Perahu Apung

Perahu Apung
30


__ADS_3

...Three Women...


...************...


Semakin lama Eden tinggal di kota Makassar dia semakin paham keadaan hidup di kota Daeng ini. Hidup di rantau orang banyak memberinya arti kebebasan dan arti memaknai.


Namun, bayang-bayang Rindu yang selama ini belum bisa Eden lupakan. Terkadang dia harus melihat wanita lain, memilih untuk dijadikan pasangan hidup. Ketika dia hendak mencoba menunaikan keinginannya, kehadiran Rindu kerap datang tiba-tiba. Mengusik hatinya, menutup matanya, dan membelenggu jiwanya didalam ruang gelap yang tak bercahaya. Padahal perpisahannya dengan Rindu sudah lumayan memakan waktu panjang.


Cahaya hanya ada ketika kenangan senja sore di atas kapalnya, dia bersandar di dadanya. Terperangkap diantara waktu-waktu yang lalu hingga cinta yang dulu pernah pergi, hilang entah kemana, dia bahkan seperti merpati putih yang masih berada didalam sangkarnya. Membujuk waktu agar mengulang kembali kisah lama yang pernah kandas tepat di dermaga Bugis Makassar yang sampai saat ini menjadi salah satu orang yang dipandang.


Pesan Daeng Guru padanya jika Eden memakai namanya maka dia akan sukses alhasil terbukti. Entah seperti apa dirinya tanpanya, bahkan kapal-kapal yang dulu bukanlah miliknya sekarang sudah menjadi haknya, milik pribadiku.


Akibat perjodohan yang dipercayakan kepadanya dengan putri Daeng Guru membawanya pada puncak, dia mendaki dengan kedua kekuatan kaki hingga Anggun dijodohkan dengan Eden.


Di hari ketika undangan telah disebarkan untuk pertunangan kami, ada dua wanita yang datang memberi selamat namun mengguncang hidupnya hari itu.


Pertama adalah Rindu, kedua adalah Resky, mereka datang memberi selamat untuknya. Eden hampir lupa dengan wajah mereka saat itu tapi mereka menegurnya untuk mengembalikan masa yang telah pergi.


Di hari itu pula, Resky baru mengutarakan rasanya padanya yang ternyata selama ini dia menyimpan benih kepadanya. Sementara Rindu, sama sepertinya walau dia sudah dijodohkan dengan laki-laki lain tapi tetap masih terperangkap dalam bayangan masa lalu.


Tiga wanita bukan memperebutkan dirinya melainkan memaksanya untuk memilih siapa yang lebih pantas untuk dia jadikan pasangan hidupnya. Ini sulit, sulitnya karena ketiga wanita itu masing-masing memiliki wajah yang begitu cantik. Andainya mereka adalah kapal Phinisi maka kemungkinan Eden akan memilih semuanya. Sekarang ini, Eden telah menjadi seorang pemuda dengan banyak uang.


...****************...


"Eden, masih ingatkah kamu denganku ?." Resky yang cantik mendatanginya ketika dia bersama Anggun disebuah kursi sebelum acara tukar cincin dimulai. Ketika pantun-pantun sahaja hidup masa depan telah berdiskusi dengan keramaian yang mewarnai keceriaan hari yang hampir sore ini.


Eden terkejut mendengar sapaan halus dari telinga kanannya. Saat matanya mulai melihat kesamping nya, ia melihat wanita yang begitu cantik sedang duduk tidak jauh darinya.


Perbincangan hangat pun dimulai, mereka bertanya saling membagi kemana selama ini, mengapa baru bertemu setelah saat terakhir mereka bersama di acara perlombaan kapal Phinisi beberapa tahun yang lalu.


Anggun yang dikenal dengan gadis pendiam, tidak cerewet dan tidak cepat emosi itu hanya memanggil Resky agar gabung satu meja bersama mereka. Baiknya jika dapat calon Istri seperti itu, tidak mudah curiga justru selalu respek kepada setiap yang mengenal Eden calon suaminya itu.


