Perahu Apung

Perahu Apung
28


__ADS_3

...Berteman Kuli...


...*************...


Perjalanan singkat hubungan Eden dan Rindu telah merubah arah hidupnya di Makassar. Dia bukan hanya menjadi seorang yang kehilangan kebahagiaan tapi terperangkap oleh sekelumit nasib di tanah Daeng ini.


Di hari pertama ketika Rindu menyuruhnya pergi, Eden tidak tahu harus kemana. Dia berjalan menyusuri dermaga dari ujung ke ujung, melihat aktifitas-aktifitas para kuli yang juga mengadu nasib sesuap nasi. Kisah para kuli itu sepintas terlihat sama dengannya. Dia berpasrah kepada Tuhan, apa yang pernah Resky katakan padanya memang betul-betul terjadi. Ingatan akan ucapan Resky seakan baru hari ini dia ucapkan, "katanya dulu pada Eden bahwa kehidupan di Makassar itu begitu sulitnya." Andainya, mungkin bila Eden akan memilih, dia akan memilih untuk tidak datang ke Makassar menemui wanita yang dia cintai.


Hanya derita, dia menjadi musafir yang tidak tahu arahnya kemana. Jalan setiap tikungan sedang berada didepannya.


Mencoba untuk menjadi laki-laki tangguh mempertahankan kelanjutan hidup untuk kedepannya. Dia ingin pulang kampung sebab di Makassar tidak ada lagi kehidupan damai yang bisa menentramkan hatinya.


Seorang wanita yang diyakini adalah jodohnya begitu cepatnya mengambil kesimpulan hingga mengusirnya tanpa berpikir apakah yang ia dengar benar atau salah. Pahit memang, ketika wanita yang kita cintai menghianati rasa yang kita berikan, luka bahkan kecewa adalah satu titik dalam diri yang tidak bisa diucapkan hanya dengan berkata, aku terluka, aku bersedih, aku merasakan setiap nafasku mengeluarkan angin segar tapi apalah dayaku, sudah terjadi. Rindu, hanya memandang bahwa Eden adalah laki-laki tidak bermoral. Seandainya cemburu buta tidak membutakan mata batinnya, bisa saja Rindu bertanya lebih serius kepada kekasihnya itu tanpa harus melukai.


Apa boleh dikata ? tidak mungkin roda waktu bisa mengembalikan kejadian yang telah berlalu. Berlaku melukai hati, perasaan, dan menodai kepercayaan yang tertanam kuat dalam sanubarinya. Hingga, kepercayaan itu menjadi sifat yang tetap dipertanyakan, apa yang kurang dari kepercayaannya Eden kepada Rindu.


Eden hilang arah...!. Dia berada diantara para pekerja keras di dermaga. Dia berpikir mungkin lebih baik jika dia bekerja mengumpulkan uang untuk sewa pulang kampung. Dia ingin membawa hubungan singkat, pertemuan sesaat dan kebersamaan yang tidak akur ini kehadapan kedua orang tuanya. Mungkin Eden akan bercerita kepada teman-temannya bahwa di Makassar, dia pernah bermalam di rumah Gubernur untuk sementara waktu, dia akan bercerita tentang pengalaman pahitnya membawa mobil lalu menabrak, dia juga akan memperlihatkan kepada kedua orang tuanya bahwa anak panah telah menjatuhkan daun telinganya hingga dia harus kerumah sakit.


Dalam pikuknya pikiran, pilunya hati, kosongnya pandangannya. Matanya tetap memandang arah depan. Pemandangan di depannya hanya ada kapal-kapal Phinisi yang berlabuh di dermaga, para buruh dermaga dan mereka yang berjualan dipinggir-pinggir dermaga. Eden hanya fokus ke Phinisi-phinisi yang sandar di dermaga. Phinisi yang ada di ujung dermaga seakan memanggilnya untuk kesana, istirahat sebentar, merebahkan tubuh agar semangat yang pudar bisa kembali.


Ketika dia hendak berjalan ke Phinisi yang ada di ujung itu, seorang laki-laki agak berumur darinya yang terlihat didepannya, menghambat arah jalannya, yang sedang mondar-mandir menanyai kuli dermaga untuk menjaga kapalnya. Kesempatan ini tidak mungkin disia-siakan oleh Eden. Dia sudah merasa lapar sejak dari tadi.


Mau makan ? apa yang hendak dia makan. Dia tidak memiliki apa-apa, uang tidak ada, sejak Rindu menyuruh nya pergi, bahkan pakainya didalam mobil belum sempat dia keluarkan.


