Perahu Apung

Perahu Apung
02


__ADS_3

...Lain juga Keinginannya...


...****************...


Keputusan malam itu menjadi tanda yang paling bijaksana untuk mendekatinya. Dia telah tinggal bersama kami dirumahku untuk waktu yang telah ditentukan.


Pagi setelah tiga hari ini dia merasakan bagaimana sempitnya ruangan rumahku, sesak, dan mungkin tidak layak baginya. Dia memanggilku untuk pergi jalan-jalan melihat-lihat keadaan kampungku. Harum wanginya semerbak bak kuntum bunga yang baru mekar di tangkainya.


Setelah selesai mandi dia mendekatiku hanya untuk menanyakan kesiapan ku menemaninya pergi kesebuah tempat yang pernah dia lihat dari atas kapal Phinisi yang dia tumpangi pada malam hari. Tempat itu katanya padaku, unik. Dia melihat ada semacam lampu kecil yang bersinar yang kilaunya menyerupai tulisan I love you.


Ajakan yang istimewa padaku tidak mungkin aku tolak. Aku memang ingin pergi dengannya bahkan sebelum dia menanyakan kesiapan ku. Aku sudah memberikan jawabanku melalui hatiku aca... aca..., begitulah jika seorang laki-laki memiliki rasa pada seorang wanita tanpa konfirmasi rasa sebelumnya laki-laki itu akan tahu bahwa cintanya telah bersambut.


Dengan berpakaian rapih berbaju kotak-kotak, lengan panjang, dan bercelana jeans panjang, berwarna hitam, lengkap deh pemandangan di pagi ini. Cerah secerah langit yang berwarna campuran putih biru, semakin menambah suasana indah dipandang mata. Mata tidak akan pernah bosan memandanginya bahkan jiwa ikut mengagumi kecantikan yang Tuhan ciptakan.


"Eden...!" Panggilnya. "Apakah kamu mau menemaniku sebentar saja kesebuah tempat ?."


Dengan terbata-bata aku menjawab "m... ma...u !."


"Kenapa begitu jawabnya seperti orang ketakutan saja padaku ?."


"Bukan ketakutan. Aku boleh jujur padamu."


"Boleh dong !."


"Kamu seperti intan bening yang selama ini bersembunyi di tempat-tempat yang jauh."


"Ah kamu bisa saja. Kamu mau nggak nemanin aku pergi ketempat yang aku lihat dari atas kapal malam itu ?."


Jangankan nemanin, jalan seharian pun, aku mau !."


"Kamu bisa saja, Eden."


Ternyata dia mudah bercanda juga. Ada kebahagiaan yang begitu dalam di hatiku ketika aku melihatnya tersenyum. Mungkin bukan bahasa gurauku yang membuatnya tersenyum atau aku yang terlihat culung bila berada didekatnya.


Tak apalah ?. Memang, terkadang kita harus terlihat seperti orang bodoh bila ingin mendekati seseorang apalagi sepenuhnya ingin kita dapat kan, dia adalah wanita yang di sanjung.


"Tapi omong-omong sudah berapa hari ini kamu tiba disini aku belum tahu siapa namamu. Boleh kan kalau aku tahu namamu ?." Tanyaku padanya.


"Boleh dong !. Jangankan nama sekalipun ingin tahu semuanya, juga boleh !."


"Wah tahu semuanya itu apa ya ?. Bahaya juga jika semuanya harus aku tahu" pikirku sendiri sambil sedikit tertawa.


"Kamu kenapa ketawa, Eden ? Ada yang lucu atau penampilanku aneh dimatamu ?. Di kota penampilan sepertiku, biasa !. Disini mungkin agak aneh, orang melihat penampilanku tapi menurutku, biasa saja !."


"Bukan !. Bukan itu, bukan penampilanmu yang aku tertawakan. Penampilanmu dimataku sangat luar biasa. Indah, menawan dan cantik."


"Ah kamu bisa saja !. Barusan disini aku mendapat pujian darimu. Selama hidupku baru kali ini ada orang asing yang berani menyanjungku langsung didepanku. Di Makassar jika ada laki-laki yang berbicara begitu padaku pasti dapat masalah. Cuma karena kamu adalah temanku, dan orang yang menolongku disini tinggal dirumahmu maka ku maafkan perkataanmu !"


"Oh ya Eden, lampu yang aku lihat diatas kapal malam itu apakah memang sengaja dibuat oleh masyarakat disini ya ?."


"Iya ! Tempat itu sebenarnya adalah tanda hidup bagi yang datang ke pulau ini. Warga menyimpan lampu dengan desain unik itu di atas pulau batu yang ingin kamu datangi, bertujuan agar siapapun yang datang kesini membawa cinta pada masyarakat disini."


