
...Bermain Petak Umpet...
...****************...
Kepulangan kami dari pulau sebelah membawa kabar duka bagi keluarga dikampungku. Dalam goresan tinta hidup yang malang menerpa kekokohan jiwa yang damai.
Phinisi sedari tadi telah berlayar, mengapung, merindukan tempat-tempat yang pernah disinggahi. Semakin larut, kunang-kunang laut yang indah disana menakjubkan mata ketika dipandangi.
Aku melihat semua penumpang tidur dengan nyaman karena laut tenang, mereka menikmati perjalanan malam ini. Kulihat Rindu masih duduk, dia sama sekali belum mengantuk. Bersambut irama, hanya aku dan dia. Dua teman wanitanya sudah terlelap mengikuti irama waktu yang sejuk diatas kapal.
Sementara empat orang laki-laki andalannya ada dibagian belakang kapal, mereka masih menikmati kopy.
Bermain petak umpet didalam kapal adalah hal yang mustahil. Itulah pekerjaanku sekarang, aku mendatangi Rindu dengan memakai sarung, membalut diriku layaknya orang kedinginan. Ketika aku menghampirinya, dia sempat kaget melihatku.
"Eden, ada apa ? kamu kenapa harus pakai sarung kesini ?."
"Jangan ribut, aku kesini cuma ingin bersamamu. Bukankah kamu membutuhkan teman curhat untuk melewati laut ini."
"Iya, tapi bukan harus seperti itu. Lagian siapa juga yang akan melihatmu. Ini sudah malam, orang-orang sudah tertidur."
"Menurutmu gitu. Coba lihat kebelakang kapal, kamu akan melihat teman laki-lakimu yang empat orang belum tidur. Mereka masih santai menikmati kopy ditambah dengan sebatang rokok, mereka tidak akan tidur sampai kapal bersandar di dermaga nanti."
"Ya, sudah kalau gitu. Kamu temanin saja aku disini ya. Aku masih memikirkan nasib mempelai perempuan tadi. Gimana ya dengan perasaannya ? pasti hancur malam ini. Eden, jodoh memang tidak pernah kita tahu, kapan dia akan datang ? aku berpikir dan cuma berharap jika dikemudian hari, kamu adalah jodohku maka jangan tinggalkan aku di malam pengantin tapi tinggalkanlah aku saat aku sudah tidak ada didunia ini."
"Kamu kepikiran terlalu jauh, Rindu. Jika itu yang ada dipikiranmu sekarang berarti bukan aku yang akan meninggalkanmu tapi kamu yang akan meninggalkanku."
...****************...
__ADS_1
Aku tidak rela jika kehilangannya, aku akan mengorbankan segala kemampuanku agar selalu bisa bersamanya. Jika nyawa ini bisa ditukar saat dia terkena penyakit atau semisalnya, nyawaku yang akan menggantikannya. Biarkan dia selamat, biarkan dia melanjutkan kehidupan, dia masih harus memberikan kebahagiaan kepada kedua orang tuanya. Bukan hanya padaku, dia memberi kebahagiaan tapi pada orang-orang yang mengelilinginya.
Aku mulai mengantuk, mataku sudah agak berat.
"Rindu, aku mengantuk. Apa boleh jika aku tidur di sampingmu sekedar ingin melukis kenangan untuk hari tua nanti."
"Boleh dong ! cuma tidurkan ? tidak ada yang lain-lainkan, Eden ?."
"Tidak ada Rindu. Jangan merasa ketakutan atau berpikir lain terhadapku. Kamu tahu tidak Rindu bahwa cinta itu sebenarnya adalah saling menjaga bukan saling memuaskan. Cinta itu tidak harus sayang-sayangan, menurutku cinta seperti itu bukanlah sebuah ketulusan yang dapat diterima atau bisa dipercaya. Tidak ada cinta yang memberi dengan sepenuhnya sebelum menikah. Jika ada maka bicaralah untuk mengingatkan agar tidak melakukannya. Melakukannya maka cinta seperti itu tidak akan memberikan kenikmatan pada malam pertama pengantin."
Dia menatapku dikegelapan malam saat siang telah bersembunyi, saat gelap menjadi cahaya, dia memegang ubun-ubunku, lalu dengan suara kecilnya berbisik, "Eden, biarkan aku disini, disampingmu, tidurlah, Eden. Aku akan menjadi saksi bahwa ada perasaan yang begitu besar mencintaiku.
