
...Berangkatnya Kapal Pajero...
...****************...
Dia berbohong padaku, dia memang bermain kata untuk sebuah keyakinan yang aku percayakan padanya. Hatiku telah berkaram lautan, lama menunggu untuk sebuah impian yang tidak dia tepati. Studinya diabaikan, apa-apaan dia harus membohongi hati yang baik, jujur padanya, setia menantinya ternyata hanyalah siulan burung malam yang tidak terlihat.
Rindu, jangan kamu sakiti ku dengan menantimu disini. Aku juga manusia sepertimu, sakit ini adalah tanda cintaku mengenal dirimu. Haruskah seperti ini, haruskah kamu bersembunyi dibalik harapanku atau kamu memang ingin aku menunggumu untuk selamanya, menua tanpa pendamping hidup karena janji kita belum terpenuhi.
Rindu, ada kapal yang dalam waktu dekat ini akan berlayar menuju Makassar. Aku akan ikut, menaiki kapal itu, seperti katamu padaku untuk menyusul mu di Makassar bila kamu tidak kembali.
Kapal Pajero semisal Phinisi yang laju dan besar, berlayar bahkan bermesin. Bedanya, Pajero adalah sebutan untuk kapal yang datang dari arah laut yang tidak aku tahu, apakah milik orang Bugis atau bukan. Kapal ini, pemiliknya juga adalah wanita yang kecantikannya tidak beda jauh denganmu. Dia datang kekampung dengan tujuan menjual barang-barang yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat dikampung.
Apakah kamu tidak merasakan kehadiranku, Rindu. Aku ingin secepatnya pergi menemuimu. Andai pemilik Pajero ini menyatakan dia mencintaiku, apakah kamu tidak keberatan karena telah melupakanku disini, Rindu.
Kamu pasti akan keberatan dan mungkin akan marah jika kamu tahu. Tapi bagaimana denganku yang kau tinggalkan ?. Bahkan kemarahan mupun tidak akan mampu menjelaskan sakit dan kerinduan yang aku pendam.
...****************...
Aku mulai bertanya-tanya pada pemilik kapal Pajero. Bertanya tentang Makassar, tentang Bugis yang banyak Phinisinya, tentangmu yang dulu pernah kesini. Dia sama sekali tidak mengenalmu, dia hanya mengatakan padaku bahwa Makassar itu besar dan luas. Sebuah Kota yang dengan berbagai pembangunan luar biasa, sebuah Kota dengan berbagai manusia.
Tadinya, aku ingin berkata jujur padanya bahwa aku ingin menumpang dikapal nya. Cuma karena banyak orang yang lagi sementara memilih-milih pakaian, baju dan yang lain. Akhirnya aku menundanya tapi yang jelas, aku akan mengatakan nya bahwa aku ingin menumpang.
Dalam kesempatan itu, aku menunggunya. Menunggu sampai benar-benar sudah tidak ada lagi orang yang memilih-milih barangnya. Saat barangnya mulai dikemas, sekedar membantunya, aku memberanikan diri untuk mengutarakan niatku padanya.
"Nona, apakah boleh jika aku ikut bersamamu menumpang dikapal yang kamu bawa ke Makassar ?."
Mungkin karena dia heran padaku yang mengajukan permohonanku. Dia malah tersenyum lalu berkata, "kamu asli mana ? dan mengapa mau ke Makassar ?."
Tidak mungkin aku mengatakan maksud yang sebenarnya, mengapa aku harus ke Makassar. Jika dia tahu, mungkin dia tidak akan memanggilku untuk ikut bersama mereka.
"Aku asli sini. Hanya sekedar jalan-jalan saja di Kota Makassar. Seperti katamu, Makassar itu adalah Kota besar dengan berbagai eksotisnya, aku ingin melihat dan mengadu nasib disana. Jika Nona mengizinkanku, aku berutang budi padamu, Nona."
"Gini saja, kamu bantu dulu aku membereskan semua barang-barangku. Baru setelah ini, kita bicarakan lagi. Aku hanya heran saja, kok kamu mau ke Makassar padahal disana kehidupan lebih susah dan berbahaya."
"Maksudnya, gimana itu ?."
"Iya, selain banyak pembangunannya, kita banyak menemukan anak-anak muda yang terkadang dengan tega menyakiti hati pasangannya. Merampas kesuciannya lalu pergi entah kemana ?. Selain luka yang ditinggalkan juga bencana bagi keluarga. Kamu malah mau pergi kesana, aku saja yang dari sana, kubuang diriku ke daerah-daerah terpencil seperti ini untuk mencari uang."