"Eden, siapa dia ?." Tanya Anggun pada calon suaminya itu.

__ADS_1


"Dia Resky yang dulu pernah aku ceritakan. Dia yang membawaku kesini. Jika bukan dia, aku tidak akan bertemu denganmu."


"Kak Resky ya...?. Ayok duduk disini, Kak !. Biar agak santai bersama."


Anggun tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Belum lagi Rindu, jika Rindu datang pasti keadaan akan terlihat tegang.


Dikesempatan ketika Anggun pamit untuk mengambil sesuatu di dalam rumah. Saat itu pula pintu terbuka lebar dihadapan Resky.


"Eden, aku mau kedalam rumah dulu ya. Kamu temani dulu Resky disini. Acara pertunangan kita sebentar lagi akan dimulai, Eden. Cincin yang kemarin kita beli, aku lupa di dalam kamar. Tunggu disini ya !. Kak Resky, aku pamit sebentar, Kakak disini saja dulu bersama Eden."


Cakap-cakep serius dimulai. Memang, Resky terlihat berubah hari itu. Dia mulai menanyakan kemana selama ini Eden pergi.


"Bisakah aku bertanya sesuatu padamu, Eden ?."


"Bisa Ky !. Apa yang ingin kamu tanyakan padaku ? selama aku mampu menjawabnya, aku akan menjawabnya dengan benar."


"Dulu, ketika keluarganya Rindu membawamu, pernah kamu berpikir ingin melihatku lagi atau sekedar berjumpa denganku."


Pertanyaan itu karena dianggap biasa oleh Eden, dia hanya memberikan jawaban seadanya.


"Kamu mungkin tidak menyadarinya Eden. Ketika kamu dibawa, dirumah, aku baru merasa kehilangan dirimu. Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan mu. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku, seakan ada yang hilang dari tubuhku. Dan kukira, kamu sudah menikah dengan Rindu. Aku kaget ketika mendapatkan surat undangan pertunangan yang tertulis namamu diatasnya. Saat aku membuka dan membaca surat itu, aku melihat dengan jelas bahwa nama Eden yang ada didalam surat undangan itu adalah kamu, pemuda desa yang dulu datang bersamaku ke kota Makassar ini, aku jadi bersemangat untuk menemui mu disini"_


"Sebab masih ada hal yang ingin aku sampaikan padamu yang belum sempat aku katakan dan sudah pernah kamu katakan padaku sebelumnya."


"Resky, sepertinya yang ingin kamu katakan padaku adalah hal yang sungguh serius. Aku lupa apa yang pernah kukatakan padamu. Ingatkan aku jika itu adalah sesuatu yang begitu penting."


"Jawablah dengan jujur Eden. Apakah kamu mencintai calon istrimu sekarang ini ?. Dan apakah kamu sudah cukup lama mengenalnya ?. Bagaimana perasaanmu padanya, Eden ?."


Semua pertanyaan yang Resky ajukan padanya membuatnya semakin tidak habis mikir. Eden yang tadi terlihat santai menanggapi pertanyaan-pertanyaan Resky kini bertambah penasaran. Namun sebelum pertanyaan itu dijawab, Anggun telah kembali dengan membawa cincin yang dia ambil di kamarnya.


"Kalian terlihat serius ?." Calon istri yang tidak tahu menahu yang mereka bicarakan tetap santai. Bahkan Anggun memperlihatkan cincin yang akan dipakaikan di jarinya Eden, "kak Resky, gimana cincin ini, baguskan ?. Kak Resky tahu tidak, cincin ini sudah berapa orang yang coba memakainya, coba tes pakai di jari manisnya kakak, pasti pas itu. Eden memilih cincin yang agak longgar untukku."


Wanita polos seperti Anggun sama sekali tidak menaruh curiga pada Resky. Resky hanya mengatakan pada Anggun, "Terimakasih !."

__ADS_1


Diantara tanda tanya yang berlalu, diantara pantun-pantun yang masih elok didengar oleh telinga dan diantara keramaian yang ada. Resky pamit untuk kembali ketempat duduknya yang semula. Dia membisiki Eden setelah meminta izin kepada Anggun.


