Perahu Apung

Perahu Apung
56


__ADS_3

...Love Command...


...****************...


"Yang datang bukan orang sembarangan. Melihatnya saja aku jadi takut, Pak."


Ayu memberitahu Eden bahwa yang datang model preman pasar segar yang biasa ia lihat di sekitaran pasar.


"Dimana mereka saat ini ?."


"Ada di halaman depan rumah ditemani gondrong. Kelihatannya mereka marah Pak, karena saat mereka masuk ke halaman rumah, mereka langsung menanyakan Rindu. Bapak hati-hati ya jangan sampai mereka memukul Bapak."


"Kamu tenang saja. Mereka tidak akan berani marah-marah dirumahku sendiri. Kalaupun mereka mau marah-marah disini sudah pasti aku akan melaporkan mereka karena berani mengganggu kedamaian dirumahku."


Eden menemui beberapa orang suruhan Ayahnya Rindu yang lagi asyik menikmati obrolan santai bersama gondrong.


Jantungnya berdetak seiring bergantian nya langkah kakinya. Ketika ia mulai mendengar suara nyaring dari beberapa orang itu, ia semakin merasa takut bahwa mereka bukan orang sembarangan.


Eden tetap harus menemui mereka. Apa untungnya jadi laki-laki jika hanya mempengecuti masalah yang mana belum ia tau apakah mereka benar-benar datang untuk membawa Rindu atau tidak.


Namun apa yang terjadi ketika beberapa suruhan Ayahnya Rindu melihat dan bertemu dengan Eden. Mereka, sama sekali tidak menyebut tentang masalah Rindu yang kabur dari rumahnya.


"Ada urusan apa Bapak-bapak kesini ?. Jika memang ada hal urgen/penting untuk dibicarakan sebaiknya kita bicara didalam."


Eden pun lalu memanggil Ayu asisten rumah tangganya untuk menambahkan kopy yang sudah hampir kosong di gelas mereka.


"O... jangan repot-repot Pak. Kami kesini memang sengaja datang, ada hal yang ingin kami bicarakan namun sebelumnya, kami mau bertanya, apakah benar disini rumah Pak Eden yang pengusaha Phinisi itu ?. Tadi, Bapak ini (menunjuk gondrong) sudah memberitahu kami bahwa ini memang rumahnya Pak Eden.


"Iya, benar !. Aku sendiri orangnya. Ada apa ya Bapak-bapak bertanya demikian ?."


"Ada kejutan yang mungkin tidak Bapak percaya. Kami diutus untuk membawa Pak Eden kerumahnya Rindu, apakah Rindu saat ini berada di rumahnya, Bapak. Jika memang ia berada disini, sebaiknya Bapak pulangkan dia sebelum kami mengobok-obok rumah Bapak. Maaf Pak, kami hanya menjalankan perintah."


"Maksudnya apa ya Pak ?. Bapak mau menggeledah rumahku. Kalian digaji berapa oleh Ayahnya Rindu hingga berani ingin menggeledah rumahku. Aku tidak salah dengarkan dengan yang kalian ucapakan barusan ?"_

__ADS_1


"Coba saja jika berani tapi percayalah, aku tidak akan tinggal diam melihat kalian mengobrak-abrek rumahku, seenaknya saja kalian bicara begitu. Emang kalian lihat kalau Rindu kabur dari rumahnya datang kesini ?. Kan tidak !."


"Bapak jangan dulu marah-marah begitu. Bapak tadi tanya gajikan, kami digaji dua juta rupiah satu orang sementara kami berlima, berarti sepuluh juta, Pak. Kalau Bapak bisa memberi kami dua kali lipatnya, kami akan pulang dan mengabarkan pada keluarganya kalau Rindu tidak ada disini."


Naik tensi terlihat jelas diraut wajahnya Eden. Ia benar-benar dibuat tidak karuan dengan kehadiran beberapa suruhannya Ayahnya Rindu itu. Ia sama sekali tidak bisa mengelak, ibarat ayam, ia telah ketangkap disangkar nya sendiri. Mau bilang tidak ada uangnya nama baiknya dipertaruhkan. Mau bilang iya bisa memberinya dua kali lipat dari permintaan mereka, mendingan diberikan kepada yang membutuhkan.


"Pak, jangan mikir terlalu lama. Kami hanya menyarankan pada Bapak untuk mengambil jalan solusi ini. Kami tahu, sebenarnya Rindu ada didalam. Bapak ngaku dan tidak ngaku, kami tahu dia ada didalam. Jadi gimana, Pak?."


"Iya. Tunggu disini !"


Eden lalu meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar justru bukan uang yang ia ambilkan tapi melainkan Rindu yang keluar dan menemui beberapa orang itu.


"Ternyata kalian lagi"_tegur Rindu pada mereka yang datang atas nama suruhan Ayahnya itu.


"Kalian berani sekali datang kesini, untuk apa ?. Mau aku laporkan pada Daeng ku ?."


