Perahu Apung

Perahu Apung
57


__ADS_3

...Pengertian Apanya...


...****************...


"Aneh !."


Itulah yang Eden katakan sesaat setelah Rindu pergi diantar oleh gondrong kerumahnya.


"Keluarga macam apa yang sebenarnya aku hadapi terkadang setuju terkadang ingin memisahkan. Walau aku begitu mencintaimu Rindu jika sebentar-sebentar melarang dan menyetujui, aku tak bisa mengambil keputusan untuk menikahimu."


"Pak, jangan bicara seperti itu." Ayu yang ternyata dari awal telah mendengar Eden berbicara demikian, ia menegur majikannya itu.


"Ayu ! kirain siapa ?. Tapi kenapa sampai aku tidak boleh bicara seperti itu ?."


"Bukan apa-apa sih hanya saja sayang jika Bapak marah pada orang tuanya Rindu lalu membenci Rindu. Bukankah Bapak begitu mencintai Rindu ?."


"Siapa yang membenci Rindu, tidak ada Ayu. Aku hanya kesal aja pada orang tuanya yang kadang menyetujui hubungan kami kadang melarang. Sebagai laki-laki, aku hanya merasa dipermainkan oleh keluarganya khususnya Daeng nya. Jika saja dulu aku masih tak memiliki apapun, wajar saja jika keluarganya melarang hubungan kami. Tapi sekarang bahkan aku punya segalanya masih aja tak begitu merespon. Siapa coba yang tidak kesal jika dibikin layaknya adonan kue"_


"Sudahlah ! jangan di bahasa lagi. Hari ini aku tidak jadi berangkat ke Bali. Aku mau menemui anak-anak yatim yang sudah aku janji tadi malam."


Eden pun berlalu dari hadapan asisten centil itu, yang kelihatannya menaruh hati pada Eden. Ia kembali masuk kedalam kamarnya mengambil hp dan kunci mobil. Pajero miliknya yang waktu itu parah total karena gebukan massa yang melempari mobilnya, kini sudah bisa dipakai kembali.


Orang ganteng seperti Eden siapa sih yang tidak jatuh hati.


Ia lalu keluar dari dalam kamarnya. Karena rencananya sebelum menemui anak-anak yatim itu, ia ingin singgah dulu di Indomaret yang tidak jauh dari rumahnya.


Kali ini, dia tidak ingin pergi sendiri. Ia khawatir jangan sampai musibah yang menimpanya dulu terjadi juga hari ini. Karena itu, ia ingin Pak Anto yang bertugas multi bisa itu ikut bersamanya. Tapi dimana ?. Eden tak melihat Pak Anto dari tadi ini.


"Bapak belum jalan ya ?." Ayu ternyata memperhatikan Eden sejak saat Eden keluar dari rumah.


"Belum !. Pak Anto dimana. Kok tidak kelihatan. Apa kamu melihatnya ?."


"Pak Anto sudah pulang dari tadi pagi, Pak. Katanya ada urusan penting yang harus ia selesaikan. Dia tidak sempat berpamitan pada Bapak. Tadi pagi, Pak Anto hanya menitip pesan padaku untuk disampaikan ke Bapak."


"Oh...! kalau gitu, kamu mau nggak temani aku jalan."


"Mau, mau... Pak !. Aku ganti baju dulu sebentar ya. Bisakan Pak ?."


"Bisa tapi jangan lama ya ."


Ayu bersegera pergi mengganti bajunya. Momen ini tak akan ia sia-siakan.


Katanya "kapan lagi aku bisa jalan sama majikan."


Selang berapa menit kemudian, Ayu datang menemui Eden yang menunggunya di dalam mobil miliknya.


"Memang cantik !. Apakah mataku yang salah melihat." Hatinya mengagumi kecantikan Ayu.

__ADS_1


"Wah, jangan !. Dia bukan wanita yang kamu cintai Eden." Bisikan itu seakan ia dengar dari telinga kanannya.


"Pak, buka pintunya."


"Silahkan masuk Ayu."


Momen awal baru saja dimulai dan mobil baru saja mau dinyalakan. Sebuah panggilan masuk berdering di hp nya Eden.


"Siapa yang menelepon ini ?." Tanyanya sendiri.


Di ambillah hp dari didalam kantong celananya dan dilayar hp itu jelas dan terang panggilan masuk dari Rindu.


Dari dalam hp itu terdengar begitu nyaring ditelinga Ayu.


"Pak, jangan speaker !."


Apa perduli nya. Eden malah keluar dari dalam mobil.


Tak begitu lama, Eden pun kembali masuk kedalam mobil.


"Gimana Pak jadikan perginya ?."


"Sepertinya tidak jadi Ayu. Maaf ya !. Lain kali aja baru kita pergi bersama. Tadi kamu lihat sendiri kalau Rindu menelpon. Dia menyuruhku sekarang kerumahnya. Nggak apa-apa kan ?."


"Owww !. Tidak mengapa, Pak. Bapak hati-hati bawa mobilnya ya."


Sejak ia keluar dari halaman rumahnya menuju jalan raya hanya ada ucapan syukur yang begitu besar yang ia ungkapan.


Tak ada kecurigaannya, tidak ada beban yang ia pikirkan. Semata-mata yang ia tau bahwa ia dipanggil oleh Rindu adalah menentukan hari pernikahan mereka.


