun Eden menghindari wanita itu. Dia paham bahwa Rindu nya sedang menenangkan perasaan nya yang tertindas oleh kehadiran wanita itu.
"Eden, ayok kita turun ke kapal Phinisi agar kamu bisa istirahat didalam." Panggil Rindu padanya.
Ternyata Rindu tidak mau kalau laki-laki desanya ini di dekati oleh wanita lain selain dirinya. Rindu hanya ingin bersama dengannya, Rindu tidak ingin hubungan mereka yang baru itu di ganggu oleh wanita yang tidak tahu siapa dia.
__ADS_1
Hingga, saat Eden hendak berjalan pelan mau mengikuti Rindu. Wanita tadi langsung menarik tangannya Eden. Yang terjadi, Rindu berbalik dan menampar wanita tadi.
Tadinya hanya keributan kecil karena pintu mobil sekarang telapak tangan halus itu telah mendarat di pipih wanita asing yang sengaja menarik tangannya Eden.
"Kamu siapa ? berani sekali menarik tangan calon suamiku ?. Kamu tidak tahu, siapa aku ?." Rindu memberikan semacam tekanan batin pada wanita asing itu.
"Santai saja !. Ini tempat umum, mana ada seorang wanita lebih ganas dari laki-laki. Kamu baru calonnya tapi aku mantan pacarnya." Sahut wanita asing itu dengan wajah yang memerah akibat tamparan Rindu padanya.
Menyaksikan kejadian heboh ini. Para wisatawan yang hendak berpergian dengan menumpangi jenis-jenis Phinisi dan Pelni turut mendamaikan keadaan.
Tetap saja, mungkin ucapan pacar pada Rindu dari wanita asing itu tidak cukup membalas sakit di pipinya. Wanita asing itu pun lalu mengeluarkan sebuah perkataan yang begitu menyinggung dan menusuk hati Rindu termasuk orang lain yang mendengarnya juga merasa tersakiti. Karena memang tidak pantas untuk dikatakan didepan umum.
"Kamu tidak percayakan padaku kalau calon suamimu itu pernah membuatku ke guguran. Tanya saja dia, kalau kamu membutuhkan jawaban maka dia akan menjawabnya. Hari itu sudah mulai gelap, didalam sebuah perahu kacil dipinggir pantai, dia mulai melakukannya padaku. Aku sempat menolaknya namun calon suamimu ini lihai merayu wanita. Mungkin karena garis cinta hanyalah suatu persinggahan yang menyakitkan dan aku lalai dari rayuannya hingga di hari yang mulai gelap itu, dia menyentuh sedikit asyik aku rasakan. Sampai pada akhirnya aku yang merasakan kepudaran, calon suamimu meninggalkanku tanpa jejak, dia tidak pernah kembali untuk mempertanyakan keadaanku seperti apa. Dia menjadi setan dalam hidupku, menghantuiku sepanjang waktu. Dihari ini, aku melihatnya bersamamu dan kamu malah menamparku"_
Rindu terlihat seperti orang yang mau kerasukan. Wajah cantiknya, drastis berubah pada Eden setelah mendengar wanita tadi berbicara begitu. Dia balik menghadap Eden, air matanya ditahan begitu jelas. Suaranya langsung saja menggemuruh ditelinga Eden dengan sadisnya Rindu langsung berbicara yang tidak pantas pada laki-laki desa yang tidak tahu apapun soal wanita asing itu.
"Kamu ternyata laki-laki tidak punya moral. Dengan gampangnya aku bisa tertipu denganmu. Masih untung selama kamu tinggal di rumah mewahku, kedua orang tuaku menjamumu dengan begitu layak walau terkadang Daeng ku membuatmu risih. Kenapa bersembunyi dibalik wajah lamamu. Berarti kepergian mu dari kampung bukan karena tujuan mau menemuiku melainkan karena wanita tolol tadi kan ?. Andainya kamu tidak menyembunyikan hal sebesar ini padaku, Eden. Aku mungkin masih bisa memaafkanmu, sungguh aku telah tertipu dengan kehadiranmu disini. Kamu sekarang pergilah ! jangan pernah berada disini atau mungkin melihatku. Temui wanita tadi, dia lebih pantas bersamamu. Jangan bermimpi untuk menikahi seorang anak Gubernur. Kamu untung, karena disaat kejadian ini, Ibu, Daeng ku sudah berada di dalam kapal Phinisi. Jika mereka melihatmu maka aku tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi padamu. Apakah kamu akan di penjara atau justru di buang ketengah laut."
