Perahu Apung

Perahu Apung
12


__ADS_3

...Sajak Pertimbangan...


...****************...


Roman-roman malam yang sempat bersikukuh ingin menembus urat dan tulang sejahtera diantara dua diri. Di malam gelap kelabu ketika tidak ada lagi bising-bising tanda arti dari nilai kehidupan kini mulai menutup aurat suci. Karisma-karisma dalam hubungan yang akhir-akhir ini telah menguat telah mulai melepas diri ketika syair dahaga rumah tangga di tenggerkan kedalam hati. Dia, pamit untuk menyampaikan secercah harapan kepada keluarganya sebelum kembali membawa pesan untuk kerukunan keluarga.


Semula aku tidak begitu percaya dengan keinginannya yang menerima kata seindah purnama, membiarkan kata itu masuk dan duduk di singgasana hati. Disana, kata itu menjadi raja yang mengelola aturan-aturan perasaan agar menjadi pegangan menuju impian masa depan.


Biarkan !. Aku tidak akan melarangnya sebab telah berjuang watak cinta untuk mengupayakan pilihan bijak agar melengkapi separuh nadiku yang masih bersamanya.


Begitupun dengan urat kecilku, sebuah impian kecilku dan sebuah senyum sederhanaku sebagai akses penting menuju masa yang paling diharapkan sebab dia memahami, dalam dirinya ada aku.


Setelah malam itu, dia mengujiku, Rindu kini ingin kembali ke Makassar. Studi yang dia lakukan di kampung untuk sementara waktu dia tunda. Dia ingin pulang hanya sekedar membawa harapanku dan harapannya kehadapan keluarganya bahwa kami ingin menikah.


Waktu itu, saat pagi. Dia mengutarakan maksudnya dihadapan Ibuku yang akan kembali ke Makassar. Dengan berbagai pertimbangan, dia berbicara terbuka kepada Ibuku.


Aku yang hadir disitu hanya bisa mendengar keputusan yang dibuat oleh Rindu.


Di wajahnya sama sekali tak terlihat rasa penyesalan. Hanya keceriaan yang nampak, sebuah pemikiran yang baru, yang mustahil bisa diucapkan.


"Rindu, katakanlah apa yang mau kamu katakan ! jangan membuat Ibu kebingungan duduk di depanmu, Nak ?."


Sebelum sang idola hati itu mengutarakan apa yang berlarian dipikirannya, dia sempat menatap kearah ku. Kecemasan mulai menutup mulutnya untuk berbicara yang seadanya.

__ADS_1


Melihatnya seperti itu, aku berbicara pada Ibuku untuk mewakilinya.


"Bu, sebenarnya aku dan Rindu sudah memilih jalan yang selama ini dilalui oleh orang-orang."


"Jalan apa ? bicara itu diperjelas, Nak, biar Ibu tidak kebingungan."


"Tapi sebelumnya, aku dan Rindu meminta maaf Bu. Mungkin agak mengejutkan bila Ibu mendengarnya."


"Makanya bicara cepat biar Ibu dengarkan. Kalau yang baik, ya Ibu pasti akan merespon kalian tapi kalau memang harus dipertimbangkan maka Ibu akan memikirkannya, Nak. Jadi bicaralah !."


"Aku dan Rindu telah memutuskan untuk menikah, Bu !."


"Apa... menikah ?. Kamu tahu tidak nak ?!. Menikah itu bukan persoalan sederhana yang bisa kamu putuskan sendiri atau kalian berdua inginkan. Pernikahan itu harus dibicarakan dengan semua keluarga atau kalian ingin menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan kedua keluarga ?."


"Bu, kami tidak ingin perasaan, hubungan yang sudah kami bangun tidak mendapatkan tempat. Niat kami berdua adalah membina rumah tangga dan menghindari fitnah orang kepada kami yang kapan saja hal itu bisa terjadi. Bu, bukankah menikah itu adalah hal yang baik ?."


"Menikah memang adalah hal yang baik tapi pernikahan membutuhkan pertimbangan yang konkrit untuk memutuskannya, Nak. Setiap orang, memang harus menikah, membina rumah tangga, dan melanjutkan hidup. Sehingga dengan menikah, hidup menjadi lebih terarah dan teratur. Ibu memahami itu, Nak. Namun, kalian memutuskan hal ini terlalu dini, Rindu baru dua bulan berapa hari ini disini, dia datang kesini bukan untuk sebuah tujuan pernikahan melainkan dalam rangka penyelesaian akhir pendidikannya. Ibu sangat setuju jika kamu menikah dengan Rindu tapi pikirkan lagi baik kamu maupun Rindu. Keluarga nya pasti akan menolak mu, Nak. Apa kamu yakin, Nak, akan diterima oleh keluarga nya ?."


