
...Kalau Begitu Lanjut Jalannya...
...****************...
Aku diangkat oleh beberapa orang dari dalam mobil dibawa keluar. Aku didudukan ke kursi yang ada di warung kecil pinggir jalan. Ayahnya Rindu datang menemui ku, semua orang kaget melihatnya. Orang nomor satu Sulawesi Selatan juga hadir. Padahal dia memang ada, dia yang menyuruhku bawa mobil. Namun saat mobil terguling ia bersembunyi entah dimana, biar batang hidungnya tidak kelihatan. Ketika aku dinyatakan dalam keadaan baik-baik saja, eh, dia malah nongol dengan memujiku.
Dalam hatinya Eden berbisik, seorang Gubernur tapi penakut. Dia tidak mau bertanggung jawab, dia malah sembunyi ketika Eden mengalami kecelakaan. Rindu ada disitu, dia menyesali kejadian barusan. Dan orang-orang yang datang melihat Eden, tahu bahwa mobil yang dibawanya adalah mobilnya Bapak Gubernur.
Dengan senyum-senyum nya, ketawanya sedikit. Dia langsung berbicara, "yang ada disini semua silahkan mau pesan apa di warung Ibu ini, nanti Bapak yang traktir. Ini, pemuda yang baru saja kecelakaan adalah temannya anakku yang datang dari pulau jauh. Tadi, dia belajar bawa mobil cuma tidak tahu kenapa malah menabrak pematang jalan, untung saja tidak terjadi apa-apa dengannya. Kalau sedikit saja ditubuhnya ada luka, aku bisa kena marah sama keluarganya." Rasa khawatir Ayahnya Rindu padaku dialihkan dengan menghibur semua orang yang ada disekitarnya.
"Oh, jadi itu pemuda, temannya Rindu ?. Pantasan saja Bapak nya tidak marah saat mobil pribadinya menabrak. Ternyata temannya !." Mereka yang masih mengerumuni Eden berkata hal yang sama.
Lelaki desa yang tengah menaruh semua isi hatinya pada Rindu itu semakin merasa bahwa cintanya betul-betul di uji oleh calon mertuanya. Kesetiaannya bagi pribadinya adalah modal besar untuk tetap mempertahankan hubungan nya bersama Rindu. Namun, Ayahnya seakan melihat kesetiaannya hanya semacam permainan fantasi yang bisa menghibur nya kapan saja.
Melihat Pak Gubernur datang dan mentraktir semua orang yang ada di sekitar Eden pada intinya, dia cuma pengen aman dari pertanyaan orang-orang itu. "Takut juga dia !" Eden menghela nafas sakitnya sambil mengatai Bapak calon mertuanya itu.
Sembari mentepuk-tepuk punggungnya Eden, Ayahnya Rindu juga berbisik padanya "kamu hebat ! kamu pantas untuk lanjut tantangan yang lain. Tapi untuk hari ini, karena kamu tidak apa-apa, baik-baik saja maka perjalanan ke Labuan Bajo akan terap kita lanjutkan"_
__ADS_1
"Gimana menurutmu anak muda ?." Tanya Ayahnya Rindu padanya.
Eden bukan laki-laki pengecut yang mundur sebelum berperang. Mobil yang lecet setiap sudutnya dibawa kebengkel terdekat. Mobil yang lain pun dari arah jalan sebelumnya datang untuk mengantar kami ke pelabuhan.
"Emang orang kaya punya mobil seperti punya mainan." Ketika Eden melihat mobil yang melaju kearah mereka dengan warna putih polos merek yang sama, dia agak gimana gitu berada diantara kehidupan orang kaya seperti itu. Di sanubari nya berbicara pada akalnya, apakah mungkin jika ia akan hidup bersama Rindu. Sebab ia adalah laki-laki yang tidak memiliki apa-apa selain nama dan harga diri yang saat ini tengah dipertaruhkan.
Diantara tanda tanya yang dalamnya l, Rindu justru menyemangati laki-laki kesayangannya itu. "Kamu harus kuat, Eden. Jangan biarkan semangat itu pudar sehingga menjauhkan kita satu dengan yang lain. Daeng ku, sebenarnya ingin menguji kesabaran dan ketabahan mu. Kalau kamu bisa melewati semua tantangan Daeng ku, kamu lulus untuk menyatukan cinta kita selamanya. Aku sebenarnya tidak setuju dengan Daeng ku yang berlebihan memberimu tantangan seperti itu. Namun, kamu juga tahu, aku tidak bisa berbuat banyak. Daeng ku yang memutuskan kapan dan bagaimana hubungan kita berjalan kedepan."
