
...Tawanan Phinisi...
...**************...
Aku hampir tidak percaya dengan Rindu. Dia setega ini padaku, memperlakukanku dengan senonoh tanpa pernah berpikir bahwa aku adalah orang yang pernah memberinya kasih cinta untuknya.
Aku dibawa kerumahnya, disana aku dimasukan kesebuah ruangan yang megah dan cantik. Terlihat bukan seperti penjara, didalam ruangan itu berbagai dekorasi kapal Phinisi disimpan.
"Ini apa ?" tanyaku pada bodyguard yang membawaku.
Mungkin bodyguard-nya dikunci, disuruh untuk tidak berbicara saat aku bertanya.
Kebingungan ku semakin bertambah saat aku melihat sebuah dinding dengan lukisan seorang laki-laki. Di dinding itu. Lukisan itu seperti nampak mengejar perempuan, entah siapa di lukisan itu hanya pemilik ruangan ini yang tahu.
"Ah, dimana bodyguard itu ?." Aku bertanya pada diriku sendiri. Dia pergi tanpa memberitahuku. Sungguh, ini adalah semacam penyekatan yang tidak beralasan.
Aku tidak lagi melihat nya. Sekarang aku hanya sendiri diruangan ini. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain diam menunggu nasib baik menjemputku.
Kusesali pertemuan ku dengan Rindu. Jika malam itu aku menolaknya untuk tinggal dirumahku, tidak mungkin aku berada disini.
Ini mungkin yang dikatakan Ibuku, mencintai hanya untuk menyakiti diriku sendiri. Ya..., apapun yang akan aku usahakan, tidak lah berguna untuk sekarang ini.
Bahkan memohon, meminta maaf tidak akan ada artinya. Tapi aku tidak percaya dengan kenyataan ini, dia tega, mampu berbuat demikian padaku. Selama ini, dikampung walau mungkin makanan yang Ibuku sediakan tidak enak dibanding makanan nya, setidaknya aku dan Ibu tidak melakukan perbuatan yang membahayakannya.
Apakah begini kehidupan orang kaya, kehidupan pejabat, kehidupan orang terhormat, mengandalkan kekuasaan nya untuk menindas orang kecil. Perbuatan ku jika memang ingin mereka adili, aku yakin, aku tidak akan mendapatkan hukuman yang berat. Aku tidak membunuhnya, aku tidak memukulnya, aku bahkan tidak sama sekali menyentuhnya. Masa cuma karena menangis nya hingga aku ditawan seperti ini.
Kejam ! Rindu, kamu begitu kejam. Baru saat ini, aku melihat perilaku manis mu berubah seribu persen. Cobalah untuk melihat apa yang pernah terlewatkan dulu dikampung ku. Jika kamu tidak bisa melihatku setidaknya lihatlah Ibu dan Ayahku. Mereka menyayangimu seperti menyayangi ku, mereka menjagamu bahkan lebih dari menjaga diriku.
__ADS_1
Ketika aku duduk menundukan wajahku diantara dua lututku, terdengar pintu rapat yang terkunci tadi terbuka. Aku bangkit berdiri melihat kearah pintu itu, yang masuk kedalam adalah Ayah dan Ibunya Rindu, mereka datang menemui ku.
"Kamukah yang namanya Eden ?." Ibunya Rindu menanyakan namaku.
"Apa yang terjadi ?." sahutku pada mereka.
"Tidak ada yang terjadi. Kami orang tuanya Rindu, sengaja datang menemui disini cuma ingin tahu, apakah kamu yang namanya Eden yang berasal dari pulau kecil tempatnya Rindu menyelesaikan studi akhirnya ?."
Dalam restorasi hati, dengan nada suaraku yang agak tertekan, aku menjawabnya dengan pelan "iya, akulah yang namanya Eden, tapi ada apa ini sebenarnya ?."
