
...Berjuang Dulu...
...*************...
"Terlalu...!." Itulah kata-kata kolot yang ada dalam diriku yang kutujukan untuk Ayahnya Rindu. Luka di telingaku belum sembuh, eh ! malah tantangan lain yang diberikan padaku.
Andainya bukan karena Rindu, sejak awal aku duduk di dalam mobil ini, aku akan lompat keluar. Masa, aku yang disuruh bawa mobil. Pegang saja kemudi kapal Phinisi, aku harus pelan-pelan. Ini malah aku yang disuruh pegang kemudi. Memangnya aku ini bisa bawa mobil. Boleh saja ! tapi aku tidak menjamin jika terjadi kecelakaan hari ini, jangan salahkan aku. Aku sudah menolak tapi mau gimana lagi, syarat, katanya untuk menikahi anaknya harus yang aneh-aneh dan yang menantang.
Ketika Mobil mewah yang baru aku naiki ini singgah dipinggir jalan. Aku berpikir, akan ada lagi semacam inisiatif yang mungkin dengan sendirinya membawaku pada partisipasi yang tidak bisa aku tolak.
Aku melihat keluarga Rindu yang duduk di mobil satu keluar dari dalam mobil. Berhentinya mobil yang tiba-tiba ini seakan biasa bagi mereka, tidak ada yang terjadi. Bahkan sopirnya pun tidak begitu riak. Rindu yang lebih dekat duduk denganku memegang erat tanganku sekencang mungkin. Ibunya yang hanya terlihat seperti ku, bingung, malah bertanya pada suaminya, "loh, kenapa berhenti dipinggir jalan, Pah ?. Bukannya kita mau kepelabuhan Bugis Makassar ? kan kapal Phinisinya disana !."
Pak gubernur yang dengan santainya, hanya melempar senyum bahagia pada Isteri nya. Keluarga yang lain, telah turun dari atas mobil untuk membeli makanan ringan dipinggir jalan.
"Papah ditanya malah senyum. Kalau tidak jadi ke Labuan Bajo, mendingan Papah bilang. Jangan main berhenti begini saja. Kan tidak fer, Pah, tiba-tiba saja berhenti."
Aku sudah tahu, ini pasti akan terjadi. Sebab Ayahnya Rindu sudah pernah bilang ke aku, keluar dari rumah sakit, akan ada misi baru untukku. Rindu yang terlihat gelisah, dia khawatir jika Ayahnya akan menyuruh ku membawa mobil ini atau sesuatu yang lain.
Kekhawatirannya sudah membesar, dia bertanya pada Ayahnya seperti yang ditanyakan Ibunya barusan.
"Daeng, kenapa berhenti disini. Bukankah Phinisi ada di pelabuhan ?. Mamah juga tanya, Daeng hanya senyum saja. Jangan-jangan, Daeng memikirkan sesuatu agar kita semua tidak jadi berangkat ke Labuan Bajo ?."
__ADS_1
"Anak dan Ibu sama !. Memang, Daeng sedang memikirkan sesuatu. Sebelum kita berangkat ke dermaga. Apakah kalian mau lihat balapan mobil. Tadi Daeng buka-buka you tube dan melihat cara pembalap membawa mobil dengan cepat. Karena kita masih disini, dijalan, sebaiknya nonton dulu balapan mobil. Biar jadi kenangan, seru lagi !. Setelah itu, baru teruskan perjalanan menuju dermaga.
"Maksud Papah, apaan ? Mamah tidak ngerti dengan yang Papah bilang. Balik aja kerumah deh jika Papah mau nonton balapan. Kita sudah sepakat, hari ini, semua keluarga berangkat ke Labuan Bajo. Eh, Papah malah berhenti disini. Apaan sih, Papah ?."
"Mah...! kan anak kita Rindu uda milih calon pasangan nya sendiri nih. Anak satu-satunya yang Mamah sayang, calonnya juga ada disamping Mamah. Papah kan uda pernah bilang ke dia, kalau mau menikahi Putri kami, harus siap lewati tantangan yang Papah kasi. Rindu juga setuju masa Mamah tidak tahu ?."
"Bukan masalah tidak taunya Pak cuma masa ia Papah mau kasi dia tantangan yang belum pernah dia lakukan. Itu sama halnya, Papah menyuruh nya masuk rumah sakit lagi. Papah bilang Rindu setuju, Rindu tidak setuju Pah calonnya digituin. Bukannya mau membelanya cuma kalau niat berangkat ke Labuan Bajo, Papah tidak boleh tunda waktu keberangkatan. Kita belum pernah tahu musibah dijalan seperti apa."
"Mamah ini banyak bicaranya !."
