Perahu Apung

Perahu Apung
47


__ADS_3

...Dibuat Aduh Hai...


...****************...


Rindu sangat mencintai Eden. Dia bahkan tidak perduli dengan keadaan yang menimpa kekasihnya ini. Dia membawa Eden bertemu dengan keluarganya walau dia tahu, mungkin keinginan mereka akan mendapatkan teguran atau penolakan dari keluarganya.


Eden yang belum sembuh hanya mampu ikutan saja. Iya mengerti jika Rindu ingin membawanya bertemu keluarganya.


Di jalan, Eden tiba-tiba menanyai Rindu dengan gairah yang tidak biasanya.


"Rindu, cepatlah kita menikah. Aku ingin punya anak, usiaku semakin bertambah setiap harinya."


"Jangan lebay dech. Kamu lupa ingatan atau tidak Eden. Aneh juga penyakitmu ini, setiap hari ada-ada saja ulah mencengangkan. Kadang kamu bikin aku emosi kadang bikin aku melangit. Aku inginkan juga tapi belum waktunya, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Daeng ku. Aku mau lihat apakah penyakit hilang ingatanmu masih bisa berkata demikian atau tidak. Awas aja, jika dihadapan Daeng ku, kamu tidak berani bilang lagi aku mau menikah. Kujotos wajahmu atau kepalamu biar kamu rasakan. Kepalamu yang kadang lain-lain berpikir, mungkin kalau sudah aku jotos, kamu bisa normal berpikir."


Rindu lalu membisiki Eden. "Eden, malu tau !. Bicara itu pelan-pelan. Kan tidak enak didengar sama yang didepan. Mank kamu pikir yang bawa mobil yang duduk di depan itu patung. Kenapa coba diwaktu kita cuma dua orang yang tidak orang lain, kamu tidak pernah bicara begitu. Kalau seperti ini, biarpun mau romantis nggak bisa. Kalau aku tahu kamu akan bicara begitu, aku yang bawa mobil."


Hmm, memang jika seseorang sedang mengalami amnesia, bicaranya terkadang ngaur. Tingkah lakunya seperti terlihat biasa tapi pada intinya setiap yang dibicarakan adalah sesuatu yang dianggap tidak begitu penting.


"Aku lapar !. Kita bisa singgah sebentar ya."_ Eden merasakan perutnya berbunyi.


"Ada yang jalan-jalan didalam perutku." Sekali lagi Eden mengatakan bahwa perutnya sedang keroncongan.


"Kalau begini kita tidak akan sampai kerumah ku, Eden. Nanti aja baru makan ya, kalau sudah sampai dirumah. Mamah tadi SMS katanya kalau mau kerumah jangan singgah-singgah diluar. Bisakan Eden ?! dirumah baru makan."


"Tidak mau !. Aku mau makan nanti kalau sudah makan, kita nikah saja ya. Kan kalau sudah menikah tinggal menunggu anak kita lahir, kan bagus kalau sudah punya anak."


"He..., mulai lagi. Kamu ini sebenarnya tidak lapar cuma pengen singgah-singgah kan biar lama sampai dirumah. Ini pikirkan mu aneh-aneh deh, aku tidak percaya ini, kamu bukan malah membaik tapi makin parah. Bagaimana nanti di depan keluarga ku kamu membicarakan hubungan kita, mana kita mau menikah. Kalau begini bicaramu yang selalu aneh, keluargaku pasti akan mengatakan nanti"_

__ADS_1


"Eden, jangan dong !. Kamu harus sembuh ya. Atau lebih baik kita jangan dulu bertemu keluargaku dalam keadaanmu seperti ini. Lagian keluargamu juga dikampung harus tau, ini penting sayang tentang masa depan kita masa cuma kamu yang datang sendiri ke rumahku untuk membicarakan hal ini."


Yang diajak bicara malah bicara yang lain. Eden nggak fokus, dia selalu menyebut makanan. Ya kalau begini memang sebaiknya harus menunggu dia normal kembali baru bisa bicara tentang masa depan.


Benar saja, sopir yang ada didepan yang mungkin dari tadi menahan tawanya karena mendengar Rindu yang bicara kadang pelan terkadang ingin marah, sopirnya memberi saran pada Rindu.


"Bu, apa tidak sebaiknya Pak Eden diobati dulu lagi lebih serius. Aku lihat, Pak Eden dari tadi bicaranya agak tidak masuk akal. Ibu bicara yang serius, dia malah ini itu sebutnya. Kalau hari ini, Ibu paksakan kondisi untuk bertemu keluarga Ibu untuk membicarakan hal ini, keluarga Ibu pasti tidak akan menanggapi niat dan maksudnya. Apalagi Pak Eden belum sembuh sempurna. Aku cuma saranin aja sama Ibu, kalau diambil Alhamdulillah, demi kebaikan kalian berdua juga."


