Perahu Apung

Perahu Apung
45


__ADS_3

...Stop at the wedding...


...****************...


Terpampang jelas sebuah spanduk dipinggir jalan mengarah ke MTC. Spanduk yang bertuliskan selamat menempuh hidup baru itu ternyata menarik perhatian Eden.


Dia menyuruh Rindu agar mobil ditepikan dipinggir jalan. Pernikahan yang tampak meriah itu ternyata bukan hanya mengundang perhatian Eden tapi setiap pengguna jalan yang lewat pasti akan singgah di pesta itu.


Sesaat setelah Eden dan Rindu telah memberhentikan mobilnya, mereka masuk ke lingkungan pesta. Didalam lingkungan itu, mereka disapa bahkan di jamu.


Ada yang menarik dari pernikahan itu. Ketika melihat pengantin wanitanya Eden sampai meneteskan air mata begitupun Rindu.


Pengantin wanitanya adalah penyandang disabilitas yang mengalami keterbatasan mental.


Melihat pasangan pengantin yang jauh dari keserasian itu, Rindu bertanya kepada tamu yang ada didekatnya.


"Mbak, aku boleh bertanya ?."


"Boleh, mau tanya apa ?." Jawab tamu itu.


"Apakah pernikahan ini memang sudah dijodohkan atau seperti apa ?."


"Aku juga kurang tahu Mbak. Yang aku tahu, kedua mempelai tidak saling mengenal. Mereka bertemu baru sekali dan langsung menikah. Cowoknya anak pelaut asli Banteng sedangkan wanitanya asli Makassar ini. Wanitanya tinggal tidak jauh dari monumen Mandala dekat sini. Wanitanya tidak normal tapi ya namanya jodoh pasti tidak akan kemana. Biasanya laki-laki di zaman sekarang kalau bertemu dengan cewek, pertama yang dilihatnya wajah, postur tubuh, tingginya dan kata-katanya. Paling nomor satu itu wajahnya"_


"Kalau wajahnya cantik maka semua kategori ukuran yang menarik mata laki-laki dengan sendirinya dikesampingkan. Tapi laki-laki yang menikah malam ini, dia lain juga. Menurut sebagian tamu yang hadir malam ini. Pernikahan mereka di motori karena rasa kekaguman pengantin laki-laki pada pengantin wanita. Sekilas cerita, waktu itu, pengantin laki-laki nya datang ke Makassar membawa keluarganya jalan-jalan. Disebuah tempat kecil pinggir jalan yang tidak jauh dari kampus Unismuh. Dia melihat seorang wanita cacat fisik. Kakinya tidak ada satu sedang menjual ikat rambut. Laki-laki itu lalu datang menghampirinya, dia menanyakan alasannya mengapa dia menjadi penjual sementara keadaannya tidak memungkinkan"_

__ADS_1


"Mungkin karena jawaban wanita itu menyentuh hati laki-laki itu, sampai akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk menikahinya."


"Apa jawaban wanita itu ?." Sepertinya Rindu penasaran dengan kisah pasangan hari ini.


Karena keasyikan mendengar cerita itu, Rindu sampai lupa bahwa Eden sudah tidak ada didekatnya. Rindu baru sadar setelah melihat Eden naik ke panggung pesta memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Keluarga kedua mempelai khususnya wanita ternyata sudah mengenal Eden. Makanya ketika Eden naik ke panggung memberikan doa selamat, Eden diberikan Mike. Keluarga mempelai berharap, Eden bisa mengucapkan satu kata dua kata doa untuk kedua mempelai termasuk undangan yang hadir. Terdengar jelas ungkapan Eden ketika dia berbicara kepada kedua mempelai, "semoga kalian hidup bahagia dunia akhirat, para hadirin juga bahagia, aku juga ingin secepatnya menikah."


Tamu undangan dan semua orang mengaminkannya "Aamiin ya rabbal alamin !."


Rindu begitu bahagia setelah mendengar Eden berbicara demikian didepan umum. Rindu tidak pernah menyangka bahwa orang yang ia cintai yang dalam keadaannya belum membaik bisa berkeinginan untuk menikah.


Keharuan Rindu bukan hanya diakibatkan oleh kondisi mempelai wanita yang menurutnya pernikahan mereka betul-betul adalah kehendak Tuhan tapi juga haru ketika mendengar Eden, laki-laki yang ai cintai masih memikirkan kapan dirinya akan menikah.


Semua tamu yang juga mendengar harapan itu, mereka bertepuk tangan.


"Mengapa Eden tidak mau turun dari panggung pengantin habis memberikan doa, ucapan selamat. Dia malah duduk dikursi mempelai laki-laki ?." Ucap seseorang yang tidak jauh dari keberadaan Rindu.


Setelah mendengar ucapan itu. Secepatnya Rindu naik ke panggung untuk memanggil Eden turun dari panggung pengantin.


