
...Mau...
...****...
"Aku mau sayang. Sepagi ini bahkan kamu tidak ingin menyentuhku, yang penting jangan berpikir lain-lain saat menyentuhku. Bahkan sekali sentuhan, kamu ingin dua kali menyentuhku."
Eden menarik nafas dan memandangi Rindu yang berbaring diranjang kamarnya.
"Jangan sayang !. Aku khawatir jangan sampai hilang kendali saat menyentuhmu."
"Deh, jantan sedikit apa ?. Tadi malam di dalam mobil sebelum kita pulang ke rumahku kamu inginkan suasana seperti ini. Aku tidak ingin seperti ini Eden gerah dan keseng-seng. Jika kamu tidak mau menyentuhku maka lamar aku agar kita bisa bersama terus."
"Permintaanmu sebenarnya adalah harapanku. Namun kamu tau sendiri bahwa hubungan kita mungkin akan seperti ini terus. Orang tuamu bukan hanya menolak cintaku padamu tapi tidak ingin aku ada diantara kehidupan keluargamu. Rindu, jangan paksa aku untuk melanggar kesucian cintaku padamu. Yang terjadi tadi malam kurasa adalah hal lumrah." Eden mencoba memberi pandangan yang bijaksana pada kekasihnya agar pagi ini tak ada hal yang terjadi yang dikemudikan hari mungkin bisa mereka sesali.
Hanya amarah emosi yang terjawab dari Rindu ketika justru mendapatkan tanggapan seperti itu dari Eden.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menodai diriku. Aku cuma pengen agar kamu menyentuh luka sengatan setrika itu, bukankah itu wajar. Sebegitu jijiknya kamu padaku hingga menyentuhnya saja kamu tidak mau."
"Apa harus aku sentuh sayang ?. Iya, jangan marah begitu dong !. Semakin kamu marah begitu, wajahmu bukan terlihat jelek tapi sangat dan sangat cantiknya."
Keadaan berbalik arah. Seketika Rindu mendengar pujian itu. Emosinya reda seperti hujan yang berhenti turun membasahi bumi.
"H a a am barusan kamu memujiku supaya aku tidak marah kan. kenapa tidak bilang wajahku seperti kodok kalau lagi marah." Rindu tertawa sambil mencengkram tangan kekasihnya dengan penuh harapan.
"Emang aku pernah bilang gitu padamu ?."
"Bukan hanya pernah tapi keseringan. Kamu tidak ingat waktu ingatanmu masih belum kembali seperti ini. Setiap aku mau marah, kamu akan mengatakan wajahku mirip kodok. Masa wajahku seperti kodok sungguh terlalu."
"Ya namanya juga orang hilang ingatan pasti bicaranya ngaur. Tapi beneran deh, wajahmu mirip kodok kalau lagi mau marah." Cinta mereka di pagi ini bukan hanya disatukan oleh rasa yang terpendam di lubuk hati masing-masing namun jauh menembus tulang ringan yang ada disetiap diri.
"A a a kamu u u... segitunya. Marah nih kalau dibilangi lagi begitu"_ Sambil bercanda, Rindu mengambil bantal guling lalu memukulkannya pada Eden yang duduk disampingnya.
__ADS_1
Dalam asyiknya canda mereka. Gondrong dan Ayu mengetuk pintu kamarnya. Mereka membawa obat dan makanan.
"Pak... obat sama makanannya sudah ada." Panggil Ayu dari balik pintu luar kamarnya.
"Iya, masuk Yu !."
"Makanannya di taruh dimana, Pak ?."
"Taruh saja disitu diatas meja buku itu._ Gondrong, obatnya mana ?."
"Ini Pak. Karyawan apotik Sehat meresepkan salep kolagenase, larutan salin, dan obat pereda nyeri."
"Oh iya, terimakasih gondrong. Kalian boleh keluar !."
"Rindu, obatnya uda ada nih. Ayu saja ya yang oleskan ?."
"Kenapa bukan kamu sendiri yang oleskan. Kalau tidak mau, mana obatnya biar aku oles sendiri. Perubahan mu ini sangat begitu cepat, apa karena kejadian tadi malam ?. Jika aku tau kamu akan begini padaku tidak mau perduli, aku tidak mungkin kabur dari rumah hanya untuk datang kesini menemuimu."
