
...Three Eden Women Dizzy...
...****************...
Bagaimana tidak pusing kalau tiga wanita sedang berbicara mengungkapkan rasa padanya. Sebagai laki-laki, Eden tidak bisa menentukan pilihan. Untuk saat ini, dia masih memegang cincin yang akan dipasang di jari manisnya Anggun.
Daeng Guru yang merupakan Ayahnya Anggun merasa seakan dipermainkan oleh Eden. Padahal kesuksesan yang diraih Eden selama ini berkat limpahan Ilmu dari Daeng Guru. Eden menjadi salah satu pendatang yang sukses di perantauan karena keahliannya membuat Phinisi.
Para tamu tidak lagi menikmati lantunan pantun, hidangan-hidangan yang berjejer di meja panjang telah menjadi pemandangan mata. Karena bisik-bisik para tamu telah mengusik hari bahagia yang hampir malam itu hingga mengundang Daeng Guru datang, berdiri diantara tiga wanita dan satu laki-laki yang menjadi sorotan bisik-bisik para tamu yang mempertanyakan siapa wanita yang baru saja memberi Eden pakaian lamanya itu. Anggun bukan hanya ingin marah tapi cincin yang masih berada didalam kotaknya yang dia pegang dijatuhkan tepat di bawah kakinya Eden.
"Eden, siapa kedua wanita itu ?" Daeng Guru mempertanyakan kedua wanita yang masing-masing berdiri dihadapannya.
Resky yang sebelum kedatangan Rindu, dia masih terlihat santai, duduk di kursi yang begitu dekat dengan kursi tempat duduknya Eden. Namun, ketika Resky melihat Rindu datang dengan membawa pakaiannya Eden dan mendengarnya berbicara penuh dengan kalimat-kalimat perasaan. Dia berdiri dari tempat duduknya, mengambil posisi yang sama, sejajar dengan Rindu.
Resky tahu dan paham bahwa cintanya kepada Eden lebih dahulu Rindu. Ia baru merasakan perasaan jatuh cinta setelah Eden tidak bersamanya. Makanya, dia tidak ingin apa yang sudah dia ungkapan kepada Eden tidak bermakna apa-apa setelah hadirnya Rindu di acara ini.
__ADS_1
Daeng Guru mempertanyakannya lagi pada Eden, "Eden, siapa kedua wanita itu ?. Jawab, jangan bengong begitu saja, kamu ingin mengecewakanku atau kamu ingin anakku Anggun menangis karenamu. Anakku, begitu mencintaimu jadi jangan bikin dia patah hati, jika kedua wanita itu adalah masa lalumu, jangan biarkan mereka berdua masuk lagi kedalam hidupmu. Kamu sudah punya aku, punya Anggun dan punya keluargaku. Tidak baik Nak sebagai seorang laki-laki kembali ke masa yang suram"_
"Kedua wanita itu telah suram, mereka telah lama berlalu, mereka pergi atau memang bukanlah takdir untuk hidup bersama mereka. Sekarang pergi ! temui Anggun, dia memang pendiam tapi sekali dia marah maka kamu akan ditendang. Daeng kira, kamu tahu bagaimana sifatnya Anggun selama ini"_
Eden baru menyadari bahwa dia sedang ditegur, dinasehati oleh Daeng Guru. Ketika hendak memalingkan badannya dan ingin berjalan melewati banyak tamu yang dari tadi menyaksikan kehebohan itu. Resky menarik tangannya dan berkata, "Eden, kurang apa aku ini. Kamu boleh saja meninggalkanku disini pergi menemui calonmu tapi setidaknya jawab pertanyaan yang dulu pernah kamu katakan padaku yang tadi aku mengulangnya ditelingamu."
Hal sama juga terjadi, kali ini Rindu yang mengingatkan Eden.