Sudah lumayan jauh kami meninggalkan rumah. Pulau batu yang menjadi tujuan telah nampak di ujung sana.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi."


"Pertanyaan apa, Eden ?."


"Nama kamu, siapa ?."


"Apakah itu penting ingin kamu tahu ?."


"Dibilang penting, tidak juga cuma kan tidak ada salahnya jika aku tahu namamu. Masa kamu tinggal di rumahku bahkan namamu saja tidak aku tahu."


"Ya, udah ! Tapi, jangan kasithu siapapun ya kalau aku beritahu siapa namaku."


"Ok Siap !."


"Kamu bisa memanggilku Rindu atau Aliya. Mana saja yang membuatmu nyaman maka itulah yang kamu panggil"


Setitik harapan telah berlabuh dan jangkar impian telah tertanam hingga separuh jiwaku telah melayang kemana arahnya. Rindu bagiku adalah nama yang luar biasa untuk wajah secantik ini.


"Gimana menurutmu namaku baguskan ?."


"Bukan hanya bagus tapi unik."

__ADS_1


Dalam terang matahari pagi ini dimana angin sepoi yang datang tidak singgah mengenai tubuhku dan tidak pamit padaku. Dia pergi membawa harum yang ada di baju Rindu. Aku yang berada di sampingnya sampai mencium bau wanginya seakan aku mendapatkan suatu mukjizat yang agung.


Benarkah jika aku adalah laki-laki yang beruntung yang bisa dekat dengannya. Berkata cantik padanya, berkata indah, berkata halus, benarkah semua itu ?.


Kuharap itu benar sebab dari senyum kecil dan mimik wajah yang elegannya menandakan bahwa dia bukanlah wanita yang mudah untuk jatuh cinta.


Aku penasaran dengan beberapa orang yang datang malam itu termasuk pagi ini ada dua orang wanita yang selalu berada disampingnya.


Tinggal beberapa meter dari kami, kami telah sampai di pulau batu itu. Dalam keberanian yang masih agak minim aku mempertanyakan siapa dua wanita yang selalu ada bersamanya.


"Rindu, apa boleh aku bertanya ?."


"Boleh dong !."


"Dua orang Wanita yang selalu bersamamu itu siapa ?."


"Oh... mereka temanku. Aku tidak akan pernah sampai disini melakukan studiku bila mereka tidak ikut. Lupakan saja mereka karena kemanapun aku pergi mereka akan selalu ikut."


Pengakuannya semakin malah membuatku penasaran. Karena kami sudah sampai di pulau batu itu. Dia berjalan lebih cepat menuju ke titik dimana lampu unik itu berada.


"Eden, cepat !" dia menyuruhku lebih cepat berjalan.


Padahal aku sudah keringatan, dia juga sudah keringatan. Tapi seakan dia tidak merasakan sengatan matahari pagi ini.


Mungkin aku tidak normal atau aku menjaga kesopanan mataku padanya. Dari arah belakang sesekali aku melihat penampilannya yang memang luar biasa itu. Bisa aku katakan dari seratus wanita yang ada dikampungku jika dikonteskan bodinya dengan Rindu maka juaranya pasti adalah Rindu.


"Dimana lampu yang aku lihat itu ?." Dia kembali bertanya padaku.


"Disana!. Sedikit lagi kita sampai. Sebaiknya aku yang didepan, Rindu dibelakangku saja."


Baru kali ini aku pergi jalan-jalan bersama seorang wanita. Di kampung terkadang ada wanita yang juga mengajakku jalan-jalan seperti ini. Namun ini berbeda, aku merasa bahwa ini bukan hanya sekedar jalan-jalan melainkan mengukir kenangan sederhana.


Kini kami sampai pas di titik lampu yang unik itu. Karena ada aturan yang tertulis disitu bagi pengunjung diluar kampung yang datang maka harus melepaskan sendal.


Rindu yang membaca aturan itu, dia malah tidak mau melepaskan sendalnya.


"Bagaimana ini Eden, masa aku harus melepaskan sendalku. Coba lihat tempat ini mana banyak batu lagi. Tidak mau !." katanya.


"Rindu jangan jadi wanita yang disanjung jika berada di dekat lampu unik ini. Aku lupa tadi seharusnya dari rumah, aku sudah memberitahukanmu. Kenapa tempat ini tidak dibolehkan memakai sendal jika berada di sekitarnya. Masyarakat disini percaya sejak saat lampu ini disimpan disini terkadang di malam hari para nelayan yang melaut biasa melihat sosok-sosok seorang wanita atau yang lainnya. Dan memakai sendal di area sini sampai dikatakan masyarakat disini tidak menghargai masuk kedalam rumahnya orang apabila ada yang datang kesini dengan memakai sendal."


