
...Kubawa Dia Mengingat yang Lalu...
...****************...
Bukan untaian kata yang bisa dirangkai menjadi kalimat. Membutuhkan kesabaran dan kerja keras untuk mengembalikan ingatan yang Eden alami.
Rindu lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Eden. Setelah Eden menjalani rawat jalan, Rindu bahkan tidur dirumah mewah milik Eden. Hanya mereka berdua. Kali ini, Rindu menyewa asisten rumah tangga satu perempuan dan satu laki-laki.
Keseriusannya diperlihatkan pada Eden. Setiap pagi, siang dan sore, Rindu selalu membawa Eden jalan-jalan kepelabuhan. Rindu berharap dengan melakukan refleksasi seperti ini, Eden bisa kembali pulih, bisa normal dan mengingat semua kenangan yang pernah tertinggal.
Dipelabuhan, Eden merasa tidak asing. Ketika Eden melihat semua kapal-kapal miliknya, dia tertawa, dia bahagia bahkan berlompatan. Para kuli yang melihatnya, berlomba mendatangi Eden dengan sambutan meriah.
Selama ini, mereka kehilangan sosok yang dikagumi padahal belum cukup sebulan Eden tertimpa musibah seakan bagi mereka sudah lumayan lama.
Eden disambut dengan berbagai perilakuan khusus. Para kuli dermaga menyediakan sebuah makanan khas pelaut yang disebut dengan bulu babi. Makanan itu hanya bisa dirasakan di daerah pesisir laut. Para kuli tahu kalau Eden suka dengan makanan khas pesisir itu makanya Eden disambut dengan berbagai keistimewaan.
Rindu baru tahu kalau Eden suka makan bulu babi. Dikemeriahan itu, saat semua orang sedang sibuk dengan kenyamanan, keriuhan diatas dermaga. Eden berjalan menaiki kapalnya, ia seakan mengingat bahwa kapal yang ia naiki adalah miliknya.
Dari dek pertama sampai ke dek bawah, Eden melihat ada bingkai-bingkai kecil yang didalamnya terdapat hiasan mini ukiran kapal Phinisi.
Rindu belum sadar kalau Eden saat ini sudah tidak ada disampingnya.
Didalam kapalnya sendiri, Eden mulai menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Dia mulai mengingat bahwa dialah pemilik kapal ini. Ditambah dengan kenangan yang pernah membawanya kepenjara, dia mengingat betul siapa yang memukulnya malam itu sampai pada musibah yang menewaskan Nenek yang waktu itu ia tabrak.
Ingatan itu justru membuatnya menyesali kejadian yang merenggut nyawa seorang Nenek yang belum sempat ia tolong.
__ADS_1
Didalam kapal Eden menangis begitu hebatnya, dia ingin mencari jawaban atas kelalaiannya. Dia ingin mencari alasan penyebab mengapa ia sampai menabrak Nenek itu. Ingatannya hanya mampu mengingat peristiwa-peristiwa yang menusuk hatinya, peristiwa-peristiwa yang banyak melukainya semua muncul bersamaan dengan nash kekecewaan dirinya.
Dia berteriak memohon ampun kepada Tuhan. Dia tidak sengaja menghilangkan nyawa orang, dia merasa bersalah, Eden keluar dari dalam kapalnya menemui para kuli, Rindu, yang masih sibuk dengan acara sambutannya.
Mereka yang melihat Eden tidak tahu kalau Eden sudah mengingat kejadian-kejadian sulit yang menimpa dirinya. Masih dalam kegugupannya, ia berdiri lalu berbicara kepada semua yang ada didermaga.
"Apakah kalian tahu siapa Nenek yang waktu itu aku tabrak hingga merenggut nyawanya ?."
Pertanyaan itu sekaligus mengagetkan Rindu. Bagaimana Rindu tidak merasa kaget, sudah berapa hari ini, Eden tidak terlihat membaik. Penyakit pikun yang dialami bahkan semakin hari memperlihatkan keadaan buruknya.
Rindu langsung melepas Sendok makan yang ia pakai untuk menyantap hidangan bulu babi yang disiapkan oleh para kuli.
Rindu mendekati Eden dengan penuh harapan, dengan penuh bahagia, Rindu bukan hanya melihat laki-laki yang ia cintai dalam keadaannya yang sehat tapi jauh melihat cintanya pulih, akan tumbuh seiring waktu.
"Eden, apakah ini kamu ?. Aku hampir hilang kendali, aku hampir putus asa melihatmu tertimpa penyakit lupa ingatan, aku hampir tidak punya motivasi untuk menjagamu. Apakah ini, benar kamu Eden ?." Rindu mendekati Eden, dia masih belum percaya kalau Eden hampir mengingat semua yang pernah dia lalui.
"Apakah namaku Eden ?."