"Eden, turun yuk !. Bukan disini tempatmu duduk. Kalau mau duduk dikursi, jangan disini. Kursi undangan yang telah disiapkan untuk para tamu ada di depan panggung pengantin, disana yang banyak orang duduk. Disitu tempat duduknya kedua mempelai. Ayok Eden !."


"Tidak mau. Aku mau duduk disini !. Katamu, kita akan menikah. Sekarang saja menikahnya, kalau nunggu lagi besok-besok atau lusa nanti tidak jadi menikah lagi itu."


"Kamu jangan begini dong !. Malu dilihatin orang banyak. Eden ikut aku turun ya !."

__ADS_1


"Tidak mau. Kamu pernah bilang ke aku, katamu mau menikah. Sekarang saja nikahnya, aku mau menikah sekarang."


Kejadian ini sungguh membuat semua tamu undangan tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan ada yang mencibirnya sedemikian rupa. Ada juga yang bilang, "katanya pengusaha tapi kelakuannya seperti anak-anak. Masa minta nikah ditempat beginian, orang menikah itu harus melamar dulu apalagi yang ingin dinikahi adalah anak orang terpandang."


Karena Rindu tidak mendengar cibiran-cibiran itu jadi tidak terlalu penting. Rindu akhirnya bisa mengajak Eden turun dari panggung pengantin.


"Eden, gitu dong. Nanti habis dari sini, kita kerumahmu dulu. Setelah itu, kita kerumah ku untuk bertemu Daeng ku, bertemu Mamah, untuk membicarakan keinginan kita. Kalau kamu sudah siap menikah, kita akan menikah secepatnya"_


"Aku sangat bahagia mendengar mu berbicara seperti tadi. Sebenarnya jika bukan karena musibah yang menimpamu, kita mungkin sudah selesai bertunangan dan pasti sudah menentukan hari pernikahan kita berdua. Aku ingin sekali menikah Eden."


Hanya ada kata iya, uya, yes, siap, yang keluar dari mulutnya Eden.


Eden hanya mampu mengingat peristiwa yang menewaskan Nenek yang ia tabrak dengan kejadian-kejadian pahit yang menimpanya di masa lalu.


"Tadi, kita mau kerumah ku kan ? aku mau bertemu dengan pihak keluarga korban yang meninggal karenaku. Tadi itu, aku hanya main-main dipanggung pengantin mengatakan mau menikah. Aku tidak tahu siapa wanita yang mencintaiku, di pesta tadi, aku nangis karena melihat mempelai wanitanya tidak normal. Tapi laki-lakinya merasakan kebahagiaan yang cukup dalam. Dari wajahnya, aku melihat seakan tidak ada masalah menikahi wanita cacat itu. Apakah cinta memang begitu ya. Kamu Rindukan ?."


"Kamu bilang hanya main-main mengatakan ingin menikah ?. Tapi untuk apa kamu mengungkapkan keinginanmu di depan umum jika niatmu hanya main-main ?. Kamu ini masih sakit atau sudah sembuh sih ?. Senang sekali membuatku sakit hati, iya aku Rindu. Kamu akan bilang lagi kalau kamu tidak pernah mendengar namaku."


"Aku lupa dengan apa yang tadi aku katakan. Aku hanya ingat kalau tadi kita berada di pesta pernikahan. Kalau kamu Rindu, terus selama ini, siapa yang menemaniku dirumahku ?. Sepertinya wajahnya mirip kamu."


"Eden, ini aku, Rindu !. Wanita yang selama ini mencintaimu, yang selalu menjagamu, yang tidak ingin kamu seperti ini. Sumpah deh, semakin lama kamu begini maka semakin lama aku akan tersakiti dengan sikapmu ini. Setidaknya ingat wajahku kalau kamu tidak mengingat namaku. Aku kira, kamu sudah membaik karena musibah yang menimpamu dapat kamu ingat sementara aku yang selalu menemanimu setiap harinya, kamu lupa siapa aku."


"Aku sudah bilang padamu, bantu aku agar aku mengingat semuanya termasuk dirimu, wajahmu, namamu, kalau bisa namamu ditulis di selembar kertas agar aku mudah mengingatnya. Nama itu akan aku bawa-bawa kemanapun kita pergi. Saat aku lupa, aku bisa mengambilnya lagi kan ?."


Disepanjang jalan hingga mereka sampai dirumah. Rindu dibuat pusing dengan kelakuan kekasihnya itu. Mau pergi tapi cinta, mau meninggalkannya juga sayang.

__ADS_1


Kasihan Rindu harus menerima kenyataan sesakit ini. Dia harus pandai-pandai menahan emosi akibat ulahnya Eden, cepatlah sembuh agar Rindu bisa tersenyum.


__ADS_2