"Berarti kamu yang telah membuat anak kami Rindu menangis dari dermaga hingga sampai dirumah. Apa yang kamu lakukan padanya hingga dia begitu hebatnya menangis. Kami saja orang tuanya belum pernah membuatnya menangis padahal kami yang mendidiknya, membesarkannya, melahirkannya hingga besar seperti ini, air matanya jarang kami lihat. Kamu, orang asing yang tidak tahu asal-usul kehidupanmu begitu berani membuat Rindu menangis. Itupun kamu lakukan didepan umum. Tidak bisakah waktu itu, kamu mengajak nya cerita baik-baik jika memang ada hal serius yang ingin kamu sampaikan."
"Bukan begitu ceritanya Bu."
"Tidak begitu apanya. Sudah jelas Rindu menangis hingga sampai dirumah. Saat ditanya mengapa menangis, dia sama sekali tidak menjawab. Berlari masuk kedalam kamarnya. Bahkan sampai malam dia mengurung dirinya didalam kamarnya"_
"Pah, bagusnya dia diapain ?."
Bangsawan memang semaunya. Aku hanya bisa menangis dihadapan orang tuanya Rindu. Mau berkata apa lagi, penjelasan ku sama sekali tidak ada gunanya. Kedua orang tua Rindu hanya percaya pada Rindu, mereka tidak ingin mendengarkan apa penyebab dan alasan menangis nya Rindu di dermaga.
"Aku pasrah, aku tidak akan membela diriku sendiri. Terserah kalian, mau diapakan aku, aku hanya bisa mengikuti keputusan kalian. Hanya, aku tidak pernah berniat untuk membuat Rindu menangis di saat itu."
Mereka keluar meninggalkan ku seorang diri. Kesadaran ku kini baru muncul, menegurku dengan memperlihatkan sifat dan kehidupan keluarga Rindu. Mau diapa, semua sudah terjadi. Bahkan untuk menyesali pun perkenalan kami mustahil bagiku mengingat nya lagi.
Buang jauh-jauh segala kenangan, segala perasaan, segala cinta, impian untuk hidup dengannya. Memang, dia bukan wanita yang pantas mendampingiku, penyesalan saat ini adalah secuil nasib yang sedang bermain umpat-umpatan meniadakan seberkas harapan.
Tak ada apa-apa di kamar ini. Hanya ukiran-ukiran mini kapal-kapal Phinisi yang banyak. Sekitar satu dua jam dari kedatangan kedua orang tua Rindu. Kini pintu rapat yang dikunci dari luar terbuka kembali. Aku tidak perduli siapa yang datang kali ini menemui ku. Bagiku, mereka semua sama, ingin melihatku menderita didalam ruangan ini.
__ADS_1
Dalam ketidakpedulian ku itu, keacuhanku pada yang datang. Aku melontarkan bahasa padanya sinisku, "Tolong, jangan ganggu aku ! aku tahu bawa diriku salah, aku ingin sendiri. Pergilah ! jangan temui aku sekarang !."
Sama sekali tidak terdengar suaranya. Tapi langkah kakinya tetap berjalan menuju padaku. Aku tidak melihatnya, aku tetap membelakanginya, aku marah pada mereka yang seenaknya membuatku seperti ini.
Isak tangis mulai terdengar dari arah belakang ku. Sedihnya menjadi-jadi, suara nafasnya mendesir-desir seperti ombak dilautan. Dengan nada yang bergelombang, memaksanya untuk berbicara.
"Apakah benar, kamu tidak ingin bertemu denganku ?. Jika ia, aku akan pergi dari sini dan aku akan memberitahu orang tuaku untuk memulangkanmu kembali kerumah wanita yang telah membawamu dari kampung hingga sampai kesini."
Tak tahan, air mataku mulai tumpah. Ketika aku menoleh kebelakangku, aku melihat sosok wanita yang dulu pernah tinggal beberapa bulan dirumahku.
