Perahu Apung

Perahu Apung
59


__ADS_3

...Stigma...


...*******...


Stigma ini terlalu sulit aku terima dengan bijak. Aku harus membicarakan keputusan ini kepada siapa ?. Mengingat semua kerabatku (keluargaku) berada jauh di kampung.


Sore itu setelah Eden pulang dari rumah anak yatim, ia langsung menuju rumahnya. Pikirannya mandek, tak jalan seperti biasanya. Disepanjang jalan ia hanya memikirkan keputusan pernikahannya. Bukan gairah atau semangat yang ada dalam hidupnya saat ini melainkan pandangan separuh jalan seakan tertutupi.


Padahal sebelumnya ia bercita-cita ingin secepatnya menikahi Rindu. Namun, setelah restu yang baru saja beberapa jam berlalu itu, malah seperti ombak. Ia, tak begitu merespon keputusan itu. Bukan karena ketidak cintanya tapi pada penilaiannya yang memahami keputusan itu.


Sehingga keberadaan nya dirumah nya bukan malah menenangkan pikirannya. Ia, lalu menuju ruang koleksinya miniatur Phinisinya. Di ruangan itu, Eden menghabiskan waktu selama dua jam hanya untuk membagi keperluan hati dengan melihat betapa indahnya koleksian kapal-kapal mini di ruangan itu.


Namun sama, apapun aktifitas pengalihan yang coba ia lakukan tetap tak ada gunanya. Stigma dipikirkannya justru semakin memberontak menunaikan pemaksaan maupun lebih mencitrakan wujud cinta, setiap kapal mini yang ia sentuh seakan menyentuh beban perasaan terkait keputusan pernikahan Minggu depan.


Ia pun menyandarkan tubuhnya. Duduk disebuah kursi kayu dengan menghadap pintu utama ruangan masuk arah luar. Ia mulai mencari jejak-jejak peninggalan kisahnya pada Rindu. Mulai dari pertama ia mengenal cinta nya Rindu hingga ia bisa sampai sesukses ini mengenal keluarganya Rindu.


Hanya dua mata. Itulah akhir dari penghayatan selama dua jam dalam ruangan kamar koleksinya itu. Eden menemukan solusi tersendiri untuk memutuskan apa ia akan menikah Minggu depan atau belum.


Bukan sebuah keberanian tapi harus lebih dari keberanian itu sendiri. Lalu ia mengambil hpnya, tujuannya ingin menelpon Ayahnya Rindu.


Sebelum menikah, Eden ingin bertemu dengan Ayahnya Rindu untuk membicarakan lebih jauh hubungannya dengan Rindu. Ia ingin tahu, alasan apa hingga untuk sekedar berbicara menyampaikan gagasan dan pendapatnya, tak dibolehkan.


Tidak seperti adat pernikahan dikampung nya. Di tanah kelahirannya, jika laki-laki dan perempuan ingin menikah maka kedua keluarga harus mendengarkan pendapat kedua yang mau menikah. Istilah dengar pendapat merupakan satu konsistensi yang harus dilakukan. Mengingat pernikahan adalah hal yang paling sakral sebelum orang itu menjalani kehidupan rumah tangganya.


Eden lalu menelpon tapi karena tidak diangkat, ia pun mengirim SMS kepada Ayahnya Rindu. Di dalam SMS itu, ia mengatakan bahwa aku ingin bertemu hanya dua orang sehabis Isya di kapalku. Perihal keputusan yang Pak Daeng putuskan sebenarnya mengganggu pikiranku. Seharusnya aku merasa senang dengan keputusan itu tapi nyatanya, aku tidak bahagia. Ada segenggam kekacauan batin yang meresahkan hatiku, sehingga kita harus bertemu.


Setelah SMS itu dikirimkan ke Ayahnya Rindu. Eden pun bersiap-siap merapihkan dirinya. Ia berpakaian yang agak sopan, terlihat kebapa-bapaan.


Ketika Eden mau keluar, ia pun disambut dengan percikan pertanyaan dari Ayu.


"Bapak mau kemana dengan berpakaian seperti itu ?. Mau ke kondangan ya ?. Kalau mau pergi, Bapak makan dulu, aku sudah siapkan makan kesukaan Bapak."


"Ada urusan yang mau aku selesaikan malam ini. Kamu jaga rumah ya !." Sahut Eden, pada Ayu.


