
...Sepekan Bersamanya, Hari ini Lain ?...
...****************...
There is no time without you, there is no second wanting to be away from you. Dari hari pertama, malam itu kamu datang, aku sudah bisa menebak secuil jari sebesar dunia bahwa kamu adalah wanita yang sungguh berhati Malaikat.
You don't just pay attention to the Karumpa Elementary School children you teach. They are calm taught by you, they are naughty, you still keep them cool.
Aku hampir iri, iri pada diriku yang beranggapan bahwa jepretan kamera kemarin sore di atas kapal itu adalah suatu bentuk tanda bahwa kamu memiliki rasa untukku. After I realized, it turns out that you are indeed a woman like that.
So, I have to know myself more if I want to approach you. I guess that's impossible ! Apart from my mother who has reminded me, it is also very unlikely that Eden can get to your heart's content.
Tidak apalah ? aku tidak perduli itu, saat ini, disebuah sekolah, aku kenyang melihatmu bermain dengan anak-anak didalam ruangan kelas enam SD inpres Karumpa Barat. Satu minggu bersamanya, banyak hal yang aku dapatkan, Rindu memberiku hikmah untuk sekedar menjadi manusia yang perduli terhadap sesama, perduli kepada setiap hati, kepada setiap rasa dan mencoba untuk tidak memahami kebaikan dari orang lain khususnya dari wanita sebagai suatu sikap yang bisa memagnetik semua isi hati hingga berlomba berharap mengasah keterampilan diri agar dicintai.
Am I just guessing with the feelings I'm hiding from him. However, my mother was the first person to know what was in my heart for her besides Rindu herself. Agak naif jika aku memilih perasaan yang tidak memiliki timbal balik darinya. Padahal prasangka saat dia bersandar di dadaku sore itu, tidak bernilai apa-apa padanya. Apa gunanya dia ingin menyimpan foto yang dia ambil, apa gunanya dia bersandar di dadaku jika baginya hanyalah kewenangan kebahagiaan yang sesaat.
Behind the school door, I watched him teach the children. Full of meaning, full of joy, full of love, his slightly round face, the more he laughs the more he tells me to grab it.
Melihatku, dia memanggil untuk masuk kedalam ruangan kelas. Ini semacam naluri yang dia rasakan, aku memang ingin menemaninya dalam ruangan kelas, bercanda dengannya bersama anak-anak didiknya sementara waktu ini.
"Eden, jangan di pintu berdiri. Sebaiknya masuk kedalam. Lihatlah Eden, anak-anak disini menceriakan kondisi yang cerah ini."
"Iya kak Eden, Kakak boleh masuk !." Sahut seorang wanita kecil yang juga menyuruhku masuk kedalam ruangan.
Hampir saja !. Ketika kakiku ingin melangkah masuk kedalam ruangan kelas. Seorang Guru laki-laki tiba-tiba menahanku dan melarangku agar jangan masuk kedalam ruangan.
"Bagi tamu sekolah tidak boleh masuk dan menggangu anak-anak yang lagi belajar." katanya padaku.
"Bagaimana bisa, Pak. Aku ini dipanggil masuk sama Ibu guru Rindu. Anak-anak juga memanggilku, aku tidak akan mengganggu proses belajar mengajar di sekolah, Pak."
__ADS_1
"Tetap tidak boleh !. Tamu ya tamu dan hanya bisa berada diluar ruangan sekolah. Boleh masuk jika bukan jam belajar."
Perdebatan serius kami, mengundang perhatian anak-anak dan juga Rindu. Dia datang melerai keseleo diantaraku dan Pak Guru tadi.
Sambil memegang tanganku yang sudah agak gemetaran.
"Pak, aku yang minta maaf !. Eden, sebelumnya memang tidak ingin masuk cuma aku yang memanggilnya, anak-anak juga tidak keberatan sama kehadirannya disaat mereka sedang belajar"
"Kalau Pak Gito merasa keberatan dengan kehadiran Eden diruangan sekolah, berarti Bapak juga keberatan dengan kehadiranku di sekolah ini."
Diam dia. Hanya matanya yang berkedip-kedip seperti orang kebingungan.