"Rindu, kamu benar !. Tapi kamu pun sendiri tahu, aku ini bukanlah laki-laki yang mungkin bisa melakukan semua tantangan yang diberikan Ayahmu. Memang, aku belum mengaku kalah akan tantangan yang lain, yang mungkin lebih sulit dari ini. Tapi bukan berarti, aku punya kemampuan serba bisa. Bagaimana hubungan kita bisa bertahan dalam kehendak seperti itu, andai suatu waktu ada tantangan yang tidak bisa aku lakukan maka pada hari itu juga, pasti hubungan kita akan berakhir."
Tidak berarti apapun yang dia bicarakan pada Rindu sebab penentu hubungan mereka dipegang oleh Ayahnya Rindu. Dalam urusan hati yang belum selesai itu, Ayahnya Rindu menyuruh semua keluarganya untuk masuk kedalam Mobil, berangkat menuju pelabuhan Bugis Makassar.
Eden bergerak saja masih tidak kuat. Dia dibantu oleh Rindu masuk kembali kedalam mobil dalam keadaan kondisinya tertatih-tati, lesu dan compang gitu.
Tak lama setelah mereka semua berada didalam mobil yang baru saja datang tadi. Seorang wartawan dari Harian Fajar datang ingin meliput berita kejadian hari ini. Wartawan itu berdiri didepan mobil yang kami tumpangi namun Ayahnya Rindu memberi instruksi agar kegiatan liput beritanya jangan dilangsungkan sekarang.
Gubernur, gitu !. Mobil pun memacu kecepatan sedang menuju dermaga Bugis Makassar. Di sepanjang jalan, Eden baru merasakan bahwa badannya begitu sakitnya. Saat kecelakaan tadi ternyata membuat Eden tidak bisa duduk lebih baik dari biasanya. Eden gelisah diatas mobil sampai Rindu yang duduk disampingnya menanyakan kepadanya.
__ADS_1
"Eden, kamu sejak berada di atas mobil, kok gelisah begitu ?."
"Tidak tahu kenapa, tulang ekorku baru aku rasakan. Ada rasa nyeri yang tidak bisa aku tahan."
Mendengar hal itu, Rindu memberitahu Ayah dan Ibunya agar perjalanan mobil sebaiknya di balikan kerumah.
"Mah, Daeng, sebaiknya kita batalkan saja rencana mau ke Labuan Bajo. Eden mengalami nyeri dibagian tulang ekornya. Jangan sampai sakitnya lebih parah, kita yang akan kerepotan nanti saat berada di Labuan Bajo. Bukan malah menikmati suasana wisata dengan nyaman tapi justru kita semua akan bergantian merawat Eden."
Apa yang disampaikan Rindu pada kedua orang tuanya malah direspon dengan kata manis tapi tidak enak di dengar ditelinga. Mungkin karena pembawaan bahasanya dengan nada suara halus makanya di dengar agak bagus di telinga.
"Rindu anakku, laki-laki itu pasti mengada-ada. Tadi waktu masuk dalam mobil bisa. Sekarang diperjalanan, dia baru bilang sakit. Pasti dia ingin dipegang itu. Banyak tukang urut disana, sesampai di Labuan Bajo, kita carikan tukang urut yang paling profesional dan paling tahu mengatasi keluhan seperti itu. Gimana Eden, kamu maukan ?." Sekali lagi Ayahnya tidak percaya kalau Eden merasakan kesakitan yang luar biasa.
Terpaksa Eden harus ikut, dia hanya bisa mengangguk-ngangguk kepalanya.
Memang, bicara cinta adalah bicara soal perjuangan. Eden hanya mampu menahan nyeri dibagian belakangnya dengan sesekali suara, "aduh, sakit !."
Tenang Eden, aku tetap ada disini. Rasa sakit itu adalah bukti bahwa perjuangan mu tidak akan sia-sia. Mungkin harus begitu, baru Daeng ku melihat pengorbanan cintamu untukku.
__ADS_1