Perahu Apung

Perahu Apung
46


__ADS_3

...Juru Bicaranya Rindu...


...****************...


Haru, sedih, dan bahagia bercampur satu. Tidak ada hal yang bisa Eden perbuat selain memberikan sumbangan bantuan sebagai ganti kesedihan keluarga korban yang telah meninggal karenanya.


Kedatangan Eden di alamat korban menjadi sorotan warga yang ada disekitaran rumah korban. Sebagian warga melihat kedatangan Eden dan Rindu justru ingin marah-marah, sebagian lagi menyambut mereka dengan penuh kebaikan.


Ini tidak seperti yang Eden dan Rindu pikirkan. Datang membawa bantuan lalu duduk sebentar cerita kemudian pulang.


Seorang Nenek yang Eden tabrak ternyata memiliki seorang cucuk yang masih kecil. Baru kelas dua SD. Sangat prihatin sekali sebab selain Neneknya, anak kecil itu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Kedatangan Eden dan Rindu bukan di alamat asli rumah Nenek itu melainkan saat ini berada dirumah Pak RT setempat.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh...!" Kali ini yang berbicara adalah Rindu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh...!" Sahut mereka yang ada dalam rumah.


Tapi karena Eden dan Rindu datang dengan bodyguardnya jadinya mereka aman.


Mereka berdua masuk kedalam rumah dan dipersilahkan duduk.


"Siapa kalian ?." Tanya Pak RT itu.


"Maaf Pak, kami datang untuk memberikan bantuan ini kepada korban yang beberapa pekan lalu terdampak musibah hingga menewaskannya."


"Iya. Tapi kalian siapa ?." Pak RT masih saja menanyakan siapa mereka.


"Aku Rindu dan ini Eden. Dia yang kemarin dengan tidak sengaja menabrak korban. Saat ini, Eden juga mengalami penyakit lain, penyakit yang tidak seutuhnya bisa mengingat setiap kejadian yang menimpanya bahkan aktifitas hari-harinya yang baru saja berlalu, dia lupa"_


"Saat kejadian itu, Eden masih menyempatkan turun dari mobilnya. Mengangkat Nenek yang ia tabrak, ia berniat ingin membawanya kerumah sakit tapi karena massa lebih dulu main hakim sendiri hingga nyawa Nenek yang mau ia selamatkan tidak tertolong. Padahal waktu itu jika bukan karena main hakimnya massa ditempat kejadian, ada kemungkinan Nenek itu bisa terselamatkan."

__ADS_1


"Oh ! ternyata kalian yang menewaskan Nenek Arini. Tapi heran saja, kalian tidak dipenjara. Aku kira, kalian berada di penjara saat ini. Kenapa bisa berkeliaran seakan hukum tidak berlaku."


"Bapak malah ngomong begitu. Eden juga adalah korban Pak. Tidak ada manusia yang menginginkan musibah kecelakaan dalam dirinya. Jika waktu itu Eden tahu bahwa dengan mengendarai mobil dapat mengambil nyawa orang lain. Dia pasti tidak akan membawa mobil dan lagian dia juga mengalami kecelakaan yang mana ingatannya tidak normal seperti biasanya"_


"Kami kesini sebenarnya ingin memberikan santunan kepada pihak keluarga. Kami tahu bahwa santunan ini tidak bernilai apa-apa dibandingkan dengan hilangnya nyawa Nenek Arini. Namun setidaknya, kami bisa meringankan sedikit beban keluarga dengan santunan ini."


"Kalian membawa apa dan kepada siapa kalian akan memberi santunan itu. Nenek Arini hanya mempunyai satu orang cucuk dan dia masih duduk di bangku SD. Apakah kalian mau memberikan santunan itu padanya. Mungkin orang kaya selalu menilai segalanya dengan uang sementara orang miskin hanya menerima kenyataan itu. Jika kalian selesai memberikan santunan pada cucuknya pasti dengan mudah kalian melepaskan tanggung jawab sebagai manusia yang berkorban."


"Maksudnya Bapak apa ?."


"Aku hanya mengingat kalian jangan sampai setelah ini kalian melupakan cucuknya yang sudah tidak punya siapa-siapa itu."


"Tenang saja Pak. Jika itu yang Bapak maksudkan, Eden dan aku siap membawa anak itu bahkan kami akan menyekolahkannya. Namun untuk hal itu, bantu kami mengurus berkas-berkas pengalihan hak asuhnya pada kami. Gimana Pak, Bapak bisakan membantu kami ?."


