
...Not a Loser...
...**********...
Lelah, capek menentukan siapa yang harus ia pilih. Semua orang yang hadir di acara pertunangannya, menyaksikan acara itu batal karena meributkan kelakuan Eden, sikap yang seharusnya dia tentukan untuk memutuskan pilihannya ke Anggun. Bukan malah menimbang untuk memilih siapa yang pas dan siapa yang tidak.
Kali ini, dia berbicara dihadapan semua orang. Wajahnya dipenuhi dengan keling-lungan, dihatinya sudah tidak ada cinta yang paling indah sejak ia hidup menderita di Makassar.
Dia mulai berdiri, lalu dengan segenap semangatnya, mencoba menstabilkan raut wajahnya.
"Dengarlah kalian semua, sejak aku mengalami kegagalan cinta dan hidup tidak menentu di kota Daeng ini, menderita berlebihan, dikondisiku seperti itu, aku telah melupakan siapa wanita yang aku cintai. Namun, setiap aku berusaha untuk membuang perasaan yang selalu datang menggangguku, aku selalu tidak bisa"_
"Aku dikalahkan oleh suatu janji yang dulu pernah aku pegang. Janji, bagi sebagian orang hanyalah suatu kata yang mungkin tidak bermakna apa-apa tapi bagiku, janji itu lebih dari hidupku. Lebih dari segalanya, lebih dari kepercayaan ku hari ini, aku masih menyimpannya di antara layangan hati yang terbang tak bertepi. Tidak bergantung tapi terasa menyentuh setiap daging ditubuhku"_
"Apakah kalian semua yang hadir disini ketika berjanji pada diri sendiri, mudah untuk dilupakan ?. Jawablah ?! agar aku juga menjawab siapa yang harus aku pilih dari ketiga wanita ini. Anggun, Resky, atau Rindu. Mereka, bagiku adalah wanita-wanita yang berkharisma dan berjiwa tegar, selalu menjadi inspirasi dihatiku dalam memahami cinta yang sebenarnya."
__ADS_1
Pertanyaan Eden membungkam keributan para tamu. Daeng Guru terlihat semakin marah, begitu hebatnya emosinya hingga piring makanan yang ada dibelakangnya diambil nya lalu dilemparkan ke Eden. Suasana semakin panas, Eden hanya mengucapkan "terimakasih Daeng sebab telah memberiku pengetahuan hingga aku bisa sampai sekarang ini."
"Kamu sungguh berani, kamu tidak tahu rasa malu. Dengan susah payah aku memberimu segalanya. Apa yang kurang, modal pertamamu ketika kamu membuat kapal Phinisi, aku yang modali. Setelah kamu mapan, kaya, dan sudah punya segalanya, kamu dengan mudah berkata seperti itu. Andai sejak awal aku tahu bahwa kamu tidak serius ingin bertunangan dengan Anggun, dari awal aku akan menikahkannya dengan pemuda Sopeng yang pernah datang melamarnya. Cuma karena aku mengingatmu dan Anggun sudah lama kenal denganmu, dia telah menganggapmu sebagai pasangannya makanya aku menolak lamaran itu"_
"Mengapa tidak kamu katakan dari awal. Padahal kamu tahu bahwa Anggun sudah pernah dilamar oleh laki-laki lain. Jika dari awal kamu mengatakannya, tentu aku tidak akan memilihkan dirimu. Kamu mengecewakanku Eden, kamu betul-betul membuatku marah. Lalu apa gunanya pesta yang dibuat dirumahku jika semua tamu undangan telah tahu kalau kamu ingin membatalkan pertunangan ini. Dasar anak desa, tidak tahu balas budi, buka matamu dan tataplah wajahku, siapa yang kamu lihat jika bukan seorang laki-laki tua yang pernah menolongmu."
Bukan malah membaik tapi jauh dari harapan. Para tamu yang tadinya sempat diam kini kembali bersorak-sorak setelah melihat Pak Daeng Guru begitu marahnya pada Eden.
"Apa yang ingin aku katakan bila bicaraku dipotong begitu, Daeng ?. Padahal masih ada hal yang ingin aku bicarakan, Pak Daeng telah memotong pembicaraanku. Aku sangat menghargai Pak Daeng, aku begitu berharap pada Anggun agar dia menjadi istriku di masa datang. Walau mungkin aku akan menjawab Anggun lah yang aku pilih namun jodoh bukan aku yang tentukan Daeng. Pertunangan hari ini akan banyak air mata yang jatuh sebab diantara hati, Daeng tahu sendiri, ada hati yang terluka."
