
...Controversy...
...**********...
Satu ranjang tiga wanita. Mengejutkan bukan ?! Eden yang tidak bisa menjatuhkan pilihannya pada tiga wanita yang mencintainya, sekarang justru membuat keasyikan tersendiri.
Mau tidak mau, dia harus menikahi ketiga wanita cantik itu. Bukan kesengajaan melainkan mereka telah keasyikan setelah perbincangan hebat tentang julukan barunya.
Perbincangan mereka telah membawa masalah besar yang tidak bisa lagi dihindari.
"Ada apa dengan kapal Phinisi milik Eden. Tumben kapalnya malam ini di matikan lampunya. Padahal setiap waktu lampunya tidak pernah dimatikan." Orang-orang yang ada di dermaga hanya merasa heran dengan kapalnya yang malam ini tidak menyala lampunya.
Malam itu, Daeng Guru sedang mencari anaknya Anggun. Anggun memang gadis yang hidup dan besar di kota tapi dia tidak pernah keluar untuk sesuatu yang tidak penting. Kali ini, Anggun hanya pamit sebentar tapi nyatanya sudah hampir lima jam ia belum pulang kerumah. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Daeng Guru menjemput anaknya di dermaga. Di dermaga, dia menyusuri dermaga dari ujung ke ujung namun anaknya tidak dia lihat. Daeng guru bertanya pada mereka yang masih ada di dermaga, tidak ada juga yang melihatnya !.
Daeng Guru berpikir mungkin Anggun ketempat lain. Tapi tadi dia izin kedermaga. Di telpon tidak diangkat, di sms tidak di balas, hal itu yang membuatnya bertanya-tanya hingga dia tetap menunggu di dermaga.
Tidak lama, hanya dalam hitungan menit. Seorang anak muda yang melihatnya hanya berdiri saja dipinggirnya dermaga, mendatangi Daeng Guru lalu ditanya perihal apa yang membuatnya berdiri di dermaga, apa yang ia tunggu.
"Malam Pak ?!."
"Iya malam, anak muda." Jawabannya.
"Bapak bikin apa di dermaga, jam segini belum pulang ?. Apa ada sesuatu yang penting yang Bapak lakukan disini ?."
"Sebenarnya, aku menunggu anakku. Tadi, dirumah dia pamit mau kedermaga tapi sampai sekarang, dia belum pulang. Kamu dari tadi di dermaga ya, anak muda ?."
"Anak Bapak sudah dewasa atau masih anak-anak, Pak ?."
"Sudah dewasa, Nak. Cuma, aku tetap mengkhawatirkannya. Di Makassar ini terlalu banyak yang harus ditakuti, anak perempuan jika keluar malam apalagi sudah jam segini, dia harus di cari, Nak."
__ADS_1
"Bagaimana ciri-cirinya anak Bapak ?. Siapa tahu aku kenal, Pak. Disini tadi memang banyak orang, Pak. Karena tadi siang sampai sore, ada kegiatan cipta kebersihan lingkungan laut, Pak. Mungkin anak Bapak ada diantara orang itu."
"Anggun namanya. Dia agak tinggi, kulitnya putih, wajahnya agak memanjang kebawah, dahinya agak tajam mengecil, rambutnya air dan panjang sampai pinggangnya. Waktu tadi dia pamit dari rumah, dia memakai baju kaos warna putih polos, rok panjang dan bersepatu. Tapi, aku mau nanya anak muda, jika kamu memang dari tadi sini, kamu pasti tahu mobil yang parkir disana. Mobil warna putih itu karena sepertinya mobil itu pernah aku lihat."
"Mobil itu dibawa sama tiga orang wanita, mungkin anak Bapak datang bersama mobil itu. Karena ciri-ciri wanita yang Bapak sebutkan tadi sempat aku lihat datang dengan mobil itu"_
"Kalau mau dibilang mobil siapa ? aku kurang tahu juga itu, Pak. Yang aku lihat cuma tiga wanita yang turun dari dalam mobil itu."
"Kalau gitu kamu pasti tahu dimana wanita-wanita itu berada sekarang ?."
"Itu dia Pak. Aku kesini mendatangi Bapak karena persoalan itu yang aku bicarakan. Pemilik kapal Phinisi yang sekarang lampunya mati, yang orang-orang mengenalnya sebagai manusia setengah laut, yang datang dari pulau dan sukses disini dengan Phinisi buatannya, saat ini, sekarang ini, wanita-wanita itu ada didalam kapalnya"_
"Sebelum kedatangan Bapak kesini, sekitar jam-jam tujuh malam, tadi banyak orang yang mempertanyakan kapal itu. Biasanya, lampunya tidak pernah mati baik siang apalagi malam begini. Tapi sejak ketiga wanita itu naik ke kapal Phinisi itu, malam ini dimatikan. Kami curiga pada mereka, masa satu laki-laki, tiga wanita. Kuat benar laki-lakinya, apakah ketiga wanita itu adalah istri-istrinya."
