Perahu Apung

Perahu Apung
08


__ADS_3

...Sajak-Sajak Empedu, Antara Niat dan Penolakan...


...****************...


Setiap datangnya hembusan angin menyapu rasa yang lain, teman-temanku yang biasa kerumah, mereka mengatakan padaku aku terlihat berbeda. Angin semakin ingin membawaku pada tempat yang paling menyejukan, menambah kehangatan, meniup-niup tubuhku. Teman-temanku terkadang mengatakan padaku bahwa aku terlihat lebih cerah, berbeda dari sebelumnya. Ada gairah besar yang tiba-tiba membentuk karakter di diriku. Bahkan senyum, candaanku lebih antusias dari yang sebelumnya. Selalu terlihat bahagia.


Apakah ini karena Rindu ?. Kurasa iya !. Karena dia aku begini. Bahkan Ibuku juga mengatakan padaku ada perubahan luar biasa dalam diriku semenjak kedekatan ku dengan Rindu, wanita Kota asal Bugis Makassar yang datang bersama Phinisinya.


Peka, dan mandi sudah tepat waktunya. Keajaiban-keajaiban hidup hari-hari banyak yang aku alami. Sepertinya aku lebih pandai dan pintar dalam mengurus semuanya tanpa bantuan Ibuku lagi. Bukan hanya lebih dewasa, aku bahkan siap untuk menjadi seorang suami baginya.


Seorang suami yang akan menjalankan tugas dan SunnahNya pada isterinya. Seorang suami yang tidak akan membual ketika istrinya membutuhkan bantuannya. Seorang suami yang rela melakukan apapun demi memperjuangkan bahtera rumah tangga yang harmonis dan romantis. Suami itu tulang punggung secara biologis dan sosial apalagi cinta adalah anugerah yang pasti dalam setiap hubungan.


"Pernahkah kalian mendengar deru suara mesin yang berbunyi memanggil pulau Impian ?"


Aku pernah mendengarnya sebelum Phinisi milik wanita Kota itu datang dan bersandar dipelabuhan Karumpa. Dari dalam kapal, mata-mata jahil melihatnya saat itu, banyak tidak berkedip karena kecantikan, putihnya kulitnya. Orang-orang nya keheranan, baru kali ini sosok wanita Kota datang menggunakan phinisi dengan penampilan yang luar biasa memukau.


Dan pada saat itu, sajak-sajak kalimat laut, bergemuruh bersamaan dengan hentakan kakinya diatas dermaga. Dia menuju rumah Kepala Desa, mencari rumah sederhana yang bisa menampung nya sementara waktu, memenuhi sebuah nilai mujur yang dia cari.


Aku terklepek di malam saat pertama melihatnya sampai detik ini dia bersamaku dalam ujung senyum yang unik. Senyum sedikit memudar, setitik embun yang pernah turun membasahi bumi ini telah pamit untuk tidak kembali. Seakan datang Protugis memerangi Negeri baldatun taiiban warabul gafur, aku kembali bersemangat dalam upaya yang tidak bisa aku abaikan.


...****************...


Apalagi aku bisa melihatnya setiap pagi, siang dan sore dirumahku. Pagi ini, setelah malam itu, dia bukan malah menjadi lebih dekat denganku. Dia rada-rada jadi pemalu. Bahkan setiap kemana-kemana, aku tidak lagi bisa bersamanya. Lalu cinta apa seperti ini, dibangun atas dasar kebenaran namun menjauhkan sebagian kebenaran itu diatas penafian nya sendiri padaku.


Apakah ia, cinta hanyalah simbol dari suatu kebohongan yang didalamnya mengatasnamakan kasih sayang. Setiap aku ingin mendekatinya, dua wanita yang selalu bersamanya selalu menghalangiku. Entah mengapa ? aku mengenalnya, menerima cintaku justru hanya ingin melihatku berubah dari kondisi yang lalu.


Terimakasih jika itu keinginanmu, aku menerima dengan senang hati. Bahkan, diriku tidak lagi mengenal wanita dan cinta yang lain. Yang aku lihat setelah kamu menerimaku hanyalah dirimu. Rindu, apa maksud dan tujuanmu menerimaku sebagai orang yang kamu bolehkan mengisi ruang hatimu hingga sebelum aku benar-benar mengetahui lebih dalam perasaanmu, kamu acuhkan aku.


Apakah karena aku adalah pemuda desa yang tidak sama dengan pemuda Kota. Jangan ! Rindu tidak boleh melihatku seperti itu. Sejatinya perasaan itu sama pada diri setiap orang hanya yang berbeda-beda adalah perilaku istimewa pada yang dicintai. Aku, kamu, akan merasakan kebahagiaan jika kita berdua memang saling membagi, bukan sebagai bentuk untuk menikmati tapi sebagai upaya meyakinkan satu dengan yang lain.