"Kalau mau pergi, Bapak makan dulu. Tidak baik meninggalkan makanan yang sudah siap di meja, Pak."


"Sebentar aja, aku akan cepat pulang !."


"Tapi, Pak !."


"Ini mendesak Ayu. Aku tidak akan lama, hanya sebentar !."


Eden lalu keluar menuju mobilnya. Sesampainya dimobil, ia harus kembali lagi kedalam rumah sebab kunci mobilnya lupa ia bawa. Perkiraannya ada di dalam kamarnya tapi justru setelah di cari tak ditemukan.


Sementara waktu pertemuan yang sudah ia janjikan pada Ayahnya Rindu pukul 20:00, ia sudah harus ada di kapalnya sebelum jam menunjukkan waktu tepatnya.


"Aduh ! kunci mobil tadi dimana aku taruh ?."


Karena sudah agak lumayan berapa menit ia cari belum juga menemukannya. Eden lalu meminta bantuan Ayu untuk membantunya mencari kunci mobilnya.

__ADS_1


"Ayu...," panggilnya dari dalam kamar. "Tolong bantu aku cari kunci mobil, aku lupa dimana aku simpan."


Ayu yang sejatinya menaruh perasaan pada majikannya itu, langsung menuju kamarnya Eden.


"Ada apa, Pak. Aku mendengar Bapak memanggilku !."


"Iya, tolong bantuin aku cari kunci mobilku ya. Seingatku tadi, aku menaruhnya di atas tempat tidurku, tapi kenapa tidak ada ?. Kamu bisakan bantu aku ?."


"Bisa, Pak !."


Eden mengira kalau ia salah menaruh kunci mobilnya. Dalam rentang waktu setengah jam pencarian kunci mobil yang sengaja disembunyikan oleh Ayu itu, banyak hal yang terjadi, terutama sepasang kekasih yang tersembunyi dibalik bajunya Ayu begitu jelas terlihat saat ketika Ayu dengan sengaja mengatakan kepada Eden bahwa kunci mobilnya ada di bawah tempat tidurnya.


Dari arah berlawanan, Ayu menunduk, Eden juga menunduk. Apa yang Eden lihat, bukan kunci melainkan matanya menyaksikan keindahan kekasih k****r itu bergantung mencium baju tanpa B***g.


Eden dibuat keok. Ia langsung berdiri dan menegur Ayu dengan membelakanginya.


"Ayu, aku sering bilang sama kamu, selama kamu berada dirumahku, tolong penampilanmu dijaga. Ganti bajumu, bajumu terlalu menonjol dimataku, Ayu."


"Maaf Pak, aku kira Bapak memintaku untuk mencari kunci mobilnya Bapak. Dari tadi, Ayu merasa kepanasan. Dari tadi sore, aku masak di dapur sampai semua jad hanya berharap agar Bapak bisa makan. Baju yang sekarang aku pakai memang sengaja aku pakai agar ketika bekerja tidak terlalu merasa kepanasan"_


"Kan baik Pak, kalau Bapak melihatnya."


"Lihat apa ?. Aku tidak melihat apa-apa. Aku hanya bilang, lain kali perhatikan penampilanmu. Mana kuncinya ?. Tolong jaga rumah, aku mau pergi dulu."


"Baik, Pak !. Jangan lama pulangnya, Pak."


Padahal ia sudah keluar dari dalam rumahnya. Eden bahkan sudah berada didalam mobilnya tapi karena sesuatu yang sempat dilihatnya di dirinya Ayu malah kepengen tidak mau jauh.


"Ayu...," sekali lagi Eden memanggil Ayu dari dalam mobilnya.


"Mana Ayu-nya ?. Kenapa lama ?. Terlalu indah yang tadi aku lihat. Selama ini, aku belum pernah melihat yang agak besar begitu, bahkan yang kecil saja, belum pernah aku lihat."


Baru saja Eden selesai berbicara sendiri, Ayu sudah ada tepat berdiri didepan pintu mobil.


"Ada apa, Pak ?." tanya pada Eden.


"Kamu bisakan temani aku pergi sebentar ?. Kalau kamu mau, pakaianmu diganti ya. Jangan berpenampilan begitu. Tapi kalau tidak mau ganti baju, juga tidak apa-apa."


Dengan perasaan bahagia, Ayu lalu menjawab "aku mau, Pak."


Eden lupa kalau gondrong yang saat ini bekerja sebagai keamanan pribadi rumahnya bersama Pak Anto, sejak dari tadi memperhatikan keramaian yang berlangsung antaranya dan Ayu.