"O o oh, jadi kamu memikirkan hati kedua wanita itu ketimbang memikirkan perasaanku, perasaannya Anggun yang lebih parah dari mereka. Kamu tidak konsisten, terlihat dari waktu kamu membeli cincin pertunangan itu, kamu mencobanya di banyak jari manis karyawan mall saat itu. Aku saja yang sudah tua ini, tidak pernah melihat seorang pemuda membeli cincin tunangan lalu mencobanya dibanyak jari"_
"Iya Daeng. Daeng berkata benar, hanya pecundang sepertiku yang tidak bisa memilih diantara mereka siapa yang masih ada di dalam hatiku. Tadinya, aku ingin mengatakan kepada semua yang hadir disini, aku dan Daeng mengundang para tamu karena suatu tujuan yang sama namun kali ini, aku ingin mengatakan kepada Daeng bahwa aku memilih siapa yang memilihku, Daeng"_
"Terserah Daeng, terserah semua tamu mau menilaiku seperti apa. Untuk sekarang aku ingin pulang, aku tidak akan memilih siapa-siapa. Apakah Anggun, Resky, atau Rindu. Bagiku, mereka adalah wanita-wanita yang kecantikannya sama, kebaikannya sama, Rindu adalah seorang cewek yang hebat membawa Phinisi, Resky juga begitu sementara Anggun adalah putri dari juragan Phinisi. Daripada aku disini, dikatakan pecundang sebaiknya aku pulang. Daeng, sampaikan perkataanku pada Anggun jangan menangis sebab aku bukanlah pemuda yang pantas untuk ditangisi"_
__ADS_1
"Dan untuk semua tamu yang menyempatkan diri hadir disini, maafkan aku ! ini di luar dari dugaan. Aku tidak pernah berpikir bahwa pesta pertunangan yang kami adakan akan sepeti ini"_
"Resky, Rindu, mereka tidaklah salah !. Mereka hanya berkata jujur padaku. Namun, sepertinya banyak yang tidak setuju dan langsung mengambil kesimpulan bahwa aku akan menerima salah satu dari mereka. Padahal belum tentu, sekarang zaman semakin Edan, cintapun banyak yang Edan. Tapi untuk perasaan mereka padaku adalah perasaan yang sama diberikan Anggun padaku"_
"Sekali lagi aku bukan pecundang. Pecundang itu adalah laki-laki yang menghendaki cinta dari ketiga wanita ini tapi aku ingin menentukan pilihanku kepada siapa hatiku akan berlabuh. Seperti Phinisi-phinisi yang baru aku buat, berlabuh dalam keadaan tenang di pelabuhan."
Daeng sama sekali tidak percaya dengan yang kamu katakan Eden. Kepercayaan apa yang hendak aku berikan lagi padamu agar kamu tidak berkata demikian. Padahal kamu, dirumahku telah kuanggap sebagai anakku sendiri. Kamu bebas keluar masuk di rumahku bertemu Anggun namun ternyata sia-sia. Hanya omelan yang kini keluargaku dapatkan. Pikirkan lagi jika kamu memang tidak ingin melanjutkan perjodohan ini. Aku tidak akan merasa kehilangan dirimu bila kamu membatalkan pertunangan ini tapi kamu akan mengingat-ingat terus kebaikan yang pernah aku berikan. Sebelum Anggun menarik hatinya dari dalam dirimu maka hendaklah kamu menyadari bahwa yang kamu katakan dihadapan para tamu adalah suatu kesalahan."
Eden tertunduk dengan apa yang barusan dia dengar. Mungkin kali ini, perkataan Daeng Guru telah menusuk sanubarinya. Walau demikian, dia masih tetap bimbang.
"Daeng, sekali lagi maafkan aku !. Untuk sekarang aku ingin pulang dulu. Biarlah kebersalahan ini, aku pertimbangan ulang dirumah.
Dia berjalan untuk pulang. Dua orang wanita yang begitu mengharapkannya juga ikut keluar bersamaannya sampai semua tamu meneriaki mereka bertiga.
"U u u..., mereka sekongkol, Daeng !."
__ADS_1
Percuma memanasin Daeng Guru. Daeng Guru dengan emosi, sedihnya, dia menundukan wajahnya karena merasa malu. Dia masuk kedalam rumah menuju kamar putrinya itu.
"Eden, kamu memang pecundang cinta !."