Cinta itu hanif, cinta itu datang sesuai arah yang telah dia tuju. Cinta itu berlaku bagi semua orang begitupun aku.


Engkau pergi saat aku ingin membawakanmu buah pepaya yang baru saja aku petik, yang masak di pohonnya, ingin kuberikan padamu. Namun, sebelum aku mendekatimu, saat kamu melihatku, kamu bergegas pergi, turun dari rumah, berjalan bersama dua teman wanitamu menuju dermaga.


Rindu, apakah kamu melihat setan yang mendatangimu atau kamu melihat seorang pemuda yang tidak tampan dimatamu. Ketampanan itu adalah pengecohan mata. Orang pada umumnya hanya melihat ketampanan daripada etika cinta yang tulus. Jika saja kamu menanyakannya padaku seberapa inginnya aku bersamamu, aku akan menjawab seperti langit yang setia memayungi bumi.


Pergimu telah membuktikan bahwa kamu tidak benar-benar mencintaiku. Ini yang dikatakan oleh Ibuku untuk menjaga hatiku dari rasa sakit. Aku terlalu bersemangat, terburu-buru mengungkapkan yang selama ini kupendam.


Saat dia pergi berjalan menuju dermaga. Buah pepaya yang aku bawa untuknya kutaruh begitu saja di atas loyan. Aku kecewa, sakit hati, seakan kamu ingin mencoba ku untuk membuktikan kekuatan cintaku padamu.


Baiklah ! jika memang itu yang kamu kehendaki maka jangan salahkan aku jika aku akan membuktikannya padamu. Aku tidak perduli dengan apa yang akan terjadi padaku, Rindu. Seperti sejarah yang membawa kabar tentang masuknya Portugis di Sulawesi yang bermula pada tahun 1573 ketika kapal Ortiz the Tavora mengalami kecelakaan di pantai pulau Selayar. Mereka membawa harapan nya ke Sulawesi hingga harus berhadapan dengan musibah itu, meninggalkan keluarganya di Protugal demi sebuah makna yang mereka kejar.


Biarkanlah terjadi, biarkan mereka yang selalu bersamamu memberikan pengajarannya padaku. Apakah kamu anak seorang Bangsawan atau anak seorang pengusaha, aku tidak perduli dengan itu. Aku hanya ingin mengambil sebagian hatiku yang sudah kamu terima.


Kamu menerimanya bukan dalam keadaan bermimpi. Kamu menerimanya dalam keadaan yang sadar, rasa malumu yang kamu perlihatkan padaku saat kamu memberiku jawabanmu, sudah cukup jelas dan terang. Hatiku, kamu angkat, kamu berikan yang diinginkan oleh hatiku dan perasaanku setelahnya kamu mencampakanku hanya dalam hitungan hari.


Jika aku tahu seperti ini, mendingan aku memilih untuk memendam semua perasaanku daripada diungkap hanya untuk mengabaikan ku.


Jalanlah, ikuti langkah kakimu, ikuti keinginanmu. Saat kamu pulang, kamu akan melihat bahwa ada seorang laki-laki bernama Eden akan mengorbankan hidupnya untukmu.


Selamanya atau justru akan berakhir pada saat akan terjadi.


Siang ini aku begitu capeknya setelah dari kebun mengambil buah pepaya untukmu tadi. Kasian aku, ketika buahnya sudah aku dapatkan. Kamu enggan untuk memakannya, sekeder mengatakan terimakasih, kamu berlalu begitu saja. Akupun pergi mencari jawaban kecil, kubawa asah sakit ini menuju pantai. Pikiran-pikiran sembrautku berkeliling dalam kepalaku untuk waktu yang menanti. Jangan salahkan aku, Rindu.


Tunggulah ! Malam tidak akan kemana ? dia akan menjemput rencanaku padamu. Aku sudah menyiapkan kado terindah untukmu sebentar malam.

__ADS_1


Sambil menyisir pinggir-pinggir pantai. Aku beralasan pada kerendahan ku sendiri, sebuah keinginan yang ingin ada didekatmu namun kamu menjauhi ku. Mungkin dari kejauhan, aku bisa memandang mu, melihatmu hanya untuk meredakan emosi cinta ini.


Sesekali suara dari arah laut memanggilku.


"We..., Eden. Apa yang membuat mu hingga pasir-pasir pantai kamu tendang kesana kemari ?."


Para nelayan itu sedang bergurau, bersenda dengan hasil-hasil ikan yang dulu dirampas oleh penjajah. Kini, mereka menikmatinya walau bernilai sedikit. Rupiah kapitalisme telah masuk ke setiap desa, aku mensenyumi mereka sambil menunjuk Phinisi milik Rindu yang berlabuh di dermaga.