"Wuih, ngakunya tidak mau padahal kamu sendiri yang dari tadi kepengen gitu toh. Jujur saja' apa, ngapain harus membalikkan fakta seakan cuma aku yang mau." Ada sepasang kekasih di zaman dulu yang diceritakan dalam sebuah dongeng remaja yang menolak kenikmatan dunia dan begitu menjaga kesuciannya tapi sekali melihat yang lebih indah diantar senyuman diwajahnya. Kamu tahu apa yang terjadi, Eden ?. Melupakan sementara kesibukan dunia untuk menikmatinya.
"Setelah ini kamu harus nikahi aku. Jangan dulu pergi ke Bali. Jika sudah menikah baru pergi bersama ke Bali, ok."
"Gimana gitu rasanya ?." Sahut Eden.
"Itukan, biar kamu aja penasaran terus gimana dengan aku, sayang ?."
Hmm...emang anak-anak yang pake ngomong enak. Bukan kue kali yang harus dirasain baru tahu oh memang enak gitu.
"Rindu, aku tidak bisa. Ini bahaya sayang, kan aku datang ke Makassar ini niatnya mau lamar kamu. Nah kalau misal dilakukan sekarang, nanti seperti balon besar itu, gimana ?. Sudah pasti deh aku akan dimarahin keluargamu bahkan mungkin aku dibawa lagi ke penjara."
"Edede, kamu takutnya minta ampun. Biasa saja mukanya tidak pake imot-imot gitu. Aku cuma ngetes keberanian mu, mau nggak kalau sekarang. Ya kalau kamu nggak mau sekarang ya uda. Cuma jika nanti kita menikah jangan pernah coba-coba minta padaku ya. Ku blokir jalan masuknya kedunia hayalanmu."
__ADS_1
Seakan menggelikan Eden. Dia malah tertawa dengan rianya sementara Rindu dalam posisinya duduk mengobati lukanya sendiri.
"Kamu ketawa saja semaumu. Jangan pedulikan aku, percaya saja padaku, dan ingat-ingat perkataanku setelah nanti kita menikah malam pertama kita, kamu harus jauh-jauh dariku. Bukan apanya tapi males deh, orang kesakitan diminta oleskan eh malah tidak mau. Kalau aku tahu begini waktu kamu lupa ingatan kemarin mana mungkin aku mau merawatmu. Giliran orang sakit bukan malah dibantuin tapi di cuekin."
"Bukan gitu sayang. Aku pengennya itu abis nikah baru main sentuh-sentuhan. Biar mau sentuh mana aja bisa. Jangankan oleskan obat ini pada lukamu, dioles ditempat lain juga bisa."
"Bercandanya uda ah. Ambil obatnya Den please, aku tidak main-main. Sakit tau !."
"Iya ya... luruskan kakimu tapi agak susah itu karena bagian betis harus diatas supaya lebih gampang olesnya. Bagusnya tuh baring menghadap bawah biar kakinya tidak ke plentir putar-putarnya, biar gampang gitu dioles, Rindu."
Kata baring menghadap bawah itu loh yang membuat Rindu justru tertawa.
"Haha... ih kamu apaan menyuruhku baring menghadap bawah, kamu mau ya ?."
"Siapa ?. Aku mau !. Sorry sayang, nanti saja kalau kita sudah menikah ya. Katanya sakit tapi malah ketawa. hm... jangan bilang mau ngerjain aku ya atau memang ingin ngerjain aku. Cepat baring menghadap bawah biar cepat juga selesai."
Baru saja dimulai. Suhu badan berubah kepanasan, jiwa, pikiran mulai melayang. Gangguan dari pintu kamar terdengar, "Pak Eden, ada yang datang ingin menemui Bapak."
"Siapa Yu ?."
"Katanya orang suruhan Ayahnya Rindu."
"Beritahu, tunggu dulu sebentar !."
Eden lalu menghentikan candaannya. Tangannya yang masih meratakan obat oles ke luka bekas setrika itu lalu ia angkat dan berbicara "apa aku bilang pasti Daeng mu akan mencarimu dan Keluargamu pasti tahu bahwa kamu disini. Jadi gimana ?."
"Tidak apa-apa, temui saja dan beritahu bahwa aku tidak ada disini. Masa aku harus pulang, kita belum selesai melakukannya." Dalam keadaan seperti ini, Rindu masih menyempatkan juga ingin melihat senyum dari kekasihnya.
"Kamu masih bisa juga bercanda, tunggu disini karena aku akan cepat kembali. Aku temui dulu."
"Eden, jangan lama !. Nanti perihnya lukaku bertambah loh."
__ADS_1
Huff lebay nya minta ampun...!