
...Bukan Phinisi Harapan dan Menanti...
...****************...
Baru kemarin kamu pergi seakan sudah sebulan. Bagaimana jika satu bulan kamu pergi, aku akan kehilangan semangat hidupku selama satu tahun.
Pagi, sore bahkan malam, aku hanya berada dipinggir pantai. Menunggumu, setiap kapal yang datang kusangka adalah Phinisi milikmu yang datang membawa seribu harapan kita, ternyata hanya perahu-perahu kecil milik nelayan yang datang membawa ikan.
Tidak sederhana ! rumit untuk menjelaskan pada butiran pasir pantai bahwa aku sedang menunggumu. Bahkan perahu-perahu nelayan yang baru saja tiba tidak akan mampu memuat banyaknya isi hatiku yang merindu setiap menit.
Dari sini, menderu lagi suara mesin dari ujung pulau. Aku berdiri untuk melihatnya, hanya cahaya bintang kecil dilangit menerangi kapal yang baru mau masuk berlabuh dimuka kampung. Tidak jelas kapal siapa ? aku hanya melihatnya berwarna putih.
Kegembiraan ku membesarkan harapanku bahwa yang datang itu adalah kapal mu. Lagi, ternyata bukan kapal mu yang datang melainkan sebuah kapal penumpang dari pulau sebelah.
"Ada apa denganku ?. Rindu tidak akan datang ! dia baru saja pergi. Mana mungkin dia kembali kesini lagi" sekedar memberitahu kegelisahan yang bersarang dihatiku.
Hanya beberapa jam saat aku berada di pantai. Teman-temanku yang biasa memanggilku main gitar mendatangiku di pinggir pantai. Mereka datang dengan menemui ku hanya sekedar ingin mengatakan padaku agar tidak terlalu memikirkan wanita Kota itu.
"Eden, tadi kami kerumahmu, Ibumu bilang kamu disini. Makanya kami datang menemui disini. Semenjak kamu mengenal wanita Kota itu, kami menjadi sulit untuk menemui mu, bersama seperti dulu, bergembira apa adanya tanpa beban"
"Jika kamu semakin memikirkannya, kamu justru akan semakin tersakiti. Dia pergi ! sementara kamu yang tersiksa disini. Kamu tidak pernah tahu, mungkin setelah dia sampai di Kota, di kampungnya, dia akan melupakanmu disini."
Kata-kata mereka seakan menghantam kepekaan rasaku pada Rindu. Mau marah pada mereka, aku tidak bisa ! mau bilang jangan berkata seperti itu padaku, mereka mengatakan kebenarannya padaku.
"Aku mau pulang ! Tolong untuk sekarang, jangan ganggu aku dulu !."
__ADS_1
Aku langsung berdiri meninggalkan mereka, segala rasa yang melukai perasaanku ikut bersamaku menuju rumah.
Sesampaiku dirumah, Ibuku ternyata menungguku untuk makan malam.
Seleraku hilang. Mau melakukan apa-apa, aku tidak bersemangat, seperti kehilangan arah untuk waktu yang tidak aku tahu.
Inilah sakitnya bila berjauhan dengan orang yang kita cintai. Apalagi saat cinta, perasaan, benar-benar baru mulai tumbuh, baru mulai mekar, baru mulai harum, seketika tidak tersiram air maka menjadi layu.
Aku menuju kamar, mengabaikan sedikit panggilan Ibuku yang memanggilku untuk makan malam.
"Aku masih kenyang, Bu !. Aku mau tidur duluan, Bu." Sahutku pada Ibuku yang dari tadi sudah menungguku.
"Kamu bukan mau tidur melainkan merindukan Rindu. Ibu tahu, kamu lapar cuma karena rasa rindu itu yang membuatmu tidak ingin makan. Apa susahnya jika kamu makan dulu. Setelah selesai baru kamu tidur. Nanti kalau sakit yang repot pasti Ibu dan Ayahmu. Daripada kamu ke pantai menunggu Phinisi miliknya datang membawa Rindu, dia tidak akan datang. Kan, kamu tahu sendiri, dia baru saja meninggalkan kampung ini. Cinta apa coba yang bersarang di kepala dan hatimu hingga untuk menjaga waktu makan saja harus diingatkan. Eden, anak laki-laki itu harus lebih kuat dari anak perempuan, kamu begitu sedihnya ditinggalkan oleh Rindu. Dia juga pasti lebih merindukanmu. Ibu dulu juga seperti itu, jatuh cinta pada ayahmu tapi biasa saja. Untuk urusan makan, Ibu selalu ingat. Ini, kamu baru mengalaminya sekali, berpisah baru sekali, loyonya banyak kali. Gimana kalau banyak kali berpisah pasti tidak mau makan juga banyak kali."