"Rindu kok dilawan, tidak lihat apa dua orang wanita yang selalu bersamanya. Mereka itu lebih ganas darimu, Pak. Sahutku dalam hati."
"Pak, selama sepekan ini, aku banyak belajar dari Eden. Disini, selama aku pergi kemanapun, mengelilingi kampung ini, orang yang pertama mau menemaniku adalah dia. Jadi, tidak salah dong kalau hari ini, dia juga ada di sekolah ini."
Yang benar saja ! Pak Guru yang mistik itu malah menjawab. " Aku siap menjadi temanmu jalan-jalan keliling kampung atau kemana saja jika di lain waktu kamu mau pergi maka panggil lah, aku."
...****************...
Aku, Rindu, melupakan kejadian pagi tadi. Bel sekolah telah terdengar berbunyi, saatnya untuk pulang kerumah.
Dijalan, sambil santai menuju rumah. Rindu malah tertawa sendiri.
"Apa sih maunya ?."
Karena agak aneh aku dengar. Aku menanyainya, "maunya siapa ?."
"Pak Guru tadi. Kamu ingat tidak, dia bilang padaku, kalau mau jalan-jalan atau kemana, dia bisa menemaniku. Memangnya, aku ini apanya ?."
__ADS_1
"Haha..., Sepekan ini, aku belum pernah melihat wajahmu sekusut itu. Tidak usah dipikirkan, kan tidak bagus, wajahmu terlihat seperti itu. Santai dan nikmati saja. Biasanya senyum, candaan yang sering aku lihat, sekarang tatapan amarah yang tidak fokus melihat jalan"
"Kamu ingin tahu alasannya Pak Guru tadi menawarkan diri."
"Apa ?."
"Dia kan masih muda, dari caranya menatapmu, dia jatuh cinta padamu."
"Jika saja aku tahu, didalam hatinya ada aku maka aku akan berdiri didalam dirinya untuk menginjak-injak hatinya. Memangnya aku ini adalah tipe wanita yang mudah untuk jatuh cinta."
"Makanya ?!."
"Makanya apa lagi, Eden ?."
"Kamu sih, lahir sebagai wanita yang berwajah cantik."
Lepas jangkar, aku salah bicara padanya. Rindu yang mendengar kepolosan candaanku terlihat malu disampingku. Dia mempercepat langkahnya dan meninggalkanku dibelakangnya.
"Aiii, Eden apa yang kamu katakan padanya. Kamu terlalu jujur padanya. Bukankah telah aku katakan padamu untuk tidak terlalu memujinya. Dipersimpangan jalan di waktu yang lain, kamu tidak akan bisa lagi pergi bersamanya sebab dia sudah tahu bahwasanya, kamu juga mencintainya" hatiku menegurku sendiri.
Melihatnya berjalan lebih cepat, aku bahkan tidak ingin mengejarnya. Dia bahkan tidak menoleh kebelakang ku sedikitpun ketika sudah mendengar apa yang aku katakan tadi.
Hanya ada dua figur dalam hatinya saat ini, yaitu figur perasaannya padaku dan figur kebenciannya akan kepolosan yang telah kukatakan barusan ini.
Padahal, dia mestinya bertanya padaku mengapa aku sampai mengatakan seperti itu tadi. Selama sepekan bersamanya, aku tidak pernah melihatnya seperti itu, berjalan meninggalkanku. Dia selalu memanggilku kedekatan nya bila posisiku agak jauh darinya.
Bahaya...! aku tidak akan pulang kerumah hanya untuk melihat wajah cantiknya berubah didepan ku.
Apalah artinya aku, apalah artinya kejujuran ku, apalah artinya kepolosan ku jika pada akhirnya hanyalah kekosongan yang akan kamu tinggalkan untukku, disini dalam hatiku, aku memulai perasaan ku untukmu.
__ADS_1
Telah sepekan, sejak kamu disini, aku mengalami perubahan rasa pada seorang wanita dan wanita itu adalah kamu. Sepekan ini, aku hanya bahagia karena menghibur diriku ketika berada di sampingmu.