"Ia, namamu Eden !. Kamu adalah pengusaha Phinisi, kamu dikenal di daerah Sulawesi Selatan ini. Orang-orang yang ada di dermaga saat ini juga mengenal dan tahu kalau kamu adalah seorang pengusaha yang berasal dari pulau kecil. Kamu bukan hanya sebagai pengusaha kapal Phinisi tapi bagiku, kamu lebih dari itu"_
"Ada apa denganmu, Eden ?. Apakah kamu ingat dengan peristiwa yang membawamu kerumah sakit ? peristiwa yang merenggut nyawa seorang Nenek itu ?."
"Iya ! aku tahu ! aku ingin menemui keluarganya. Aku ingin meminta maaf kepada keluarganya, aku benar-benar menyesali kejadian itu. Aku tidak sengaja menabraknya. Yang aku ingat, aku berada di dalam mobil dan membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi. Aku tidak sengaja menabrak Nenek itu, tolong bawa aku kekeluarga Nenek itu"_
"Kamu siapa ?"_ Eden menanyakan nama Rindu siapa. Kamu kenapa bisa tahu kalau aku menabrak seorang Nenek ?."
__ADS_1
Astaghfirullah, Rindu mengira kalau Eden sudah mengingatnya, Rindu mengira kalau Eden sudah tahu siapa dirinya tapi ternyata, Eden belum bisa seutuhnya mengingat masa lalunya termasuk orang-orang disekitarnya. Untuk merespon pertanyaan Eden dengan semangat, Rindu menjawabnya, "aku adalah wanita yang selalu bersamamu setiap waktu."
Para kulipun yang sempat mendengar pertanyaan Eden, mereka juga menjawab hal yang agak sama dengan yang dijawab Rindu.
"Pak Eden, wanita itu adalah malaikat yang selalu bersamamu. Dia orang pertama yang memberimu segalanya, dia yang mengorbankan waktunya untukmu. Semenjak Pak Eden mengalami musibah sampai saat ini hanya Rindu yang menemani Bapak. Jangan lupakan dia Pak, ingatan Bapak mungkin tidak mengingat siapa dia tapi hati Bapak pasti mengenal denyutan jantungnya. Kalau bukan musibah yang merenggut ingatan Bapak, pasti kalian sudah menjadi sepasang kekasih yang sudah terikat." Para kuli itu memberikan gambaran penjelasan kepada Eden mengenai siapa Rindu sebenarnya baginya.
Tetap saja, Eden belum bisa mengingat secara keseluruhan setiap langkah yang tertinggal akibat musibah itu.
Hanya ada keinginannya saat ini. Dia ingin menemui keluarga korban yang meninggal akibatnya.
Sekali lagi, Eden mengajukan pertanyaan kepada semua kuli termasuk Rindu, "siapa yang tahu alamat keluarga korban ?."
Namun karena tidak ada yang tahu. Akhirnya Eden, pergi meninggalkan mereka. Rindu tetap mengikutinya, diposisinya masih berjalan, Rindu membujuk Eden agar pulang dulu kerumah.
"Eden, sebaiknya kita pulang dulu kerumah. Nanti kita cari tahu alamat keluarga korban dimana ?. Bukankah lebih baik jika kita bertanya kepada pihak polisi. Kasus ini telah ditangani oleh pihak kepolisian termasuk preman-preman yang saat itu membuatmu cidera. Kita akan merasa tenang jika urusan ini dilibatkan dengan pihak kepolisian, aku khawatir jika kita menemui keluarga korban, tentu keluarga korban akan berbuat hal yang tidak kita inginkan padamu"_
"Kamu ingin menyuruhku pulang kerumah, santai dan duduk saat keluarga korban menangis karenaku. Dimana nuranimu sebagai manusia, aku lebih baik memilih mati ketimbang tidak menemui keluarga korban dan meminta maaf pada mereka."
"Ini bukan urusan bertemu tapi urusan aku denganmu. Aku khawatir jika hal membahayakan menimpamu lagi. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa lagi. Sudah cukup aku melihatmu seperti ini, melihatmu dalam keadaan tidak mengenalku, aku terluka, Eden."
"Tapi kamu siapa ?. Aku hanya tahu kalau kamu adaalh seorang wanita yang sama dengan wanita lain. Hanya bedanya, sepertinya aku akrab denganmu. Kamu siapa dalam hidupku ini ?."
"Jangan bertanya seperti itu padaku, dengan kamu bertanya begitu, kamu telah membunuhku sebelum kita benar-benar disatukan."
"Bantu aku untuk mengingatmu jika memang kamu adalah wanita yang berharga dalam hidupku namun kumohon, bawa aku menemui keluarga korban. Aku ingin meminta maaf sekaligus memberikan santunan kepada pihak keluarganya. Mungkin tidak seberapa paling tidak bisa berguna bagi keluarganya"_
__ADS_1
"Aku akan pulang bersamamu, kumohon padamu bantu aku untuk mengingat segalanya tentangmu dan tentangku."
Diuntaian setiap kalimat, ada makna-makna tersembunyi yang tidak ingin menampakan alurnya. Eden sedang berusaha keras mengingat wanita yang selalu bersamanya, cinta itu memang butuh ujian dan ujian memang butuh jawaban pasti.