Mereka lalu pergi bersama bahkan Ayu duduk dikursi depan dalam mobil tepatnya di sampingnya Eden.


Gondrong yang sejatinya menyaksikan hal itu hanya bisa terpanah ketika melihat Ayu pergi dengan baju yang menggoda itu.


Diwaktu yang agak berbeda menit, Rindu pun tiba dirumahnya Eden. Pintu pagar rumahnya belum sempat di tutup oleh gondrong. Tanpa turun dari dalam mobil, Rindu menanyakan kemana Eden pergi kepada gondrong.


"Eh, Ibu !. Maaf Bu, Bapak baru saja keluar. Aku tidak tahu kemana Pak Eden akan pergi. Itu mobilnya, belum terlalu jauh dari sini. Mungkin kalau Ibu kejar pasti masih dapat."

__ADS_1


"Oh, iya. Sama siapa perginya tadi ?." Rindu terlihat seperti mau marah."


"Bapak pergi ditemani asisten rumah."


"Pantasan saja dia tidak menelepon ku. Dia bilang padaku sesampainya dirumah akan menelepon. Aku tunggu dari tadi sore sampai malam ini, tak ada teleponnya. Padahal dia pergi jalan-jalan dengan asistennya"_


"Terimakasih !. Aku susul dulu mereka dan jangan beritahu Pak Eden lewat SMS kalau aku mengikutinya."


Rindu mengikuti mobilnya Eden dari belakang hingga sampai di pelabuhan.


Di pelabuhan, Eden turun dari mobilnya sementara Ayu menunggu didalam mobilnya sesuai pesannya Eden.


Karena sudah lewat jam delapan, Ayahnya Rindu tidak kelihatan di kapal. Eden bertanya pada penjaga kapalnya apakah Pak Gub pernah datang kesini.


Ternyata tidak !.


Jawaban itu semakin membuatnya berpikir bahwa dimata keluarganya Rindu "aku bukanlah siapa-siapa."


Eden lalu kembali kedalam mobilnya. Ia down dan kecewa, sedikit kemarahan terukir dari wajahnya.


Apakah Eden berpura-pura menampakan karakter wajah itu didepan nya Ayu. Yang pasti ketika Ayu melihatnya demikian, Ayu tak menahan diri.


Ayu menghibur Eden agar tak murung, kecewa, apalagi sampai harus down karena keputusan pernikahan yang sudah ditetapkan Minggu depan.


Semakin Ayu menghiburnya, Eden menikmatinya sampai pada titik dimana hasrat mulai membengkak dalam diri mereka.


Masih begitu dini untuk urusan romantis me. Telah terjadi kecelakaan salah cinta didalam mobilnya sendiri.


Rindu yang sadar hal itu bergegas mendatangi mobil kekasihnya. Rindu mengetuk pintu mobilnya dan ketika pintu mobil dibuka, Rindu mencium aroma bau menyengat yang keluar dari dalam mobil.


"Rindu, ini bukan seperti yang kamu lihat." Eden mencoba menjelaskan kepada Rindu bahwa apa yang terjadi bukanlah seperti yang dipikirkan. "Rindu, aku bisa menjelaskannya padamu, kenyataannya tidak seperti itu, Rindu."


"Diam !. Jadi ini alasan perubahan dirimu padaku. Ini alasanmu hingga kamu tidak menelepon ku. Aku kira, kita akan bahagia, keluargaku sudah setuju kita menikah Minggu depan. Pantasan saja, kamu tidak mau menyentuhku walau aku memintamu beberapa kali. Jadi kamu lebih suka menyentuh wanita yang kamu pelihara dalam rumahmu ketimbang aku. Silakan lanjutkan, aku tidak perduli apapun yang terjadi antara kalian malam ini."


Eden menarik tangannya Rindu "Rindu, tunggu ! aku bisa jelaskan."


"Lepaskan tanganku, dasar laki-laki bajingan."


Sementara Ayu hanya menikmati pertengkaran mereka.


Ini kedua kalinya Eden dan Rindu bermasalah didermaga. Kedua kalinya juga mereka harus minder, hubungan mereka adalah semacam percobaan kesetiaan.


Entahlah ! bagaimana selanjutnya.


Wait Next 🙏


#Beri masukan, komen dan like


Matur Nuwun...!!!

__ADS_1


__ADS_2