
...Ada Yang Lain...
...**************...
Sejak kegentingan pertemuan di dermaga dengan Rindu, aku mulai bisa melupakan perlahan tentangnya. Aku menguatkan diriku walau rapuh, aku harus bisa belajar untuk tidak mengenal sosoknya yang kerap kali datang menemani kesendirian ku saat ini.
"Ada yang lebih baik dan tidak kalah cantiknya dengan Rindu" kataku sembari mencandai hati yang lagi kepanasan ini, toh cinta bisa berganti oleh yang lain. Kalau dia bisa menggantikan posisiku dalam hatinya, aku bahkan harus lebih bisa menggantikan posisinya dalam hatiku.
Masalahnya ada pada Ibuku. Ibuku tidak tahu kalau aku disini masih bersama dengan Resky bukan dengan Rindu. Rindu, disaat ini apakah masih ingin melihatku atau dia hanya berpura-pura menangis waktu itu. Jika Ibuku tahu, aku akan disuruhnya pulang secepatnya karena Ibuku berharap, aku kesini, memanggil Rindu untuk pulang bersamaku.
Apa gunanya, aku memikirkan nya, memusingkan dia. Dia sendiri belum tentu memikirkan ku. Sekarang aku dirumahnya Resky bersamanya, dia begitu baik, dia ternyata adalah seorang wanita dengan banyak prestasi. Lihat saja, didalam rumahnya, begitu banyak barang-barang jualan.
Di Kampung Bugis, Resky termasuk wanita yang dihormati. Selain itu, dia juga suka membantu orang yang kesusahan.
Buktinya saja, waktu kami naik ke darat menuju rumahnya. Sudah banyak orang yang datang berlayat kerumahnya hanya sekedar ingin melihat kepulangannya setelah beberapa bulan ini dia meninggal kan kampung halamannya.
Anak-anak kecil yang umur dua tahun sampai lima tahun telah disiapkan kado istimewa. Semua dapat jatah baju dari Resky.
...****************...
Menariknya, Resky tidak pernah mengatakan bahwa hadiah baju yang ia berikan kepada anak-anak itu dapat mengurangi harta yang dia dapatkan. Bahkan ketika aku menanyakan perihal tentang itu, Resky hanya menjawab, "harta bisa dicari tapi kasih sayang dari orang-orang sekitar kita, sangat sulit untuk didapatkan."
Jawaban itu merubah arah pandang ku yang selama ini hanya fokus pada dunia, hanya tahu akan cinta dan hanya melihat segala hal dari kebutuhan masa depanku.
Pantas saja, sesampai di rumah nya, aku bukan hanya melihat mereka dengan gembira, bahagia, menyambut kepulangan Resky. Resky bagi sebagian orang dikampung Bugis adalah sosok anak muda yang patut dicontoh.
__ADS_1
Ketika Resky masih sibuk membagi-bagikan sisa baju yang tidak habis terjual, aku dipanggil oleh orang tua, seorang Ibu-ibu yang usianya tidak beda jauh dengan Ibuku.
"Nak, kamu masuk kedalam rumah, istirahat dulu ! pasti perjalanan kalian selama ditengah laut sangat melelehkan."
"Iya." jawabku pada Ibu itu.
"Resky, siapa orang tua itu, dia memanggilku untuk masuk kedalam rumah" sekedar ingin tahu, aku menanyakan nya pada Resky.
"Masuk saja ! beliau Ibuku. Aku hanya hidup dua orang bersama Ibu. Bapak sudah lama pergi, meninggal saat aku berumur delapan tahun. Kamu duluan saja kedalam rumah, nanti aku menyusul setelah ini."
Aku masuk kedalam rumah. Diruangan tamu, aku melihat ada lumayan banyak foto-foto kapal Phinisi. Aku bertanya pada Ibunya Resky tentang foto-foto itu, mengapa harus dipajang didalam rumah dan kapal-kapal yang ada di dalam foto itu, kapal siapa ?."
Baru saja sepenggal jawaban, Resky masuk kedalam rumah dan dia yang melanjutkan jawaban Ibunya.