Apalagi selama ini, ia menantikan hari itu. Mungkin hari ini bertepatan dengan hari lahirnya atau mungkin Pak Daeng sedang ulang tahun atau apalah namanya hingga Eden dibuat tidak percaya mengingat kejadian tadi malam belum bisa ia lupakan.


Baginya, kejadian tadi malam adalah suatu teguran serius untuk menghindari Rindu. Namun, apa yang harus ia lakukan sementara Rindu pagi ini baru saja pulang dari rumahnya. Niatnya ingin ke Bali adalah alasan hati agar ia bisa melupakan Rindu.


Bahkan sebenarnya Eden sudah cukup lama menderita karena menyimpan perasaannya. Ia mengira kesuksesan yang ia raih di Makassar dapat mempermudah hubungan mereka agar bisa secepatnya menikah. Dengan sukses ia akan melamar Rindu, dengan menjadi orang kaya ia akan dihargai tapi nyatanya rintangan demi rintangan masih saja melanda hubungan mereka.


"Rindu, Rindu, Rindu. Andai tadi di dalam kamarku kita melakukannya dengan sungguh-sungguh sudah pasti kita akan menikah. Hmm aku yang bodoh karena terlalu yakin pada hubungan ini hingga rasa nyaman yang ada didepan mata, aku tolak."


Dia menggurutu sendiri didalam mobilnya. Dalam imajinasi itu, ia akhirnya sampai pas dihalaman depan rumahnya Rindu.


"Masuk tidak_masuk tidak ?!."


Mengingat hal-hal pahit pernah terjadi di rumah ini dan menimpanya langsung. Eden bahkan ragu untuk masuk kedalam menemui keluarga besarnya Rindu.


"Mendingan aku telpon dulu Rindu sebelum aku masuk kedalam rumahnya"_


"Angkat sayang. Cepatlah angkat telponku itu !"_

__ADS_1


Akhirnya telponnya diangkat juga. "Halo sayang, aku sudah ada didepan rumahmu. Aku masuk sekarang ya, kamu bisakan tunggu aku didepan pintu masuk dalam rumahmu."


Pintu pagar rumah yang panjangnya mungkin sekitar lima belas meter itu dibuka oleh Security.


"Kamu lagi."


Security itu menyoroti Eden ketika ia masuk kehalaman dalam rumahnya Rindu.


"Biarkan dia masuk, Pak." Sahut Rindu dari depan pintu rumahnya.


Pajero nya sudah di parkir pas disamping mobilnya Rindu. Eden lalu turun dari dalam mobil sambil tersenyum mendatangi Rindu.


"Gimana luka di betismu, masih sakit ?. Coba tadi belum datang jemputanmu pasti kita masih ada dikamarku."


"Ssst... jangan bercanda itu disini. Ada kamera, kalau keluargaku tau gimana, bahaya !. Kita berdua bisa kena mental bahkan mungkin selamanya tidak akan pernah bertemu lagi"_


"Ayok masuk kedalam !. Semua keluargaku sudah menunggumu didalam. Sebagian keluargaku ada yang penasaran denganmu, mereka ingin melihatmu langsung setelah beberapa tahun yang lalu mereka melihatmu kecelakaan saat membawa mobilnya Daeng ku. Masih ingatkan dengan kecelakaan waktu itu ?."


"Ingatlah !. Aku tidak pernah melupakan musibah itu. Ayok masuk kedalam sebelum Daeng mu memanggil."


"Ayok Den." Jawab Rindu.


Pertemuan yang aneh itu mengherankan sekali. Eden bahkan tidak percaya kalau itu yang akan dikatakan keluarganya Rindu padanya.


Tidak ada basa-basi mau cerita ini itu atau setidaknya bertanya bagaimana hubungan mereka berdua. Apakah siap menikah atau belum ?."


"Eden silakan duduk. Siapkan uang panaik 2M dan empat kapal Phinisi milikmu sebagai mahar pernikahan kalian. Kami sekeluarga sudah sepakat kalau Minggu depan kalian akan menikah"_


"Jika tidak ada pertanyaan darimu, kamu bisa pulang sekarang. Satu lagi selama satu Minggu ini, kamu dilarang bertemu dengan Rindu."


Di kandang paksa, bukan perangkap tapi semisalnya. Tegas dan bijak, Daeng nya Rindu tidak bertele-tele memutuskan perkara hubungan mereka.


Saat Eden mendengar keputusan keluarganya Rindu. Ia menggaruk kepalanya dan melihat kearah Rindu. Ia hanya ingin mengatakan apakah sudah selesai tapi tidak bisa karena jaraknya berapa meter darinya.


"Kalau keputusannya sudah selesai, aku pamit pulang !."


"Jangan lupa siapkan ya ?." Jawab salah satu anggota keluarganya pada Eden.


Kepalanya mangguk-mangguk mengiyakannya. Sedikit suara yang keluar dari bibirnya ketika Eden membelakangi keluarganya Rindu.


Haha...


Ketawa dulu, "lucu aku rasa !."


Eden lalu berjalan keluar dalam keadaannya yang membingungkan keputusan itu juga mentertawakan dirinya sendiri sebab ia di kandang paksa.


Adat Bro. Jangan panik, paniklah !.

__ADS_1


__ADS_2