"Makasih banyak Pak. Tapi ia, aku juga heran padanya. Kenapa coba kalau urusan musibah itu, dia ingat tapi untuk urusan mengenal dan tahu siapa aku, dia lupa. Dari tadi ini, dia hanya ingin makan. Bicaranya ngawur melulu, tidak ada yang becus."


"Makanya itu, aku sarankan pada Ibu sebaiknya Pak Eden diobati dulu. Aku jiga heran, masa penyakitnya itu hanya mengingat sesuatu yang dianggapnya begitu menekan batinnya sementara yang lain dia lupa. Kalau seperti ini terus, reputasinya bisa hancur, kapal-kapalnya tidak terurus."


"Sebenarnya kalau urusan kapalnya sudah ada yang jaga. Ada keamanannya, sebelum Eden mendapatkan musibah, dia sudah menunjuk orang-orang kepercayaannya untuk menjaga dan merawat kapalnya. Jadi, tidak terlalu di khawatirkan, aku khawatir karena dia masih belum bisa juga mengenal siapa aku."


"Haha..!."


"Eden, kamu mentertawakan apa barusan ?." Rindu dibuat pusing.


"Kalian bicara apa ?. Aku mau makan, setelah makan aku mau menikah. Aku ingin punya anak darimu, hari ini kamu terlihat cantik sekali. Kamu yang didepan duduk, turunkan aku atau kamu yang turun. Aku ingin berdua dengan wanita ini. Siapa lagi namamu ? aku lupa lagi namamu."


Jika saja bukan karena cintanya, Rindu pasti sudah menendangnya dari tadi. Kesetiaannya di uji dengan sikap ambivalen yang membosankan itu.


"Pak tepikan mobilnya ya. Tapi jangan disini, kalau sudah sampai di Carrefour, kita singgah makan dulu. Aku ingin tahu apakah dia benar-benar lapar atau tidak."


"Baik Bu !."


"Eden, aku pusing ini. Kamu semakin aneh ! untung tadi dirumah Pak RT kamu tidak seperti ini kalau tidak aku mau bicara apa. Didalam mobil saja, kepalaku unyut-unyit, sakit mendengar bicaramu yang tidak nyambung itu."

__ADS_1


"Jangan marah-marah gitu dong. Cantikmu hilang, wajahmu seperti kodok kalau selalu marah-marah. Aku tidak apa-apa, aku cuma pengen makan, aku lapar."


Mendengar Eden yang mengatakan wajahnya Rindu seperti kodok. Sopir tertawa sembunyi-sembunyim. Mungkin karena tidak bisa menahan tawanya, sopirnya meminta izin untuk membuang air kecil.


"Bu, aku mau buang air kecil dulu !."


"Nanti aja kalau sudah sampai di Carrefour. Aku tau, kamu menertawakan perkataan Eden barusan-kan yang menyebut wajahku kaya kodok kalau marah-marah ?!."


"Tidak Bu, aku kebelet !. Aku tidak berani menertawakan perkataannya Pak Eden. Cuma agak lucu aja aku dengar Bu. Maaf ya Bu ! kalau aku boleh jujur, masa wajah cantik seperti Ibu, Pak Eden melihatnya seperti kodok. Aku sudah lama jadi sopirnya Ibu, selama ini, aku belum pernah mendengar ada orang berani berkata seperti tadi kepada Ibu. Andai bukan Pak Eden bukan orang yang Ibu cintai, dari tadi aku akan menendangnya. Bicaranya tidak sopan sekali Bu !."


"Sudah ! jangan terlalu diambil pusing. Dia memang butuh pengobatan serius untuk menyembuhkan penyakitnya. Aku yang dibuat kewalahan dengan sikapnya ini."


"Horeee..., Carrefour nya sudah dekat. Kita makan disana ya !."


"Rindu dan sopir dibuat kaget dengan teriakan Eden."


Mereka singgah untuk makan di Carrefour yang ada di Appetarani.


Ada yang istimewa. Mereka turun dari mobil, Eden langsung memegang tangannya Rindu dengan penuh romantis.


Sekali lagi, Rindu dibuat bengong. Rindu hanya menatapnya dengan banyaknya pertanyaan yang berjalan mondar-mandir dikepalanya.


Sesekali Eden menyebutnya, "Sayang cepat dong ! didalam nanti jangan duduk jauh-jauh dariku ya. Kalau duduk jauh-jauh, aku tidak akan melihat dengan jelas wajahmu yang begitu cantik itu. Didalam mobil tadi, kamu banyak bicara sama sopir, disini, kamu harus menjadi Bidadariku yang membuatku tetap jatuh cinta padamu.


……… ???


"Pusing deh !. Iya………

__ADS_1


__ADS_2