"Bukan banyak bicara Pah. Papah pernah dengar tidak ? waktu Rindu kembali dari kampung anak muda ini. Coba tanya Rindu, apakah selama anak kita disana, pernah diperlakukan seperti ini, kan tidak Pah ?. Jika mau kasi tantangan padanya sebaiknya Pah, kita balik dari Labuan Bajo, nah terserah Papah mau tantangan seperti apa yang akan Papah berikan tapi bukan bawa mobil. Mamah khawatir Pah, khawatirnya jangan sampai dia kenapa-kenapa. Luka ditelinganya saja belum sembuh, eh malah Papah mau tambahkan lagi dengan luka baru."
"Mamah, gini aja bagusnya. Coba tanya Rindu dan anak muda itu, apakah anak muda itu siap mau ambil tantangan yang Papah berikan atau tidak. Kalau dia tidak mau, ya mau gimana lagi, terpaksa dia harus pulang kampung. Dia tidak lulus ujian untuk menikahi Putri kita"_
Eden yang hanya bisa mengikuti perintah ajaib itu, dia hanya mampu menggeleng-geleng kepala. Apalagi dia mendengar calon mertuanya masih ingin memberikannya tantangan yang lain jika tantangan bawa mobil ini berhasil dia lalui.
Ada semacam pemaksaan yang mengharuskannya untuk bisa membawa mobil mewah itu. Jika Eden tidak mengikuti instruksi tantangan yang mungkin saja mengakibatkan nyawanya hilang atau orang lain yang tertabrak, cintanya pada Rindu pasti akan terhambat. Tapi jika dia ikuti tantangan itu, sudah pasti kecelakaan tidak bisa dihindari.
Dalam situasi demikian, hanya ada kata maju !. Eden berjuang dulu, urusan bisa dan tidaknya adalah urusan akhir.
Eden menguatkan dirinya sendiri. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti pilihan sulit yang diberikan oleh calon mertuanya itu dan bisa saja, Ayah Rindu tidak menghendaki hubungan mereka tapi karena persoalan sayangnya yang terlalu besar kepada anaknya hingga Ayahnya harus menguji Eden dengan berbagai percobaan yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Kini tinggal Eden yang berada di dalam mobil. Dia cuma dilatih beberapa menit oleh Rindu cara-cara membawa mobil. Sisanya di serahkan kepada Eden.
Tepatnya di jalan Apetarani depan Clarion, disana balapan itu di mulai. Eden berlomba dengan sopir pribadi yang membawa mobil yang di tumpangi keluarga Rindu. Jalan sudah dibersihkan dari pengendara yang lain.
Tanda bendera perlombaan telah dikibarkan. Garis finis tepat dibawah jalan layang depan Fajar.
"Hanya kepada Tuhan aku memohon, lindungi aku dari ketidaktahuanku membawa mobil ini." Eden terlihat ketakutan, dia memohon kepada Tuhan sebelum benar-benar mobil di jalankan.
Satu, dua, tiga, mulai !. Baru saja dimulai, baru sekitar dua puluh meter, Eden telah menabrak pematang jalan. Mobil yang dibawanya terguling, dia tidak pingsan sesaat sebelum Rindu datang membuka pintu mobil.
Rindu berlari dengan tangisnya menuju mobil yang didalamnya masih ada Eden. Sementara Ayah dan Ibunya saling mengalahkan atas kejadian ini. Keberangkatan pun hari ini ke Labuang Bajo, akhirnya tertunda.
Panik ! aktifitas jalan menjadi padat. Orang berlarian ingin melihat siapa yang kecelakaan sampai mobilnya terbalik seperti itu. Dari sekian banyak yang datang melihat kejadian itu, kebanyakan dari mereka mengenal plat mobil yang terbalik itu.
Begitu hebatnya kejadian itu, Rindu pun begitu hebatnya menangis. Mobil yang sudah terbalik, dengan bantuan orang yang banyak akhirnya bisa dibangunkan (distabilkan.)
Petugas keamanan dari pihak rumah sakit telah datang dengan mobil ambulance. Ketika Rindu membuka pintu mobil ingin menolong Eden yang masih terkapar didalam, ada tanda atau mukjizat atau apa, Eden sama sekali tidak terluka dan dia sudah sadarkan diri walau masih terlihat pucat.
Semua orang yang melihat Eden dalam keadaan tidak terluka merasa keheranan. Karena sangat jarang sebuah mobil terguling akibat menabrak pematang jalan, sopir nya baik-baik saja.
Hanya ada satu kata yang diucapkan Eden kepada Rindu ketika pintu mobil dia buka, "Rindu apakah aku lulus ujian ? beritahu Daengmu bahwa tantangan lain siap aku lakukan."
__ADS_1
Bukan untukku tapi untuk cinta kita. Aku akan melakukan apa saja agar kita berdua bisa bersama selamanya.
Memang....?!