Dengan sikap asih, Eden menyapani laki-laki tadi. Karena dia perhatikan, sudah berapa orang yang ditanya belum ada yang mau. Harapannya, semoga dia bisa diterima. Bukan gaji yang Eden harapkan melainkan bisa melanjutkan hidup, bertahan dalam keadaan yang sulit ini. Eden, mulai mendekati laki-laki tua itu untuk menyampaikan maksud dan niatnya.


"Pak, mohon maaf sebelumnya, cuma aku mau nanya sama Bapak. Tadi aku mendengar Bapak menanyai orang-orang itu untuk menjaga kapalnya Bapak. Apakah itu betul, Pak ?. Kalau memang betul, aku bisa menjaga kapalnya Bapak."


Pria yang agak tua dari Eden langsung menjawab pertanyaan Eden, "memangnya kamu bisa menjaga kapal-kapalku ?. Jika kamu bisa, aku tidak akan mencari orang lagi."


"Semoga bisa, Pak. Memangnya kapalnya Bapak yang mana ?. Boleh aku melihatnya, Pak ?."


"Boleh !. Ayok ikut Bapak. Bapak akan menunjukkan kapal-kapal yang mana yang harus kamu jaga."


Bersama pria itu, Eden pergi melihat kapal yang akan dia jaga. Dari ujung dermaga ke ujung dermaga, mereka berjalan sambil berkenalan. Humor-humor kecil mulai nampak bercengkrama. Pria tua itu sangat gembira ketika Eden menawarkan dirinya untuk menjaga kapal-kapalnya.

__ADS_1


"Hai anak muda, siapa namamu ? sepertinya kamu bukan asli Makassar ya ?. Dari logat bicaramu, aku baru mendengarnya."


"Namaku Eden, Pak. Aku memang bukan asli orang Makassar. Aku berasal dari sebuah pulau kecil yang jauh dari sini. Di kampungku terdapat tiga suku, Pak. Suku paling banyak adalah suku Buton, Bajo, dan Bugis. Keberadaanku di Makassar sekarang sebenarnya ceritanya Panjang, Pak. Sampai saat ini aku berada di dermaga adalah serangkaian dari cerita panjang itu."


"Biasanya, orang asing datang ke kota Makassar, ada dua alasan. Alasan pertama karena memang ingin mencari uang sebagai bekal di masa depan dan alasan kedua pasti menyangkut urusan asmara. Kamu, Bapak lihat tidak bersemangat, alasan kedua yang mungkin kamu alami disini, kan anak muda ?"_


"Urusan asmara itu biasa. Dulu juga Bapak begitu, Bapak bukan asli Makassar. Bapak asli Pangkep kepulauan yang juga datang ke Makassar karena urusan asmara. Sampai akhirnya, Bapak memutuskan untuk tinggal disini"_


"Cinta itu bukan yang hidup tapi bisa menghidupkan. Cinta itu bukan yang mati tapi bisa mematikan orang. Bapak berkata seperti ini karena Bapak melihatmu ada kecenderungan pandangan, kehampaan tatapan mata, kekosongan diri pada saat kamu menanyakan urusan menjaga kapal"_


"Pikirkanlah masa depanmu. Banyak wanita yang bisa memberimu kebahagiaan tapi itu, kamu harus jadi orang sukses dulu. Ketika kamu sudah sukses, bukan kamu yang mencari wanita tapi wanita yang akan mencari mu. Apalagi di Makassar, siapa banyak uang maka dia dapat wanita paling cantik."


Eden mulai semangat, watak aslinya seketika kembali setelah pergi menjelajah ruang angkasa. Dia tidak tahu bahwa pria yang bersamanya memiliki indera perasa yang sama dengan yang dimiliki Resky.


Setiap kalimat kata yang dibicarakan, dijelaskan, Eden hanya mengiya-iyakan, sesekali bertanya dengan penuh harap. Eden sedang mencari solusi perbaikan nasib yang sebentar lagi akan dia dapatkan.


"Nah !. Kita sudah sampai di kapal-kapal yang akan kamu jaga itu, anak muda. Siapa lagi namamu tadi, Bapak lupa lagi ?."


"Eden, Pak. Bapak bisa memanggil apa saja yang penting bagus."


"Jika saja para kuli tadi tahu siapa aku, mereka pasti akan mau menjaga kapal-kapalku."


"Pak, nama tadi bagus !. Aku bisa tanya sesuatu pada Bapak ?."


"Boleh, Nak !. Apa yang ingin kamu tanyakan padaku."


"Bapak selalu menyebut kapal-kapalku, sebenarnya kapal-kapal Bapak yang mana yang mau aku jaga."


