
...Ragukan Cinta...
...*************...
Telah selesai momen bertemu keluarganya Rindu hari ini. Terbilang cepat, tak ada ini itu yang dibahas hanya soal pernikahan yang akan dilaksanakan Minggu depan.
Seharusnya Eden bahagia tapi kenapa dia tidak begitu bahagia dengan keputusan keluarganya Rindu yang terkesan memaksakan kehendak padanya.
Apakah mencintai Wanita Bugis Makassar tantangannya begitu banyak. Ini berbeda dengan yang pernah ia alami ketika menjalin hubungan dengan Anggun.
"Jangan ragu !." Suara hatinya berbicara dan unek-unek kacau yang ada dipikirannya bertalian sedemikian rupa. Antara keputusan ia atau tidak, Eden mulai ragu.
Keraguannya itu bukan muncul dalam tafsir memahami cintanya kepada Rindu tapi pada uraian kalimat setiap kata yang sudah ia dengar. Bahkan ia tidak diberikan kesempatan luang untuk sekedar berbicara mengajukan berbagai idenya mengenai pernikahannya Minggu depan.
Hanya ada dua persepsi untuk saat ini yaitu pertama Eden akan menerimanya dan yang kedua ia harus kembali kepada dua wanita yang senantiasa menunggunya.
Bahagia tidaknya hari ini, dia memiliki perasaan yang tidak terlalu fit karena ketika mobil Pajero miliknya keluar dari halaman rumahnya Rindu, ia bahkan terlihat berhenti di pinggir jalan yang tidak jauh dari rumahnya Rindu.
Hpnya lalu diambil, ia tersenyum lucu sendiri mengingat setiap kata-kata keluarganya Rindu dan ketika menuliskan pesan yang akan dikirimnya kepada Rindu. Ia masih sempat juga berbicara, ini gimana caranya main putuskan aja.
"Sayang, aku bingung !." Pesan itu dikirim kepada Rindu.
Eden lalu melanjutkan perjalanan, wajahnya diliputi dengan berbagai pertanyaan yang tak bisa ia jawab sendiri. Bukan hanya itu, ia juga memikirkan bahwa hubungannya akan diakhirinya.
"Aku bisa menikahmu Rin tapi aku agak tidak percaya dengan pembahasan penentuan hari pernikahan kita. Aku memang mendambakan hari bahagia itu namun apa artinya jika aku menikah tanpa keluargaku disini."
Tak begitu lama setelah ia mengirim SMS pada Rindu, hpnya pun berbunyi. Balasannya bukan soal pertanyaan mengapa kamu bingung melainkan sebuah ucapan kata terimakasih.
"Eden, aku sangat bahagia hari ini sebab kamu sudah menyetujui penetapan waktu pernikahan kita Minggu depan. Hari itu, sudah sangat lama aku tunggu. Akhirnya perjuangan kita sedikit lagi akan sampai pada titik dimana antara kita berdua tak akan bisa lagi dipisahkan"_
Rindu sempat bercanda dengannya dalam sambungan telepon itu tanpa bertanya bagaimana tanggapannya terhadap keputusan keluarganya.
"Eden, apakah kamu percaya jika nanti kita sudah menikah, anak pertama kita adalah laki-laki."
Dari sekian SMS yang dikirim oleh Rindu baru satu yang ia respon. Hanya ucapan kata terimakasih mendapatkan balasan yang sama, selebihnya Eden diamkan.
Ia tetap melanjutkan perjalanannya seperti tujuan awal saat ia keluar dari rumahnya tadi pagi menjelang siang. Tepat jam 03:00 sore ia sampai di rumah anak-anak yatim. Sesuai yang dijanjikan oleh Rindu akan membawa mereka ke tempat permainan anak-anak.
Tak ada ole-ole yang ia bawa. Ia hanya membawa kebimbangan yang luar biasa berkecamuk dihatinya karena memikirkan perihal keputusan pernikahannya.
"Ah biarkan waktu yang akan menyelesaikan kecamuknya pikiranku." Ia tidak ingin apapun yang sudah ditetapkan hari ini mengganggu konsentrasinya bersama anak-anak itu. Sore ini, ia hanya ingin melihat anak-anak yatim itu tersenyum.
__ADS_1
Ia turun dari dalam mobil dan disambut oleh anak-anak yatim yang memang sejak mobilnya di parkir dihalaman depan, anak-anak itu sudah melihatnya.
Senyum pun bersambut, melihat kebahagiaan anak-anak itu. Eden ikut tersenyum sebab dihatinya ada ketenangan yang ia rasakan.
Pengelolanya keluar dari dalam rumah untuk menyambut Eden.
"Silahkan masuk, Pak. Kami semua merasa bersyukur setelah mendapat informasi dari Rindu sepulang dari sini, Bapak telah mengingat semuanya."
"Alhamdulillah, terimakasih Bu !."
Eden pun masuk kedalam rumah sebentar sebelum ia mengajak anak-anak itu untuk pergi bermain di tempat permainan anak-anak.
