
...Ikhlas...
...*******...
Jodoh memang tidak akan kemana. Jika waktunya tiba pasti akan bertemu tapi rasa sakit yang tertinggal dalam hati adalah suatu kesan yang tak pernah terlupakan untuk selamanya.
Ditengah jalan, aku bersama gondrong tak ingin lagi memikirkan apakah Rindu, kau wanita yang aku cintai, apakah malam ini tidur dengan nyenyak atau seperti. Merasakan sakit yang tak terbendung ini, gelombang yang menghantam diriku lebih besar dari ombak-ombak dilautan yang biasa aku lalui dengan Phinisi ku.
Cinta, di malam ini hanyalah bagian dari sekongkolan rasa yang tengah berkeras, memutuskan pilihan untuk tidak saling menjaga lagi. Kamu membiarkanku membawa sendiri bahtera harapan yang dulu pernah kau ajarkan padaku, hanya untuk sementara atau selamanya.
"Eh, Pak. Hati-hati bawa mobilnya. Bapak hampir saja menabrak seseorang. Bapak melamunkan apa ?."
"Astaghfirullah !."
Mobilnya lalu diberhentikan. Eden dan gondrong turun dari dalam mobil untuk melihat orang yang hampir tertabrak itu.
Ketika mereka berdua mendatanginya, orang itu malah tersenyum dengan indahnya kearah mereka berdua.
"Pak, maafkan kami ! Yang hampir saja menabrak Bapak."
Cerita kecil di shubuh itu mulai merangkai sebuah makna yang terpatri dari kehidupan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
"Nggak apa-apa, Nak. Bapak baik-baik saja, lain kali bawa mobilnya harus hati-hati ya. Dalam keadaan apapun itu, jika bawa mobil tetap harus bisa menjaga arah."
"Bapak tidak apa-apakan ? Kalau ada yang sakit, tolong beritahu kami, Pak."
"Insya Allah, tak ada apa-apa. Bapak bersyukur, karena bisa melihat anak-anak seusia kalian masih perduli pada tanggungjawab. Biasanya, yang aku temukan diluar sana, banyak yang tertabrak malah ditinggalkan begitu saja."
Kebetulan sekali, Bapak itu juga mau pergi ke mesjid. Kesempatan baik ini, tak mungkin Eden biarkan begitu saja.
"Sepertinya Bapak ingin kemesjid ya ? gimana kalau barengan saja. Kebetulan, kami berdua juga mau ke mesjid."
__ADS_1
"Alhamdulillah !" Tapi tidak perlu, Nak. Mesjidnya sudah dekat, kalau kalian mau ke Mesjid sebaiknya duluan saja. Nanti, kita ketemu di Mesjid ya."
Eden dan gondrong lalu pamit dan mereka berdua pergi menuju mesjid.
Suara indah yang melantunkan ayat-ayat suci di shubuh itu, mampu mengoyak segala hitam yang duduk berdiam di hatinya Eden. Ia menangis, air matanya jatuh tak ia sadari tatkala lantunan indah itu menyebut "Nikmat Mana Lagi Yang Kamu Dustakan".
"Aku tak berani bertemu dan menghadap Tuhanku dalam keadaan hina ini." Membisik suara hatinya ketika ia hendak menurunkan kakinya dari dalam mobil keluar menuju ketempat wudhu.
Keanehan yang nampak oleh gondrong itu. Membuat gondrong heran dan bertanya-tanya, mengapa Eden menarik kembali kakinya dan menutup pintu mobil seperti adanya. Gondrong pun menegurnya untuk sekedar mengingatkan agar ayok tunaikan dulu kewajiban di shubuh ini.
"Pak, ayok !. Bukankah Bapak yang mengatakan untuk singgah di Mesjid dulu baru setelah itu mengantarku pulang kerumahku. Lalu, apa yang membuat Bapak hingga tak mau turun untuk melaksanakan yang dua rakaat ini ? Jangan bilang bahwa Bapak masih merasa bersalah akan kejadian malam ini. Akan terasa lebih ringan bila Bapak menunaikan yang dua rakaat ini."
"Gondrong, kamu betul ! Tapi hati ini bukan hanya bersedih dengan yang terjadi padaku malam ini. Tapi, setitik dosa yang begitu banyak, mungkin tak akan terhapus dengan aku menunaikan dua rakaat ini."
"Lupakanlah itu, Pak !. Biarkan aliran kebaikan di shubuh hari ini mensucikan noda-noda dalam dirinya Bapak. Ayok kita berwudhu, Pak !."
"Aku harus balik sekarang menemui Rindu dirumahnya. Aku ingin menjelaskan kepadanya dan kepada keluarganya bahwa apa yang dilihat oleh Rindu tak seperti apa yang aku lakukan."