"Eden yakin, Bu !."


"Kalau begitu, Ibu ingin bertanya pada Rindu"


"Rindu, apa yang kamu lihat didalam diri Eden hingga kamu mau dinikahi oleh Anakku yang status sosialnya jauh lebih bagus darimu ?. Dan apakah kamu bisa menjamin bahwa keluargamu akan menerimanya atau tidak ? dan seberapa besar kamu mencintai, Eden, Rindu ?."

__ADS_1


"Bu, selama aku disini, aku sudah cukup mengenal Eden. Dia adalah pemuda yang menurutku unik dan bertanggung jawab. Setiap hari yang lalui disini, masalah yang aku hadapi, kondisi rumit pun, Eden ada, dia menemaniku dalam banyak hal. Aku tidak percaya kalau keluargaku akan menerimanya tapi juga aku tidak yakin kalau keluargaku akan menolaknya. Di kehidupan keluargaku tertanam sebuah prinsip yang dipakai turun temurun oleh garis keturunan kami. Menikahi apa adanya dan bahagia apa adanya ?. Prinsip itu telah mengajariku untuk memilih seorang laki-laki yang bisa memberi apa adanya. Dengan prinsip itu, aku duduk dihadapan Ibu, ingin mengetahui jawaban Ibu bagaiamna ?."


"Ya, kalau kalian memang yakin untuk menikah, Ibu tidak bisa melarang. Cuma ada satu hal yang harus kamu tahu Rindu. Eden, tidak memiliki harta untuk dia bawa kehadapan keluargamu."


"Bu, untuk soal itu, biarkan Tuhan yang menentukannya. Jika begit, besok Rindu akan berangkat ke Makassar dengan Phinisi milikku."


Aku begitu bahagia setelah mendengar jawaban Ibuku yang merespon niat kami. Hal lainnya, aku akan kehilangan Rindu untuk sementara waktu. Dia akan pergi membawa harapan indah, membicarakannya pada keluarganya.


Setelah selesai dengan Ibu. Rindu mulai mengemas pakaiannya. Dia akan meninggalkanku disini seorang diri.


"Rindu, apakah kamu tidak ingin membawaku bersamamu ?."


"Eden, aku akan cepat kembali. Aku ingin membawamu pergi menemui keluargaku, aku ingin kamu yang langsung berbicara dihadapan kedua orang tuaku. Hanya saja, orang Bugis Makassar paling anti seorang perempuan ketika pulang, dia membawa laki-laki kerumahnya. Kamu bisa menyusul ku dengan kapal yang lain."


"Tapi...? bagaimana ya ? perasaan ku bukan malah bahagia. Tadi ketika hubungan kita dibicarakan dihadapan Ibuku, aku begitu sangat bahagia. Melihat mu merapikan bajumu, aku merasa hancur. Hatiku kenapa berbisik bahwa kamu tidak akan kembali kesini untuk menemui ku, Rindu ?."


"Perasaan itu, buang jauh-jauh, Eden. Mana mungkin aku tidak akan kembali kesini. Aku masih belum menyelesaikan studi akhir ku disini. Pendidikan yang aku tempuh selama ini di Kampus tidak akan pernah selesai jika tugas ku disini tidak selesai. Jangan terlalu mencemaskan ku, aku pasti akan kembali menemui mu disini, menerangi hubungan kita."


Dia tetap merapikan pakaiannya. Sementara aku hanya bisa berpasrah, menerima kenyataan bahwa dia akan pergi.


Ya..., mau diapa ? jika memang jodoh, Rindu pasti akan kembali tapi jika tidak maka cukup aku yang berharap untuk menikah dengan nya.


Cinta itu memang kadang bisa ditebak untuk sesuatu yang salah tapi juga mungkin benar. Kekhawatiran ku adalah alasan yang sulit membuatku berpikir positif sebab Rindu adalah wanita Kota. Disana banyak pemuda yang lebih baik dariku.

__ADS_1


Kembalilah untukku Rindu...!


__ADS_2