Perahu Apung

Perahu Apung
03


__ADS_3

...Ada-ada Saja...


...****************...


Setiba kami dirumah. Aku merasa lapar mungkin juga Rindu. Tapi ada yang begitu bernilai dari Rindu. Aku kira penampilannya yang megah, unik, dan rupawan itu, adalah sosok asli dari dirinya.


Ya... memang kebanyakan wanita harus seperti itu. Berpenampilan bila keluar jalan-jalan apalagi ini bukan kampungnya jadi wajar jika dia harus tampil lebih cantik. Di saat aku menanyakan makanan pada Mamaku dia malah mengambil air untuk berwudhu. Dari situ keberanian ku untuk mendekatinya mulai merosot.


"Bukankah kamu juga lapar, Rindu ?." tanyaku padanya.


"Lapar tapi sedikit !. Aku ingin menunggu yang datang menjemput ku."


Perkiraanku yang datang menjemputnya adalah empat laki-laki yang akan datang dari kapal Phinisi yang dia tumpangi ternyata bukan. Dia menunggu waktu Sholat yang sebentar lagi akan tiba.


Dalam keadaan kagum juga adem aku menilai diriku bahwa aku adalah manusia yang rugi dibandingkan dengannya. Sejenak setelah aku bertanya padanya aku tertunduk dihadapannya. Karena selama ini aku jarang seperti dia mementingkan Tuhan ketimbang rasa lapar yang ada di perut ini.


Sekali lagi Rindu membuka pengetahuan kecil ku yang telah lama tertutupi oleh dunia fana ini. Kuajak diriku untuk berkompromi dengan rasa laparku agar aku juga bisa seperti dia.


Sebelum dia menunaikan Sholatnya aku sempat bertanya akan pentingnya sholat bagi hidup ini. Ketika pakaian suci sudah dia kenakan dia duduk diatas sajadahnya menghadap kiblatNya. Aku meminta izin padanya untuk duduk sebentar hanya sekedar ingin tahu jawabannya.


"Rindu, bolehkah aku bertanya sesuatu ?."


"Boleh dong !. Jangankan bertanya bahkan apapun itu selama aku bisa menjawabnya aku akan menjawabnya."


"Apakah Sholat lebih penting dari apapun yang ada di dunia ini termasuk rasa lapar ?."


"Eden, pertanyaanmu ada-ada saja. Sekarang gini kamu lihat kan kapal Phinisi yang aku tumpangi kesini. Kapal itu sangat begitu penting dan di kapal itu ada cinta, ada mesin, ada layar, ada makanan, ada orang-orang, ada kemudinya, kecil tapi lengkap. Di kapal itu juga ada lampu, bantal, dan lainnya, lebih mengejutkan lagi, kapal itu bisa mengapung, mestinyakan kapal sebesar itu tenggelam dong. Tapi kenapa bisa mengapung, ada apa ya ? pasti ada sesuatu yang tidak aku pahami"_


"Hidup mati seseorang juga tidak aku tahu dan ketika kamu senyum saja kapan aku tidak tahu siapa yang menggerakkan bibirmu untuk tersenyum. Apakah kamu atau bukan. Beberapa diantara manusia berkata tidak usah sholat, sebagian diantara juga berbicara tidak usah makan, sebagian lagi berbicara tidak usah mencintai. Terus siapa yang akan mencintai kita bila sebagian tidak ingin sholat tidak ingin makan dan tidak ingin mencintai ?. Pada intinya semua yang Rindu katakan tidaklah penting hanya ada yang penting yaitu ketika kita tahu siapa yang memutar balikan matahari yang panas, siapa yang memutar balikan hati manusia untuk mencintai, pasti ada dong ? kalau ada lalu dia siapa ?."

__ADS_1


"Rindu, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan. Kamu ada-ada saja, gini saja, kamu cepat sholat baru makan bersama-sama."


"Eden, gini saja baiknya ayok kita sholat dulu sama-sama dan setelah itu baru kita makan sama-sama, bisakan ?."


"Bisa sekali !."


Aku bergegas untuk pergi berwudhu. Mungkin disini dia akan mencintaiku. Kapan lagi kalau bukan sekarang aku menjadi Imam buatnya."


Aku berwudhu dan melupakan rasa laparku. Tapi Mamaku yang melihatku berwudhu dia langsung menyemprot ku dengan berbicara "ya mau sholat karena Rindu yang panggil. Selama ini kalau Ibumu sendiri yang perintahkan untuk sholat selalu banyak alasanmu. Laki-laki sholatnya di mesjid bukan dirumah."


"Ihh... Mama ada-ada saja. Coba kek dukung anaknya. Ini malah kebesaran lagi suaranya bicara. Mah, kan bagus kalau anakmu ikutan sholat sama Rindu."


"Tidak boleh. Sholat karena mau dibilang rajin, tepat waktu itu tidak baik, Nak apalagi niatmu untuk mendapat simpatinya Rindu. Kamu mau kalau Allah marah sama kamu yang maunya sholat kalau ada wanita cantik. Mau kamu begitu ? Ibu saja nih, takut bila Allah marah. Kamu boleh sholat tapi di mesjid bukan di rumah bersama Rindu dan dua temannya itu."


