Perahu Apung

Perahu Apung
16


__ADS_3

...Pajero Ditengah Phinisi...


...****************...


Perjalanan jauh yang melelahkan. Bukan hanya aku yang bangun makan tidur selama ditengah laut. Resky dan anggota kapalnya juga sama denganku. Bedanya, aku tidak pernah memegang kemudi kapal.


Perbedaan yang lain dengan ABK kapal, aku semakin dekat dengan gadis cantik yang bernama Resky. Dia bukan hanya cantik tapi jago dalam mengendalikan kapal ditengah hantaman ombak yang menggulati kapal miliknya.


Alhamdulillah, akhirnya Pajero miliknya telah sampai disebuah pulau yang pelabuhannya dipenuhi oleh Phinisi-phinisi dengan berbagai model.


Memang, keunggulan kapal Phinisi dibandingkan dengan kapal yang lain terlihat jelas. Dari warna, model, layarnya bahkan kayunya. Melihat banyaknya kapal Phinisi yang berlabuh, aku bertanya pada Resky, "ini kampung apa ? pelabuhannya dipenuhi dengan kapal Phinisi ?."


"Kamu ini ada-ada saja, Eden. Di atas sana adalah kampung Bugis Makassar dan kita berada dipelabuhan nya. Kalau benar sewaktu Rindu kekampung mu dengan membawa kapal Phinisi maka kamu akan melihat kapalnya berlabuh diantara kapal-kapal itu. Coba perhatikan baik-baik, apakah salah satu dari kapal-kapal itu terlihat Phinisi milik Rindu."


Aku tidak percaya kalau aku sudah sampai di pelabuhan Bugis Makassar.


"Resky, apakah ini betul adalah pelabuhan Bugis Makassar ?. Berarti, kita sudah sampai di Makassar ?."


"Kita belum sampai di Makassar, Eden. Ini hanya nama pelabuhan. Namanya pelabuhan Bugis Makassar. Makassar masih jauh dari sini."


Sambil mendengarkan Resky menjelaskan pelabuhan ini, mataku menyelusuri setiap Phinisi yang berlabuh. Dari atas kapal Pajero, satu kapal yang agak jauh dari tempat kami berlabuh yang memiliki warna yang sama dengan Phinisi milik Rindu.


"Ah, masa itu ?. kataku dalam hati, tidak mungkin kalau Phinisi yang berlabuh disana adalah Phinisi nya Rindu."

__ADS_1


"Kamu lihat apa ? apa kamu sudah menemukan kapal Phinisi milik wanita yang telah membohongimu itu ?."


Perasaan ku seakan di tindas oleh wanita yang satu ini. Bahkan dari kemarin-kemarin, dia masih sering mengatakan hal itu padaku. Dia agak terlihat lebih tegas dari Rindu. Dia menyuruh ku untuk melihat semua deretan kapal Phinisi yang berlabuh baru kemudian menanyakan itu padaku. Bukankah ini termasuk kategori intimidasi perasaan.


Daripada harus mendengarkan ucapan-ucapan sakitnya, mendingan aku pergi kebelakang kapal Pajero nya bikin kopi. Aku berjalan kebelakang melalui atas, anak tangga yang ada dibelakang selamanya standby dibelakang kapal.


Apa yang kulihat, ternyata benar !. Aku langsung berteriak pada Resky, "Ki..., kamu benar ! kapal Phinisi yang berlabuh disana, ternyata milik Rindu. Aku tidak salah lihat Resky !."


"Yang mana ?."


"Yang disana ! mengapung bersama kapal yang lain. Warnanya mungkin agak berubah tapi bodi kapalnya mirip persis dengan kapal yang Rindu punya."


"Coba perhatikan baik-baik ! jika memang adalah kapalnya pasti kamu akan melihat orang disana. Setidaknya, dermaga yang kita tempati bersandar akan terlihat orang."


"Eden, lupakan Rindu walaupun kamu akan melihat nya yakin saja, kamu tidak akan berani untuk menemui nya. Dan kalau benar kapal yang ada disana adalah kapalnya, tunggu saja disini, tidak akan lama pasti kamu akan melihat mobil yang akan datang melewati dermaga ini. Orang-orang yang memiliki kapal Phinisi yang berlabuh disini, mereka akan selalu datang untuk melihat kapalnya. Yang paling penting saat ini, kamu sudah tahu bagaimana seorang wanita bisa berbohong kepadamu, kepada cinta yang kamu anggap akan menemui mu. Dia sejak berada di Makassar maka kamu menemui seorang anak Gubernur yang banyak dijaga oleh orang-orang besar. Tidak perduli seberapa besarnya cintamu ketika kamu datang menemui nya maka kamu akan berhadapan dulu dengan para ajudan yang mengikuti nya. Ingatlah kata-kataku ini, kalau pun tidak terbukti anggaplah aku yang berbohong padamu. Tapi, di sini, bukanlah seperti kehidupan yang kamu lihat, yang kamu rasakan sama dengan yang dikampung mu. Ini sebuah tempat dimana kamu diperlihatkan dengan kehidupan yang sesungguhnya jauh dari sebelumnya, sebuah tempat dengan berbagai perubahan dan sebuah kehidupan yang menyerupai kisah-kisah manipulasi."