Hanya dalam hitungan menit, aku lelap disampingnya. Hanya dalam hitungan menit kapal Phinisi miliknya telah bersandar di dermaga pas jam 11 malam.
Rindu membangunkan ku dengan sekali sentuhan.
Saat aku membuka mataku yang masih ingin tidur, aku sudah tidak melihat Rindu disampingku. Dia turun lebih dahulu menungguku diatas dermaga.
Aku turun, di dermaga, Rindu sudah tidak aku lihat. Pikirku dia sudah jalan duluan menuju rumah. Belum jauh kakiku melangkah, dia mengejutkanku.
"Kamu darimana ? aku tidak melihatmu saat aku berada didermaga tadi ?."
"Tadi, Rindu sembunyi dibalik tumpukan semen itu. Sengaja, karena ingin mengageti mu. Ayok kita pulang, Eden !. Aku juga sudah ngantuk dari tadi."
Dia memimpin jalan didepan.
"Cepatan jalannya ! kamu terlalu pelan, Eden."
__ADS_1
Tangannya kembali meraih tanganku, aku agak khawatir, jangan sampai setan merasuki pikiranku untuk berbuat tidak-tidak padannya. Sementara aku sudah berjanji untuk menjaganya dari perbuatan yang tidak semestinya.
"Rindu, bisa nggak, kalau tanganku kamu lepaskan !. Aku takut Rindu, aku takut jangan sampai tidak bisa menahan hasrat ku padamu."
"Mampukah kamu melakukannya padaku, Eden sementara semua orang sudah tidur. Kondisi sekarang tenang, mungkin kamu akan berhasil jika ingin melakukannya padaku."
Ini bagaimana, aku malah ditantang untuk melakukannya. Tidak, ini tidak boleh terjadi, ini hanyalah pengaruh malam, pengaruh gelap, pengaruh tidak ada orang hingga Rindu salah berbicara padaku.
Tapi aku penasaran dengan caranya berbicara seperti itu padaku. Aku mencoba untuk mengklarifikasi pernyataannya barusan padaku.
"Rindu, apakah kamu tidak salah berbicara barusan ?."
"Tidak !. Aku tidak salah, Eden. Bukankah dari dulu, sejak kamu mencintaiku dan mengutarakan perasaanmu padaku, kamu sudah berkeinginan untuk mendapat apa yang aku miliki. Bukankah bagus jika malam gelap hanya kita berdua, coba lihat bahkan dua teman wanitaku tidak ada disini. Kamu ingin melakukannya atau tidak, Eden. Kesempatanmu cuma malam ini, dimalam-malam yang lain, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa lagi dariku. Aku juga menginginkannya, Eden, hanya aku wanita. Wanita itu pemalu, mereka tidak akan mengatakan apa yang mereka ingin dari pasangnya kalau bukan pasangannya duluan yang mengatakannya. Gimana ? mau atau tidak, Eden ?!."
Wah... mendengar itu, rasa ngantuk ku hilang seketika. Kami berhenti jalan, saling memandang untuk sekedar merasai, melihat untuk suatu alasan yang masing-masing kami inginkan.
Wajahnya semakin dekat aku pandangi, semakin timbul kemauan itu. Tapi sekali lagi, waras ku adalah menjaganya bukan untuk melakukan kejutan sesaat padanya.
"Rindu, jangan ! aku tidak ingin wanita yang aku cintai rusak hanya karena hasrat. Kita memang saling mencinta tapi kita belum tentu tahu apakah kita jodoh atau tidak. Andai aku sudah tahu bahwa kamu adalah jodohku maka malam ini, kita berdua pasti akan bermain petak umpet."
"Selamat !, katanya padaku. Kamu telah lulus dari ujian ku. Aku hanya mencoba seberapa besar cintamu untukku. Ternyata aku tidak salah memilihmu, kamu adalah Tipe laki-laki yang dicari oleh Ibu dan Ayahku. Jika kamu tidak keberatan, aku ingin mengenalkan mu pada keluargaku."
"Berarti kamu hanya ingin mencoba ku dengan kata-kata berlebihan tadi, Rindu ?."
"Bukan hanya menguji mu melainkan kuingin melihat apakah hatiku benar memilihmu atau tidak. Alhamdulillah benar, aku tidak salah memilikimu, Eden."
"Aku ingin agar setelah ini, kita menikah Rindu. Agar selama-lamanya, kita bisa bermain petak umpet.
__ADS_1