"Iya, kamu tidur duluan saja cuma kalau sakit kepalamu bertambah jangan panggil Ibu ya. Panggil nama Rindu sekeras-kerasanya, ucapin lewat angin saja biar sampai ditelinga nya."
Haduh ! Ibuku ini, malah menambah kegundahan hatiku malam ini. Padahal, aku ingin mencari sisa bekas jejak sang kekasih di kamar yang dia tempati.
"Iya, baiklah ! Eden kesitu untuk makan, Bu."
"Nah, kan begitu bagus !. Ayah dimana, Bu ?."
"Ayahmu, biasa ! dia masih dirumah temannya."
Ketika aku duduk disamping Ibuku. Tidak lama, suara mesin dari arah laut terdengar lagi. Kupikir pasti Rindu sudah datang. Kupercepat makanku, aku ingin kembali kepantai melihat kapal yang datang itu.
__ADS_1
Ibuku ternyata memperhatikan ku dari tadi. Dia tertawa melihatku makan seperti orang yang berlomba.
"Makannya pelan saja, Nak. Kamu mau kemana makan buru-buru seperti itu ?. Kamu mau kepantai lagi ? Ibu kira sehabis makan, kamu mau langsung tidur. Itu kapal yang bunyi bukan Phinisi milik Rindu. Masa baru pergi sudah mau kesini lagi. Makan saja dulu yang pelan, jangan hiraukan kapal itu."
Baru kali ini, aku menjadi seorang laki-laki yang dibingungkan oleh cinta. Apakah begini jika baru mencintai wanita ? apakah karena dia pergi menggunakan Phinisi hingga setiap bunyi kapal dari arah laut selalu dia yang kupikirkan telah datang.
Tidak dalam keadaan kebahagiaan. Aku cemas, mestinya aku bahagia sebab Rindu membawa harapan kami kedepan keluarga nya.
Aku kembali kedalam kamar setelah selesai makan. Bantal peluk yang dipakai oleh Rindu setiap malamnya kujadikan teman curhat. Aku bercerita banyak tentang diriku dan dirinya, tentang cinta kami, tentang perasaan kami berdua. Seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Aku harus berbicara pada siapa untuk menceritakan segala keluhku selain jejaknya yang saat ini kupeluk-peluk.
Andainya bantal ini bisa berbicara, dia akan berbicara padaku untuk melepaskannya atau dia akan mentertawai ku dan berbicara padaku, "jangan peluk aku seperti kamu memeluk wanita yang kamu cintai. Aku sakit dengan pelukan sekasar itu."
Ya...! sepertinya akan sakit jika aku memeluk Rindu sebab aku akan memberikannya sebuah pengingat yang tidak akan pernah dia lupakan. Biarkan dia marah atau apalah tapi kuyakin dia tidak akan marah padaku.
Lama aku berbicara pada bantal ini hingga rasa ngantuk ku hilang. Aku keluar sebentar kedepan rumah untuk melihat angkasa hitam diatas sana.
Berbenah diri, selalu siap ditempat berganti warna. Kukatakan pada bintang sejati, "wahai bintang kecil, ketika aku memandang mu maka sampaikanlah pesan ku melalui cahayamu, bicaralah pada Rindu yang saat ini, apakah dia masih berada diatas kapal ditengah laut atau dia sudah sampai di Makassar. Bicaralah padanya, aku disini baru saja memeluk bantal guling yang selalu dia peluk di saat tidur. Bicaralah padanya, aku disini sudah seperti laron kecil yang terbang kesana kemari, singgah disuatu tempat pada akhirnya juga mati. Bicaralah padanya, cepatlah kembali sebab aku bukan hanya menderita melainkan jiwaku terluka teriris oleh kebekuan rasa"
Diam tanpa jawaban. Aku tertekan oleh waktu yang tidak membawaku pada impian mimpi dalam tidurku. Aku bukan hanya menjadi aneh, justru semua sisi membenarkan sikapku bahwa aku memang telah aneh.
Duduk bersandar juga capek, aku berdiri juga capek, masuk dikamar juga tidak bisa tidur. Apa yang terjadi padaku ? haruskah aku seperti ini, seperti melupakan diriku sendiri. Betul kata Ibuku, cinta itu bisa membuat orang gila serta kehilangan arah pandangannya yang normal. Cinta itu adalah sebuah misteri walau sebenarnya dia nyata namun ketika dia hilang maka hilanglah segala kebahagiaan.
Aku merasakan itu. Dia pergi membawa harapanku, hanya Phinisinya yang setiap pagi sore bahkan malam yang selalu kunantikan, semoga dia ada, datang mengibarkan layar keromantisan, layar cinta untukku yang menunggu disini.
Rindu, jangan lama ya, aku tertidur dengan membawa wajahnya kealam tidurku.
__ADS_1