"O... Iya, Bapak belum menunjukan kapal Bapak yang mau kamu jaga. Kapal Bapak cuma empat, Nak. Keempat kapal Bapak masing-masing punya nama. Kapal pertama yang itu dengan warna putih biru, namanya Adipura, kedua yang itu, warna kuning putih namanya Jayalah, ketiga yang itu, warnanya merah putih, namanya Daeng Maha Meri, dan yang ke empat sebelah kanan dari kapal ketiga dengan warna hijau putih, namanya Samudera."


"Jadi, keempatnya itu adalah kapal-kapal Bapak ? dan aku akan menjaga kapal-kapal Bapak di pelabuhan dermaga ini, Pak ?."


"Iya. Kamu akan menjaga kapal-kapalku di sini, di pelabuhan. Tapi tenang saja ! kalau malam, ABK atau anggota Bapak biasa turun ke kapal untuk tidur. Kamu akan ditemani oleh mereka hanya pagi, siang dan sore waktu jagamu. Gimana, bisa tidak ?! kalau bisa, Bapak akan memberimu upah, sehari seratus ribu dan makananmu Bapak tanggung."


Kesempatan luar biasa ini tidak mungkin bagi Eden dengan sebutan baru Arasyid akan dia abaikan begitu saja.

__ADS_1


"Lagian cuma jaga kapal, apa berat nya bagiku." Eden setuju dengan tawaran Bapak tadi.


"Ok Pak. Aku setuju !"


"Jangan setuju dulu. Kamu sudah tahu pekerjaanmu apa ? selama menjaga kapal-kapalnya Bapak."


"Belum, Pak."


"Pekerjaanmu, setiap pagi, siang dan sore, kamu harus menjaga kebersihan kapal. Jangan ada debu, setidaknya di waktu itu kamu menyiram dek kapal dan anggota badan kapal yang lain tiga kali."


"Cuma itu, Pak ?."


"Iya. Cuma itu. Tidak ada yang lain. Oya, ini kartu alamat Bapak jika kapan waktu ingin datang kerumah Bapak, kamu bisa datang ke alamat di kartu nama itu dan ini uang hari pertamamu kerja. Bapak kasih uang tambahan biar semangat kerja."


"Terimakasih banyak Pak atas bantuannya."


Kartu nama yang di pegang oleh Eden, tertulis sebuah nama Arasyid Daeng Guru.


Sepintas dia berpikir, "ini namanya panjang sekali pantasan saja awalan namanya dikurangi dan dikasi ke aku. Tapi katanya, jika aku memakai namanya akan ada perubahan dalam hidupku. Ah, orang tua itu pasti berbohong padaku.


Pak Daeng telah pulang. Kini Eden mulai melakukan pekerjaannya. Saat dia hendak naik ke kapal pertama, dia melihat seorang nenek tua yang meminta-meminta. Air matanya menetes tanpa dia sadari, pikirannya lalu beralih memikirkan bagaimana nasib kedua orang tuanya dikampung. Gaji pertama yang dia dapatkan dari Pak Daeng, dibagi dua dengan nenek yang tadi.


Ada semacam dorongan dari dalam hatinya yang ingin selalu membantu orang lain. Dengan tangan terbuka, nenek itu diberikan. Sisanya, dia membeli makanan di dermaga, bukan untuk dia melainkan dikasi kepada nenek juga yang tadi.


Berteman dengan kesengsaraan yang baru datang dalam hidupnya, dia menjadi paham dan bijak menentukan nasib yang selalu murung padanya.


Nasib yang sama juga dipikul oleh para kuli dermaga. Dia berkenalan dengan mereka dalam urusan kemanusiaan.


Sehingga tentang Rindu yang sudah menyakitinya, dia sudah agak melupakan nya walau seutuhnya belum bisa dia hapus dari ingatannya. Eden telah menerima dengan hati yang ikhlas, perkataan Rindu padanya pada intinya telah membuka jalan baginya agar bisa mandiri dan bertahan hidup.


Eden yakin, suatu hari, Rindu akan mencarinya bukan sebagai calon suami tapi sebagai laki-laki yang sudah pernah dia usir. Dia akan meminta maaf untuk kesalahan yang dia buat pada Eden dan Rindu akan berkata, "jangan tinggalkan aku lagi, Eden !."


Hanya ada satu konsekuensinya. Mungkin nasib telah memilihnya, hidup bersama para kuli di dermaga Bugis Makassar ini.


Jika jodoh, kita akan bertemu diatas panggung...!

__ADS_1


__ADS_2