"Alhamdulillah jika bisa, aku akan membantu kalian. Kasihan cucuknya yang sudah tidak punya siapa-siapa itu. Ini suatu contoh untuk anak muda zaman sekarang. Setiap melakukan kesalahan maka sebaiknya tetap harus bertanggung jawab."


Pak RT heran dengan banyaknya jumlah santunan yang diberikannya itu. Uang dua miliar rupiah, mobil Toyota satu, beras seribu kilo, berikut sertifikat rumah atas nama korban.


Melihat santunan yang lumayan banyak itu. Pak RT menyusul Eden dan Rindu yang kini sudah dekat dengan mobilnya.


"Tunggu...!. Kalian tunggu dulu !." Pak RT berlari pelan menemui mereka.


Eden dan Rindu menoleh lalu menunggu Pak RT sambil membuka pintu mobilnya.


"Ada apa ?." Kata Rindu.


Sesampai didekat mereka, Pak RT langsung menanyakan kepada mereka bahwa jumlah santunan yang mereka berikan jumlahnya terlampau sangat banyak.


"Santunan yang kalian berikan sungguh sangat banyak ?." Tanya Pak RT pada Rindu dan Eden.

__ADS_1


"Ooo kirain apaan Pak. Tidak apa-apa, itu tidak seberapa dibanding dengan kerugian korban. Paling tidak santunan itu bisa bermanfaat, Pak."


"Aku mau nanya lagi untuk terkahir kalinya sebelum kalian pergi dari sini. Apa boleh ?."


"Boleh ! silakan Bapak bertanya mumpung kami masih disini."


"Dari tadi aku melihat yang banyak berbicara hanya anda sementara laki-lakinya banyak diam. Dan apakah kalian sudah menikah ?."


Pertanyaan Pak RT membuat Rindu bukan hanya terdiam bukan soal mengapa Eden banyak diam tapi soal menikah itu. Rindu memang sudah siap menikah namun apa dikata, Eden masih belum sembuh total dengan penyakit yang menimpanya.


"Pak, kami memang sudah berencana mau menikah. Seperti kataku tadi bahwa Eden mengalami penyakit lupa diri. Musibah waktu itu merenggut ingatannya bukan karena terbentur tapi karena perilaku main hakim sendiri orang-orang yang ada ditempat kejadian yang banyak memukul bagian kepalanya"_


"Waktu itu aku agak terlambat sampai ditempat kejadian. Akibatnya seperti ini, kondisi Eden sangat mengkhawatirkan. Hanya yang aku herankan, dia malah mengingat kejadian waktu itu. Aku saja hampir tidak percaya pada saat dia mengatakan ingin bertemu dengan keluarga korban. Pada saat aku tanya, dia hanya menjawabku waktu itu dengan jawaban kamu siapa. Bukankah jawaban itu begitu sangat memprihatinkan sementara bukan hanya setiap hari aku menemaninya tapi tiap waktu."


"Jika boleh aku sarankan padamu, sebaiknya kalian menikah secepatnya. Aku lihat kalian sangat cocok. Yang satu cantik dan yang satu ganteng. Apakah dia laki-laki yang pengusaha kapal Phinisi itu ?."


"Iya, dia. Saat ini kapal-kapalnya bukan hanya di daerah Indonesia tapi sudah sampai kemancanegara. Hanya kasihan saja ternyata harta semakin banyak, cobaannya juga banyak. Aku berterima kasih pada Bapak yang telah mengatakan kami serasi. Selama ini belum ada yang mengatakan seperti itu selain Bapak. Kami pamit pulang Pak, semoga santunan yang kami bawakan bisa bermanfaat dengan baik. Dan jangan lupa Pak, cucuknya Arini, kami akan datang Minggu depan untuk menjemputnya. Mohon berkasnya, Bapak siapkan ya."_


"Eden, kita pulang sekarang ya."


Bukan lagi culun tapi memang demikian. Setelah penyakit hilang ingatan itu menyerang Eden, Eden setiap hari hanya bisa tertawa.


"Emang sudah selesai ya ?." Eden malah bertanya pada Rindu.


"Sudah Eden !. Kita langsung kerumah ku ya bertemu Daeng ku untuk membicarakan pernikahan kita."


Mobil putih yang cantik itu membawa Rindu dan Eden. Didalam mobil, Rindu menatap wajah kekasihnya sambil memegang tangannya.


"Kamu cepat sembuh ya Eden, aku ingin sekali kita bisa senyum bersama."

__ADS_1


__ADS_2