Apapun yang Resky katakan padaku pada kenyataannya aku telah berada di muka kampung Bugis. Tidak perduli yang dia katakan benar atau salah ! aku hanya fokus pada tujuanku yaitu menemui Rindu. Dia menerima ku atau pun tidak, bagiku tidak jadi masalah. Yang paling penting, aku sudah bisa melihat nya. Agar aku pulang, aku bisa membawa pesan kepada orang tuaku bahwasanya wanita yang dulu pernah berjanji pada mereka adalah wanita yang telah melupakan kekuatan janji pengakuan nya baik dihadapan mereka maupun dihadapan TuhanNya sendiri. Bukankah, setiap manusia pasti akan berbuat salah ! Rindu, jika kamu seperti itu, seperti yang dikatakan oleh Resky maka mustahil, di dadaku masih bertengger namamu, sedikitpun belum ada yang berubah. Bukankah cinta itu dikuatkan oleh perasaan, Rindu. Aku telah melawan ombak-ombak besar datang kesini, aku percaya padamu Rindu. Kamu, tidak akan mungkin memperlakukan ku seperti yang dikatakan Resky.


Jangan pernah lupakan aku. Jika kamu melupakan ku, itu berarti kamu telah melupakan dirimu sendiri. Kamu telah lupa dengan Phinisi yang membawamu kekampung ku, kamu telah lupa dengan kisah awal di malam senin, kamu telah lupa bagaimana aku hampir bertengkar dengan guru laki-laki waktu itu. Bahkan kamu telah melupakan anak-anak murid mu yang pernah ikut mengantarkan mu waktu itu.


Apapun itu, aku tidak percaya dengan yang dikatakan Resky padaku. Disini, aku datang ! disini, aku menyaksikan ada banyak Phinisi seperti kapal mu, disini aku melihat sebuah kapal Phinisi yang mirip dengan kapal mu, apakah kamu juga berada disini, Rindu.


"Eden, jangan melamun !. Karena kita sudah sampai di pelabuhan Bugis Makassar. Kita akan naik ke darat, rumahku ada disini. Dan jika kamu tidak melihat Rindu disini, aku bisa membawamu ke Makassar besok. Agar kamu melihat dengan mata kepala mu sendiri apakah perkataan ku benar atau tidak."

__ADS_1


Resky masih saja berkata seperti itu padaku. Sebenarnya dia baik cuma agak tegas.


"Iya. Aku akan ikut bersamamu tapi bisa tidak tunggu sebentar, aku mau bikin kopi dulu."


Baru saja aku masuk kedalam ruangan belakang kapal (dapur), Resky kembali memanggilku, "Eden, coba kesini cepat !."


Aku menyimpan kembali gelas yang sudah berisi gula dan kopi. Aku sudah berada di atas kapal, disitu Resky menunjuk sebuah mobil yang tidak aku tahu apa mereknya, datang dari ujung dermaga dan masuk ketengah dermaga.


"Resky, itu mobil siapa ?" tanyaku padanya.


"Aku juga belum tahu, itu mobil siapa ? perhatikan saja. Jika mobil itu berhenti pas sejajar dengan kapal Phinisi yang kamu lihat yang ada di sebelah sana, itu berarti mobilnya wanita yang kamu ingin temui itu. Perhatikan saja mobil itu dimana akan berhenti."


Dari sejak mobil itu masuk ke dermaga sampai berhenti, aku begitu memperhatikan nya. Mobil itu memang sesuai yang dikatakan oleh Resky, pas berhenti hampir sejajar dengan kapal yang aku lihat.


Masih biasa saja. Namun ini yang membuatku ingin berteriak memanggil namanya. Yang keluar dari dalam mobil itu adalah dia yang ingin aku temui.


Walau dari jauh, aku melihat nya begitu cantik, dia keluar dari dalam mobil dipayungi sambil melihat-lihat keadaan kapal-kapal yang berlabuh. Aku masih mengenali nya, aku masih ingat bahwa itu adalah Rindu. Hanya penampilan yang agak berubah, kulitnya bertambah putih.


Aku berlari menuju depan kapal Pajero untuk turun kedermega menemuinya disana.


Sakitku ! seorang laki-laki juga keluar dari dalam mobil dan berdiri disamping Rindu, mereka berpegang tangan dengan mesranya.


Apalah artinya harapanku...

__ADS_1


__ADS_2