Dalam posisi masih terpeluk, dia sambil berbicara "mengapa dari tadi kamu tidak bilang padaku."


Kedua wanita yang mengikutinya dari tadi langsung mendekati kami berdua.


"Lepaskan dia !. Kamu kurang ajar. Kamu tidak tahu siapa wanita yang kamu buat seperti itu. Tidak sopan !."


"Maafkan aku Rindu ! aku tidak sengaja."


"Sudah, tidak apa-apa." Sahutnya.


Dia menegur kedua wanita yang agak keras padaku.


"Bukan Eden yang salah !. Kalian minta maaf sama Eden. Jangan ulangi lagi !."


"Eden, lampu ini memang unik. Di Makassar banyak pemandangan yang aku lihat tapi belum pernah aku melihat lampu yang cahayanya berbentuk I Love you seperti ini. Padahal kalau dilihat dari lampunya biasa saja bahkan tidak ada yang istimewa tapi di malam hari cahaya lampu ini nyaman begitu dilihat"


"Siapakah yang membuat lampu ini, Eden ?."


"Kata orang-orang yang membuat lampu ini adalah warga disini tapi sebagian orang mengatakan yang membuatnya adalah orang Protugis."


"Siapapun dia, dia adalah orang yang istimewa. Apalagi dia menaruhnya diatas pulau batu ini juga dekat laut. Dari kejauhan di malam hari sudah nampak terlihat menakjubkan mata."


Rindu masih memperhatikan lampu unik itu bersama dua temannya sembari mengelilinginya dengan penuh semangat. Aku hanya berdiri hanya fokus memperhatikan betapa cantiknya dia. Bau parfum yang dia pakai melekat di bajuku, ada sedikit rasa yang membuatku gemetaran seperti orang kesurupan. Sesekali bekas pegangan tangannya kusentuh dibelakang bahu kananku tapi meraihnya agak susah, kupaksakan untuk aku raih. Terasa gimana gitu, ternyata begini rasanya jika dipeluk oleh wanita.


"Heee kamu lihat apa, Eden ?." Tegurnya padaku.


Sambil berpura-pura menggaruk kepalaku. Aku menjawab, "tidak !."


Mungkin dia tahu kalau aku memperhatikannya apalagi pelukan yang tidak dia sengaja di berikan padaku membuatnya terlihat lain-lain ketika mataku menembus jantungnya.


Ada apa ?.


Hanya setitik rasa yang bisa berbicara kepada hati yang merasakannya.


"Jangan lama-lama disini, Rindu. Kita harus cepat pulang sebelum matahari bertambah panasnya."

__ADS_1


"Jadi apakah kita harus pulang sekarang ?."


"Iya, kita pulang sekarang. Lampu itu akan selalu kamu lihat bila kamu masih tetap berada di kampung ini."


Tanpa bertele-tele dia mengajak dua temannya untuk pulang. Dia terlihat capek ketika berjalan. Sesekali Rindu menyuruh kami untuk berhenti sebentar.


"Eden, aku kelelahan. Bisakah kalau kita istirahat sebentar saja !."


"Bisa tapi jangan lama ya."


Sambil berdiri aku menunggunya. Dia duduk sambil bersandar di bahu salah satu temannya.


Dari kejadian tadi sampai kejadian ini, aku semakin ingin tahu sebenarnya Rindu ini siapa ?. Dia sepertinya bukan hanya wanita yang datang untuk tujuan studi tapi mungkin di Makassar, dia adalah wanita yang begitu di hargai.


Agak lumayan bijak aku memperhatikannya. Hingga capeknya agak hilang. Diapun berdiri untuk berjalan kembali. Kali ini aku yang dibuat repot. Dia memintaku untuk di bopong. Mendengar itu, aku bukan malah menjawab ia melainkan memperhatikan kedua temannya jangan sampai menegurku lagi.


"Eden, aku mau minta tolong padamu, aku capek. Kamu bisa kan bopong aku ?."


"Gimana ya, jangan ! kataku. Eden bukannya tidak mau tapi ini kampung bukan Kota. Di kampung kalau orang-orang melihat kita dalam keadaan aku membopongmu pasti akan digosipin. Lagian dua teman wanitamu itu pasti tidak akan setuju."


"Tidak sampai di tengah kampung kok. Hanya dekatan sini saja. Aku akan turun kalau kampung sudah dekat. Teman-temanku tidak akan marah bila kamu mau. Mereka akan marah kalau kamu tidak mau dan anggap saja aku ini saudara perempuanmu dengan begitu, kamu tidak perlu lagi merasa bahwa aku adalah orang asing."