"Aku menunggu orang yang ada di kapal Phinisi itu" Sambil menunjuk kearah kapal Phinisi yang berlabuh di dermaga Karumpa.


"Ya, jadilah laki-laki yang menjaganya, Eden. Karena jika tidak, kamu akan kehilangan wanita itu. Orang-orang dikampung selalu membicarakan keakraban mu dengan wanita itu. Eden, jangan lupakan leluhur kita, dahulu penjajah datang dengan Phinisi merebut hak-hak masyarakat, merebut istri-istri yang baik, memisahkan anak dari orang tuanya untuk memenuhi hasrat dan candu akan kepuasan mereka. Jika kamu tidak menjaga wanita itu, kapal Phinisi nya akan membawanya, meninggalkanmu, merampas hatimu, merampas perasaanmu dan merampas perhatianmu padanya" tegas si Mantu dari atas perahunya.


Baru tadi, belum lama, baru sepekan, malam senin baru berlalu. Ternyata, hubungan ini sudah meraja di telinga masyarakat dikampung. Apakah alasan ini hingga Rindu menjauhiku.


Semakin lama aku dipinggir pantai, telingaku semakin panas mendengar ocehan para nelayan itu. Kubalik arahku, berjalan meninggalkan keinginan yang ingin melihatnya dari arah jauh, aku kembali kerumah untuk menunggunya.


Dirumah, Ibuku sedang menyiapkan bahan makanan yang akan dibawa besok pergi rekreasi dengan menggunakan kapal Phinisi milik Rindu. Karena aku lagi kesal, marah, dan emosi, kuberitahu Ibuku agar persiapan itu jangan lanjutkan.


"Bu, persiapan itu batalkan saja !. Ibu bukan pembantunya Rindu yang harus menyiapkan bekal untuk mereka besok."


"Kamu kenapa ? daripada bicara begitu mendingan bantu Ibu supaya cepat selesai."


"Tidak mau, Bu !."


Sedikit aku mendengar Ibuku berbicara ketika aku meninggalkannya, "Dasar anak muda, siapa suruh membuka hati untuk wanita Kota itu. Kamu mau menyembunyikan hal serius itu padaku, tidak bisa Nak."


Emosi yang ada dalam dadaku serentak turun. Aku tertawa sambil berjalan, berlalu menuju kamarku.


...****************...


Aku sudah berpikiran tidak baik padanya. Siapa suruh, dia menerima cintaku baru kemudian menjauh dariku. Jika saja, setelah dia menerimaku dan besoknya langsung pergi meninggalkan kampung ini, hatiku mungkin tidak akan terlalu galau seperti ini. Dia ada disini, dalam rumahku, aku melihatnya bahkan dari pagi sampai malam. Tapi sulit aku dekati.


Awas saja jika kamu kembali sebentar !. Menunggunya sampai aku tertidur. Aku terbangun karena Ibuku membangunkan ku untuk makan malam sambil menarik kakiku. Sementara Rindu sudah datang tiga jam yang lalu setelah aku tertidur.


Aku bangun dalam keadaan kaget !.


"Eden, bangun dulu. Ayok makan dulu ! ini sudah malam. Kalau mau tidur lagi, nanti setelah abis makan, Nak. Anak muda, masa tidurnya lebih awal. Bisa tidur begitu, Nak, kalau sudah makan. Rindu dari tadi menanyakan mu, dia menunggumu untuk makan malam bersama."


"Rindu sudah pulang ya, Bu ?.


"Dari tadi dia pulang !. Dan dari tadi juga dia menunggumu untuk makan malam."


Tanpa berlama-lama, aku langsung menuju tempat makan. Disana sudah duduk wanita Kota itu. Ketika aku melihatnya, hatiku berbicara, "apa sih maunya dia ? kadang tidak mau didekati, ini malah menungguku untuk makan malam bersama-sama."


Setelah aku sampai disitu, aku duduk didekat Ibuku diantara dua temannya Rindu. Baru saja aku duduk dan mau mengambil piring, Rindu berbicara padaku, "malam ini, ada yang mau Rindu tunjukan padamu, Eden. Tadi pagi, siang dan sore, waktu Rindu berada di kapal, Rindu mencari sesuatu yang mungkin bisa kamu baca. Tidak terlalu penting sebenarnya tapi dengan membacanya, kamu akan tahu."


Sambil makan, aku diam tidak menjawabnya. Tapi hatiku mengeluarkan kata-kata sinis padanya, "kalau kamu bisa mencari alasan, aku juga bisa mencari alasan untukmu."


Setelah selesai makan, dia mengajakku langsung ke kamarnya untuk melihat yang ingin dia tunjukan padaku.


Ibuku tidak mengizinkanku untuk masuk ke kamarnya.


"Eden, jangan !. Dia bukan siapa-siapamu. Jangan memang kalau Ibu melarangmu, didepan orang tuamu, dirumah kita sendiri kalian mau berduaan di kamar. Bagaimana kalau orang tahu, Nak !."