Semua rasa sakit di hati Rindu ditumpahkan seperti menumpahkan air kedalam ember. Kasihan memang, saat cinta mulai terpupuk dengan baik, tumbuh baru sejenggal, hama datang menggerogoti batang pohon dari dalam hati. Jiwanya hancur, batang pohonya tumbang, akarnya tidak lagi menyaring sari-sari manfaat dari dalam tanah hingga tidak mampu menahan merebah nya batang pohonnya. Seketika itu, Rindu meneriaki Eden sebagai laki-laki yang tidak punya hati.
"Dasar laki-laki jelek, pergilah kau sejauh-jauhnya !."
Rindu, tak tahu harus menangis memeluk siapa. Untuk menenangkan pikiran dan memperbaiki perasaannya, dia kembali masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Disitu, Eden mengetuk-ngetuk pintu mobil. Dia berharap Rindu mendengarkan penjelasannya. Dia ingin mengklarifikasi pengakuan wanita asing yang tidak dia kenal itu.
"Rindu, kumohon..., bukalah pintu mobil ini. Rindu dengarkan aku !. Aku tidak tahu siapa wanita tadi. Kumohon Rindu ! jangan abaikan aku seperti ini. Bukankah kita akan pergi bersama ke Labuan Bajo dengan Phinisimu ? lalu mengapa kamu biarkan aku sendiri diatas dermaga ini tanpa ada yang aku kenal. Aku akan kemana ? jika kamu menyuruhku pergi Rindu ?."
Rindu masih berdiam diri di dalam mobil. Menangis begitu hebatnya sambil sesekali matanya melihat kearah Eden yang kini telah berjalan membelakangi mobilnya Rindu. Dari dalam mobil, Rindu meraih tubuh kekasihnya itu. Apa daya, dia tidak memiliki kekuatan untuk membuka pintu mobilnya, hanya untuk mengatakan "Eden jangan pergi lagi !."
Sementara keluarganya yang sudah ada di dalam Phinisi merasa bahwa Rindu dan Eden lama naik ke kapal. Pendamping setia Rindu, dua wanita yang selalu bersamanya datang menjemputnya di mobil. Sekedar mengingatkan bahwa Ayah dan Ibunya telah memanggil, Phinisinya sebentar lagi akan berangkat.
Pintu mobil ternyata terkunci. Diketuk beberapa kali tidak dibuka. Jemputan nya pun menunggu di situ, Rindu masih berada di dalam mobil yang senantiasa melihat kearah Eden. Dia ingin tahu apakah Eden akan menemui wanita centil itu, yang saat ini berdiri menghadap kapal-kapal Phinisi yang sandar di dermaga.
Memang iya ?. Eden berjalan kearahnya. Semakin dekat dengan wanita itu, Eden terlihat seakan menegur wanita centil itu. Nampak adu mulut, sesekali tangan mereka berdua mengisyaratkan sesuatu.
Rindu, yang melihat mereka dari dalam mobil semakin yakin bahwa Eden dan wanita centil itu memang memiliki hubungan sebelumnya.
Itu' benarkan ?. Wanita itu memeluk Eden. Eden tak berkutik saat dipeluk, dia menikmati pelukan hangat itu.
"Laki-laki bodoh, dia dengan santainya mau aja dipeluk. Pertengkaran mereka hanya untuk meyakinkan aku bahwa hubungan mereka adalah rekayasa, kebohongan, mereka tidak punya hubungan. Itu, sandiwara ! akhirnya juga, Eden mau dipeluk. Dasar pemuda hitam, pemuda desa yang tidak tahu malu." Terlontar jelas dari mulutnya Rindu. Cuma karena didalam mobil, kata-kata pahit itu tidak ada yang mendengar nya.
Pintu mobil kembali terketuk. Rindu, buka pintu mobil, "Daeng mu memanggil ? katanya cepat, Phinisi sebentar lagi akan diberangkatkan, Rindu."
Pelan tapi pasti, Rindu membuka pintu mobil lalu berkata, "beritahu Daeng ku dan Ibu, aku tidak jadi pergi. Beritahu mereka, aku ingin balik ke Rumah, sembari menutup kembali pintu mobilnya.
Eden telah pergi meninggalkan sakit yang tidak bisa aku tampung.
__ADS_1
"Mengapa Eden ?."