
...Ditiup Angin...
...*************...
Angin selatan yang bertiup memeluk pantai, melupakan impian Mahaindah di pelabuhan. Dari setiap mata yang menyaksikan bertolaknya Phinisi miliknya, derai air mata menghiasi dermaga Bukit Makassar.
Air mata itu bukan menangisi dirinya yang pergi. Eden bukan siapa-siapa di Makassar, selain Rindu, Reski, Anggun, dan orang-orang yang ia kenal tak ada cinta yang bisa menumpahkan air matanya untuknya.
Walau mungkin ada tangis yang menyempatkan menitikan air matanya dengan haru, dengan kasih, dengan suka rasa untuknya, Eden tidak akan pernah tahu lagi. Sebab dirinya sudah jauh, dia telah menjauh dari sikap dan perilaku cinta yang apabila ia bertahan di Makassar, dirinya akan tenggelam didalam lautan kesedihan.
"Apakah benar adanya jika angin yang berhembus adalah angin selatan ?." Seorang ABK yang bernama Tono, yang mempunyai kasus hati yang sama dengan Eden, belum sempat menyatakan kata maafnya pada kekasihnya, diapun harus menelan pahit karena pergi meninggalkannya.
Sekilas hal serupa itu tak begitu penting ketika pemuda itu sedang bertanya kepada Eden. Eden hanya tahu bahwa yang paling tersakiti itu adalah dirinya. Dia tak perduli ketika ABK nya bertanya padanya apakah angin yang berhembus adalah angin selatan.
Tapi demikian, rasa kasihan mulai ada. Eden tak kuasa bahkan tak sampai hati melihat kesedihan di wajah ABK nya yang kerap berdiam diri itu. Kita di konfirmasi penyebab ia mengapa harus bertanya demikian, ia mendapati hal serupa, kisah yang sama sedang membelenggu jiwa dan pikirannya.
Apakah kemudi yang dulu tak bisa ia pegang akan ia biarkan menuju tengah laut mengikuti hembusan angin selatan atau Eden akan memalingkan arah kapalnya untuk menuju daratan. Untuk sebuah kisah yang belum sempat terucap, Eden harus balik. Baginya, cukup dia yang merasakan kisah yang sama, hal serupa, tak usah lagi dirasakan oleh anggota kapalnya.
Keinginan kecil itu nampak disambut oleh harapan-harapan sederhana. Kini Eden sudah mahir mengendalikan kemudi dengan tepat dan bijak.
Hingga angin membawanya menjauh dari daratan membisikan pesan yang jelas kedalam hpnya. SMS itu baru saja masuk, ketika ia membuka hpnya, Hmm... dua pesan yang hampir sama sedang berbicara. Bukan tidak membiarkannya pergi namun ada sedikit selisih yang ketika ia baca, memberatkan hatinya untuk melanjutkan tujuannya ke kampung. Menjadi alasan utama yang paling berharga untuk mengutarakannya kepada semua ABK kapalnya bahwa arah kapal harus dibalik.
__ADS_1
Persis pesan itu berbunyi "kembalilah sebelum jauh ! Aku ingin ikut bersamamu. Aku berharap bisa melihatmu di dermaga atau kamu akan menungguku tapi nyatanya, setelah aku kesana, kamu telah pergi. Angin mana yang rela membawamu setelah Rindu."
"Gondrong, mungkin kapal ini, akan aku balikan ke pelabuhan."
"Tapi kenapa, Pak ?."
"Aku telah meninggalkan Resky sebelum dia datang ke dermaga. Dia, kini tengah menungguku disana. SMS-nya baru saja masuk dan dia menyuruhku untuk balik. Dia mau ikut bersama kita kekampung, bagaimana menurutmu, gondrong ?."
"Jangan aku yang Bapak tanya. Tapi coba tanya pada ABK yang lain. Aku hanya ikut karena alasan pekerjaanku pada Bapak. ABK kapal yang perlu mendapatkan pertanyaan itu, sebab mereka yang selama ini menjaga kapalnya, Bapak."
SMS yang kedua masuk lagi, kini dari Rindu. Hal serupa yang menyatakan perihal pedihnya, sakitnya, rela nya, dan sungguh teganya, sedang mencekik leherku.
