Perahu Apung

Perahu Apung
65


__ADS_3

...Uneg-uneg...


...***********...


Pecah dirinya berkeping-keping menjadi beberapa bagian. Sebagian diri mentertawakan kebodohan dan kekalahannya dan sebagian dirinya justru menangisi kekalahan cintanya.


Harapan yang menggebu laksana pohon tumbuh yang terawat sepanjang hari ketika ia menuju rumah wanita yang begitu dicintainya itu.


Ia berpikir keras bagaimana caranya agar Rindu dan keluarganya setidaknya bisa memaafkan dirinya. Bukan harapan untuk kembali lagi memupuk cintanya tapi berharap untuk menjaga hubungan sosial layaknya yang lain.


Hmm...! Nyatanya, Eden hanya bisa sampai di halaman luar rumah.


"Tega kau Rindu." Katanya sendiri. "Gondrong, kita pulang sekarang. Lihatlah tulisan yang rapih disana, secepat itukah Rindu menempelkannya. Apakah aku sejahat itu baginya ?."


"Jangan berputus asa, Pak. Dunia ini masih lebar juga masih luas. Wanita masih banyak bahkan Bapak masih bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik darinya. Percaya saja, setiap kepergian orang berharga dalam diri kita, Tuhan selalu menyiapkan penggantinya yang lebih baik dan baik. Hanya saja, Bapak harus sabar menghadapi perpisahan ini. Bukan perpisahan yang sebenarnya ditakutkan tapi pertemuan yang singkat, Pak."


"Menurutmu begitu gondrong tapi, aku tetap tersakiti. Aku tak pernah menyangka bahwa Rindu akan semarah ini padaku bahkan aku disebutnya sebagai orang jahat."


"Sebaiknya lupakan itu, Pak. Semakin dibahas, Bapak akan semakin tersakiti. Pandanglah langit biru diatas sana, Pak, yang selalu tersenyum pada bumi. Bahkan sekeliling kita, dijalan halaman rumahnya Rindu, kita melihat banyaknya senyum-senyum yang dulunya mungkin mereka pernah tersakiti. Apakah tentang cinta atau urusan yang lain."


"Bukan hanya dunia yang luas, aku tidak akan berputus asa lagi hanya karena tak dianggap, disakiti hari ini olehmu adalah keberkahan rasa yang tak bisa aku abaikan. Aku akan mengingat, setidaknya aku pernah mengenal wanita yang bernama Rindu." Imbuhnya tanpa membalas setiap motivasi yang keluar dari gondrong.


Tanpa berlama-lama, Eden menghidupkan mobilnya, dia hanya turun sebentar dari mobilnya dengan meninggalkan sebuah tulisan yang mengungkapkan kesalahan maupun perkataan maaf kepada Rindu termasuk pesan bahwa hari ini, ia akan pulang Kampung. Kertas itu lalu disimpannya dibawah pagar pintu rumahnya Rindu.


"Ayo gondrong, kita kerumahmu sebelum aku kembali ke rumahku untuk menyiapkan barang bawaan ku. Aku ingin pulang kekampung hari ini, biarlah aku membawa setiap luka dan kenangan ini ke kampung ku."_


"Di kampung, aku ingin fokus menata kehidupan baru. Tak mau lagi terbebani dengan kehidupan kota apalagi urusan cinta. Aku paham, dengan hidup kita, tipe dan rasa cinta setiap wanita disini pada pemuda desa ternyata tak bertahan lama."


"Betul itu Pak !" Seharusnya, Bapak berpikir demikian sejak masalah ini terjadi. Mencoba memandang dunia dengan begitu luas dan mencoba berdiri diantara puing-puing motivasi hidup. Tak semua wanita sama, setiap diri pasti mempunyai karakter yang berbeda-beda. Jadi, gimana Pak ? Apakah Bapak akan mengantarku pulang dulu atau Bapak akan langsung kerumah ?."


"Aku harus mengantarmu dulu pulang sebelum aku kembali."


"Kalau misal Istri dan anakku mengizinkanku, aku juga akan ikut bersama Bapak ke kampungnya Bapak. Mikir-mikir, daripada disini tak ada kerjaan tetap mendingan aku ikut Bapak."

__ADS_1


"Jika gondrong memang mau ikut, berarti kita harus kerumahku dulu. Aku ingin memberikan bekal pada keluargamu sebelum kita pergi kekampungku. Supaya keluargamu tak kesulitan memikirkan lagi kondisi kebutuhan ekonominya setiap hari."_


"Selama dikampung nanti, mungkin agak lama. Disana, kamu bisa beradaptasi dengan masyarakat juga keluargaku dan mungkin juga kamu bisa mengumpulkan ikan kering untuk nanti kamu bawa pulang ke Makassar."


"Bapak uda memikirkan semuanya sebelum kita berada dikampungnya, Bapak. Nantilah dilihat jika aku sudah disana."


Pagi yang cerah ini begitu berkesan. Eden dan gondrong sangat menikmati kondisi pagi ini walau hatinya masih tersisa bekas luka yang diakibatkan oleh kecerobohannya sendiri.


"Oh iya, aku hampir lupa. Sebelumnya, aku telah berjanji pada Anggun dan Resky."


"Janji apa, Pak ?."


"Aku pernah mengatakan pada mereka bahwa jika benar-benar mereka mencintaiku, aku ingin agar mereka ikut kekampung ku, menemui keluargaku untuk mengungkapkan perasaan cinta mereka dihadapan keluargaku. Tapi, waktu itu, ungkapan kehendak itu, Rindu juga tau dan dia juga mau ikut bersamaku."