"Kurang ajar, mereka bukan istri-istrinya. Dasar maling, dia mau memanfaatkan nama baiknya untuk menjerat lagi anakku."
"Maksud Bapak apa, aku tidak mengerti, Pak ?. Bapak tiba-tiba menyebut maling begitu, emang wanita-wanita itu bukan istri-istrinya ya ?."
"Bapak ini dari tadi bicara apa, aku semakin tidak mengerti dengan yang Bapak bicarakan."
"Kamu memang tidak akan mengerti, percuma kamu tanya, sebaiknya kalau ada temanmu, bantu aku ke Phinisi itu."
Daeng Guru marah besar, dia ingin sekali memotong kepalanya Eden. Dia mempermainkan harapan dan kepercayaan yang telah dia berikan kepada anak desa itu.
Tidak cukup lama, anak muda itu datang dengan membawakan teman-temannya.
Daeng Guru tidak menyadari bahwa apa yang akan mereka perbuat jika berhasil bukan hanya Eden yang akan malu tapi nama baik keluarganya yang juga akan rusak.
Senter dan alat ancaman berupa pisau, parang juga di bawa oleh mereka. Mereka kompak untuk mendenda laki-laki yang apa bila benar-benar ditemukan sedang tidur bersama tiga wanita yang bukan istri-istrinya itu.
__ADS_1
Ketika mereka hendak naik keatas kapal Phinisi mewah itu, tiba-tiba lampu menyala. Mungkin lampu otomatis, mereka tetap melanjutkan langkahnya untuk memeriksa kapal Phinisi miliki Eden dimana di dalamnya Rindu, Resky, dan Anggun sedang tidur dengan lelapnya.
Daeng Guru mungkin karena sudah tidak tahan, dia berteriak walau suaranya sudah tidak sekuat dulu.
"O...o...o..., anak desa, kamu keluar ! suruh anakku keluar dari kapalmu sekarang jika tidak kamu indahkan maka kapal ini akan aku bakar"_
"Siapa yang akan menolongmu. Kapalmu hangus dan kamu juga akan mati bersama kapalmu."
Tidak ada apa-apa selain keributan diluar kapal diatas dermaga juga demikian. Karena tidak ada yang menyahut dalam keadaan membabi-buta, mereka membuka paksa pintu masuk utama kamar.
"Tapi, jika Eden dan tiga wanita itu ada didalam, mereka pasti sudah bangun mendengar keributan kita ini." Tanya salah seorang pemuda kepada teman-temannya.
Mereka tetap menerobos masuk, setiap kamar dalam kapal telah dibuka. Masih ada satu kamar yang belum mereka buka. Kamar pribadi milik Eden yang berada di bagian belakang Kapal.
"Disini harapan kita". Kata Daeng Guru pada anak-anak muda yang dia sewa.
Pas, ketika pintu kamar di buka paksa, Eden baru tersadarkan dengan kagetnya. Dia telah melihat orang-orang itu berdiri didepan pintu kamarnya dengan berbagai pegangan alat ancaman.
Ketiga wanita itu juga ada didalam, disitulah kehebohan terjadi. Semua yang melihat keadaan itu mengira bahwa mereka sudah melakukan perbuatan yang tidak pantas.
Eden dihakimi sebelum ditanyai. Resky, Rindu dan Anggun hanya menangis memohon kepada Daeng nya agar orang-orang itu melepaskan Eden.
"Tidak ada toleren_" Jawab Daeng Guru pada anaknya.
"Nak, aku yang membesarkanmu, dia sudah mengecewakanmu tapi kamu masih saja mencintai dia. Perbuatan kalian sudah tidak bisa dimaafkan. Andai hanya satu wanita maka dia harus menikahi wanita itu tapi ini tiga orang, apakah kalian bertiga rela dijadikan istrinya ?."
Dengan emosi yang luar biasa, Daeng Guru menyuruh orang-orang itu untuk membawa Eden kekantor polisi.
Resky, Rindu, dan Anggun hanya pasrah. Hanya mereka yang tahu kejadian aslinya seperti apa. Eden tidak bersalah dan dia bahkan tidak berbuat apa-apa kepada tiga wanita cantik yang berada di kamarnya.
__ADS_1
Tetap, Eden dibawa kekantor polisi untuk diadili, untuk sesaat Phinisinya di segel.