
...Hikayat, Duka Sebelum Menikah...
...****************...
Ada-ada saja !. Setelah kejutan lumba-lumba yang menjadi tontonan kemarin, kali ini, aku bersama Rindu menghadiri acara pernikahan salah satu kerabat di kampung sebelah.
Sebuah pulau agak besar dari pulauku. Sekitar satu jam perjalanan laut menuju pulau itu. Kami berangkat sore, sekitar jam 04:09 menuju pulau itu. Karena disana dilangsungkan pesta pernikahan sesuai undangan yang kami terima.
Ada banyak masyarakat yang ikut. Mereka ingin merasakan bagaimana enaknya menaiki kapal Phinisi milik Rindu. Aku sudah melarang begitupun Rindu agar tidak terlalu banyak orang yang ikut menumpang di kapal Phinisi miliknya.
Alhamdulillah, diperjalanan sama sekali kami tidak mendapatkan hambatan. Kapal Phinisi sampai juga dan berlabuh dengan aman dipelabuhan Kalaotoa Garaupa.
Penduduk Garaupa berhamburan dipinggir pantai melihat kapal Phinisi berlabuh pas didepan kampung. Setelah kami naik, orang-orang yang mengenalku datang menjemput dipinggir pantai. Mereka bertanya, "kapal Phinisi turis darimana itu ?."
Aku tertawa mendengarnya, dengan santai aku menjawab, "itu Phinisi, pemiliknya adalah seorang wanita, turis dari Makassar. Itu orangnya yang memakai jilbab panjang warna hitam."
"Turisnya kok kaya orang Indonesia ?" Kata Abidin.
Kegelian pertanyaannya membuatku semakin ingin tertawa, "Ia, karena dia orang Indonesia asli, asalnya dari keturunan Bugis Makassar."
"Cantik !."
Mendengar pujian kata cantik yang disematkan pada Rindu, aku merasa bangga karena telah bisa menjadikannya wanita paling berharga dalam hidupku.
Semua penumpang telah turun dari atas kapal. Percakapan sederhana sebentar kami akhiri. Kami pun menuju rumah tuan pesta. Sambil bercerita, memandang pemandangan-pemandangan nan eskotik dibalik tingginya gunung yang menjulang. Gunung seribu kelabang terlihat jelas di perapihan rimbunnya pepohonan hijau.
__ADS_1
"Rindu, pernah dengar tidak sebuah cerita rakyat yang berasal dari kalaotoa tentang gunung seribu kelabang ?."
"Eden, selama ini, sejak aku kecil sampai sekarang aku sudah menginjakkan kakiku di pulau ini, sama sekali aku belum pernah mendengar mengenai gunung seribu kelabang itu. Kalau cerita yang menyangkut soal Phinisi-phinisi yang datang ke Indonesia, mungkin aku tahu. Adakah yang istimewa tentang pulau itu ?."
"Bukan hanya istimewa. Di balik kisahnya, banyak tersimpan peristiwa-peristiwa unik yang bila di ceritakan membangkitkan semangat supranatural dalam diri, mistik, gaib sepertinya akan datang menjemput kita. Apalagi kita ini tiba sudah mau magrib."
Bukan kaleng-kaleng, Abidin tidak mau kalah. Dia mendekati kami berdua yang dalam keadaan asyik membicarakan gunung seribu kelabang itu.
Abidin mencari-cari kesempatan, dia mendekati Rindu. Sialnya, aku tersisihkan olehnya. Sampai dia memberikan penjelasan bahwa apa yang aku ceritakan pada Rindu tidak sepenuhnya benar.
"Wah ! parah ini orang. Ngakunya kerabat, eh tahunya ingin menikung dari depanku" kataku dalam hatiku, sambil melihatnya begitu bersemangat mendekati Rindu.
Ya, kalian asyik, ngapain aku harus sakit. Aku berlalu, pergi meninggalkan mereka. Ya, kalau ingin cepat maka cepatan gombal dia. Kalau kamu berhasil, aku mencukupkan cinta dan isi hatiku untuk kamu ambil, menggantikan posisiku di dalam hatinya Rindu.
"Kamu, kenapa ninggalin aku sama laki-laki tadi. Dia bukan bicara mengenai gunung seribu kelabang. Dia malah menggodaku dengan kata-kata manis yang telingaku sudah penuh dengan kata seperti itu."
"Tadi, aku bukan mau meninggalkanmu. Aku panggil-panggil tapi kamu nya saja yang tidak mendengar karena keasyikan cerita sama laki-laki tadi. Daripada aku dicuekin mendingan aku jalan duluan, eh kamu nya malah datang ingin marah-marah sesampai mu disini. Ada apa emang ?" tanyaku pada Rindu.