Wah, ini perempuan malah mematahkan semangatku. Dia seperti tahu maksudku bahwa aku akan menemui seorang wanita, cintaku, dan hidupku yang berada di Makassar.
"Siapa namamu ?." Nona itu menanyai namaku.
"Aku !."
"Iya, kamu !."
"Aku, Eden. Aku lahir disini dan besar disini."
"Jangan panggil aku dengan sebutan Nona ya. Namaku Ratu Resky Amalia !."
"Nama itu atau apa ?" sambil tersenyum, aku menundukan wajahku.
"Kamu lihat kan kapal yang aku bawa bersama beberapa temanku ?."
"Iya, aku lihat ! memangnya kenapa ?."
"Kapal itu, kenapa kuberi nama Pajero. Sebab dulu, aku pernah punya kekasih namanya Pajero. Seorang laki-laki yang berasal dari keluarga yang kaya, dipandang, memiliki banyak tanah, orang-orang melihatnya seakan melihat Uang. Dia orangnya begitu baik, ramah pada sesama, dia begitu menyayangiku. Karena kami berbeda status ekonomi, berbeda kelas sosial, berbeda kehidupan, akhirnya cinta kami kandas. Dia menikah bukan denganku melainkan dengan wanita yang setara, seimbang dengannya, yang pantas dilihat oleh keluarganya. Aku, aku dibuang seperti sampah, walau aku mengemis, aku tidak mendapatkan uluran tangan dari keluarganya. Karena cintaku yang besar, yang terlanjur menyayangi nya sampai aku memutuskan merubah diriku menjadi pedagang keliling dengan melewati lautan-lautan lepas seperti ini. Aku mengabadikan namanya menjadi nama kapal yang sekarang aku bawa"
__ADS_1
"Kamu bahkan tidak tahu kenapa aku cerita seperti ini padamu."
"Tidak !."
"Dimatamu, aku melihat bayangan seorang perempuan yang berdiri memegang bunga. Dipikiran mu, aku melihat ada secercah harapan yang ingin kamu temui di Makassar, disetiap pertanyaanmu yang baru saja kamu tanyakan padaku, aku mendapatkan pengetahuan bahwa kamu ingin berjumpa dengan seseorang disana."
Aku bingung sendiri. Heran, kok dia tahu semua yang ada dalam diriku berkaitan dengan Rindu. Aku semakin penasaran padanya, sampai aku memanggilnya kerumah.
"Resky, bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan. Apa boleh kalau aku mengajakmu ke rumah ku agar kamu bisa menceritakan alasan mengapa kamu mengetahui apa yang aku pikirkan."
"Oh ! tadi hanya sekedar menebak. Seperti kapal ku yang sebentar lagi akan berlayar menembus ombak-ombak besar, seperti aku yang akan meninggalkan kampung ini, seperti itulah aku melihat harapan dalam dirimu"
"Tidak usah kerumahmu, cukup ikuti aku kekapal agar aku memberitahumu darimana aku bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiranmu."
Aku semakin semangat. Untuk sesaat, tentang Rindu adalah motivasi yang paling besar dalam diriku. Barang-barang miliknya telah selesai kumasukkan dalam karung, gerobak telah menunggu untuk memuat semua barang milik Resky. Orang-orang disitu melihatku bahkan ada yang tidak percaya padaku yang secepat ini akrab dengan wanita kaya ini.
Kudorong gerobak yang penuh dengan barangnya menuju dermaga. Disana Pajero miliknya berlabuh, ditempat itulah Phinisi milik Rindu juga berlabuh selama dia disini.
Melihatku, Ibuku memanggilku. Ibuku mencari ku dari tadi.
"Eden, kamu mau kemana ?."
Karena agak jauh, aku menunggunya sebentar. Resky juga berhenti untuk menunggu Ibuku.
"Dia siapa ?" kata Resky padaku.
"Dia Ibuku !."
"Oh ! panggil dia, biar sama-sama turun ke Pajero ku."
Sesampai disitu, Ibuku menyuruhku untuk pulang.
"Bu, sebentr saja !. Eden, cuma mau bantu bawa barangnya, Bu. Ibu lihatkan ?! barangnya banyak, berat lagi. Masa Ibu tega melihatnya mendorong barangnya sendirian."
"Kamu yang tidak lihat, Eden. Dia bersama temannya, masa kamu yang setengah mati membantu nya."
Dalam perdebatan kecil kami, persepsi sederhana kami. Resky menyampaikan kata terimakasih nya padaku Ibuku.