"Wahai laki-laki pengelana, setelah kau memberiku rasa sakit, kau pun membawa benih cintaku yang masih tersisa dalam dirimu. Tak pantas, kau tinggalkan aku dalam keadaan terluka seperti ini. Angin selatan yang dulu pernah membawaku hingga sampai dikampung mu, aku melihat kapal mu dari atas dengan dron kecilku nampak dirimu tak bersahabat dengan laut. Baliklah ! Aku menunggumu di dermaga, kamu mungkin sudah menerima SMS dari Resky. Aku bersamanya saat ini, tadinya aku ingin pergi menyusul kapalmu tapi kupikir, aku tak semahir dulu. Kubiarkan diriku melawan kehendak orang tuaku agar tetap bisa bersamamu."
Ketika angin sudah tak bertiup membawa sejuta sentuhan, mengedepankan perasaan yang hampir tenggelam ditengah lautan ini. Hampir semua anggota badan tak mampu menjelaskan pincangnya perasaan, Eden tak tau ingin melakukan seperti apa untuk mengobati luka hatinya hingga keputusan arah kapal harus ia balikan untuk menemui Resky dan Rindu yang menunggunya diatas dermaga, bersama dalam balutan asmara.
"Aku berhutang budi padannya, gondrong. Dulu, Resky pernah membawaku ke Makassar dengan menaiki kapal Pajero miliknya, dan sekarang, aku ingin membalasnya. Aku pikir, ABK kapal akan setuju dengan keputusan yang akan aku ambil. Hanya sebentar ! Hanya menjemput dia, dan setelah itu, kita akan kembali berlayar."
"Pak, aku telah melihat ombak-ombak kecil di kuli atas laut sedang menari dan berucap nyanyian bahagia. Baiklah ! Jika keputusan Bapak sudah final dan yang terbaik, aku setuju saja, Pak."
Hanya alasan yang bisa mengatakan bahwa ia ingin membalas budi baiknya kepada Resky tapi nyatanya, ia ingin menemui Rindu. Kisah yang belum selesai itu ternyata tidak begitu melonggarkan kepergiannya meninggalkan kota Makassar.
__ADS_1
"Bertiup lah kau angin selatan layaknya perasaanku yang masih berdiskusi. Layaknya detakan jantungku yang masih menyimpan aliran darah, cinta yang masih bertengger dalam diriku adalah sekelumit perasaan yang belum bisa terjawab sendiri."_
"Aku ikhlas untuk menemui mereka yang menungguku di dermaga, aku tak kuasa bila meninggalkan mereka, menunggu hanya untuk sebuah perasaan. Tapi Tuhan, pilihkan aku diantara mereka, siapa yang bisa menjadi istriku. Aku tidak mungkin memilih dua diantara cinta yang begitu setia padaku." Sekilas harapan yang terucap, bersembunyi dibalik jantungnya, detakannya menyebutkan nama dua wanita yang masih menunggunya didermaga.
kebahagiaan yang bersemi di wajah Eden yang dilihat oleh gondrong adalah harapan yang hampir hilang untuk sebuah perasaan yang masih ada.
"Syukurlah ! Jika Pak Eden terlihat bahagia. Senyum itu, adalah arti dari tujuan hidupnya. Aku bahagia jika saja bukan hanya senyum kecil itu yang aku lihat tapi sebuah rangkulan yang bisa memeluk kedua wanita yang sedang menunggunya itu."
Kapal Phinisi pun kini semakin dekat. Eden berdiri diatas kapal dan membiarkan gondrong memegang kemudi. Hpnya standby untuk mendeteksi keberadaan dua wanita itu, diposisi mana mereka sedang menunggu.
Semakin dekat bahkan lebih dekat lagi dengan dermaga. Eden telah melihat dua wanitanya, berdiri bersama, saling berpegangan tangan, dan melambaikan tangan kearahnya.
Kuasakah dia memilih siapa yang harus ia peluk ?.
Sampai disini dulu ya...!
Tunggu selanjutnya...
Ayo dukung Penulisnya dengan cara
#Vote, Like, Komen, dan beri Hadiah
__ADS_1
agar penulisnya semangat up terus.
Matur Nuwun🙏