
...Grebek Asah...
...************...
Mungkin tidak terlalu serius dengan bentuk cinta yang terjadi karena keseriusan hanyalah miliki hati, rasa yang dimabuk kecupan manis.
Berpacu dengan ombak-ombak kecil yang menabrak dasar kapal. Eden semakin justru menggila dengan kecepatan waktu yang bermain di alam yang tak sederhana itu.
"Cepatlah sayang !" Resky juga sebaliknya.
Dalam dekapan-dekapan tangan halus masing-masing, tiba-tiba saja mesin Phinisi mati satu. Kegiatan peraduan kasih yang mereka nikmati dihentikan.
Lalu, Eden keluar ! Eden ingin tahu alasan apa hingga gondrong mematikan satu mesinnya. Belum sempat ia tanyakan, ia melihat segunung hijau, tanah rata dan berbagai tumbuhan lain, ada didepan kapalnya. Ada hal yang serupa, yang sepertinya masih mengganggu pikiran Resky. Sampai pada puncak klimaksnya, Resky menempatkan dirinya sebelum benar-benar Eden merasakan setiap helaan nafasnya adalah milik suaminya itu.
Bersama Resky, Eden telah mencatatkan peristiwa penting dalam hidupnya. Wajahnya berseri ketika segalanya sudah ia dapatkan. Begitu juga dengan Resky, kebahagiaan yang hampir meluap dihatinya tak bisa ia ungkapkan dengan sebuah kata-kata. Tak ada kesenjangan, tak ada lagi aura amarah yang terlihat diwajah mereka berdua. Yang ada, hanyalah senyuman memenuhi ruangakan kamar dimana mereka beradu, berpacu layaknya Phinisi menembus ombak dikulit laut.
"Apakah begini nikmat dari sebuah pernikahan ?." Tanya Eden pada Resky yang kini sudah menjadi istrinya.
Hanya ada kecupan kecil menempel di dahinya Eden. Lalu sebuah pertanyaan yang hampir sama, juga dilontarkan kepada Eden.
"Apakah kamu merasa senang ? Jika kenikmatan ini, kamu pelihara untuk selamanya maka bukan tidak mungkin, kamu akan mendapatkan yang lebih dariku. Kenikmatan dalam pernikahan itu, wahai suamiku tak bisa diucapkan dengan hanya sebuah ungkapan kecil, tak hanya digambarkan dengan sebuah perasaan, tapi seyogyanya kenikmatan dalam pernikahan adalah suatu bentuk sikap luar biasa yang tak bisa aku jawab"
"Eden, apapun yang sudah kita lakukan, kita melakukan nya atas dasar cinta kan ?."
__ADS_1
"Ky, tidak harus kamu bertanya seperti itu padaku. Aku sudah menjadi suamimu, apakah masih ada keraguan dalam hatimu ? Atau mungkin kamu tak percaya kepadaku bahwa aku bisa membahagiakanmu ?."
"Bukan itu yang aku maksudkan. Aku hanya ingin yang kita tanam ini punya hasil yang bisa melanjutkan kehidupan kita berdua. Bukan kah setiap cinta yang lahir dari keikhlasan selalu tersirat kasih sayang yang besar. Tak perduli, seberapa cepatnya dirimu dalam menanam benih itu. Aku tak meresahkan hubungan kita, yang aku pikirkan, dikemudian hari aku akan menua dan tidak muda lagi, kamu pasti tidak akan memelukku seperti sekarang ini."
"Oh itu, Ky..., Tidak begitu. Aku mencintaimu hingga memutuskan untuk menikah denganmu adalah suatu keharusan yang diatur olehNya. Setiap insan pasti akan menikah ! Tidak perduli dia mau menikah dengan siapa ? Apakah karena rasa cinta atau tidak ! Yang aku tahu saat ini bahwa aku sudah menjadi suamimu. Jikapun dikemudian hari, kamu akan menua dan sudah tak cantik lagi, aku bahkan tetap akan mencintaimu, Ky. Karena sejatinya cinta itu harus bisa mempertahankan apapun dan dalam kondisi bagaimanapun juga"
"Jika kamu tidak begitu yakin maka, sebaiknya jangan menjadi istriku atas dasar cinta yang belum bisa membuatmu percaya. Kamu harus percaya Ky, dimasa mendatang, akulah satu-satunya laki-laki yang bisa menjagamu dalam keadaan yang tidak biasa. Keadaan disaat kita berdua memang sudah menua. Saat itu pula, aku hanya bisa berkata padamu untuk alasan terimakasih ku yang begitu besar sebab sudah menjadi istri yang setia menemani perjalan hidupku."
"Hari ini kamu mengatakan demikian padaku. Tapi mungkin dilain waktu, kamu akan mengatakan hal lain yang mungkin bisa membuatmu tidak yakin padaku."