"Nah...! Itu yang sebenarnya bagus, Pak. Bapak tidak harus memusingkan Rindu. Anggun dan Resky itu, siapanya Bapak ?. Aku baru dengar nama mereka di pagi ini, Pak."


"Mereka, sebenarnya adalah wanita yang pernah aku kenal. Aku hampir bertunangan dengan Anggun namun gagal. Di hari, saat kami sedang melangsungkan acara pertunangan. Rindu, Resky, datang sebagai tamu, aku yang mengundang mereka berdua. Aku berpikir dengan mengundang mereka, tidak akan ada masalah. Nyatanya, aku salah ! Mereka justru mengungkapkan hal tak terduga padaku sampai kemudian keluarganya Anggun mendengar percakapan kami, aku dibuat pusing untuk memilih siapa yang harus aku pilih diantara mereka bertiga waktu itu."


"Ringkasnya, setelah batal, aku kembali memperbaiki hubunganku dengan Rindu dan meninggalkan Anggun maupun Resky. Aku tak pernah lagi tau gimana kabar mereka, hubungan komunikasi juga putus."_


"Sulit aku percaya. Padahal Bapak sudah pernah mau bertunangan tapi batal karena persoalan cinta di masa lalu belum kelar. Berarti Rindu, sebelumnya juga pernah meninggalkan Bapak atau Bapak sendiri yang meninggalkannya ?."


"Gondrong, jangan panggil Bapak lagi ya. Kan, kamu lebih tua dariku. Sebenarnya, waktu itu, Rindu yang meninggalkanku. Dia terjebak pada pengakuan seorang wanita yang mengatakan didepan ku langsung bahwa aku, katanya pernah menodainya. Padahal itu hanyalah sebuah pengakuan yang tak berdasar. Wanita itu hanya membuat opini sendiri, entah apa maksudnya, aku bahkan tak tahu."


"Oh iya, Pak. Eh, Eden. Tapi lebih nyambung kalau aku panggilnya Bapak. Kalau urusan itu, Pak, sebenarnya tergantung Bapak saja. Aku hanya bisa mengatakan, alangkah lebih baik jika Bapak mengabarkan pada mereka bahwa Bapak akan pulang kampung. Itu hanya saranku saja, Pak. Bukan apanya sih tapi, untuk menepati janji yang pernah Bapak katakan pada mereka."_


"Stop, stop Pak !."


Eden langsung menekan pedal rem mobilnya "Ada Apa ?." Sahutnya pada gondrong dengan wajah yang agak serius.


"Kita sudah sampai di depan rumahnya, Bapak. Kok Bapak bisa lupa begitu."


"Aku kira, kita hampir lagi menabrak orang. Itu tadi, aku kepikiran, perasaan aku pernah melewati jalan ini tapi dimana ?. Hmm..., ini gara-gara Rindu yang selalu menghantui pikiranku."

__ADS_1


"Bapak sih, terlalu banyak mikir soal Rindu, itu sebabnya biar alamat rumah sendiri, Bapak lupa !."


"Iya nih, tahu ini pikiranku !."


Merekapun turun dari dalam mobil. Sementara mobilnya di parkir diluar halaman rumahnya samping jalan.


Cinta, mampu membuat Eden hilang kesadaran. Alamat rumahnya saja, ia tak mengingatnya dengan baik. Seberkas kisah yang lumayan banyak menumpuk di bahunya. Eden harus rela memukulnya walau terasa berat.


Bagaimana pun ia berusaha untuk tidak merasa sakit atau sekedar bahagia mengingat kenangannya bersama Rindu. Ia harus menangis dalam kesendiriannya, dalam dadanya terpatri sosok wanita idaman yang pernah berjanji untuk hidup bersama, melewati segala rintangan yang akan menyerang hubungan mereka.


Tapi apa, janji itu hanyalah tinggal nama. Nama yang tak bisa ia tuliskan ulang di lembaran perjalanan hidupnya.


Ibarat balon, terbang terbawa angin. Rindu, dalam hidupnya Eden seperti itu sekarang.


Ketika mereka sudah berada di dalam rumah. Eden meminta tolong kepada gondrong agar sebelum pergi berlayar menuju kampungnya, ia ingin agar dicarikan perempuan yang bisa menjaga rumahnya, menggantikan Ayu.


"Gondrong, bisakan bantu aku carikan penggantinya Ayu. Urusan gaji, nanti kamu yang atur. Sekalian, aku akan menambah gajimu."


"Bisa sekali Pak ! Kebetulan ada keponakanku yang seumuran Ayu yang belum kerja. Siapa tahu, dia bisa kerja disini !."


"Kamu beritahu dia sebentar ya atau hubungi saja dia sekarang. Suruh dia, kesini sekarang !."


"Siap Pak !."


Seberapa besar Eden berusaha untuk melupakan Rindu maka semakin besar pula luka yang akan dia dapatkan. Cinta itu, jika sudah mengakar maka tumbang pun sekalian, cinta itu tetap meninggalkan akar yang sulit untuk dicabut.


Sampai disini dulu ya...!


Tunggu selanjutnya...


Ayo dukung Penulisnya dengan cara


#Vote, Like, Komen, dan beri Hadiah

__ADS_1


agar penulisnya semangat up terus.


Matur Nuwun🙏


__ADS_2