"Kamu sudah lupa ? saat dulu, kita masih dikampung mu, malam itu, aku masih mengingatnya dengan jelas. Malam Senin ditemani ombak-ombak kecil dibawah langit Karumpa, kamu mengutarakan separuh rasa yang ada dalam diriku yang tidak bisa aku katakan padamu. Kamu yang membukakannya, kamu yang memberiku semangat, kamu yang dengan perhatian mu, kamu yang dengan rasa malu-malumu, berbicara bahwa kamu mencintaiku"_
"Apakah kamu telah lupa dengan ungkapan indah yang malam itu bukan hanya tulang-tulangku yang bersembunyi dari kulit tatapan matamu tapi segala gerakan tubuhku bersembunyi diantara kisah yang mulai membuka kain-kain gelap di malam itu. Aku tidak bisa menjawab, aku gugup, aku masih mengingat serinci mungkin, aku berdiri dari tempat dudukku, aku pamit untuk pulang lebih dahulu. Dengan perasaan yang melayang, kemudian aku menjawabmu bahwa aku juga mencintaimu"_
"Sampai pada akhirnya, aku putuskan untuk kembali ke Makassar. Membawa harapan kita pada keluarga, bahkan saat aku hendak kembali ke kampungmu dengan Phinisiku, tiba-tiba saja hambatan mendatangiku. Semuanya, aku yakin, kamu pasti masih mengingatnya Eden termasuk kejadian akhir dari hubungan yang tidak kita kehendaki terjadi, berpisah di dermaga_"
"Kejadian di dermaga, aku yang salah ! aku salah karena terlalu cepat mengambil kesimpulan sampai aku menyuruhmu pergi. Beberapa hari setelah kejadian itu, aku kembali datang ke dermaga hanya untuk mencari wanita yang waktu itu mengaku telah kamu nodai. Aku bertemu dengannya, saat itulah aku baru tahu dan sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan yang tidak pantas kamu maafkan. Wanita itu mengatakan padaku, semua perkataan dan pengakuannya waktu itu bohong. Wanita itu hanya terobsesi oleh mantan pacarnya yang mirip denganmu"_
__ADS_1
"Setelah aku mendengar penjelasannya, aku mencarimu. Aku bertanya kepada setiap kuli yang ada di dermaga, aku bertanya kepada setiap penjual yang ada dipinggir jalan. Mereka memberiku alamatmu, mereka menunjukkan ku jalan untuk menemui tapi apa yang aku rasakan. Aku tidak kuat untuk bertemu denganmu, aku malu, aku salah !. Hingga aku putuskan untuk tidak menemuimu. Namun sekali lagi Eden, sejak saat itu, aku menyadari bahwa keputusan yang telah aku ambil ternyata salah. Pakaianmu yang aku berikan dihari dimana kamu ingin melangsungkan pertunanganmu dengan Anggun adalah hari dimana aku datang untuk menjemputmu"_
"Cinta, kasih, sayang kita, masih utuh Eden. Aku tersiksa oleh penyesalan yang tidak memberiku waktu untuk mengatakan padamu, maafkan aku !. Kamu tentu bertanya-tanya, mengapa sampai saat ini pakaianmu masih aku simpan. Alasannya adalah hatimu dan hatiku masih terikat satu dengan yang lain. Kamu tidak perlu menjawab, kamu tidak perlu berbicara iya, kamu tidak perlu menyampaikan segala beban didalam dirimu, cukup menjadi laki-laki yang dulu aku kenal dikampungmu. Dengan begitu, aku akan paham bahwa Eden yang hari ini ingin bertunangan bukanlah Eden yang dulu aku kenal. Melainkan Eden yang lain, laki-laki kaya yang banyak di inginkan oleh wanita Kota. Eden yang dulu aku kenal adalah pemuda pesisir yang setiap hari selalu menemaniku kesekolah, yang setiap hari selalu memujiku"_
"Bahkan pujian-pujian nya masih melekat di telingaku, masih ingatkah dulu ketika kamu membopongku. Aku yakin, kamu tidak akan lupa sebab disanalah segalanya dimulai. Disanalah, aku mulai akrab dengannya, disanalah aku mulai melihat wajah seorang laki-laki yang begitu tulus memberiku pertolongan saat kakiku merasa lelah"_
"Eden, jika kamu ingin pergi menemui Anggun, pergilah ! tapi jangan lupa, disini aku berdiri untuk menunggumu."
Resky pun menyambung, "Jangan lupa Eden, disini aku mengharapkanmu untuk kembali !."
Semua tamu undangan dibuat ka'o oleh pengakuan kedua wanita cantik itu. Eden bukan terlihat bahagia mendengar Resky, Rindu, mengutarakan perasaannya yang kesekian nya, itupun dihadapan orang banyak, sesuatu telah terjadi tanpa ia duga.
Yang benar saja. Daeng Guru yang nampak emosi langsung menampar Eden. Apa yang Daeng Guru tanyakan dan ia bahasakan seakan tidak di dengar oleh Eden. Keluarga Anggun bukan hanya menahan malu tapi sedih yang tidak berkesudahan.
"Kamu, memang tidak tahu terimakasih ! aku sudah menjadikanmu seperti sekarang ini. Setelah kamu menjadi orang, kamu ingin menghianatiku dan tidak ingin memilih Anggun anakku sebagai masa depanmu. Mereka dimana dulu sewaktu kamu berada dalam kesusahan. Hanya aku, Anggun dan keluargaku yang memberimu perhatian lebih. Katakan padaku sekarang, apakah kamu tidak ingin memilih Anggun atau kamu ingin membatalkan pertunangan ini, Eden ?." Tegas Daeng Guru padanya.
__ADS_1
Namun, sekali lagi hanya tatapan mata yang kosong yang bisa berbicara menjawab pertanyaan Daeng Guru. Eden, duduk diantara dua sujud, sepertinya ia mengalami trirasa yang mengguncang jiwanya.
Kalau aku pilih saja wanita yang paling baik...!