"Bu, Anak Ibu baik ! dia mudah menolong orang. Kalau Ibu tidak keberatan, aku akan memanggilnya ke Makassar. Anak Ibu, akan menjadi bagian dari ABK kapal Pajero milikku."
"Bagaimana ya ?. Eden, selama ini belum pernah jauh dariku. Apa bisa ya ? dia ikut dikapal mu ?."
"Sebaiknya, kita bicara di kapal saja. Nanti disana baru kita putuskan. Apakah Eden bisa atau tidak, ikut bersamaku."
...****************...
Harapan telah di ujung jalan. Setelah sengit meminta pertimbangan Ibuku, akhirnya aku diizinkan juga untuk ikut bersama Resky menuju Makassar. Sekarang, aku tengah berada di lautan, mulai membelakangi pulauku, mulai menggali impian-impian yang dibawa oleh Rindu.
Rasa penasaranku pada Resky yang waktu itu sempat mengatakan bahwa ia melihat bayangan wanita dalam mataku, kini aku tanyakan padanya.
Dia masih terlihat sibuk. Sama seperti Rindu, pintar memegang dan mengendalikan setir kapalnya. Saat semua ABK kapal telah tertidur, aku mendatanginya hanya untuk menanyakan bagaimana dia bisa mengetahui bahwa aku ingin menemui wanita yang begitu aku cintai.
Dalam ributnya mesin, dia menyapaku dengan agak keras. Memanggilku lebih dekat, dia paham bahwa aku masih penasaran.
"Tanyakanlah rasa penasaran mu sekarang padaku ?"
Aku mencoba memancing nya keatas kapal yang tidak terlalu berisik dengan suara mesin.
__ADS_1
"Resky, bagaimana kalau kita keatas kapal ? disini, walau aku bertanya, mungkin kamu tidak akan terlalu mendengar nya, apa boleh ?."
"Boleh !. Tolong bangunkan satu orang agar mengontrol kemudi ini."
Aku mengikuti arahnya. Yang paling muda yang aku bangunkan untuk mengontrol kemudi kapal Pajero.
Kami naik ke atas kapal, angin malam mulai mendingin tubuhku, Resky kelihatan juga dingin. Aku mulai bertanya-tanya padanya. Hal yang paling awal aku tanyakan adalah seperti apa bayangan wanita yang dia lihat dalam mataku.
"Resky, ada banyak yang ingin aku tanyakan namun untuk menyimpulkannya, cukup beritahu aku, seperti apa bayangan wanita yang kamu lihat dalam mataku ?."
"Eden, bisakah kamu memberitahuku siapa nama wanita yang kamu cintai sebelum aku benar-benar menjawab pertanyaanmu ?."
"Waktu itu, dia memberiku namanya, ada dua, pertama Aliya dan yang kedua Rindu. Nama yang akrab yang sampai hari ini aku sematkan dalam hatiku adalah Rindu."
"Tahu tidak siapa wanita itu ?"
"Tidak !. Aku hanya tahu bahwa dia telah berjanji padaku untuk kembali menjemput ku disini. Dia bahkan telah lupa padaku setelah membawa semua harapan cintaku padanya. Bahkan janji itu telah dia ucapkan di depan Ibuku. Makanya ketika Ibuku melihatku mendorong gerobak barangmu, dia memanggilku untuk pulang. Kan, kamu sudah dengar sendiri apa yang Ibuku katakan padamu hari itu."
"Apakah kamu benar-benar ingin tahu siapa wanita yang kamu cintai, yang katanya juga mencintaimu. Apakah kamu yakin, dia mencintaimu, Eden ?."
Bahkan yang Resky katakan malah semakin membuat ku bingung. Aku jadi tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Memutar balikan bahasa sekaan aku adalah orang yang tidak paham, mana kapal Pajero miliknya oleng.
"Aduh ! jangan begitu, Resky" Ucapku sepoi-sepoi mengikuti angin dingin malam ini.
"Eden, ucapkanlah kata cintamu pada wanita yang benar-benar mencintaimu. Rindu, walau mungkin mencintaimu, dia tidak akan menjadi milikmu. Rindu, walau mungkin sudah berjanji padamu, dia tidak akan lagi bisa menemui mu, dia telah jauh. Seperti kamu yang telah jauh mengejar ilusi, seperti aku yang dulu dilepaskan begitu saja oleh kekasihku, seperti Pajero yang bermain dengan ombak-ombak dilautan lepas ini. Rindu, telah melupakanmu, dia mungkin saat ini sedang tersenyum atau tertawa, dia lupa ada laki-laki dari desa kecil yang sekarang ada diatas kapal ku ingin menemui nya di Makassar. Kamu tahu Eden, wanita yang kamu cintai adalah seorang anak dari pemilik pulau Sulawesi Selatan."