"Anggun, aku mau meminta izin padamu. Ada hal yang ingin aku sampaikan kepada calon suamimu tapi agak rahasia. Apa bisa aku membisikkannya ditelinganya ?."


"Bisa !. Terserah Eden saja, apakah dia mau atau tidak ?!."


Eden hanya menggeleng kepala saat mendengar Anggun merespon dengan sopan keinginannya Resky.


Diantara banyaknya orang yang melihat mereka, diantara kebahagiaan keluarganya Anggun, Resky mulai mendekati telinganya Eden. Dia berbicara pelan pada temannya yang pernah hilang itu hingga menusuk hatinya paling dalam.


"Aku ingin menikah denganmu, Eden. Hari itu hujan, kamu mengatakan padaku, jangan lupa sebentar malam kita akan menikah saat aku hendak masuk kedalam kamarku ucapan itu kamu lontarkan padaku. Seketika aku menolah kearaha mu dengan senyum yang kecil untukmu. Apakah kamu masih ingat, Eden ?."


Tatapannya terang memandangi Resky yang telah duduk tidak jauh darinya. Semestinya ucapan selamat bahagia yang dia dengarkan kini malah mengguncang bahtera impian yang sebentar lagi akan terlaksana.


Eden terlihat sudah tidak sebahagia tadi. Tatapan matanya kacau, sudah tidak terarah. Apa yang barusan Resky katakan padanya bukan hanya mengembalikan masa silamnya tapi menunjukkan dirinya bahwa dia memang pernah mengatakan hal itu pada Resky.


Sebentar lagi pertukaran cincin dimulai. Eden telah mengalami dua rasa yang berbeda. Dia mulai merasa asing sendiri untuk melanjutkan perjodohan ini atau tidak. Keadaan hatinya yang tidak tenang itu bertambah berderu sebab datangnya seorang wanita yang dulu paling istimewa dalam hidupnya.


Rindu. Rindu telah tiba dengan membawa sebuah kenangan yang waktu itu belum sempat Eden ambil dari dalam mobilnya. Kenangan yang sudah berapa tahun ini masih tetap Rindu simpan, kenangan yang Eden pikirkan mungkin sudah dibuang olehnya.


Sebelum Rindu duduk dikursi, pakaian yang dulu tertinggal, Rindu kembalikan pada orangnya.


"Ini pakaian yang dulu kamu tinggalkan didalam mobilku, aku kembalikan sekarang. Pakaian itu yang hanya aku lihat setiap aku merindukanmu."


Ketika Anggun mendengar bahasa merindukanmu, keadaan pesta dan sebentar lagi pertukaran cincin dimulai, ditunda untuk beberapa menit. Sepertinya Anggun ingin tahu siapa wanita yang berani berbicara kepada calon suaminya, didepannya dan di depan semua tamu yang hadir ini.


"Kamu siapa berani bicara seperti itu kepada Eden ?. Apakah kamu sengaja ingin membuat acara pertunangan ini batal ?."


"Jangan tanyakan ke aku, aku hanyalah tamu yang mendapatkan undangan darinya. Aku bukan siapa-siapa. Sesuatu yang mungkin telah lama menghilang bahkan walaupun mutiara, dia tidak berkilau lagi."


Pengakuan Rindu bukan hanya menggegerkan keadaan dipesta tapi juga menyita perhatian para tamu yang hadir. Eden berada dalam persepsi yang tidak bisa memutuskan siapa diantara ketiga wanita yang harus ia pilih. Padahal sebentar lagi proses pergantian cincin dari jari ke jari akan di mulai.


Anggun yang dikenal dengan tipe cewek pendiam kali ini nampak begitu emosi. Anggun hanya memperhatikan gerakan tubuh dan wajah calon tunangannya itu.

__ADS_1


Suara bisik-bisik mulai menyeruak pelan tapi memenuhi sudut-sudut ruangan rumahnya Anggun bahkan sampai kehalaman rumah.


Tak sedikit yang bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi_


__ADS_2