Tidak jadi deh sholat sama-sama di rumah. Rindu bersama temannya yang mendengar teguran Mamaku justru tertawa.


Di saat aku sedang asyik mendengarkan suara itu dari luar rumah. Dua orang sahabatku datang memanggilku untuk pergi ke sekolah. Biasa pergi main gitar.


"Anton, Adi, maaf ya ! aku mau pergi kemesjid dulu. Coba lihat pakaianku, kan aku mau pergi sholat."


"Sejak kapan sholatnya di mesjid. Disiang bolong begini biasanya kalau kami kesini kami selalu melihatmu tidur. Ooo... kami tahu ini pasti wanita itukan hingga kamu sholatnya hari ini tepat waktu ?."


"Bukan juga sih. Hehe... iya."


"Itukan benar apa yang kami katakan. Eden, percuma sholat kalau cuma karena wanita. Sebaiknya ikut kami main gitar. Kalau kamu mencintainya boleh Eden tapi hati-hati, kamu akan sakit hati. Dia bukan wanita disini dan dia tidak akan lama disini. Kamu tahu sendiri kalau dia datang kesini karena urusan pendidikannya. Selesai itu sudah pasti dia akan pergi berlayar menaiki kapal Phinisi yang ada di dermaga itu."


Hampir saja dua sahabatku berhasil membujukku. Hampir saja aku mengikuti keinginan mereka untuk pergi main gitar.


"Anton, Adi, biarlah jika dia pergi. Tidak masalah bagiku jika dia harus meninggalkanku disini. Sempat-sempat dia memanggilku ikut bersamanya, kan kita tidak pernah tahu kebaikan seseorang maupun niatnya."

__ADS_1


Percakapan kami yang ribut itu mengundang kehadiran Rindu. Dia melepaskan bacaannya yang merdu itu. Mamaku juga nongol melihat kami didepan rumah.


Sampai-sampai kami bertiga mendapatkan teguran dari Rindu dan Mamaku.


"He, kalian kalau tidak mau sholat jangan pengaruhi Eden" bentak Mamaku pada dua sahabatku.


Sahut Rindu pada kami "iya, kalau teman itu mestinya ajaknya pada kebaikan. Itu malah ajak mau main gitar. Eden, jangan dengarkan mereka !. Itu sudah adzan dan kalian berdua pergi saja main gitar." Eden pergi sholat.


Manisnya juga dia kalau lagi menguatkan suaranya alias mau marah gitu. Dua orang temanku sebelum pergi mereka menitip pesan agar aku sampaikan pada Rindu. Ampun deh ternyata mereka mencintai Rindu.


"Eden, kalau kamu belum jatuh cinta padanya aku kirim salam padanya. Ternyata sangat cantik, Eden. Pantasan saja kamu mau berubah seperti itu tahunya si wanita kota itu memang sangat cantik. Bahkan bukan hanya kamu yang menaruh hati pada wanita kota itu.


Ada-ada saja !. Hampir saja aku marah pada mereka. Hanya aku yang pantas mengatakan kalau dia cantik. Coba saja jika berani bilang begitu dihadapannya kalau bukan dia marah pasti dua wanita temannya yang akan memarahi kalian.


Tidak penting !. Mereka pergi dan aku pun pamit untuk menuju mesjid.


Rindu, semoga langkah kaki ini adalah titipan yang selama ini aku cari. Titipan ini semoga adalah kasihku padamu.


Aku merayu takdir untuk menaksir wanita yang saat ini stay dirumahku. Disetiap langkah perjalanan kakiku ke mesjid hanya dia yang tertuang diruang pikiranku. Dia bukan hanya seorang wanita yang bisa membangunkan dari tidur yang panjang tapi adalah tokoh sentral yang bisa merubah paradigma pola pikiran dan pandanganku.


Tidak hentinya aku menyebut namanya. Tuhan mungkin akan marah atau cemburu kepadanya karena aku terlalu memberikan keistimewaan padanya. Atau aku akan mendapatkan teguran dari Tuhan sebab kakiku melangkah menuju rumahnya karena motivasi yang terbangun dalam diriku begitu dahsyat kurasakan karenanya.


Sekiranya ini adalah baktiku padaMu maka aku ingin berbakti juga kepadanya menjadi seorang yang dia ridhoi untuk menemani kehidupannya. Aku ada-ada saja tapi iya aku ingin hidup dengannya.


Hanya sebentar saja aku masih menyempatkan memikirkan dia. Di jalan ada beberapa orang yang hanya sekedar bertanya tentang Rindu.


Jangan !. Hanya aku yang bisa mengetahui namanya. Jika kalian ingin tahu lebih jauh maka datanglah padanya lalu ajak dia bercanda, dia akan tertawa secantik mungkin tapi hati-hatilah sebab dia akan marah pada kalian.


Alhamdulillah, Mesjidnya sudah ada di depan mata. Kubersujud padaMu atas segala kesalahanku dan dengarkanlah aku datang menghadapMu agar Engkau memberiku kemudahan untuk mendapatkan cintanya.

__ADS_1


__ADS_2