Perahu Apung

Perahu Apung
29


__ADS_3

...Kompleks Preman Pelabuhan...


...****************...


Bahaya !. Mustahil Eden percaya tapi nyata. Dermaga yang memang tidak jauh dari pusat kampung ternyata pada malam hari para preman akan datang menyisir dermaga. Eden diberitahu oleh mereka-mereka yang ada di dermaga terkhusus para kuli.


Saat hari pertama Eden menjaga kapal-kapal Phinisi miliki Daeng Guru. Lancar manis, gangguan di dermaga tidak nampak. Hari kedua bahkan hari ketiga juga begitu, masih nyaman melaksanakan pekerjaannya.


Shubuh setelah memasuki hari ke empat, dia dikejutkan dengan teriakan-teriakan dari dermaga pas menghadap kapal yang dia jaga.


"Uang pajak, woeee...! bayar pajak pelabuhan."


Mendengar teriak-teriak dari arah dermaga, Eden membuka pintu kamar Phinisi yang ia jaga. Dari dalam kapal, Eden melihat ada beberapa orang preman yang lagi berkeliaran di dermaga. Preman-preman itu bukan hanya memegang batu, ketapel, kayu, tapi juga parang.


"Uang pajak pelabuhan, woeee....! harus bayar kalau berlabuh disini. Ini area kami, area Naga histeris, dalam kawasan perlindungan kami."


Batu-batu kecil semisal kerikil terdengar lagi bersuara krecek di atas kapal Phinisi. Sepertinya preman-preman itu melempari kapal dengan yang mereka pegang.


"Bayaha ini !." Kata Eden.


Ini akan menjadi semacam ancaman baginya bila Eden tidak keluar menemui mereka. Dalam keadaan gugup, takut, dia mencoba mengambil sesuatu yang bisa diberikan kepada preman-preman itu.


Sebelum Eden dan orang lain yang sama sepertinya menjaga kapal keluar, terlebih dahulu suaranya yang sudah sampai ketelinga preman-preman itu.


"Tolong jangan lempar kami. Kami akan keluar untuk membayar uang pajak. Tapi sebelumnya jangan lempari lagi kapal ini."


Perwakilan dari beberapa orang penjaga kapal adalah Eden. Dia berbicara dengan sungguh berani walau gugup. Preman-preman ini, semua memegang parang. Bagaimana mau melawan jika mati sudah didepan mata.


Eden mencoba menbicarakan keinginannya pada preman itu. Mencari solusi untuk mempertahankan kehidupan.


"Mati ini kalau begini" Eden menghela nafas panjang. Dia ketakutan namun karena bukan hanya dia yang ada di pelabuhan, akhirnya dia tetap menemui preman- preman itu.


"Kami disini sama dengan kalian, kami adalah pendatang yang datang untuk mencari nafkah. Kalian meminta uang pajak pelabuhan, berapa ?. Malam ini, kami semua mungkin tidak bisa membayarnya tapi ada hari esok. Datanglah lagi besok malam untuk memintanya agar kami persiapkan." Eden meminta kebaikan hati para preman itu.

__ADS_1


Ada yang botak, yang besar badan, yang kriting lagi bertato tidak ingin mendengarkan negoisasi, mereka lalu melempari lagi kapal-kapal yang ada dipelabuhan. "Bukan besok malam, shubuh ini, kalian harus bayar jika tidak bukan hanya kapal kalian yang hancur tapi kalian juga akan masuk rumah sakit." Seorang preman wanita yang agak ganas dari preman laki-laki menyampaikan demikian.


"Memangnya kalau boleh aku tahu, uang pajak pelabuhan itu berapa ?." Eden menanyakan kejelasannya.


"Berapa sih uang pajak yang harus mereka bayar Bro ?." Sahut si kriting sambil bertanya pada temannya yang lain.


Dasar preman kalau urusan uang, mereka berlomba untuk menjawab. Urusan bangunin orang tidur biar shubuh tidak kepikiran, tidak boleh bangunin orang yang masih tidur, kita berdosa. Tidak tuh pikiran begitu.


Lagi-lagi wanita tadi yang menjawab, "untuk uang pajak, perhari kapal-kapal disini bayarnya lima belas ribu. Ada berapa kapal yang tidak bayar pajak selama ini, sudah mau tiga bulan, tidak ada pajaknya masuk. Karena bertepatan kami membangunkan kalian shubuh maka bayarnya tinggal sepuluh ribu. Untuk kapal yang namanya Samudera, pemiliknya Arasyid sudah tiga bulan menunggak."


mendengar itu, Eden nampak bingung. Dia berpikir, pantasan saja pemilik kapal menyuruhnya menjaga kapalnya padahal ada masalah yang belum dia selesaikan. Kalau begitu sama halnya Eden yang disuruh untuk membayarnya.


"Atas nama Arasyid silahkan maju kedepan, jangan menunggu jemputan supaya parang yang kami pegang tidak melayang dan mendarat dileher kalian."


Eden bertambah gemetaran ketika mendengar lagi kata parang yang akan mendarat di leher.


"Gimana ini ?." Tanya penjaga kapal yang lain pada Eden.


Merek semua kebingungan dan memprihatinkan.


Daripada dia memakai nama Arasyid sebaiknya dia memakai namanya. Tidak mungkin sekali nama yang diberikan oleh pemilik kapal diakuinya di depan para preman ini. Sama halnya, dia akan mengantarkan nyawanya. Jika saja dia punya uang, bisa saja Eden membayarnya. Dia bahkan baru menerima gaji ketiga kalinya, mana cukup untuk membayar pajak yang sudah nunggak selama berapa bulan itu.