Dia sedang membuka kedua tangannya, memanggilku untuk memeluknya. Dia masih terus menangis begitu hebatnya dihadapanku.
Diwaktu itu, aku baru memahami bahwa ternyata cintanya hanya untukku seorang. Ternyata penyekatan ini hanyalah setitik keinginan kecilnya untuk menemui ku, untuk melihatku, untuk bertemu denganku.
"Rindu, apakah ini dirimu ? mengapa kamu rela membuatku tersiksa seperti ini. Aku tidak tahu harus menahan rasa sakit dari arah mana, aku hampir putus asa, aku telah berkata-kata kotor tentangmu. Apakah ini kamu, Rindu ?. Jangan Rindu ! jangan mencoba cinta dan perasaan ku padamu, aku bahkan tidak bisa mengukur sedalam apa perasaan ini untukmu. Apakah benar, ini kamu Rindu ?."
Semakin menjadi-jadi, tangis diantara mata yang saling berpandangan sedikitpun tak berkedip.
"Aku tahu, kamu pasti akan datang menemui ku disini. Aku selalu yakin, kamu pasti masih mencintaiku. Bahkan di jantungku dari hari pertama aku meninggalkan kampung menuju kesini, berdetak selama ini mengeluarkan nama dan aliran darahmu."
"Eden, peluk aku ! peluk aku selama hitungan waktu memisahkan kita. Jangan lepaskan pelukanmu seperti ombak memeluk samudera. Aku benar-benar dibuat setengah mati memikirkan mu setelah perpisahan kita. Tetaplah disini, di dadaku bersandar, seperti Phinisi yang bersandar dipermukaan laut. Tanamkan jangkar hatimu, disini didalam dadaku agar kita tidak berpisah lagi"
"Aku begitu menantikan hari ini, Eden. Ibu, Ayahku, sudah aku ceritakan, mereka sengaja membawamu kesini agar kita bisa bertemu. Jangan lepaskan pelukanmu, bicaralah seperti ini. Orang tuaku setuju jika kita menikah."
"Apa ?. Apakah aku tidak salah dengar Rindu ?."
"Kamu tidak salah dengar, Eden !. Aku yang salah karena tidak menemui setelah mendapat kan persetujuan mereka. Aku salah karena membiarkan cintaku terlalu lama berlabuh di kampung mu hingga berkarat. Bukan keinginan ku membiarkan mu lama menunggu ku, setelah beberapa hari setelah aku mendapat respon dari kedua orang tuaku, hari terakhir saat aku hendak berangkat menuju kampung mu, aku jatuh sakit. Dalam keadaan tiba-tiba diatas kapal Phinisi ku semua tubuhku tidak bisa digerakkan sehingga aku dilarikan kerumah sakit. Belum lama, baru beberapa Minggu aku dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawat ku dan dipulangkan kerumah. Sampai saat ini, aku masih dalam tahap pemulihan (pemantauan oleh dokter itu) dia bilang padaku dan pada kedua orang tuaku agar aktifitas ku dibatasi."
__ADS_1
"Oh... Tuhan, ternyata aku yang salah menilaimu. Cobanya aku mendengar kan penjelasan mu di dermaga waktu itu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Maafkan aku Rindu ! aku telah membuat suatu pemikiran yang tidak benar padamu. Maafkan aku Rindu !."
"Tidak ada yang salah dan jangan meminta maaf padaku !. Mungkin harus seperti ini, pertemuan yang diawali dengan masalah adalah satu sisi untuk mempererat suatu hubungan. Aku percaya, sejak aku melihatmu di dermaga pelabuhan Bugis Makassar, kuyakin kan diriku akan ada hari yang paling indah untuk kita berjumpa dan melepas rasa penat selama ini. Jadi, peluklah aku Eden sekehendak mu, lepaskan aku jika kamu sudah merasa nyaman. Aku hanya lahir untuk menjadi pendamping mu."