Mungkin karena mencurigakan, tidak begitu semangat, pengelola rumah anak yatim main sorong aja dengan menanyai Eden.
"Bapak sejak masuk kedalam rumah, aku perhatikan seakan ada sebuah masalah yang begitu besar sedang mengganggu pikirannya ?. Bukan maksudnya Ibu menanyakan ini tapi aku hanya khawatir pada anak-anak yang akan pergi bersama Bapak. Jangan sampai Bapak tidak fokus membawa mobil lalu menabrak.
"Tidak ada, Bu !. Aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu terjadi."
Tetap saja tidak ada ketenangan batin yang bisa dirasakan oleh Ibu pengelola rumah anak yatim itu. Jawaban yang Eden berikan tidak menjamin keseriusan yang diperlihatkan.
Olehnya itu, niat untuk membahagiakan anak-anak itu jadi tidak terwujud.
"Ya sudah jika Ibu tidak mengizinkan anak-anak pergi bersamaku. Setidaknya tolong terima cek kecil ini, mungkin ini bisa menggantikan niatku hari ini"_
"Aku pamit ya Bu."
Apa boleh dikata, hari ini memang belum berpihak padanya. Sampai di dalam mobil sebelum ia menjalankan mobilnya ia sedikit merebahkan tubuhnya pada kursi tempat duduknya.
Hpnya kembali berdering. Rindu sedang menelpon lalu diambilnya dan diangkatnya.
"Halo !."
"Iya, kenapa ?."
"Kamu kemana aja ?. Dari tadi loh aku menelpon tapi nggak diangkat-angkat. Kamu dimana sekarang ?."
"Aku sedang berada dirumah anak-anak yatim yang kita datangi tadi malam."
"Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu mau kesitu ?."
"Daeng mu bilang barusan sebelum menikah kita tidak boleh bertemu kan. Bagaimana aku bisa mengabari mu jika begitu ketegasan Daeng mu."
__ADS_1
"Tapi setidaknya aku tahu kalau kamu pergi kesitu."
"Sudahlah !. Aku mau pulang. Aku pusing mikirin yang belum jelas ini."
"Maksudmu apa yang belum jelas, Eden."
Tanpa panjang lebar, Eden langsung menekan tombol mati di hpnya. Ia tidak ingin membahas persoalan yang tidak penting baginya.
Lagi dan lagi Rindu menelpon Eden, namun Eden hanya melihati hpnya yang sedang berdering itu. Dia tidak merespon panggilannya Rindu.
Ia pun melanjutkan perjalanan menuju dermaga. Karena sudah beberapa hari ini, ia hanya mendapatkan kabar dari orang-orang kepercayaannya yang menjaga kapal-kapal Phinisinya bahwasanya ada beberapa orang asing yang sempat menanyakan harga kapalnya.
Tapi karena hpnya berbunyi terus ia pun singgah di dekat supermarket dan tidak melanjutkan perjalanannya menuju dermaga.
"Ada apa lagi Rindu menelpon terus ?." Tanyanya sendiri.
Eden lalu mengambil hpnya dan menelpon Rindu. Dia sebenarnya ingin marah pada Rindu sebab keputusan keluarganya baginya terlalu terburu-buru dan tidak meminta pertimbangan darinya.
"Apakah karena aku bukan apa-apa dimata keluarganya hingga sedikit pendapat saja dariku mereka tidak ingin mendengarnya."
"Halo. Ada apa ?."
Terdengar dari dalam hp itu Rindu menjawabnya.
"Teleponku mengapa hanya dilihatin saja. Kenapa tidak mau di angkat ?."
Amarahnya pada Rindu masih lebih besar dari perasaannya sendiri.
"Tadi aku dijalan. Bukan tidak mau di angkat tapi kamu tau sendiri bahaya mengendarai mobil sambil teleponan."
"Kamu kok tidak biasanya seperti itu. Sehabis dari sini bertemu keluargaku, tingkah mu seakan berubah gitu. Ada apa ?. Jika memang ada hal yang tidak kamu setujui, katakan padaku biar kita berdua mencari solusinya. Bukan main berubah begitu padaku. Walau tidak jujur, aku tahu karaktermu, Eden."
"Tidak !. Tak ada yang berubah. Sudah ya, aku mau pulang kerumah. Kalau masih mau bicara nanti sesampai dirumah, aku akan nelpon kesitu."
--------------------
Siapapun dia jika kekasihnya demikian pasti akan dipertanyakan. Apalagi mereka baru saja memutuskan waktu pernikahannya. Hari bahagia setelah sekian lamanya mereka tunggu hingga sudah mau sampai di titik finish justru perasaan berkabut.
Eden dibuat berpikir keras akan keputusan yang tiba-tiba itu. Sementara Rindu mencari cara untuk menemui Eden. Rindu ingin tau apa yang menyebabkan sampai tingkahnya Eden sedemikian berubahnya padanya.
Wait for more 🙏
__ADS_1