"Ahm ! Aku paham, pasti kamu masih pengen kan dipeluk ? Sini aku peluk biar meredekan hati dan perasaanmu yang hampir merenggut senyuman di wajahmu itu. Seorang istri yang bertanya demikian banyak dengan menyampaikan kesusahan hatinya, cintanya, dan kegundahannya pada hakikatnya, istri itu begitu sangat mencintai suaminya. Jadi aku sangat beruntung memilikimu Ky sebab, aku bukan hanya menikmati hasil dari pernikahan yang luar biasa ini tapi menjadi suatu tanda, bahwa aku akan hidup diatas cinta"
"Kehidupan ini Ky, dibangun atas dasar cinta. Dibangun dengan penuh harmonis, dibangun dengan rasa kasih sayang. Orang-orang bahkan dirimu sendiri tak percaya kalau cinta bisa membuat kehidupan ini jauh lebih berguna, bermanfaat dan berkongsi dengan sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Kamu malah memikirkan suatu hak yang tak begitu bagus untuk kehidupan masa depan kita. Ayolah sayang ! Jangan menjadikan dirimu menyakiti perasaanmu sendiri dengan mempertanyakan setiap kegaduhan dipikiranmu padaku, kamu bukan bahagia tapi justru semakin tersakiti, Ky dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Cukup yakin seperti kapal Phinisi ini yang sebentar lagi sampai dipelabuhan Karumpa, kamu akan tahu bahwa aku telah membawa istriku bertemu dengan keluargaku"
"Saat keyakinan itu sudah sampai pada batas dimana hatimu telah ridho dan ikhlas menerima keresahan dalam dirimu sendiri, disaat itu pula jiwa dan keadaan dirimu akan mulai memeluk ku lagi tanpa pertanyaan yang bingung itu."
"Bukan ! Tidak begitu sayang ! Aku hanya tidak ingin kemesraan yang melejitkan keadaan ini, layu seperti daun gugur dimusim panas. Diatas laut, apakah kamu tidak merasakan kepanasan ? Aku panas, ditambah lagi keringat dingin akibat pemberian kehangatan pelukanmu semakin menjadikan ku tak ingin melepaskanmu. Masa dalam keadaan candu seperti ini, kamu ingin aku menghindarimu, menjauh dari tempatmu berbaring, duduk, aku tak bisa sayang. Makanya aku bilang, yakinlah padaku sebagaimana aku yakin memelukmu."
"Kamu bisa saja."
"Terus, apa yang harus aku katakan padamu jika, kemesraan ini tidak lah membuktikan dan tidak membuatmu begitu percaya padaku. Bukankah tidak baik pikiran seperti itu menyelisih kebenaran yang sudah sangat jelas ini."
"Iya, iya, aku tidak akan mempertanyakannya lagi padamu. Aku percaya sayang jika kamu pasti akan menjagaku dengan sepenuh hati."
__ADS_1
"Begitu dong !."
Setelah percakapan yang agak menguras energi meyakinkan setiap hati, cinta mereka. Eden pun tak ingin melepaskan dekapannya. Bahkan sekeliling ruangan kamar seakan dipenuhi dengan cita-cita luhur mereka berdua.
"Bahagia itu cukup sederhana ! Tanya Eden pada Resky. "Jika keadaan demikian bisa kita pertahankan sampai masa tua maka, tak perlu ada rasa khawatir diantara kita sayang."
"Aku tak mengkhawatirkan apakah dikemudian hari, cintaku dan cintamu masih seindah ini tapi. Mungkin karena aku tahu bahwa kamu masih mencintai Rindu, satu-satunya alasan mengapa aku masih mempertanyakan hal ini walaupun kita sudah menikah karena aku tidak ingin sebagai istri pertamamu merasakan begitu sakitnya diduakan."
"Jadi ? Apapun yang sudah aku jelaskan padamu barusan sama sekali tidak meyakinkan dirimu padaku ?. Aku kira, sudah kelar ! Tak ada lagi hal yang perlu dibicarakan sayang. Cukup nikmati keadaan ini maka, kita akan bahagia.
Eden terlihat seperti ingin marah dengan pertanyaan yang itu-itu saja keluar dari Resky. Padahal Eden sudah menjelaskan serinci-rincinya bahwa ia tak akan menduakan nya.
Sabar ya Eden !.
Tak begitu lama, kapal pun sudah mau bersandar di pelabuhan Karumpa, tepat dimana dulu Phinisi milik Rindu bersandar.
Eden meninggalkan Resky didalam kamar dengan wajahnya yang agak kecewa. Kecupan hangat melayang tepat di pipi kirinya, "aku keluar dulu sayang ! Aku sudah bilang padamu bahwa yakinlah padaku. Malam nanti dirumahku, kemesraan ini akan berlanjut lagi."
***Pembaca yang terhormat; akhir - akhir ini penulis sibuk dengan pekerjaan dunia nyata sampai lupa kesibukan menulis.
Mohon maaf karena kesibukan itu, penulis selalu telat meng-up.
Mohon dukungannya dengan cara Like, vote, komentar dan beri hadiah ya.
__ADS_1
Semangat pembaca adalah semangat penulis
Hatur nuwun🙏🙏🙏***