"Eden, apa yang Ibumu bicarakan ?."

__ADS_1


"Ooo, tidak ada !. Ibu cuma bilang jangan dikamar. Kalau mau tunjukan sesuatu padaku sebaiknya diruangan tamu saja."


Rindu tertawa dengan melihat Ibuku.


"Bu. Rindu dan Eden tidak akan macam-macam. Kecuali memang sudah kehendak Allah maka itu akan terjadi."


Dalam hatiku, "ia akan terjadi memang karena aku sudah punya rencana untukmu."


Ibuku senyum dan membiarkan kami masuk ke dalam kamar. Bukan hanya aku dan Rindu melainkan dua teman wanitanya juga ikut masuk kedalam kamar.


Didalam kamar, aku diperlihatkan sebuah buku tentang kisah-kisah Protugis yang pertama masuk menjajah Bangsa Indonesia ini. Kapal Phinisi yang bersejarah mewakili kesilaman masyarakat dahulu mempertahankan tanah airnya.


Aku bertanya pada Rindu terhadap buku yang dia perlihatkan padaku.


"Rindu, apa gunanya, aku membaca buku ini. Tidak penting bagiku untuk mengetahui bahwa Phinisimu adalah bagian dari keberadaan sejarah di masa silam dulu. Aku mengantuk, aku ingin tidur Rindu."


"Eden, cobalah kamu membacanya agak lama sedikit. Didalam buku itu terdapat kisah haru yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran hidup."


"Nanti kapan-kapan baru aku baca, Rindu."


Dia menutup kembali buku yang sudah aku buka. Aku keluar dari kamarnya untuk menyiapkan rencanaku.


Tengah malam, ketika Ibuku dan dua temannya tidur. Aku memasukinya dikamar, kuingin melakukan niat buruk padanya tapi sebagian hatiku menolaknya. Yang benar saja, Rindu terbangun dan melihatku duduk disampingnya."


"Eden, kamu ngapain disini, aku ngantuk !. Jangan ganggu aku, kalau ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, sebaiknya jangan sekarang ya. Atau memang penting yang ingin kamu sampaikan padaku hingga kamu masuk ke kamarku dan duduk disampingku."


Aku kebingungan menjawabnya. Mau menjawab bahwa aku punya rencana tidak baik terhadap nya, kan tidak mungkin ?!.


Rindu lalu bangun dari tempat tidur nya dan duduk didekat ku, dia malah mengajakku jalan tengah malam ingin ke kapalnya.


"Eden, aku mau ke kapal, kamu bisa menemaniku."


Ini bagaimana ? tadi pagi, dia menghindar. Giliran aku yang punya rencana buruk, dia malah mengajakku jalan tengah malam saat kondisi kampung tenang.


Menolaknya maka aku tidak akan mendapatkan kesempatan ini lagi. Kalau aku penuhi, bisa saja, kami ditahu oleh orang bahwa kami berduaan tengah malam seperti ini.


Hingga aku berpura-pura padanya. Cintaku, ternyata tidak menghendaki ku melakukan perbuatan naif.


"Rindu, mana buku yang tadi ?."


"Oh, kamu mau ambil buku, cobanya dari tadi kamu bilang, aku tidak perlu bangun dari tempat tidurku. Sana ! didalam tasku. Kamu ambil, kalau sudah baca isinya maka ceritakan padaku apa yang kamu dapatkan dari buku itu. Jadi, gimana ? mau temani aku ke kapal atau tidak ?."


"Sebaiknya besok saja Rindu. Kan besok kamu dan muridmu pergi rekreasi, sekalian aku ikut ya."


"Ok."


"Rindu, aku pamit ya. Selamat tidur kembali, maaf kalau mengganggu tidurmu."


"Tidak apa-apa, Eden. Kamu kalau mau tidur jangan lupa panggil namaku, biar dalam tidurmu bisa ketemu sama aku, bermain bersama dalam mimpimu."


Aku keluar dari kamarnya. Cobanya aku melakukan perbuatan tadi, selamanya aku akan kehilangannya, selamanya aku akan dianggap sebagai laki-laki yang tidak punya harga diri. Rindu, aku begitu sangat mencintaimu.


...****************...


Phinisi-phinisi itu membawa cinta. Cinta pada sesama, cinta pada sejarah, cinta meninggalkan cinta, menjadikan hubungan-hubungan kapal-kapal dalam waktu yang panjang.

__ADS_1


Phinisi-Phinisi itu sekarang membawa harapan padaku. Dari Makassar ke pulau kecil, dari Protugis ke Sulawesi Selatan. Ada harapan, muatannya beragam, seperti Rindu yang cantik, aku ingin selamanya bisa bersamamu.


__ADS_2