"Maksudnya ?."
"Dia adalah anak Gubernur Sulawesi Selatan yang menguasai wilayah-wilayah Sulawesi Selatan termasuk pulau kecilmu."
Mendengar itu, aku terdiam begitu dalam. Aku memikirkan nasib cintaku yang sudah terlanjur mencintainya. Pantasan saja, kemana-kemana, dia selalu dikawal oleh dua wanita dan Phinisinya dijaga oleh empat laki-laki. Ternyata dia, membohongi ku selama ini. Dia adalah anak orang nomor satu di Kota Makassar, dia adalah wanita yang paling dihargai di Kota Makassar.
Impianku hanya tinggal harapan kosong. Tidak mungkin aku bisa hidup berdampingan dengannya. Tidak mungkin aku bisa menemuinya di Makassar, tidak mungkin aku akan diterima oleh keluarganya. Ini yang mungkin membuat Rindu hingga tidak kembali lagi kekampung ku.
"Tapi, bagaimana kamu bisa tahu kalau dia adalah anak seorang Gubernur ?. Bukankah kamu tidak pernah melihatnya secara langsung ?."
"Ya, benar !. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Nama Aliya yang dia beritahu kan padamu adalah nama pendek Bapaknya. Itulah kenapa, dia mengatakan padamu untuk tidak memberitahukan namanya pada siapapun. Dan apakah dia selama dikampung mu, jika pergi, tidur, dan kemanapun ditemani oleh dua orang wanita ?, empat laki-laki yang menjaga kapalnya ?."
"Kamu tahu dari mana soal itu ?."
"Iya, aku tahu ! karena di Makassar, dia pergi selalu bersama enam orang itu. Dua wanita adalah polwan, empat laki-laki adalah polisi sebagai ajudan resminya."
Parah ini !. Aku baru menyadarinya malam ini. Untung saja niat buruk ku padanya waktu itu tidak jadi aku lakukan. Kalau tidak, aku bisa dipenjara.
Stres memikirkannya. Aku terseok-seok mendengarkan penjelasan Resky barusan. Rasa dingin di malam ini tidak lagi aku rasakan.
Dalam kemarau hati, aku sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bertemu dengannya. Kupandangi pulauku yang telah jauh, hanya cahaya sambaran lampu kecil berwarna merah dilangit-langit pulau, aku ingin balik kekampung ku, aku tidak ingin meneruskan perjalanan ini.
Namun, kapal Pajero milik Resky telah jauh membawaku menuju Makassar.
Aku pamit pada Resky untuk tidur, menenangkan pikiran, batin, dan raga, Rindu telah membohongi ku untuk suatu alasan yang mengiming-imingiku.
"Eden, jangan kecewa !. Malam masih panjang, siang masih akan kita lalui. Hidup ini jangan mengandalkan perasaan tapi lihatlah sebuah ketulusan yang dalam dari orang-orang yang kamu cintai. Coba pandangi wajahku, apakah kamu melihat kekecewaan diwajah ku atau kamu melihat bahwa aku sakit hati, yang akan kamu lihat, adalah kebangkitan menerobos waktu untuk mencari pasangan hidup yang lebih setia dan bertanggung jawab."
Dia menyuruh ku untuk memandangi wajahnya. Saat semua ABK Pajero telah lelap tertidur. Ku ikuti keinginan nya, yang benar saja, aku melihat wajah yang tidak kalah cantik nya dengan Rindu. Jangan sampai ini menjadi gangguan di malam ini, dingin ingin kehangatan, aku pamit pada Resky.
"Resky, aku pamit tidur ya. Jujur, aku melihat wajahmu dalam keadaan gelapan seperti ini, sungguh begitu cantik, kamu terlahir sebagai wanita yang tidak kekurangan apapun."
__ADS_1
Tak ada jawaban darinya. Dia hanya terlihat agak malu di depan ku. Aku berdiri dan masuk kedalam kapal Pajero miliknya. Meninggalkan nya di atas kapal dalam keadaan menahan dingin nya malam.
Rindu, bohongi lah aku. Aku tahu kamu menunggu ku bukan seperti yang Resky katakan barusan padaku sebab aku yakin, di Makassar, kamu menunggu ku. Jika nanti aku menemui mu di Makassar dan aku kecewa karena kamu tidak menerimaku, aku ikhlas menerima nya Rindu.