Dalam kerangka problem yang masih berkecamuk di sanubari, Eden masih juga memikirkan perkataan gondrong.
Karena belum juga berdiri dari tempat duduknya. Gondrong tetap membujuknya "Pak, jangan banyak mikir, ini tugas kita, Pak sebagai Islam." Yakin saja Pak, kesedihan atau masalah yang masih bertengger dalam dirinya Bapak, pasti akan Allah hilangkan seketika. Air wudhu itu, Pak, bahkan bisa membuat seseorang lebih bahagia."
Tak cukup semenit, Eden pun lalu turun dari dalam mobilnya. Bersama dengan gondrong, ia menuju ketempat wudhu.
"Begitu dong, Pak. Aku bahagia melihat Bapak seperti ini. Jangan perduli dengan rasa sakit itu, Pak. Biarkan rasa sakit itu berangsur hilang saat sembah sujud nya Bapak lebih ikhlas dari cintanya Bapak kepada Rindu."
Adzan pun dikumandangkan dengan merdunya. Butiran air matanya mulai turun, ada hal yang membuatnya lebih bersedih dari sekedar mengingat masalahnya.
"Gondrong, aku ingin pulang ke kampungku. Aku jadi kepikiran ingin bertemu dengan keluargaku disana khususnya kedua orang tuaku. Sudah lumayan lama aku di Makassar, aku hampir lupa dengan jalan untuk pulang ke asalku dimana aku dilahirkan."
"Sebaiknya, Bapak memang harus pulang dulu. Orang tuanya Bapak di kampung juga pasti ingin melihat Bapak. Kerinduan seorang anak pada orang tuanya lebih besar ketimbang seorang anak itu sendiri. Jadi gimana dengan niat Bapak yang mau kerumahnya Rindu."
__ADS_1
"Aku akan tetap kesana, menemui Rindu. Aku ingin tetap menjelaskan dan meminta maaf padanya dan kepada keluarganya. Jika Rindu dan keluarganya tak mau memaafkanku, nggak apa-apa ! Yang paling penting, aku sudah meminta maaf. Setelah dari sana, aku akan pulang kampung besok siang. Kamu bisa ikut denganku jika kamu mau."
"Siap, Pak !" Aku ingin ikut dengan Bapak, tapi aku harus izin dulu pada istriku. Jika aku di izinkan maka aku akan ikut dengan Bapak. Kebetulan sekali, selama ini, aku belum pernah menjelajah lautan. Mungkin akan begitu menyenangkan melihat ombak-ombak kecil bercanda dan bercerita pada lautan. Ditambah lagi dengan nyiur-nyiur burung ditengah laut, aku suka pemandangan begituan, Pak."_
"Kita Sunnah dulu, Pak."
Dalam detak genggaman Jantung Sang Pemilik Waktu. Eden dan gondrong mengerjakan Sunnah sebelum yang wajib. Jamaah yang lain, juga demikian menghadap Tuhan dengan sebuah pengharapan yang sama yaitu sebuah kebaikan dunia dan akhirat.
Sekarang masuk pada rakaat. Wajib adalah seperti nafas yang Allah SWT berikan kepada setiap mahkluk. Eden beridiri di belakang pas sejajar dengan Imam.
Pelan namun pasti. Lantunan suara yang merdu menambah butiran air matanya Eden turun walau ia menahannya, ia tak mampu.
Setelah selesai, bersama dengan gondrong, ia menuju rumahnya Rindu. Masih begitu pagi untuk seorang tamu yang tak di undang.
Disepanjang jalan menuju rumahnya Rindu. Hanya ada kata-kata yang memotivasinya "aku harus meminta maaf ! Aku harus bisa melupakan perasaanku walau berat. Saat ini, aku bukan lagi siapa-siapanya." Eden menguatkan dirinya sebelum sesaat melihat boikot dirinya terpampang jelas itu.
Akhirnya tiba juga dirumahnya Rindu. Tapi apa yang terjadi ? Sebelum klason mobilnya di bunyikan, ia sudah melihat sebuah tulisan yang begitu agak mengherankan "untuk seorang bajingan yang bernama Eden, dilarang masuk ke rumahku !."
"Pupus harapanku, tak ada lagi yang bisa diperbaiki." Gemerincing detakan suara hatinya menggores keinginan nya yang mau menemui Rindu.
Apa boleh dikata, kekecewaan pun kembali ia bawa pulang, tak ada perubahan. Eden akan membawanya juga kekampung halamannya dengan menaiki kapal Phinisi miliknya.
Sampai disini dulu !
Tunggu lanjutannya.
Ayo dukung Penulisnya dengan cara
#Vote, Like, Komen, dan beri Hadiah
Untuk menyemangati penulisnya.
__ADS_1
Matur nuwun🙏