Bingung mau berkata apa. Keinginan dan rasa khawatirku menyatu, bertengkar dalam diriku. Seakan tidak membiarkanku untuk membopongnya. Sementara mata ini yang melihatnya kecapean merasa kasihan untuk membopongnya.


Ah, aku tidak perlu mikir panjang. Lakukan saja dulu kapan lagi aku bisa mendapatkan kesempatan ini. Pikirku sembari menyiapkan punggungku untuk dinaiki.


"Ayok !" aku memanggilnya untuk naik.


Di atas punggungku, dia memberi tahu kedua teman wanitanya jalan lebih dulu didepan kami. Aku dalam keadaan gugup, ada yang lain aku rasakan di punggungku.


Tersentuh oleh sesuatu yang selama ini hanya bisa berada di alam pikiran. Karena sudah agak jauh juga aku memberitahu Rindu untuk turun sebelum orang melihat kita.


"Eden, mengapa berhenti ?. Apa kamu juga capek ?."


"Bukan_ bukan itu, Rindu. Eden tidak tahu kenapa ?."


"Kalau begitu turunkan aku. Kamu mungkin kecapean. Terimakasih ya karena sudah mau membopongku sejauh ini."


Dia pun turun sambil tersenyum karena melihatku berkeringat.


"Sini aku lap keringatmu !."


"Tidak usah, Rindu !. Keringatku akan kering dengan sendirinya.


Kondisi menegangkan ku akhirnya berakhir. Rindu berjalan sendiri sementara aku berada dibelakangnya menyaksikan dua kakinya bergantian maju kedepan.


Apapun yang terjadi hari ini, bagiku adalah pertama kalinya aku mendapatkan keistimewaan membopong wanita. Dia bukan pacaraku, dia bukan wanita dikampung ini, dia orang asing yang baru aku kenal, dia baik, sopan, dan perhatian, ingin berjalan denganku dan tanpa ragu meminta pertolongan padaku.


Dalam asyikku memandanginya dari belakang berjalan, aku terpikir "apakah begini wanita kota, semuanya ?."


Mungkin dikehidupan perkotaan kedekatan wanita dan laki-laki itu biasa. Makanya dia tidak merasa lain-lain saat dia masih di punggungku tadi.


"Nikmati saja, hatiku berdesik. Sembari memanggilnya "Rindu, tunggu !."


"Makanya jalan itu agak cepat. Dari tadi dibelakang terus. Eden, sebenarnya aku mau berenang cuma matahari sudah panas. Gimana kalau sebentar sore ?."


"Dari Rindu saja. Mau berenang sekarang atau sore, Eden, bisa !. Tapi memang betul matahari sudah panas. Sebaiknya kita pulang dulu kerumah. Tadi orang tuaku bilang kalau pergi jangan lama-lama. Ini kita pergi sudah lumayan lama, Rindu."


Disini jalan setapak aku mendapatkan sejarah dengan dia. Walau aku belum tahu persis seperti apa sejarah itu. Angin kembali berhembus mendatangi kami, mengeringkan keringat yang bercucur di tubuh kami. Semakin dia mengangkat tangannya melap keringat di wajahnya, aku semakin melihat bunga mekar di pipinya.


Tidak seperti kebanyakan wanita. Ical mengatakan padaku bahwa aku akan menyesal jika tidak menemuinya. Kini aku benar-benar tahu arti perkataan Ical. Wajahnya kemerahan, kulitnya bukan malah menghitam karena sengatan terik matahari. Memerah seperti lipstik di bibir, aku beruntung bisa bersamanya hari ini.


Dari arah depan, terdengar suara panggilan dari mana ?. Aku masih terbawa mimpi disiang bolong, mimpi yang jarang aku temukan hingga Rindu menegurku.


"Eden, ada yang memanggil" sambil melempari ku dengan batu kecil hingga mengenai kepalaku.


"Apa_, apa ?."


"Kamu kenapa ? ada yang memanggil." Tegasnya padaku.


Tahu-tahunya Mamaku sedang berjalan menuju kearah kami. Semakin dekat dengan kami, Mamaku seakan terlihat marah padaku.


Yang benar saja, Mamaku memang marah.


"Kamu ini, Mamah sudah bilang untuk pulang cepat malah berlama-lama. Apa yang kalian bikin disana. Ingat Eden, wanita itu tamu dan dia anak orang. Mengapa kamu membawanya jalan-jalan sampai berlama-lama begitu ?. Lain kali Mamah tidak akan mengizinkanmu untuk menemaninya."

__ADS_1


Akhirnya sampai juga di rumah. Aku kena marah sama Mamah. Biarlah !.


__ADS_2