Perahu Apung

Perahu Apung
62


__ADS_3

...Merasa Bersalah...


...****************...


"Sejatinya aku tersakiti dengan perlakuan mu ini, Eden. Andai bukan karena sisa rasa sakit ini tidak dikarenakan oleh hawa cinta yang masih sedikit membekas dalam perasaanku, mungkin lebih baik, kita berpisah dulu. Tapi, apa yang aku ingin katakan pada kedua orang tuamu khususnya Ibumu jika aku tak mampu membawa janjiku untuk mereka."


Di sofa panjang itu, Rindu sedang meluapkan amarahnya. Rindu yang marah begitu hebatnya tak bisa dengan sederhana memaafkannya "menurutku, kita sendiri dulu untuk sementara waktu. Sampai rasa sakit ini hilang, baru aku berpikir apakah balik atau pergi selamanya darimu."


"Jadi, Rencana pernikahan kita Minggu depan, gimana ?."


"Masih kau tanyakan soal pernikahan kita ?. Saat ini, aku tidak berpikir untuk menikah, mungkin kamu juga ?. Pernikahan kita hanya mungkin tercipta jika hati dan perasaan tidak menjadi taruhan karena keegoisan perilaku kita."


"Rindu, aku menyesalinya. Aku memang tidak pantas untuk kau jadikan suami. Aku lebih baik mati jika harus berpisah denganmu. Aku tergoda dengannya, aku tertipu dengan rayuannya, dia terlalu pintar untuk hati yang agak bingung memikirkan keputusan keluargamu akan pernikahan kita. Aku lupa kalau kejadian itu, akan membawaku pada masalah yang bisa aku sesali, Rindu. Maafkan aku, Rindu !"


"Mengaku salah, itu gampang ! Mengaku menyesali, itu sangat cepat. Bahkan anak kecil pun akan mengatakan hal serupa jika melakukan kesalahan, tapi untuk memperbaiki perasaan yang terluka apakah bisa sembuh dengan hanya mengakui kesalahanmu itu, aku lupa jika malam ini, di dermaga tadi, aku melihat dua ekor B*** buas yang sedang berlampau dari etikanya sendiri."


"Aku bukan B***, Rindu."


"Lalu apa ? Jika bukan B***."


"Rindu, jangan biarkan kemarahan mu membakar seluruh perasaanmu padaku, bahkan gunung sekalipun akan terbakar dengan amarah itu."

__ADS_1


"Sudah lah !" Tak ada hal yang perlu di bicarakan antara kita lagi. "Dari perpisahan awal yang terjadi, mungkin kamu pernah melakukan hal semacam ini dengan Anggun atau Resky kan ?" Dan sekarang kamu mengulanginya lagi. "Apakah harus aku yang selalu mengalah atau memang pantas kau buat sesakit ini ?."


Tangah malam semestinya adalah waktu istirahat bagi cinta yang layu. Bagi bunga yang jatuh dari rantingnya bagi sebagian harapan yang masih ingin memadu asmara. Baru tadi pagi, belum cukup 24 jam, didalam kamarnya sendiri, mereka menghempas tali-tali mesra, mereka menggenggam benang-benang cinta, malam ini ribut karena cinta.


Adakah hati yang tidak tersakiti jika dibuat kecewa. Mata dibuat menangis, dan Rindu menelan simalakama yang menyarati nya.


"Rindu..." Dari arah luar, halaman rumah, terdengar suara laki-laki memanggil Rindu, yang berjalan masuk kedalam rumah. "Rindu..." Ayolah ! Lupakan dia, apakah itu laki-laki yang sering kamu ceritakan padaku. Laki-laki yang membuatmu begitu yakin, laki-laki yang bahkan telah kamu lihat malam ini melakukan kesalahan fatal, dia tidak bisa memberimu kebahagiaan apalagi sampai harus menjadi suamimu."


"Siapa dia, Rindu ?" Jadi itukah pemuda yang hampir menikahmu dulu. "Aku tahu, mungkin karena alasan ini, hadirnya dia diantara hubungan kita sehingga, aku merasa dari setiap keluargamu khususnya Daeng mu seakan memberatkan ku dengan berbagai keinginan yang sulit aku pahami terkhusus mengenai keputusan pernikahan kita yang terkesan memaksakan kehendaknya."


Pertengkaran rasa, ketegangan kondisi semakin menjadi-jadi antara Eden dan Rindu.


"Harusnya kamu tak menjawab seperti itu, Eden. Apa yang aku perbuat ? Apakah kamu melihatku melakukan suatu kesalahan yang bisa merenggangkan hubungan kita. Jadi, itu alasanmu ? Karena keputusan keluargaku terkesan berlebihan sampai membuatmu mengambil cara lain untuk memutuskan langkah seperti ini. Kamu tidak harus mempertanyakan siapa dia ? Tidak penting kamu tahu siapa dia ?. Namun, jika memang ingin kamu tau, dia itu siapa ? Aku akan memberitahumu. Dialah yang sampai saat ini begitu setiap menanti cintaku, dialah yang selama ini selalu memberiku harapan untuk menjaga hubungan kita. Tapi sudah lah ! Kamu hanya akan mengerti jika aku sudah menikah dengan orang lain."