"Sudahlah ! tidak penting untuk dibahas lagi. Gara-gara kamu yang sebut gunung seribu kelabang. Tahunya, bukan itu yang di bahas. Malas ladenin orang kaya tadi. Di Makassar, model laki-laki seperti itu, banyak. Berhamburan di pinggir-pinggir jalan, yang susah carinya itu, model tipe cowok kaya kamu."
"Cie, cie..., pintar juga meluluhkan hati yang lagi bimbang."
"Cuma aku penasaran dengan gunung seribu kelabang itu. Laki-laki tadi bukan menceritakan itu. Dia malah menanyakan banyak hal yang tidak masuk akal padaku."
"Mitos gunung itu memang ada. Dahulu, setiap malam Kamis dan Jum'at, sebuah api unggun selalu muncul diatas gunung. Cahaya dari api itu berbentuk kelabang seribu. Sudah beberapa tahun terakhir ini, warga disini sudah tidak pernah lagi melihatnya."
__ADS_1
"Pengaruh nya karena apa hingga tidak bisa lagi dilihat ?."
"Entahlah !. Sebaliknya, sebentar baru kita lanjutkan lagi Rindu. Kita harus membawa dulu bantuan untuk tuan pesta. Setelah itu, baru kita pulang."
Mungkin kehadiran kami yang saat ini lagi duduk dikursi bawah tenda depan rumah pengantin sudah diketahui oleh keluarga mempelai perempuan. Instingku tidak salah, seorang wanita dari arah depan memanggil kami, ketika kami lihat, dia sedang melambai tangannya.
Karena tamu yang hadir lumayan banyak. Aku dan Rindu tidak memperhatikan dengan baik apakah yang dipanggil itu adalah kami berdua atau bukan. Diacuhkan begitu saja, wanita itu datang menghampiri kami yang lagi asyik merasai suasana pesta malam ini. Didekat kami berdua, dia langsung mengutarakan maksud lambaiannya tadi, "Pak, Bu, kalian ditunggu didalam rumah oleh tuan pesta. Silahkan ikuti aku untuk menemui tuan pesta di dalam" perintahnya dengan mantap pada kami berdua !.
Langkah kaki kami bergantian mengikuti irama musik Islami yang di bunyikan diatas panggung pengantin. Baru saja kami ingin naik kedalam rumah menemui keluarga bahagia, musibah pun menimpa. Calon laki-laki dari perempuan yang ingin menikah malam ini dikabarkan mengalami gangguan jantung.
Kebahagiaan, tamu, dan hidangan-hidangan yang telah jadi terpaksa dinikmati begitu saja, pernikahan pun dibatalkan. Sulitnya, karena rumah sakit berada dipusat kabupaten kota yang jaraknya lumayan jauh dari pulau menjadi kendala penolong pertama pada kecelakaan.
Alternatif satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa mempelai laki-laki adalah dengan dibawa kerumah sakit menggunakan kapal.
Aku dan Rindu mulai bimbang. Bukan karena tidak ingin Phinisi miliknya yang membawa mempelai laki-laki ke pusat kota tapi karena pertimbangan jangan sampai di perjalanan nanti tiba-tiba penyakit nya menjadi penyebab dari ajalnya maka Rindu yang pasti akan disalahkan.
Namun harus bagaimana lagi. Selain kapalnya yang paling laju diantara kapal milik warga setempat. Namun, sebagai manusia yang punya hati, dia malah memilih untuk mengabaikan kebimbangan yang ada dalam dirinya.
Mempelai perempuan kini berlari diantara banyaknya tamu yang hadir, Rindu yang hampir meneteskan air matanya. Dia merasa tersentuh dengan keadaan yang mestinya menjadi malam kebahagiaan nya justru harus menyaksikan calonnya di angkat oleh banyak orang di bawa ke kapal.
Biarkan kapalku yang akan membawanya. Perjalanan Phinisi milikku ke kabupaten kota bisa dijangkau dengan hitungan sembilan jam. Sesegera mungkin, aku bersama Rindu turun ke kapalnya, kami akan langsung berlayar menuju kota tanpa kembali lagi ke kampung.
Nasib selalu berbicara lain. Baru saja mesin ingin dibunyikan, tangis dari dalam kapal menembus dinding-dinding kapal naik sampai ke dek atas. Hanya tinggal kenangan, dia telah pergi sebelum menunaikan akad yang mereka tunggu.
Tenang ! tiada lagi kegelisahan, dia selamanya telah menuju Illahi Rabbi.
__ADS_1