"Memang mereka siapa, Rindu ?. Apa kamu mengenal mereka ?."


"Bukan hanya kenal tapi lebih dari itu. Mereka dulu pernah kerja dirumah sebagai Security sebelum Daeng ku seperti sekarang. Hanya mereka diberhentikan dari pekerjaannya karena selalu bawa minuman saat bertugas."


Beberapa orang itu langsung memotong pembicaraan Eden bersama Rindu. Mereka tetap ingin agar uang yang tadi di inginkan diberikan pada mereka.


"Jadi gini, kami memang disuruh sama Daeng mu Rindu untuk menjemput mu pulang. Kami harus kerjakan dong tugas kami kecuali Pak Eden siap membayar kami dua kali lipat dari yang diberikan Daeng mu pada kami."


Bikin emosi betul. Rindu lalu mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan.


"Kalian kalau kekurangan makanan jangan minta di sini. Tidak tau malu makanya kerja, diluar sana banyak pekerjaan halal ketimbang kalian hanya datang untuk meminta uang. Kalian pikir Eden bank uang atau kalian menyimpan uang padanya."


"Terusin saja bicaranya. Tapi kami ingatkan pada kalian dalam dua jam terhitung dari sekarang jika tetap tidak memberikan uang itu maka lihat saja, siapa yang akan datang menjemput kalian."


Di hatinya, Eden berbicara "sial !."


"Sudahlah Rindu, aku akan mengambilkan uang untuk mereka"_

__ADS_1


"Tapi kalian harus janji dan bisa dipercaya untuk tidak memberitahu keberadaan Rindu disini pada keluarga nya. Gimana, bisa atau tidak ?."


"Tenang, Pak !. Itu sudah menjadi urusan kami. Bapak hanya perlu menyiapkan uangnya. Lagian Bapak yang salah, siapa suruh menanyakan upah yang diberikan Daeng nya Rindu. Kalau sudah begini, apakah kami yang salah ?. Tidak usah dipikir Pak, kami ingin berkata jujur pada Bapak______."


Luka di betisnya yang tadi sempat membuatnya kesakitan lenyap seketika setelah mendengar penjelasan dari bla... bla... bahagia itu.


"Apakah itu yang Daeng katakan pada kalian ?."


"Bukan hanya itu. Daeng mu memberikan ini kepada kami untuk disampaikan kepada Eden."


Sebuah surat permohonan maaf atas perilakuan yang menyerangnya begitu saja. Eden dan Rindu diminta untuk segera menemui keluarga besarnya dirumahnya Rindu.


"Mengapa Daeng tidak menelpon ku jika memang dia ingin kami menemuinya."


"Bagaimana Daeng mu mau berbicara padamu. Beliau sudah berapa kali mencoba untuk menelpon mu tapi hpmu selalu berada di luar jangkauan. Beliau ingin agar kalian berada disana sebelum jam 12 siang ini"_


"Perintahnya seperti itu pada kami. Oya Pak Eden, kami minta maaf jika tadi sempat membuat Bapak agak pusing."


"Tidak juga sih. Aku hanya berpikir apakah kalian bisa dipercaya ?."


"Aku Wendy, bersumpah atas nama Tuhan mewakili temanku jika kami berbohong pada Bapak maka kami tidak akan hidup lama di dunia ini. Terserah saja Bapak mau percaya atau tidak pada kami, yang jelas pesan dan suratnya Daeng nya Rindu telah kami serahkan pada Bapak dan Rindu. Sebagai Ayah, aku merasakan luka yang di derita oleh Daeng nya Rindu."


"Jadi gimana Eden ?. Kita temui keluargaku untuk membicarakan hubungan kita atau tidak ?."


"Rindu, berikan aku waktu untuk memikirkan hal ini. Bukan aku tidak mau pergi sekarang menemui keluarga besar mu. Aku agak trauma karena setiap kali aku ke kerumah mu, Daengmu selalu menyambut ku dengan emosinya. Apakah aku pantas untuk menjadi menantunya ?."


"Mengapa kamu harus berbicara seperti itu. Jangan lihat mereka tapi pikirkan aku, Eden. Aku akan begitu terluka jika kamu tinggalkan hanya karena watak dan karakter Daeng ku padamu."


"Pulanglah Rindu !. Gondrong akan mengantarmu sampai di rumahmu. Aku akan kesana setelah kamu sampai."


"Mengapa harus Gondrong yang mengantarku, mengapa bukan kamu. Aku ingin kita barengan kerumah ku menemui keluargaku. Ayolah !."


Masih tetap pada keinginannya. Rindu tetap membujuk Eden agar mau pergi bersamanya.

__ADS_1


"Tidak !. Pulang lah, aku akan menyusulmu." Jawab Eden.


Apapun yang dipikirkan Eden, Rindu tidak bisa menebaknya. Rindu tak terlihat bahagia melainkan sejuta kepiluan yang ia bawa pulang.


__ADS_2