"Atas nama Arasyid silahkan maju, sekali lagi kami tekankan untuk maju kedepan. Jangan menguji kesabaran kami, nyawa bagi kami adalah penjara."


Dalam keadaan terpaksa, Eden maju kedepan untuk menjelaskan kepada preman-preman itu. Dengan wajah yang ketakutan, badan gemetaran, dia mencoba berbicara bahwa ia hanya di percayakan untuk menjaga kapal-kapal Phinisi milik Arasyid.


"Oh, Arasyid itu bukan kamu. Kami sudah beberapa kali bertemu dengannya. Dia sudah tua, kamu lebih muda. O..., kamu mau membohongi kami !."


"Tidak, aku tidak berani berbohong. Aku memang bukan Arasyid. Aku hanya bekerja untuknya menjaga kapal-kapalnya. Kalau kalian memang mau pajak, aku punya uang tapi cuma segini."


"Uang apaan. Uangmu tidak cukup. Suruh orangnya datang ke dermaga sekarang kalau tidak, bukan hanya batu-batu kerikil yang akan berserakan di kapalnya tapi mungkin dia akan menangisi kapal-kapalnya itu. Kami akan membakarnya, seperti tahun kemarin kapal-kapal di dermaga ini banyak yang terbakar. Itu kami yang lakukan, penjara bagi kami semua sudah biasa, Bro !"_


"Kamu mau panggil Arasyid kesini sekarang atau parang ini akan melukaimu."

__ADS_1


Jantung Eden dan semua penjaga kapal lain terasa mau copot. Preman-preman itu sangat ganas, mereka bahkan tidak takut dengan penjara.


Didalam masalah besar itu untung saja seseorang yang mungkin adalah petugas perhubungan tidak sengaja mendengar suara berisik sehingga mendatangi tempat kejadian dimana kami di kumpulkan.


"Apa yang terjadi ?." Kata orang itu.


Haha...!. Preman yang tadi kelihatan sangar, jago, eh pas di tanya, semua kelihatan membaik, lembek, dan berpura-pura pada kami.


"Tidak Pak !. Mereka keluarga kami. Jawab si tato salah satu dari preman itu.


"Sebaiknya kalian pulang ! jangan buat masalah disini. Ini bukan tempat cari uang, mereka hanya mencari nafkah sama seperti kalian. Kalau kalian mau cari uang jangan malak anak-anak pelabuhan. Mereka seharusnya kalian jaga. Aku tahu, kalian adalah preman di area sini kan ? kalian bisa beraktifitas disini karena ada perintah ilegal yang kalian pegang. Aku tahu siapa atasan kalian, jadi sebelum aku laporkan kalian sebaiknya kalian bubar"_


"Satu lagi, selama aku bertugas disini. Aku tidak ingin mendengar suara-suara seperti tadi ya. Jangankan suara-suara tadi bahkan jika kalian mau masuk kepelabuhan ini, kalian harus izin padaku. Beri tahu atasan kalian bahwa aku melarang kalian masuk ke pelabuhan dengan membuat keributan. Ada cara-cara halus untuk meminta uang, walau kalian preman, coba masuk ke kapal dengan baik-baik baru tanya pemilik kapal bahwa kalian ingin uang. Pasti dikasi itu, daripada minta pajak gelap, kan tidak bagus itu."


Kami terselamatkan dengan kedatangan petugas itu. Jika bukan karena dia, tidak tahu, akan seperti apa nasib kami di dermaga.


Eden baru terlihat membaik, dia merasa bersyukur sekali sebab preman kacung itu sudah pergi.


"Pak, terimakasih atas bantuannya !."


"Tidak perlu berterimakasih, keamanan kalian adalah tanggung jawabku. Aku bertugas disini untuk memantau keadaan dermaga. Disini, memang kalau malam hari, biasa preman-preman itu datang meminta uang dengan alasan pajak. Preman-preman itu tinggal tidak jauh dari dermaga ini. Pekerjaan mereka setiap hari disini sebagai kuli dermaga namun saat mereka bekerja, penampilan mereka berubah. Tato, rambut panjang dan penampilan lainnya sebenarnya palsu. Coba saja besok lihat baik-baik, kalian akan melihat mereka disini bekerja"_


"Kalau begitu, aku pamit dulu. Kalian selamat bertugas dan selalu hati-hati ya."


Eden kembali ke kapal yang dia jaga. Sambil berjalan, dia tidak habis berpikir akan kondisi yang sebenarnya hidup di Makassar. Apa penyebab hingga membuat mereka melakukan itu.


Apakah Resky tahu secara garis besar tentang kehidupan preman-preman yang ada di kota Makassar khususnya di pelabuhan ini. Kan, rumahnya Resky tidak jauh dari sini. Kalau dia tidak tahu, tidak mungkin waktu itu dia mengatakan padaku bahwa kehidupan di Kota itu begitu kejamnya.


"Sudahlah !." Imbuhnya sendiri.


Ini bagian dari konstelasi hidup. Eden mengambil timba untuk menyiram dek kapal. Ada baiknya, jika Eden berteman dengan preman-preman itu agar keamanannya terjaga selama berada di pelabuhan Bugis Makassar.


Apapun itu, Eden ingin aman. Berteman pada siapapun tidaklah dilarang asal diri tetap menjadi manusia yang baik.

__ADS_1


Bahkan cinta yang hilang bisa kembali jika kita baik pada sesama.


__ADS_2