"Kapal-kapal yang ada di dalam foto itu dari generasi ke generasi pasti memiliki nya. Coba saja perhatikan dengan baik, kapal-kapal di dalam foto itu berbeda dengan model Phinisi sekarang. Gayanya beda, arsitek pembuatannya lebih tua dari gaya kapal sekarang. Aku dan Ibuku sebenarnya berketurunan Protugis, dulu leluhurku yang membawa Phinisi ke Sulawesi. Setelah itu, Phinisi-phinisi yang lain bermunculan. Tidak heran kampung ini disebut sebagai kampung Bugis karena Phinisi yang pertama datang itu berlabuh disini. Tapi entahlah, apapun yang aku katakan, sejarah selalu memiliki presepsi lain akan sebuah kebenaran di masa lalu"
...****************...
Dulu, Rindu yang tinggal dirumahku. Sekarang, aku yang tinggal dirumahnya orang. Ini gantian, apakah ini menandakan bahwa antara aku dan Resky akan terbina suatu hubungan.
"Ngapain coba, aku harus memikirkan perihal ini" kataku sendiri.
Dia masuk kedalam kamarnya. Ibunya yang masih bersamaku juga mengatakan hal yang sama padaku.
"Nak, kalau mau istirahat, naik saja keatas. Resky, orang nya memang begitu. Dia agak gimana gitu pada orang lain. Tapi, dia baik Nak !. Kamu ABK baru ya di kapalnya ?."
__ADS_1
ABK baru ?!. "Iya Bu ! aku ABK baru di kapalnya. Bu, aku naik dulu ke atas ya, aku mau istirahat sebentar saja."
"Oh, iya Nak. Silahkan ke atas Nak !."
Seperti istana, aku baru melihat rumah sebesar ini yang hanya dihuni oleh dua orang wanita. Pokok nya serba mewah, anehnya ! Resky malah terlihat seperti wanita yang tidak kaya.
Aku menaiki tangga dalam rumah yang menuju ke lantai atas. Di atas, aku melihat kamar yang ingin aku tempati. Pintunya aku buka dan aku masuk kedalam kamar. Resky mungkin lupa atau dia sengaja, foto mesranya bersama kekasihnya yang sempat dia ceritakan padaku terpajang rapih tepat diatas tempat tidur.
Aku berdiri diatas tempat tidur untuk meraih foto itu. Sekedar ingin melihatnya dari jarak yang paling dekat dengan mataku.
Ketika aku mengambilnya, foto yang masih dibingkai itu tiba-tiba jatuh hingga mengenai lantai rumah. Aku mengambilnya kembali dengan tujuan ingin memasangnya ulang ditempatnya.
Entah apa yang mendorongku untuk membolak-balik foto mereka. Di bagian belakang foto itu, jelas terlihat sebuah tulisan yang sulit aku percaya tapi itulah yang aku lihat.
"Kita tidak mungkin bisa bersama lagi tapi aku sudah pernah menjadi suamimu untuk satu malam."
Maksud nya apa kata-kata ini ?. Aku tidak mengerti dengan makna dari tulisan dibelakang foto ini.
"Ya, bukan urusanku, ngapain coba, aku ingin mencari tahu kehidupan masa lalunya Resky." Mencoba untuk menasehati diriku sendiri agar tidak berpikir yang macam-macam tentang Resky.
Kutaruh foto itu ditempat nya semula. Aku tidak perduli dengan kata-kata itu. Sambil duduk-duduk, aku mencari alasan-alasan hati yang tenang, mengapa tadi aku harus bermasalah dengan Rindu. Padahal aku sudah berniat sejak kepergianku dari kampung adalah untuk menemui Rindu. Tapi aku sakit ! aku sakit melihatnya berpegangan tangan dengan laki-laki itu, mana mereka menikmati keadaan itu. Andai dia tidak berpegangan tangan tidak mungkin aku semarah tadi. Belum lagi aku ditampar didepan orang banyak, awas saja, kalau aku bertemu lain kali, aku akan membalasnya.
Dalam pilunya hati, kubebaskan semua beban pikiran berat yang ada di kepalaku sambil mencari tanda-tanda panggilan untuk tidur.
Hanya ada satu kata yang membuatku bisa tertidur, "Rindu, aku ingin bertemu kembali denganmu, aku ingin kita bisa hidup bersama, Rindu, apakah benar jika kamu sudah menikah ?."
__ADS_1
Jawabannya hanya ada pada Rindu. Aku tertidur dengan membawa namanya kedalam tidurku.