"Iya, begitulah !" Aku pikir, hubungan kita ini, kita akhiri malam ini. "Tak ada lagi yang perlu di bicarakan." Aku mengalah, aku kalah, Eden ! Kamu menang sebab telah memberiku suatu harapan dan setelah itu, kau hancurkan dengan seenaknya."


"Dulu, di dermaga yang sama, saat aku belum memiliki apa-apa, kamu melakukan hal yang sama padaku. Kamu begitu percaya pada seorang wanita yang mengaku telah aku nodai, tanpa mendengar penjelasan ku, kamu langsung mengusirku. Kamu lupa padaku hari itu, kamu lupa perasaan ku hari itu seperti apa. Malam ini, diluar dari seutuhnya yang kamu lihat, kamu ingin agar kita mengakhiri hubungan ini. Hubungan yang selama ini, kita perjuangkan, hubungan yang telah lama kita pupuk, dan kita bina. Tak apa, jika inilah keputusanmu maka inilah pilihan kita berdua. Kita memilih atas pandangan dan rasa sakit kita berdua, dan jangan lagi memelihara dendam, kebencian diantara kita sehingga diwaktu yang lain, kita mungkin akan berpikir, ada hati yang pernah terbina namun, memilih untuk berpisah."


"Tidak !" Aku tidak akan pernah berpikir demikian. "Jika pun mungkin dilain waktu aku berpikir seperti itu, aku akan mencari alasan kebahagiaanku sendiri."


"Rindu, bicara itu gampang."

__ADS_1


"Iya, bicara menyesali itu juga gampang. Yang tidak gampang itu adalah memperbaiki yang sudah rusak. Jika saja kamu tak menutup telepon mu dan mengangkat teleponku untuk membicarakan keseriusan hubungan kita, pasti tidak akan begini. Aku tau, saat kamu pulang setelah mendengar keputusan keluargaku bahwa kita akan menikahi Minggu depan, tak ada keceriaan yang aku lihat di wajahmu sampai kamu mengirimkan SMS padaku yang isinya "aku bingung", sebenarnya aku paham itu. Namun, mengapa aku tidak meresponnya dengan bertanya padamu kenapa kamu bingung. Alasanya, aku hanya perduli pada kebahagiaan kita, cinta kita, hubungan kita, bukan kebingungan mu yang ingin aku tau darimu. Setidaknya, aku sudah paham bahwa keputusan itulah yang kemudian membuatmu mengambil jalan lain, berpisah untuk tidak pernah mengenal lagi."


"Berpisah ?."


"Iya, berpisah !."


"Rindu, sudahlah ! Jangan marah sehebat itu. Kamu bisa membunuhku atau melukaiku, asal maafkan aku, Rindu !."


"Sudahlah kau bilang !." Sahut Segar dengan emosinya. "Aku tidak suka ya dengan caramu memperlakukan Rindu seperti ini."


"Kamu siapa ? Jangan ikut campur, ini urusanku dengan Rindu." Tegas Eden padanya.


"Yang menjadi urusan Rindu, juga adalah urusanku. Kamu mikir, wanita mana yang mau memaafkan kelakuan bejatmu itu setelah tau berbuat kesalahan yang begitu fatal. Bahkan aku sebagai laki-laki sangat tidak percaya, seorang pengusaha Phinisi yang namanya dikenal di wilayah Sulsel ini justru berperilaku B***."


"Segar, ayok kita pulang ! Seberapa menyesalnya dia, di mataku, dia bukanlah Eden yang dulu pernah aku kenal. Aku mengharamkan cintaku untuknya dan aku tidak ingin melihatnya lagi setelah ini."


"Rindu, keputusanmu itu sulit aku percaya. Jika karena kesalahanku lantas membuatmu harus mengakhiri hubungan kita malam ini, aku terima. Aku tidak akan pernah lagi mengusik atau bahkan mengingat namamu."_


"Pulanglah ! Disini, biarkan aku meratapi apa yang sudah aku lakukan. Mungkin malam ini kita masih bisa bertatap walau parah, tapi atas alasan pisah, aku akan merelakan mu pergi selamanya."


Setiap pertemuan akan ada perpisahan dan setiap perpisahan pasti meninggalkan kenangan. Kenangan yang mungkin pilu atau senang adalah wujud dari cinta.

__ADS_1


"Jangan pernah mengalah pada kondisi", gondrong yang saat ini tak bisa berbuat apapun hanya bisa menghibur Eden dengan kata-kata. Rindu, pulang tanpa menitip pesan bahwa ia akan kembali.


__ADS_2